Oleh: ekoyw | November 24, 2014

Kereta Api (Lagi)…

Sejak kepindahan ke Jakarta, kereta api memang jadi pilihan utama jika mudik. Meski kalo ditanya, aku lebih senang naik bis karena pemandangan lebih beragam dan bisa semi berpetualang tetapi jadwal bis sering tidak bersahabat dengan jam pulang kantor. Naik bis jadi pilihan saat libur agak panjang. Tetapi saat mudik dengan waktu terbatas, kereta api pilihannya. Pesawat? Kalo dihitung sejak berangkat sampai ke bandara, check in, waktu tunggu sampai dari Surabaya ke rumah rasanya tidak terlalu jauh beda dengan naik kereta api.

Kereta api kini, harus diakui banyak kemajuan di sana – sini. Toilet lebih bersih dan gratis, stasiun juga lebih bersih, tidak ada pedagang kaki lima meski banyak juga yang kehilangan. Misalnya, sekarang tidak bisa lagi aku mencicipi nasi pecel pincuk di stasiun Madiun dan makanan khas setiap stasiun yang dilewati karena tiadanya pedagang kaki lima sementara masakan dari restoran kereta api terasa standar, pilihan tidak beragam dan tidak ada unsur ‘ngangeni’.

Tiket kereta api pun beranjak naik. Sekarang, tiket Jakarta – Surabaya untuk kelas eksekutif berkisar Rp 400 – 500 rban. Sekitar 5 tahun lalu, masih berkisar Rp 300 rban. Kenaikan harga tiket ini memang diikuti peningkatan fasilitas terutama di stasiun. Tetapi sayangnya, masih jarang menyentuh sisi kereta api yang PALING bersentuhan dengan penumpang kereta api, yakni gerbong penumpang.

Entah kebetulan atau aku yang apes, sejak kenaikan tiket aku belum pernah naik kereta api yg menyediakan leg rest seperti dulu lazim ditemui di kereta Argo Anggrek. Kebanyakan adalah foot rest. Foot rest ini sangat tidak sepadan dan masih menimbulkan letih di betis terutama bagi penumpang kereta api jarak jauh. Padahal leg rest ini sudah menjadi standar di bis eksekutif antar kota. Dengan kenaikan tarif dan apalagi sekarang kereta Argo Anggrek kelasnya sama dengan kelas kereta eksekutif lainnya jika dilihat dari harga tarif maka seharusnya layanan ini juga ada di kereta yg lain.

Lainnya, lagi – lagi entah kebetulan atau lagi apes, seringnya juga mendapatkan gerbong yg tidak layak disebut kelas eksekutif. Misalnya : Tidak adanya meja lipat yang biasa disimpan di sandaran tangan di kursi (Ini pengalaman naik Bima 18 Nov 2014 kemarin), sandaran tangan sisi tengah yang anjlok, kursi dan interior yang kusam, ada coretan atau bekas baret di sana – sini, dan lain – lain. Atau bisa jadi kita tertipu, seperti saat aku naik Bima minggu kemarin. Aku kira mendapatkan gerbong baru setelah melihat gerbong yang bersih, gordyn kaca yg tidak terbuat dari kain dll. Tetapi sepertinya gerbong rekondisi yang aku dapatkan. Kesimpulan itu aku dapat saat melihat kayu di dinding kereta yang melintang di tempat colokan kabel yang dulu lazim ditemui saat awal – awal fasilitas charger dikenalkan di kereta api. Kemudian pintu ke kabin penumpang yang biasanya tinggal tekan tombol tetapi harus digeser manual dengan tangan. Dan juga toilet jongkok yang tersedia.

Kereta api masih terbantu dengan harga tiket pesawat yang melambung tinggi. Tetapi jika tidak berbenah dan harga tiket pesawat tidak jauh berbeda dengan kereta api seperti 10 tahun lalu maka bisa jadi kondisi kereta api kembali seperti 10 tahun lalu.

Perbaikan stasiun dan fasilitasnya perlu. Tetapi perbaikan di gerbong dan kabin penumpang jauh lebih perlu karena penumpang menghabiskan waktunya lebih lama di sini daripada di stasiun.

Oleh: ekoyw | November 20, 2014

Cara Pendaftaran Haji

Alhamdulillah…. Labbaik Allahumma Labbaik…

Akhirnya selesai sudah prosedur pendaftaran haji ane. Meski baru daftar, meski harus menunggu 18 tahun (dan di sinilah seninya), meski setelah mendaftar bareng istri uang di tabungan hanya tersisa ratusan ribu rupiah, meski harus pulang kampung tetapi terasa sebagian perjalanan haji ini telah terlaksana. Minimal, pendaftaran ini sebagai langkah kecil nyata untuk menuju langkah – langkah selanjutnya.

Sebelum pendaftaran, ane sempat googling tentang tata cara pendaftaran haji. Dan… rata – rata nyasar ke berbagai situs KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) dan hanya sedikit sekali dari instansi resmi kementerian agama. Info yang didapat pun simpang siur, mulai harus pakai surat pengantar desa, surat keterangan sehat, foto sendiri atau di kantor Depag, dll. Akhirnya… karena bingung, bismillah…. coba urus sendiri saja :D

Perjalanan dimulai Jumat sore ba’da pulang kerja dan segera pergi ke stasiun KA yang terletak di pusat ibukota pulang kampung ke Lamongan, Jatim. Di-skip aja yaaa bro… tidak berhubungan :D. Kapan – kapan aku tulis tentang pengalaman naik kereta api kali ini.

Perjalanan dimulai Senin pagi, jam 07.00 WIB berboncengan mesra dengan istri sementara anak meraung – raung menangis didiemin neneknya :D

Sebelum berangkat, beberapa dokumen aku siapkan, seperti : KTP, surat nikah, KK dan buku tabungan haji. Ini juga hasil googling yg menyarankan dokumen apa saja yang mesti dibawa. Sempat ragu juga apakah perlu mampir puskesmas untuk bawa surat keterangan sehat atau tidak, juga mampir kelurahan atau tidak. Tiga dokumen pertama sudah aku fotocopy 10 kali dan ternyata…. tidak semua dokumen tersebut dibutuhkan.

First destination jam 08.30, kantor bank. Ane pakai Bank Syariah Mandiri Capem Lamongan yang pas di tepi Jl Nasional No. 1 alias Pantura… hehehe . Kirain ane berurusan dengan CS, nggak tahunya diarahin ke Teller. Di Teller, buku tabungan ane di-print. Kemudian diberi tahu untuk mencari surat keterangan sehat yg ada pernyataan golongan darah. Kata Mbak Tellernya, bisa ke puskesmas atau klinik mana saja. Berhubung ada keperluan sebentar ke daerah sekitar alun – alun, jadi ane ngincer ke (bekas) RS Muhammadiyah Lamongan dengan harapan bisa sekalian sarapan Nasi Boranan Lamongan yang maknyusss… hehehe.

Tetapi ternyata disana tidak melayani surat keterangan sehat. Akhirnya, daripada capek – capek aku arahkan motor ke kantor PMI Lamongan yang bersebelahan dengan RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Sangat hafal dengan RS ini, sebab pernah menjadi ‘penghuni’ nya pada awal tahun 1990-an… tentu dengan kondisi bangunan yang jauh berbeda dengan saat ini.

Di PMI, tidak butuh antri lama sebab hanya kami berdua yang ada. Tinggal ambil darah, ukur tinggi dan timbang berat badan. Sebetulnya kami punya kartu donor tetapi tidak kami bawa karena tidak termasuk daftar dokumen yang kira – kira bakal digunakan. Sempat guyonan sedikit tentang hasil ukur tinggi badan. Untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya di RS Cibubur saat MCU, tinggi badanku turun dibanding biasanya… hehehe…. wis mbuh lah. Ongkosnya cukup Rp. 30 rb untuk masing – masing kartu ‘merah’ yang kami dapatkan. Kartu merah ini berisi data nama, golongan darah, tinggi dan berat badan yang diketik dengan satu jari. Yup…. satu jari, bukan sebelas jari, oleh mbak perawat yang sepertinya lebih familiar dengan komputer daripada mesin tik jadoel itu :D

Tujuan selanjutnya, kantor Depag yang terletak di Jl Veteran, Depan SMU Negeri 2 Lamongan. Sempat celingak – celinguk sebentar di parkir motor. Untung ada tulisan pendaftaran haji. Dan akhirnya, dengan salam kami masuki ruangan yang menurutku cukup tidak sehat karena minimnya sinar matahari yang masuk. Seorang bapak PNS berbaju Korpri, kemudian mengambil secarik kertas yang berisi formulir. Di sini ditanyakan nama dan nama ayah. Untuk ketepatan penulisan nama, sang bapak meminta KTP, kartu merah dari PMI yang kemudian dikembalikan dan KK asli yang kebetulan terlihat di map yang kami bawa. Sempat terjadi masalah pada nama almarhum ayahku karena di KK hanya tertulis nama tua, nama kecilnya tidak ada. Sang bapak kemudian minta dokumen surat nikah asli dan menuliskan sesuai dokumen surat nikah sambil mengatakan kalo di KK nama seseorang bisa jadi berubah atau ganti tetapi di surat nikah tidak mungkin berubah atau ganti.

Setelah menulis di dua lembar kertas tentang data diri, kami diberi dua kertas kecil berisi nama dan no urut, yang anehnya untuk kertasku, nama pertamaku diganti dengan nama kecil ayah. Sedangkan istri, yang hanya berisi 2 nama tetap memakai nama pribadi. Dua kertas itu disuruh diserahkan untuk pengambilan foto yang terletak di gedung bagian belakang. Di sini, telah menunggu dua orang bapak – ibu yang sepertinya juga habis mendaftar. Tanpa menunggu lama, kami dipersilahkan untuk mengambil foto. Berlatar belakang putih, sehingga bagi perempuan disarankan tidak memakai hijab warna putih meski di tempat tersebut juga disediakan hijab beragam warna, peci, dan kaca untuk berias. Dua petugas, bapak dan ibu, berada di ruangan ini. Sang bapak mengoperasikan software yang sudah terhubung ke kamera DSLR Nikon (waadduuhh… jadi ingat masa – masa programming kuliah yang tidak terlalu susah meng-interface kan kamera dengan software di windows). Dan sang Ibu bertugas memotong hasil foto. Tidak menunggu lama, foto kami tercetak yang entah berapa jumlah total dan ukurannya. Biayanya cukup Rp. 80 rb per orang. Setelah penjepretan alias pengambilan foto, kami diminta untuk scan sidik jari ibu jari kiri. Alat scan terletak di meja sang bapak yang mengoperasikan komputer.

Kami kemudian kembali ke depan, ke bapak yang pertama menerima pendaftaran. Sampai di ruangan tersebut ternyata sudah ada beberapa warga lain yang juga mendaftar. Dan ternyata, form pendaftaran haji (Surat Pendaftaran Pergi Haji alias SPPH) kami telah tercetak dengan rapi lengkap dengan foto kami yang merupakan hasil print juga. setelah kami tandatangani, dari sana, sang bapak meminta kami kembali ke bank, menyerahkan formulir tersebut sebagai bukti kami telah mendaftar haji dan untuk memasukkan setoran haji dari rekening kami ke rekening haji depag serta mendapatkan porsi haji.

Alhamdulillah, jarak dari Depag ke BSM tidak jauh. Sampai BSM, form kami diterima oleh security yang kemudian langsung diteruskan ke teller. Setelah menunggu sebentar, kami dipanggil CS. Di sana, beberapa lembar foto kami diambil dan ditempelkan di formulir tersebut. Sebuah formulir baru di BSM juga telah di print yakni Form Setoran Awal BPIH yang berisi info setoran haji dan nomor porsi haji kami. Satu formulir setoran haji juga kami tandatangani. Dari sini, pihak BSM meminta kami kembali ke Depag untuk menyerahkan formulir porsi haji tersebut setelah beberapa salinannya diambil oleh BSM. Tapi tunggu sebentar…. di sini kami baru sadar kalo formulir haji yang dicetak Depag tertulis pekerjaan kami berdua adalah PNS? Entah, bagaimana ceritanya kok bisa tertulis PNS. Akhirnya… tercapai juga menjadi PNS…. hehehehe

Di Depag, beberapa salinannya juga diambil petugas dan kami diminta menyerahkan fotokopi KTP sebanyak 5 lembar. Sehingga yang tersisa hanya dua lembar, yakni satu lembar pendaftaran dari Depag dan satu lembar lagi form setoran haji dan no porsi dari BSM. Di sini, bapak Depag mewanti – wanti untuk tidak mempercayai siapapun yang memberikan janji bisa mempercepat keberangkatan haji juga untuk menyimpan rapi baik formulir SPPH maupun Setoran Awal BPIH. Dan semoga kami tidak tergoda karena hal tersebut sama saja dengan men-dzalimi calon jamaah haji yang lain yang telah antri lebih dulu.

Kemudian kami bertanya, antriannya berapa lama pak? Untuk Jawa Timur, 18 tahun mas. Aku sampaikan info kalo di Bogor antrian berkisar 13 – 14 tahun. Kata bapak tadi, untuk Jawa Barat porsi haji memang dibagi per kabupaten atau kota. Sedangkan untuk Jawa Timur tidak, sehingga porsi haji di-pool di provinsi dan diperebutkan seluruh 38 Kota/Kabupaten yang ada.

Namun setelah kami cek porsi ke website Kementerian Agama, ternyata perkiraan keberangkatan kami selama 17 tahun.

Kami tersenyum… wah ini berarti pas anak kami yang sekarang masih balita dan saat berangkat tadi menangis meraung – raung nanti akan wisuda saat kami berangkat :D. Bismillah…. semoga diberi kesehatan dan umur panjang.

Pukul 10.30 WIB, kami melangkah keluar….

Kesimpulanku, proses pendaftarannya cepat juga. Hanya sekitar 2 jam sejak kedatangan pertama di bank sampai sekarang selesai di Depag. Tidak terlalu ribet di semua tempat. Selain itu, sekitar 20 tahun lalu tinggal di Lamongan kota membuatku hafal jalan – jalan tikus yang tidak banyak berubah sampai saat ini. Sehingga mempercepat proses dari satu tempat ke tempat yang lain.

Semoga diberi kesehatan dan umur panjang…

Aaamiiinnn….

Oleh: ekoyw | April 22, 2014

Citra Indah dan Transportasinya

Well…. setelah hampir tiga bulan menghuni Citra Indah, secara umum belum ada keluhan… kecuali satu, transportasi dan akses ke lokasi. Dari tol Jagorawi, Citra Indah dikenalkan sebagai Kota Nuansa Alam di Timur Cibubur. Tapi kalo kita keluar tol Cikarang ke arah Jonggol, disebut Kota Nuansa Alam di Selatan Cikarang. Nah lhooo…. hehehe. Memang sih, dua – duanya benar. Kalo lihat di peta dan digambar sebuah persegi panjang dengan sisi Jl Tol Jagorawi – Cibubur di barat, Jl Tol Cikampek – Cikarang di utara, Jl Trans Yogie Cibubur – Jonggol di Selatan dan Jl Cikarang – Jonggol di Timur maka posisi Citra Indah persis di pojok tenggara persegi panjang tersebut, pertemuan antara Cikarang – Jonggol dan Cibubur – Jonggol.

Daripada bingung, coba lihat lokasi Citra Indah di – screen shot Google Maps berikut :

Citra Indah ke Semanggi

Citra Indah ke Semanggi

Waktu tempuh peta di atas adalah dari perkiraan Google pada saat ambil data rutenya siang hari ini lho ya. Jadi bener, di timur Cibubur dan selatan Cikarang :D

Dari lokasinya yg nun jauh tersebut sudah terbayang problem utama adalah transportasi. Memang benar ada angkot 24 jam di depan kompleks tetapi pertanyaannya adalah butuh berapa jam kita ke lokasi tujuan, misalnya ke Semanggi. Ada juga Feeder busway dari Citra Indah ke Blok M/Grogol yang beroperasi mulai sebelum shubuh sampai selepas Isya’ tetapi juga masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu antara lain adalah :

  • Jadwal. Jika kita searching ke berbagai site/blog yang merujuk ke Citra Indah. Jadwal feeder pertama duuuulluuuuu jam 05.30 WIB. Tetapi kemudian mundur teratur tiap 15 menit dan sekarang bis pertama berangkat jam 04.30. Daaannnn pada hari Senin keberangkatan pun maju 15 menit, alias pukul 04.15. Bisa kebayangkan kalo warga Citra Indah itu pada rajin bangun pagi hehehehe. Dengan jadwal bis pertama, biasanya akan sampai Semanggi sekitar pukul 05.30 pagi. Aku biasa sampai kantor pukul 06.00 malah seringnya kurang dari pukul 06.00, saat security masih berpakaian PDL dinas malam dan OB pun masih 1 – 2 yang datang. Alhasil, Masjid kantor yang dituju untuk membayar kurang tidur hehehe. Tapi, bagiku pribadi, bangun pagi dan rutinitas pagi seperti ini tidak masalah kecuali saat hujan atau macet hikss. Bagaimana jika naik bis kedua jam 04.45 dst ??? Yaa siap – siap sampai Semanggi jam 07.00 pagi atau bahkan bisa lebih. Yang jadi masalah itu saat jam pulang kantor. Jadwal bis feeder Citra Indah tidak bersahabat bagi yang pulang kantor jam 15.00 – 16.00 yang biasanya sudah nongkrong di Semanggi sejak jam 16.30. Pada jam segitu, Semanggi dan tol dalam kota sebetulnya masih lancar jaya. Harapan bisa segera sampai rumah pun tidak tercapai. Bis Feeder baru berangkat pukul 16.30 dari Blok M dan 16.45 dari Citraland dan rata – rata sampai di Semanggi jam 17.00 saat kondisi jalan mulai merambat bahkan di tol dalam kota. Alhasil, rencana sampai rumah jam 18.00 – 18.30 bahkan sebelum Maghrib pun tinggal impian. Dengan bis pertama baru datang jam 17.00 bahkan lebih maka sampai rumah rata – rata jam 19.15 – 19.45 atau bahkan bisa sampai lebih dari jam 20.00 malam. Tinggal dihitung berapa waktu tersisa buat keluarga dan istirahat. Sering membayangkan bagaimana jika kelak tambah tahun bis feeder berangkat semakin pagi (baca : malam)? Soal jadwal ini, muter – muter ke beberapa situs marketing Citra Indah, kok banyak yang belum update yaaa? Apa karena jadwalnya semakin pagi (baca: malam) sehingga tidak menarik dari sisi marketing? Tapi ketemu juga yang update dan bisa dilihat di bawah :
Jadwal Bus Citra Indah - Grogol

Jadwal Bus Citra Indah – Grogol

Jadwal Bus Citra Indah - Blok M

Jadwal Bus Citra Indah – Blok M

  • Penumpang. Salah satu keluhan warga Citra Indah adalah banyaknya warga non Citra Indah yang naik bis terutama saat pulang kerja. Sehingga saat pulang kerja, jika tempat duduk penuh, minimal anda harus berdiri dulu sampai keluar tol Cibubur dan baru setelah itu satu persatu penghuni tempat duduk turun. Memang susah sih untuk mendefinisikan penumpang ini benar ke Citra atau tidak. Tetapi mungkin bisa dibuat aturan misalnya saat kembali ke Citra Indah maka penumpang terdekat adalah yang turun di Cileungsi. Memang sih, kalau kita pandang dari sisi operator bis, maka akan memandangnya dari sisi bisnis. Baik itu masalah jadwal maupun penumpang, tentu masalah okupansi penumpang bis jadi pertimbangan utama. Meski sisi kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan warga kompleks Citra Indah juga harus diperhatikan.
  • Jurusan. Hanya ada dua, Blok M dan Citraland. Dari FB Citra Indah, sudah banyak usulan untuk menambah jurusan misalnya ke Tanjung Priok. Tapi entah lah…
  • Jumlah Armada. Resminya ada 5 bis yang masuk jadwal dalam sehari. Dan tentu masih kurang karena jarak keberangkatan relatif tidak sama antara bis pertama dan selanjutnya dalam satu hari. Demikian pula saat kembali dari Jakarta. Anda harus ingat betul kira – kira jam berapa bis akan lewat.  Misalnya jika anda menunggu jam 15.00 di Semanggi maka siap – siaplah menunggu selama sekitar 2 jam hehehe.
  • Rute. Bis menempuh rute dari Citra Indah – Cibubur – Tol Jagorawi – Tol Dalam Kota. Daerah Cibubur – Cileungsi merupakan daerah macet. Satu titik dibenahi, muncul titik lain. Titik macet di Jembatan Cileungsi dibenahi dan relatif lancar, muncul lagi macet selepas Fly over Cileungi – Metland – Harvest City. Bagaimana jika feeder busway di re-route lewat Tol Cikarang ??? Menarik juga kayanya.. Sing penting cepet sampai :D

Bagaimana jika berganti – ganti transportasi. Masalahnya hanya pada sifat ngetem angkot / bis kota yang ada. Juga jika berganti – ganti maka jatuhnya bisa lebih mahal. Di sini feeder busway punya kelebihan.

Bagaimana tentang rencana akses ke Citra Indah? Ada beberapa rencana pembangunan tol, jalan, KRL yang sempat sliweran di internet. Oke, coba kita bahas.

  • Tol JORR2 Cimanggis – Cileungsi – Cibitung. Katanya sih nanti memotong di sekitar Harvest kemudian ke arah Cibitung. Tetapi sampai sekarang boleh dibilang tidak ada perkembangan berarti dari rencana tol ini. Akses tol Nagrak – Cimanggis yang ada progres pembangunan dan bisa diharapkan sedikit mengurai kemacetan di Cibubur. Tetapi meski ruas tol ini jadi, yang jadi pertanyaan adalah mampukah ruas tol Jagorawi Cimanggis sampai dalam kota dan Cibitung sampai dalam kota menampung tambahan kendaraan yang melintas? Karena muara ruas tol Cimanggis – Cibitung ini tetap kedua ruas jalan tol utama tersebut yang pada saat jam sibuk sekarang ini saja sudah macet luar biasa. Tol hanya menambah nafsu orang memakai mobil pribadi.
  • Jalan Poros Tengah Timur. Ini rencana menghubungkan Bogor – Puncak – Cianjur – dan Deltamas di Cikarang. Konon untuk mengatasi kemacetan di Puncak. Dan konon melewati Jonggol. Tetapi beberapa situs, misal di Sentul Nirwana, jalan ini akan memotong kecamatan Tanjung Sari, satu kecamatan arah Cianjur dari Jonggol. Progressnya? Minimal saat pernah jalan – jalan ke Kec Sukamakmur dan mencoba jalur Puncak 2, belum ada perkembangan atau kegiatan pembangunan yang bisa di lihat.  Jalur Poros Tengah Timur bisa ditemukan  di sini atau bisa dilihat gambar di bawah. No 1 adalah tol Cimanggis – Cibitung. No 12 adalah jalur Rel Nambo – Cikarang. No 9 dan 10 adalah Jalur Poros Tengah Timur.
Jalur Poros Tengah Timur

Jalur Poros Tengah Timur

  • KRL Cibinong – Cileungsi – Cikarang. Benar Cikarang akan ada KRL proyek double – double track. Cibinong ada dari stasiun Nambo. Tapi ke Cileungsi apalagi Citra Indah?? Sebetulnya KRL ini paling relevan mengatasi kemacetan. Juga punya keunggulan dari sisi biaya dan waktu pembangunan dibanding tol. Toh di negara – negara maju lebih mengedepankan KRL daripada kendaraan bermotor. Progressnya? Cikarang ada progress. Nambo – Cibinong? KRL-nya aja belum berfungsi meski infrastrukturnya siap. Ke Cileungsi? Sama kaya nasib tol.. :D
  • Ada lagi berita info jalan tol lintas tengah/selatan dari Jakarta – Jonggol – Cianjur  terus sampai ke Tasik. Tapi sepertinya rencana ini juga menguap entah kemana.

Saat browsing, ketemu Peta Struktur dan Pola Ruang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur yang dibuat oleh Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional. Untuk daerah Cileungsi dan Jonggol, jika di-capture maka akan seperti berikut :

Rencana Jabotabekpunjur

Rencana Jabotabekpunjur

 

Terlihat ada rencana tol Cimanggis – Cileungsi – Setu – Cibitung yang ditunjukkan dengan garis coklat tebal putus – putus. Sementara di sekitar daerah Jonggol, terdapat garis putus – putus warna hitam yang merupakan rencana rel kereta api. Rencana rel kereta api ini dari Jonggol lurus ke utara ke Cikarang. Kemudian ke barat, melewati belakang Taman Buah Mekarsari, sampai Cileungsi. Di Cileungsi sendiri, menjadi ‘pertigaan’ rel kereta api. Ke Barat Daya menuju Cibinong dan ke Utara menuju Bekasi. Kalo melihat peta ini, sangat – sangat menarik. Tapi kembali ke pertanyaan, kapan ????

Rencana – rencana di atas, sebagian besar sudah dipublikasikan secara umum dan dengan mudah bisa kita cari peta rencananya di internet. Tapi tentang implementasinya… mungkin nunggu mau pensiun kali yaaa hehehehe.

Segala kekurangan transportasi ke Citra Indah di atas mau tidak mau memaksa penghuninya untuk kreatif. Untuk pulang kerja misalnya, penghuni Citra Indah bisa memanfaatkan beberapa bus instansi seperti Kementrian Perhubungan, Kementrian Luar Negeri, Kementrian Pertahanan atau bahkan bis – bis TNI/Polri yang lewat atau bahkan tujuan akhir ke Citra Indah. Bis – bis ini, rata – rata bisa mengantar sampai rumah lebih cepat dibandingkan jika kita menunggu bis Citra Indah.

Atau bisa juga numpang bis milik perumahan Grand Nusa Indah, yang baru ada beberapa minggu terakhir, yang juga rata – rata datang lebih cepat 15 menit daripada bis Citra Indah di Semanggi saat jam pulang kantor dengan resiko nyambung angkot dari Grand Nusa Indah ke Citra Indah yang tinggal 4 – 5 km. Selisih 15 menit saat keberangkatan di Semanggi, bisa berarti selisih 1 jam kedatangan atau malah lebih saat tiba di Citra Indah.

Usulan buat Citra Indah. Konsep feeder busway bagus meski perlu perbaikan mulai jadwal, jumlah armada, rute, tujuan dll. Tetapi, jika suatu saat Jakarta benar – benar sudah macet total dan harus berangkat lebih pagi lagi maka mengirimkan bis – bis ke Jakarta juga kurang membantu. Mungkin bisa dipikirkan membuat shuttle terjadwal ke stasiun – stasiun KRL terdekat, misalnya ke Depok atau Cikarang juga sudah aktif.

Penutup :

Sore itu di halte Semanggi, dibawah jembatan penyeberangan. Dua warga Citra Indah sedang duduk berbincang sambil nunggu bis Citra yang sampai jam 17.00 itu belum juga datang. Membicarakan berbagai kabar angin surga tentang jalan akses di belakang Citra Indah, tol, kereta, dll.

A : “Nasib e wong ga nduwe duit yo Mas. Duwe omah adoh tenan. Untung ga dewean, minimal sing senasib wong sak bis.”

A & B : Hahahahaha….. tertawa ngakak bersamaan dan segera loncat bareng mengejar bis Citra Indah yang datang.

 

Oleh: ekoyw | Desember 24, 2013

Berburu Rumah….

Akhirnya…. setelah lebih dari 20 tahun menyandang predikat anak kost, bulan ini aku resmi punya hutang 15 tahun demi sebuah rumah yang baru bisa ditempati setahun lagi hehehehe…

Cerita bermula awal September 2013. Saat datangnya kesempatan untuk kembali bermukim ke tanah Jawa. Meski tidak di kampung halaman tetapi malah ikut menyesaki belantara hutan beton ibukota, akhirnya.. Bismillah… aku ambil kesempatan untuk kembali dan lebih dekat dengan orang tua. Meski sampai Oktober belum ada kepastian apakah mutasiku berhasil atau tidak tetapi persiapan pun dilakukan, setidaknya untuk mencari sebuah rumah tinggal nan nyaman buat sekeluarga.

Mbah Google pun dihubungi dengan segala jampi – jampi dan uba rampe-nya. Dengan rumus matematika f(x) = dx dengan d = duit hehehe… googling pun dilakukan. Browsing pun dilakukan. Kesimpulannya adalah :

  • Serpong : Wow….sama sekali gak berminat. Mahalnya minta ampuuuuuunnn. Rumah 1 M di sana kayanya bukan rumah mewah lagi. Juga terbius hipotesa harga perumahan di sini sudah overprice atau overvalue. Nggak tahu lah apa istilahnya :D
  • Tangerang : Bersama Serpong masuk target sebetulnya, karena banyak keluarga besar bermukim di sini. Tetapi harganya juga sudah mirip – mirip Serpong. Harga Rp 700 – 800 jt dapat tipe 42 – 45 an. Kalo bener punya uang segitu, 250 jt buat rumah dan 500 jt buat beli kebun sawit di Sumatera… halaaah…:D
  • Depok : Terus terang masih buta daerah ini, yang kutahu hanya mulai macet dan harganya ga jauh beda dengan Tangerang. Juga jalan – jalannya yang sempit.
  • Bogor : Harga lebih turun dari Tangerang/Depok. Tapi ga turun – turun amat.
  • Bekasi : Entahlah, tidak seberapa nyari daerah sini. Kesanku Bekasi itu panas dan beberapa daerah rawan banjir. Hampir 10 tahun lalu pernah tinggal di Cikarang jadi lumayan tahu suasananya.
  • Cibubur : Ini kayanya bakal jadi “the next” Serpong dengan harga juga mendekati Serpong hehehe….
  • Cileungsi : Akhirnya pilih yang disini. Jauh sini, di pojok dunia hehehe. Sekitar 50 km dari Jakarta Pusat atau setara jarak Lamongan – Surabaya. Padahal Lamongan – Surabaya terasa ga jauh – jauh amat hehehe. Tetapi, Bismillah… dengan f(x) = dx pilihan pun jatuh ke sini. Tepatnya di Citra Indah, meski di ujung dunia dan kayanya harus berangkat jam 05.00 tetapi dijalani aja, toh ada bis perumahannya juga.

Oke… pilihan pun telah dijatuhkan. Bertepatan dengan Hari Pahlawan yang juga bertepatan dengan Dies Natalis kampus tercinta yang ke-53 booking fee sebesar 1 jt pun dibayarkan dengan syarat 2 minggu setelahnya berkas KPR diserahkan. Dan DP dilunasi maksimal 1 bulan sejak booking fee. Meski sampai saat itu, belum pernah ke perumahannya. Nah lho… hihihihi. Sebagian berkas – berkas KPR dikirim ke email untuk diprint dan tinggal diisi. Utamanya adalah form permohonan KPR dari 3 bank : BCA, BRI, BNI dan BTN.  Berkas lain yang perlu disiapkan adalah kurang lebih : Copy KTP Suami/Istri, KK, Surat Nikah, Keterangan kerja, Slip gaji 3 bulan terakhir, rekening koran

Tips : Mintalah berkas yang lengkap jika dikirim via email. Ternyata ke depan hampir semua bank di atas minta berkas ini – itu untuk kelengkapannya.

Dua minggu kemudian, 23 November 2013, berkas pun diserahkan ke developer dan sekaligus baru pertama kalinya kesana. Terasa jauh juga. Sekitar 1 jam dari Lanud Halim tempat sementara aku nebeng sama kakak sepupu yang juga seorang arsitek di Dephan dan ikut antar aku ke sana. Semua berkas sudah aku copy jadi 5 berkas. Tetapi disana hanya ketemu dengan pihak dari BCA saja. Setelah periksa berkasku sebentar, Mas dari BCA tersebut kasih surat pernyataan yang isinya adalah aku tidak punya tanggungan hutang dan KPR/KPA di mana pun. Sementara berkas – berkas yang lain disimpan oleh admin developer.

Setelah itu, gantian HP yang sibuk dihubungi bank ini dan bank itu. Berikut resume-nya :

BCA, bank ini bekerjasama dengan developer dengan paket menarik 9 % fixed selama 5 tahun karena aku tidak punya rekening BCA, tepatnya rekening BCA ku sudah mati :D. Juga bebas biaya admin dan KPR. Sang Marketing, bukan mas yang di Citra Indah kemarin, menghubungi pertama tanggal 2 Desember 2013. Pertama bilang pengin konfirmasi ke HRD karena susah dihubungi. Di sini tantangan pertama mulai. Surat keterangan kerjaku aku buat di Sumatera sementara aku sudah dipindah ke Jakarta. Tapi… yaa insyaAllah teman – teman di Sumatera masih ingat aku lah :) Akhirnya dengan pede aku kasih nomor HP bapak manager HRD yang tanda tangan di surat keterangan kerja. Selesaikah, ternyata tidak. BCA ternyata meragukan tabunganku di Bank Syariah Mandiri (BSM). Pihak BCA tanya apa ada kenalan orang BSM yang bisa di-cross check soal tabunganku. Di Sumatera kebetulan tetanggaku adalah orang BSM yang punya posisi lumayan di BSM Cabang. Tapi jelas, bapak ini tidak bisa memberi konfirmasi apa – apa selain membenarkan kalo memang aku punya rekening di BSM.  Alasannya jelas, data – data nasabah adalah rahasia bank dan tentu pihak bank tidak bisa memberikan ke pihak lain apalagi hanya lewat telepon. Aku sempat tawarkan apa perlu screenshot tampilan di internet banking BSM dan copy buku tabungan BSM, tetapi dijawab tidak bisa. Akhirnya, solusinya adalah pihak marketing bank memintaku untuk bersama – sama dengan dia nge-print rekening koran di BSM. Saat ketemu dan ngobrol, alasan BCA ternyata akhir – akhir ini banyak rekening bank fiktif saat ajukan KPR. Nilai transaksi dan saldonya ternyata fiktif. Alhamdulillah selesai.

BNI, selain BCA, developer juga kerja sama dengan BNI. BNI relatif lancar. Satu form persyaratan yang perlu diserahkan adalah surat tanda tidak punya hutang KPR/KPA di tempat lain yang dikirim via email. Di sini masalah mulai muncul karena harus tanda tangan suami istri. Sementara mantan pacarku itu sedang di Jawa Timur. Tetapi Alhamdulillah, sama BNI diberi jalan untuk ditandatangai saja dua – duanya oleh suami dan nanti jika KPR di-setujui tinggal tanda tangan lagi berdua dengan istri. Syarat yang lain, BNI minta foto buku tabungan BSM dan halaman terakhir saldonya. Mungkin bagian ini yang sedikit membedakan dengan BCA. Bank ini menghubungi pertama kali tanggal 29 November 2013 atau 6 hari sejak penyerahan berkas KPR.

Mandiri, pertama menghubungi tanggal 28 November 2013. Dari bank ini, tempat domisili sempat jadi masalah. Pertama dia minta alamat keluarga di Jakarta. Oke… selesai. Kedua alamat di Sumatera, dan ini masalah berlanjut karena analisnya bilang butuh surat keterangan domisili RT/RW di Sumatera. Setelah diterangkan kalo sudah tinggal di Jakarta, bank ganti minta surat domisili di Jakarta. Dan yang ini tidak bisa (baca : malas) untuk aku penuhi hehehe. Dari bank ini aku juga baru nyadar ternyata tidak ada nama perusahaan atau pun kata – kata keterangan asli di slip gaji kantor yang bersistem paperless dari intranet kantor. Untungnya bank cukup minta screenshot saja dari tampilan intranet payroll kantor.

BRI, syarat yang diminta juga tidak banyak. Mereka hanya minta dikirimkan surat keterangan kerja kembali dan SK pengangkatan sebagai karyawan. Saat – saat terakhir, BRI mengirimkan form pernyataan tidak punya pinjaman KPR/KPA di tempat lain.

Dan hasilnya adalah….. BCA menghubungi tanggal 4 Desember atau hanya 2 hari setelah print bareng rekening koran di BSM dan memberitahukan KPR disetujui sesuai plafon, bebas KPR, bebas biaya administrasi, bebas biaya notaris, bebas asuransi kebakaran dan hanya membayar asuransi jiwa 4,5 jt. BNI menghubungi sekitar 2 hari kemudian juga memberitahukan KPR disetujui sesuai plafon, bunga 0,5 % lebih rendah dari BCA dan hanya berlaku 1 tahun. Sementara BRI dan Mandiri masih sibuk dengan syarat – syarat form KPR yang menurutku terlalu ribet.

Akhirnya BCA yang aku pilih. Dan tanggal 17 Desember 2013 kemarin resmi punya hutang selama 15 tahun hiks… Atau resmi berinvestasi 15 tahun untuk rumah :D. Tanggal 17 Desember itu juga pertama kali naik bis Citra Indah. Berangkat jam 08:30 dari Ratu Plaza hanya butuh sekitar 1 jam untuk sampai Citra Indah. Dan pulang jam 11:30 sampai Semanggi sekitar jam 12:50. Sepertinya waktu sekitar 1,5 jam ini waktu rata – rata perjalanannya. Waktu sebagai ukuran jauh? Mungkin ya, tapi juga tidak selamanya tepat  untuk ukuran Jakarta. Aku pernah dari Halim pukul 17:30 ke kost Adik di Cipulir butuh waktu 2 Jam lebih padahal saat itu hari Sabtu dan sore hari. Itulah Jakarta…

Ke depan… pengin alihkan KPR ini ke KPR syariah. Mungkin jika sudah selesai 5 tahun atau saat suku bunga tidak gila – gilaan seperti saat ini.

Amiiiinnnnnn

Semua berawal tanggal 14 Agustus 2013 saat kami ke Stasiun Lamongan dan si kecil pun rewel minta saat balik nanti pilih naik Kereta Api daripada Pesawat. Padahal beberapa hari terakhir sebelumnya aku sudah browsing tiket – tiket pesawat Surabaya – Jakarta. Akhirnya aku ganti browsing tiket kereta. Pilihan pun jatuh pada Argo Anggrek Pagi dengan pertimbangan sampai Jakarta masih bisa istirahat bermalam sebelum lanjut perjalanan keesokan harinya.

Saat itu pun aku baru tahu kalo sekarang tiket KA ada sub kelas – kelasnya, meski sama – sama kelas eksekutif. Browsing pun berlanjut. Ada empat kelas yang berbeda sekitar Rp. 25 rb antara sub kelas terendah sampai yang paling mahal. Argo Anggrek misalnya, harganya terpaut antara Rp. 375 rb, Rp. 400 rb, Rp. 425 rb dan Rp. 450 rb. Sebenarnya mirip – mirip tipis dengan harga tiket pesawat. Sub kelas ini, sekali lagi dari hasil googling, ternyata berbeda tempat duduk. Untuk kursi yang dekat sambungan gerbong atau gerbong paling ujung maka harganya paling murah. Maklum bro, biasanya di posisi ini goyangan kereta paling yahud hehehe. Dan semakin ke tengah, harganya semakin mahal. Dahiku sedikit mengkerut saat melihat hasil googling harga tiket di aplikasi Android (Once again… thanks to Android), kok Harga tiket Sembrani sama dengan tiket Argo Bromo Anggrek yaa? Malah di hari yang sama lebih mahal Bima daripada Anggrek, meski jalurnya berbeda karena lewat Jogja. Bukannya dulu Anggrek selalu lebih mahal dibanding dua KA Eksekutif itu? Maklum bro, terakhir naik Anggrek sekitar tahun 2008 :D. Setelah itu beberapa kali naik Sembrani, Bima atau malah Gajayana.

Akhirnya uang Rp. 1,35 juta pun bertukar 3 tiket KA Argo Bromo Anggrek Pagi dari Stasiun Pasar Turi ke Gambir.

Dan perjalanan pun di mulai….

Kami sampai Stasiun Pasar Turi sekitar pukul 07.15 WIB, masih ada waktu 1 jam sebelum keberangkatan. Tidak ada yang berubah dari stasiun ini. Kesannya masih kumuh dibanding Stasiun Gubeng. Ruang tunggu eksekutif benar – benar tidak nyaman. Tidak mampu menampung penumpang yang akan berangkat pagi itu. Banyak penumpang yang harus berdiri dan barang – barang bawaan berserakan dimana – mana bercampur petugas KA, portir, dll. Kalau untuk tempat tunggu eksekutif, kayanya lebih nyaman menunggu di stasiun – stasiun yang di lewati. Stasiun Jombang misalnya, meski kecil tapi nyaman, meskipun kayanya ga bakalan cukup juga kalo saat kereta Bangunkarta akan berangkat.

Sekitar jam 07:30, KA Argo Anggrek Malam dari Jakarta tiba. Tampak stiker Go Green di gerbongnya. Dalam hati, masak naik KA ini? Masak KA ini langsung puter kepala? Lha kalo suatu saat ada masalah, bagaimana nasib kami? Ternyata kami ga perlu khawatir, dari arah utara masuk KA di jalur 2. Dan pengumuman pun berbunyi meminta calon penumpang untuk naik.

Di sinilah keraguanku pun muncul. Tampilan eksterior kereta ini tidak mirip dengan Go Green. Juga tidak mirip dengan KA Argo Anggrek sebelumnya yang bermotif warna merah – keunguan. Dengan warna putih dan satu kaca jendela penumpang tiap deret kursi, rasanya KA ini harusnya untuk Sembrani atau KA – KA Eksekutif yang lain. Oke lha… Don’t judge the train by it’s cover… :D

Kaki pun melangkah masuk. Dengan bantuan portir, barang – barang kami pun bisa masuk bagasi di atas tempat duduk. Di sini keraguanku tadi menemui kenyataan pertama. Tidak ada leg rest di kursi penumpang yang dulu bisa menyangga betis agar tidak kaku dan bisa selonjor. Hanya ada foot rest di ujung belakang kursi di depan, sama dengan di Bima, Sembrani ataupun Gajayana. Kursi penumpang pun terlihat kusam, beberapa bekas baret ataupun noda – noda debu terlihat menurunkan aura eksekutif kereta ini. Yup… show must go on…

Sempat terjadi insiden kecil sebelum kereta berangkat. Seorang makhlus halus berdekat kecil dengan penumpang lain karena tiket mereka ternyata sama – sama kursi 8A di gerbong yang sama. Singkat cerita mereka turun, dan naik kereta lagi. Melihat kursi sebelahku kosong, sang makhluk halus pun permisi duduk di situ. Ternyata, dari cerita dia, dari data KAI penumpang lain tersebut telah membatalkan tiketnya. Selesaikah? Ternyata tidak. Penumpang tersebut pun turun dan mengurus ke KAI. Saat kembali, sambil tersenyum penumpang itu cerita dan bilang akan me-somasi KAI 100 kali harga tiket jika dia tidak bisa berangkat pagi itu karena dia tidak merasa membatalkan tiketnya. Dengan berbekal selembar kertas yang entah berisi apa, penumpang tadi kembali ke tempat duduknya dan si makhluk halus itu pun tetap duduk di sampingku :D

Dan perjalanan pun dimulai tepat pukul 08:15 sesuai jadwal. Meski sudah di gerbong tengah, di bangku tengah, dengan harga sub kelas paling mahal goyangan yahud kereta api ini masih sangat terasa. Rasa – rasanya tidak terlalu berbeda kenyamanan antara yang di dekat sambungan gerbong dengan yang duduk di tengah. Ketiadaan leg rest juga mengurangi kenyamanan naik kereta pagi itu.

Selesaikah? Tidak. Sesi buang air pun dimulai. Jika biasanya kita temui tombol untuk membuka pintu kaca antara ruang penumpang dan ujung gerbong maka untuk saat ini tidak ada. Butuh tenaga lumayan kuat untuk menggeser pintu itu jika ingin keluar masuk gerbong. Huuffhhh. Dan ternyata belum selesai. Di toilet, yang aku temui adalah toilet jongkok padahal saat naik Gajayana tahun sebelumnya, toilet duduk yang bersih dan wangi yang aku temui. Lewat tengah hari pun diberi tahu petugas kalau air toilet habis dan diminta ke gerbong sebelah…. wadeeewwww…

Lewat Cirebon, perutku pun memanggil minta diisi. Nasi Krawu pun jadi pilihan. Pertama, Nasgor ataupun steak di KA yaaa begitulah rasanya. Nasi rames??? kan kepanjangannya Nasi Ra Mesti lawuh e hehehehe. Untuk Krawu pun sebetulnya hanya berisi serundeng, suwiran daging, sambal dan telor asin. Ini Krawu mana yaa? Hanya camuran serundeng dengan nasi yang cukup bisa membangkitkan semangat 45 untuk menghabiskan menu ini. Tapi tunggu dulu, mana nih meja lipat yang biasanya disembunyikan di pegangan kursi penumpang? Seolah hilang tidak berbekas. Pegangan kursi itu terasa solid, tidak ada tanda – tanda bahwa ada yang disembunyikan di sana. Yaa…. what ever lah…. panggilan perut telah lama menjerit.

KA ini akhirnya landing di Gambir sekitar pukul 18:20 WIB atau terlambat 30 menit dari jadwal.

Jadi Kesimpulannya adalah :

  • Ketepatan Waktu : Masih bagus, terlambat 30 menit masih bisa ditolerir… Iki kebiasaane wong Indonesia hehehe.
  • Makanan : Masih mengikuti harga properti, Lhoo???? Maksudnya minimalis dan harga tinggi :D
  • Toilet : Buruk. Ini KA Eksekutif bro! Toilet jongkok, air menggenang, air sempat habis dan kalah kelas dengan KA di bawahnya.
  • Kursi : Buruk. Leg Rest adalah pembeda dengan KA yang lain yang mengandalkan foot rest. Tidak ada meja lipat untuk makan malah semakin menurunkan nilai KA ini. Sekali lagi KA ini kalah telak dengan KA kelas di bawahnya.
  • AC : Buruk. Entah karena siang jadi tidak dingin, tapi lontaran AC tidak dingin ini sempat terucap oleh penumpang.
  • Gerbong : Pintu penumpang yang harus di buka manual, gerbong yang kusam, berderit dan berdecit seharusnya tidak dipakai untuk KA ini.

Kesimpulan terakhir. Terjawab sudah kenapa harga tiket KA Argo Anggrek sekarang sama dengan Sembrani dan malah lebih murah dibanding Bima. Jadi, ga usah takut – takut lagi naik Argo Anggrek meski bersiaplah kecewa karena bukan Argo Anggrek yang dulu. Ini lah sebabnya aku lebih suka menyebut sebagai KA Sembrani Pagi, minus tidak berhenti di Lamongan – Bojonegoro dan Cepu. Miris kalo menyebut KA Argo Anggrek Pagi :D

Terakhir, masih mending naik pesawat yang harganya beda – beda tipis dengan KA Eksekutif. Sampai tulisan ini dibuat, rasa pegal – pegal naik kereta masih terasa.

Semoga dibaca direksi KAI…. lho…???!!??? :D

Update :

Menurut info kakak sepupu yang kebetulan tahu seluk beluk kereta, katanya gerbong merah – keunguan Argo Bromo Anggrek sedang diistirahatkan karena sering anjlok. Benarkah ?

Oleh: ekoyw | Juni 27, 2013

Cerita Mudik….

Apa yang ditunggu dan selalu dihitung oleh kaum perantau? Itulah mudik.. hehehe. Seperti saat ini, menjelang puasa, count down kapan mudik sudah dimulai oleh perantau, utamanya bagi perantau yang jarang mudik. Kenapa mudik terasa asyik? Ada banyak energi berlebih yang terasa saat akan mudik, belum lagi ada begitu banyak strategi yang dijalankan saat akan mudik. Mulai dari strategi mencari tiket, hingga strategi acara di kampung halaman.

Cerita ini, berisi pengalaman pribadi menjalani ritual mudik selama di tanah seberang. Mungkin bisa jadi pelajaran dalam menentukan strategi mudik selanjutnya. Oke, kita mulai saja.

2007, tahun pertama di seberang. Yang aku ingat pada saat itu, aku belum memiliki hak cuti yang cukup luang untuk mudik. Dan tahun ini, adalah mudik pertama yang memakan waktu 24 jam lebih. Semua dimulai dari beli tiket. Untuk tiket ke Jakarta, tidak ada masalah karena mesti menantang arus mudik yang keluar dari Jakarta. Tapi tiket Jakarta – Surabaya adalah perjuangan sendiri. Jalur ini terkenal sebagai jalur penerbangan tergemuk di negeri ini. Sementara kereta api terbatas, tidak sebanyak pilihan jika mudik dari Jakarta ke Jateng atau Jogja. Singkatnya, dari bantuan seorang teman di Jakarta, tiket Argo Bromo Anggrek, yang saat itu hanya bisa dibeli di stasiun atau agen, bisa di beli. Dan perjalanan pun di mulai.

Kami, aku dan istri, berangkat sekitar pukul 10 – 11 pagi dengan travel untuk mengejar pesawat sore dari Bengkulu. Mobil travel full berisi 7 orang. Bayangan kepala pusing karena jalan berliku – liku melintasi pegunungan Bukit Barisan sudah hadir bahkan sebelum perjalanan di mulai. Alhamdulillah kami duduk di bangku tengah sehingga tidak sempat Jackpot (baca : Mabuk hehehe) seperti beberapa penumpang di bangku belakang. Sampai Bengkulu sekitar jam 4-5 sore. Dan Alhamdulillah tidak ketinggalan pesawat. Sampai Cengkareng langsung ke Gambir. Argo Anggrek ini pun sampai Surabaya sekitar jam 9 keesokan harinya. Perjalanan belum selesai. Dengan naik motor, perjalanan diteruskan ke rumah mertua di seberang Surabaya. Sampai rumah, sekitar pukul 11 – 12 siang. Yang aku ingat saat itu hari Jumat, dan aku tidak sempat ikut Sholat Jumat.

2008. Dari pengalaman tahun 2007 yang butuh waktu lama kami ganti rute. Kami pilih naik pesawat ke Jakarta dari Palembang dibanding dari Bengkulu. Pertimbangannya adalah di Palembang ada pesawat yang menginap di bandara sehingga berangkat pagi – pagi jam 06.00 dari Palembang. Sehingga akan masih belum siang sampai Surabaya.

Problemnya sama !!! Tiket Jakarta – Surabaya belum ada di tangan sementara waktu tinggal 2 minggu sebelum berangkat. Tiket kereta api sudah habis dan tidak bisa didapatkan meski telah minta bantuan banyak teman di Jakarta. Akhirnya, rencana terakhir naik bis pun disiapkan. Kami minta tolong ke paman di Tangerang untuk booking tiket Bis Rosalia Indah dari Cikokol. Untuk sementara aman. Sekitar 2 minggu sebelum berangkat, iseng aku buka situs lion air. Dan Voila… this is it !!!! Tiba – tiba tiket pesawat jauh lebih murah dari biasanya. Tapi banyak pikir, aku langsung booking dan beli tiket tersebut. Dari sini aku ambil kesimpulan, untuk Lion Air, tiket akan cenderung lebih murah mendekati hari H keberangkatan….. asal… kursi masih tersedia.. hehehehe. Cenderung gambling sih. Tapi It’s OK!

Akhirnya, dengan travel malam kami berangkat pukul 21.00 ke Palembang. Sampai Bandara Shubuh sekitar pukul 03.30. Musholla pun jadi tempat jujugan kami. Ternyata sudah ada beberapa orang lain yang tidur di sana menunggu penerbangan paling pagi itu. Mandi??? Ah… tidak usah, cukup gosok gigi, basuh muka sebanyak – banyaknya, pake parfum sebanyak – banyaknya, dan rambut disisir rapi hahahaha…. Akhirnya jam 13:00 hari itu kami tiba di rumah Lamongan.

2009, aku mudik sendiri karena istri hamil dan sudah aku ungsikan beberapa bulan sebelumnya ke rumah mertua :D. Perjalanan mudik sendiri tentu lebih bebas, artinya kalo ga dapat tiket pun, naik bis Jakarta – Surabaya juga ga masalah. Untuk tiket berbekal pengalaman 2008 aku terapkan lagi saat itu. Rute dan waktu keberangkatan sampai tidak usah mandi di bandara pun aku terapkan… hehehehe

2010, sudah ada si kecil yang belum genap setahun. Biaya nambah meski belum banyak karena masih dihitung bayi. Kali ini rute Jakarta – Surabaya aku ganti Jakarta – Jogja karena ada acara keluarga. Untuk mudik kali ini, lebih keren. Tiket Garuda Palembang – Jakarta – Jogja berhasil diamankan. Untuk Garuda ini, saat itu aku pesan sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan dan harganya masih terjangkau. Kami berangkat tetap jam 20:00 dan sampai Jogja sekitar jam 12:00 siang keesokan harinya.

2011, si kecil semakin besar. Alhamdulillah masih dihitung tiket bayi. Rute kembali Jakarta – Surabaya. Dengan pengalaman 2008 – 2009, kami beli tiket Lion Air Palembang – Jakarta – Surabaya. Aku beli tiket juga mepet – mepet mau berangkat, yang jelas masih bulan puasa. Yang penting tiket Jakarta – Surabaya diamankan dulu, baru tiket Palembang – Jakarta.

2012, si kecil sudah harus pake tiket anak – anak yang meski bernama tiket anak – anak tapi tidak lebih murah dibanding orang dewasa. 2012 ini ada perubahan mendasar di PT KAI. Dengan alasan perbaikan sistem, tiba – tiba tiket KA Eksekutif Jakarta – Surabaya yang biasanya saat lebaran hanya berkisar 400 rb an melonjat menjadi 700 rb. Aku awalnya nyantai saja menyikapi hal ini. Sampai 2 bulan sebelum Lebaran aku belum beli tiket pesawat Jakarta – Surabaya karena masih berharap dapat keajaiban tiket akan turun seperti sebelumnya. Tapi lho.. lho… bukannya turun, tiket pesawat malah naik sampai batas atas dimana paling murah adalah Rp. 1 juta… Wah strategi sebelumnya ga bisa dipake nih. Akhirnya, aku dan adikku putuskan ngincar tiket kereta. Tapi alamaaak….. Mulai Sembrani, Bima sampai Argo Bromo semua ludes. Pikir – pikir, coba lihat tiket Gajayana. Dan hampir tengah malam, saat tiket kereta api tambahan dibuka, adikku yang tinggal di Jakarta berhasil booking 4 kursi tiket Gajayana Jakarta – Malang tapi turun di Kertosono. Ga masalah, toh Kertosono – Lamongan sudah dekat. Minta jemput saja. Tengah malam itu, aku beli tiket Gajayana lewat ATM Mandiri.

Dari sini aku ambil kesimpulan, di tahun – tahun selanjutnya kayanya tiket pesawat  Jakarta – Surabaya jika pesan 1-2 bulan sebelum Lebaran tidak bakalan dapat lebih murah. Karena tiket kereta api saja sudah naik jadi 700 rb.

Tiket pesawat ke Jakarta sendiri bermasalah. Tiket Sriwijaya Air yang awalnya rencana berangkat siang dari Bengkulu ternyata beberapa hari sebelum Lebaran diberitahu akan delay dan baru berangkat sore. Waduh… gimana nih, bisa ketinggalan kereta. Alhamdulillah pihak Sriwijaya Air Bengkulu membantu banyak. Mereka bersedia memindahkan naik pesawat Lion Air pagi. Yaa harus pagi tidak berani ambil siang mengingat reputasi Lion Air yang juga sering delay. Apalagi ke Surabaya-nya naik kereta, tidak naik pesawat. Yang aku salut, ternyata ada kelebihan dari harga tiket Sriwijaya Air diganti Lion Air. Dan kelebihan tersebut ditransfer kembali ke rekeningku meski harus menunggu usai Lebaran. Salut untuk Sriwijaya Air.

Tahun 2012 ini pun perjalanan kembali 24 jam lebih. Kami berangkat habis Shubuh untuk mengejar pesawat jam 10.00 yang kemudian ternyata molor sampai jam  11.00 baru berangkat. Alhasil, kami sekeluarga duduk – duduk santai dulu di Cengkareng sampai sekitar jam 15.00 sebelum bergerak ke Gambir. Dan sampai Kertosono jam 05.00 keesokan harinya.

Tahun 2013 ini ??? Berbekal pengalaman 2012, bahwa tiket pesawat Jakarta – Surabaya tidak akan lebih murah dari tiket Kereta Api yang saat itu berkisar 700 rb, maka tiket Jakarta – Surabaya sudah diamankan sejak tahun kemarin. 10 Bulan sebelum perjalanan :D. Begitu browsing dan dapat jadwal libur nasional 2013 maka langsung lihat kalender dan memutuskan tanggal berapa akan mudik.  Bagaimana dengan ke Jakartanya? Juga Alhamdulillah sudah diamankan.

Bagaimana perjalanan tahun ini???? Semoga dimudahkan…..:D

Oleh: ekoyw | April 2, 2013

Setting VPN Huawei Mediapad S7-301u

Memasuki bulan keempat tahun 2013 ini, aku mendapat beberapa gadget dinas dari kantor. Yup, gadget dinas karena memang diperuntukkan untuk keperluan kerja sehari – hari.

Deretan gadget itu dimulai sekitar akhir Februari lalu, saat sebuah Smartphone Huawei Ascend D Quad XL dikirim dan dijadikan HP operasional pekerjaan. Kemudian disusul minggu kemarin, sebuah tablet Huawei Mediapad S7-301u juga datang untuk kepentingan pelaksanaan pendataan asset. Semuanya berbasis Android.

Hampir dua tahun berkenalan dengan Android, dimulai dari Samsung Galaxy Gio yang hanya berumur tidak sampai 5 bulan karena terjatuh dari mobil saat mudik, Galaxy Ace dan sekarang Huawei.

Selama berkenalan dengan gadget android baru, membuatku sekarang memiliki parameter tersendiri untuk menilai kinerja sebuah gadget. Parameter itu adalah fitur VPN. Memang, hampir semua gadget Android sudah mendukung fitur VPN. Namun perlakuan untuk “menghidupkan” fitur itu bisa dibilang berbeda satu dengan yang lain. Utamanya untuk mengakses VPN IPSec PSK XAuth yang dipakai kantor.

Untuk Galaxy Gio dan Ace, harus di-root dulu dengan pengalaman yang mendebarkan karena baru pertama kali memegang android. Sementara Huawei Ascend, tanpa root sudah mengaktifkan fitur VPN IPSec PSK XAuth. Cukup fungsional sich. Meski cukup menyiksa juga jika harus remote PC kantor dari handphone yang hanya selebar sekitar 3-4 inch hehehe.

Lain lagi dengan Huawei Mediapad S7-301u. Tablet ini sudah memiliki fitur seperti Huawei Ascend, tapi tidak bisa dijalankan. Status VPN hanya connecting… terus kemudian timeout. Saat install VPNCilla versi Trial, sebetulnya tablet ini sudah mendapatkan IP. Tapi tidak bisa membangun sebuah link yang established. Dari VPNCilla, disebutkan kesalahan di parameter server atau module Tun.ko yang tidak ditemukan. Akhirnya, jalan satu – satunya harus di root, karena Tun.ko diinstall lewat TUN.KO Installer yang hanya berjalan di gadget yang telah di-root.

Berikut langkah – langkah untuk membuat Tablet Huawei Mediapad S7-301u kita bisa terkoneksi ke VPN, utamanya VPN IPSec PSK XAuth :

  1. Root Mediapad : Dengan tujuan agar bisa install TUN.KO Module yang dipakai untuk akses VPN.
    • Download aplikasi 1clickroot dari http://1clickroot.com/ ke PC. Bisa baca-baca juga tutorialnya di sini.
    • Buka Meped. Klik agak lama ditampilan tanggal (pojok kanan bawah) dan klik setting (sebelah SRS) dan pilih Settings.
    • Pilih Developer Options
    • Aktifkan USB Debugging.
    • Jika perlu, unmount storager di Setting – storage – Unmount SD Card
    • Hubungkan PC dan Meped.
    • Setelah terhubung, jalankan 1clickroot yang sudah di-download di PC.
    • Dan pilih root dan tunggu beberapa saat (ga sampai 5 menit) sudah selesai. Dan lepas kabel USB Meped ke PC.
    • Untuk mengecek sudah root, buka Meped dan lihat di Apps apakah sudah ada Aplikasi Superuser. Jika sudah ada, root berhasil.
  2. Install TUN.KO
    • Download Tun.ko Installer dari Playstore.
    • Jalankan Tun.ko Installer di Meped.
    • Centang semua, dan klik Install.
    • Pilih Allow jika ada pertanyaan apakah kita mengizinkan aplikasi ini mengakses superuser. Sebenarnya untuk kasus ini, tujuan root hanya untuk ini J
    • Selesai.
  3. Install VPNC
    • Download VPNC di Playstore.
    • Setting Buka VPNC Widget di  Apps.
    • Klik Check Prerequisites untuk mengecek apakah VPNC bisa jalan atau tidak.
    • Klik Set Preferences dengan settingan sbb :
    • IPSecGateway : IP VPN
    • IPSecId : Nama Group
    • IPSecSecret : Password Group
    •  XauthUsername : Nama User
    • XauthPassword : Password User
    • VPNC Widget ini dijalankan secara Widget (Bukan Aplikasi) dari Homescreen.Jika sudah ada VPNC, tinggal klik agak lama sampai VPNC ditempatkan di HomescreenJika belum ada VPNC, matikan dan nyalakan Meped. Cek lagi di Widgets, harusnya VPNC Widget sudah ada di sana.
    • Jika sudah tampil di Homescreen, klik VPNC Widget. Jika sudah benar, kedua panah akan berwarna hijau yang menandakan kita sudah terkoneksi ke VPN kantor.
    • Silahkan dicoba misal untuk koneksi Telnet via app Connectbot atau remote PC kantor via app PocketCloud atau koneksi ke server database via aplikasi Connect to SQL.

     

Sebetulnya, untuk Android Ice Cream Sandwich (ICS) ke atas sudah ada aplikasi VPNCilla yang tidak membutuhkan rooting meski tetapi juga tidak gratis hehehe. Berhubung di-tablet ini VPNCilla tidak bisa jalan dan salah satu jalan untuk VPN adalah harus rooting maka aku pakai VPNC saja yang meski jadul tapi tetap bisa diandalkan dan yang penting gratis buat yang ga punya credit card seperti aku… hehehehe…

Semoga bermanfaat.

Oleh: ekoyw | Maret 15, 2013

Susahnya Mendefinisikan Jumlah BTS….

Awal tahun seperti ini, hampir semua operator seluler melaporkan kinerja mereka tahun kemarin. Salah satu poin yang ikut dilaporkan adalah jumlah BTS yang dimiliki tiap operator, baik 2G, 3G maupun CDMA. Sering juga timbul pertanyaan, mengapa operator X dengan jumlah BTS yang lebih banyak dari operator lain tetapi memiliki jumlah pelanggan dan pendapatan yang lebih sedikit dibanding operator lain tersebut.

BTS atau Base Transceiver Station adalah perangkat yang langsung berhubungan dengan gadget pelanggan. Meskipun disebut perangkat, masih sering terjadi kerancuan penghitungan jumlah BTS. Juga semakin rancu jika BTS dicampuradukkan dengan site dan tower.

Site sendiri menunjukkan ke lokasi lahan tempat perangkat berada. Jadi site tidak merujuk dan terpisah dengan perangkat.  Sehingga beberapa operator menyerahkan pengelolaan site ini bukan ke divisi teknikal sebab pekerjaannya yang cenderung rutinitas maintenance fasilitas di site yang bersifat pendukung perangkat seluler.

Tower jelas merujuk pada perangkat tower. Satu site umumnya terdiri dari 1 tower meski tidak menutup kemungkinan 1 site bisa terdiri dari beberapa tower. Dalam satu site atau tower, tidak selalu terdapat BTS. Misalnya site – site yang berfungsi sebagai repeater yang hanya meneruskan sinyal transmisi dari satu tower ke tower lain tanpa ada perangkat BTS di dalamnya.

Dari penjelasan di atas maka jelas BTS tidak bisa dihitung berdasarkan jumlah site atau tower. Jika mengacu ke perangkat keras / hardware maka terjadi pula kerancuan penghitungannya jika berdasar teknologi. Umum diketahui, teknologi seluler di Indonesia adalah 2G (GSM & DCS) serta 3G. Lantas apakah tiap teknologi tersebut memerlukan perangkat BTS sendiri- sendiri? Ternyata tidak. Teknologi BTS sekarang sudah jauh berkembang yang menyebabkan satu modul perangkat bisa memberi layanan 2G (baik GSM maupun DCS) maupun sekaligus 2G + 3G.

Antenna BTS pun sekarang bisa memancarkan tidak hanya sinyal GSM yang bekerja di frekuensi 900 MHz tetapi juga DCS 1800 dan 3G 2100 dalam satu perangkat antenna.

Kita ambil satu contoh, perangkat Flexy Multi Radio dari NSN, umumnya terdiri dari System Module yang berfungsi sebagai CPU BTS dan RF Module.yang berfungsi menjembatani antara System Module dan Antenna. Dalam 1 System Module 2G, bisa digunakan bersamaan baik untuk GSM maupun DCS. Pertanyaanya adalah berapakah jumlah BTS-nya? Jika patokannya adalah hardware System Module maka berarti jumlah BTS adalah 1. Tetapi jika patokannya adalah teknologi frekuensi seluler yang dihasilkan maka jumlah BTS-nya adalah 2 karena terdiri dari GSM dan DCS. Ini belum lagi jika kelak 1 system module ini bisa memberi layanan frekuensi seluler lebih dari 2 – 3 teknologi seluler. Tentu akan semakin sedikit jumlah hardware BTS yang akan dihitung.

Perangkat BTS yang semakin compact ini memang sudah menjadi tuntutan, selain untuk menekan cost yang timbul juga untuk menekan konsumsi listrik yang dipakai BTS.

Pendefinisian penghitungan jumlah BTS ini yang sepertinya belum ada kesepakatan yang tepat dan jelas yang dijalankan oleh semua operator untuk melaporkan jumlah BTS yang mereka miliki.

Tidak heran, mungkin ke depan masih ada operator seluler dengan pertumbuhan BTS yang tidak agresif tetapi memiliki jumlah pelanggan dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding kompetitor-nya.

 

Semua berawal sekitar seminggu lalu saat sebuah email muncul di HP Mbak Andro-ku. Seorang teman di wilayah timur Indonesia mengabarkan tentang sebuah software G-NetTrack. Awalnya tidak aku anggap serius karena software untuk monitoring sinyal seluler di Android boleh dibilang sangat banyak jumlahnya meski hanya beberapa saja yang memenuhi harapan.

G-NetTrack sendiri secara lengkap bisa dibaca di sini. G-NetTrack bisa juga digunakan sebagai pelengkap dari RF Signal Tracker. RF Signal Tracker sendiri bisa di baca di blog-ku di sini.

G-Net Tracking

G-Net Tracking

Oke… akhirnya aku download aplikasi G-NetTrack dari toko mainan (baca : Playstore) Mbah Google. Sekilas, tidak ada yang istimewa. Data BTS tidak muncul di aplikasi seperti kebanyakan aplikasi sejenis. Tapi nanti dulu, ditampilan email yang di-forward-kan temanku itu kok data BTS-nya muncul. Selidik punya selidik ternyata harus membuat sebuah file teks (.txt) yang kemudian dimasukkan ke folder G-NetTrack-Logs -> cellfile di HP Android.

Format cellfile.txt itu adalah sebagai berikut :

CELLNAME        LAT              LONG               LAC        CELLID    AZIMUTH    TECH    NODE
Air_Dingin_1    -3.35858    102.44979    28993    35234      145                 2G
Air_Dingin_2    -3.35858    102.44979    28993    35235     240                 2G
Air_Dingin_3    -3.35858    102.44979    28993    35236     345                 2G

Dengan keterangan sebagai berikut :

CELLNAME adalah nama sektor dari BTS tersebut. Harap diingat, penulisan cellname ini jangan ada spasi. Pada awalnya, cellname-ku, misal Air_Dingin_1 aku tulis biasa Air Dingin 1. Hasilnya, tidak keluar tampilan BTS di aplikasi G-NetTrack. Ini sedikit berbeda dengan RF Signal Tracker yang membolehkan spasi. Hal ini karena RF Signal Tracker menggunakan file dengan format .csv sehingga tiap kolom data sudah diberi pemisah koma “,”. Sementara file .txt tidak ada pemisah kecuali spasi. Sehinga jika ditulis Air Dingin 1 bisa – bisa CELLNAME adalah Air kemudian LAT adalah Dingin dan seterusnya.

LAT adalah latitude yang menunjukkan koordinat garis lintang dari BTS tersebut.

LONG adalah longitude yang menunjukkan koordinat garis bujur dari BTS tersebut.

LAC adalah Local Area Code.

CELLID adalah Cell ID dari sektor BTS tersebut.

AZIMUTH adalah arah antenna sektor BTS tersebut dalam derajat. Kolom ini yang beda dan tidak terdapat di RF Signal Tracker. Data ini sebenarnya digunakan untuk menggambar arah antenna BTS di aplikasi sehingga pengguna dapat lebih mudah memperkirakan coverage dari sektor BTS tersebut.

TECH adalah Technology yang dipakai oleh BTS tersebut, apakah 2G atau 3G

NODE digunakan jika GSM maka dikosongkan, jika 3G diisi dengan No RNC dan jika 4G diisi dengan eNodeB ID.

Untuk memudahkan, tinggal buka saja aplikasi Excel buat sesuai kolom di atas dan save as ke .txt. Jika sudah lengkap, jangan lupa masukkan file cellfile.txt ini ke folder cellfile di dalam folder G-NetTrack-Logs di HP.

Sekarang saatnya mencoba berkeliling…

Aktifkan G-NetTrack. Kita akan mendapatkan 4 tab menu utama, yakni :

  • Cell : Berisi ringkasan data sektor BTS yang sekarang melayani HP kita mulai dari MCC, MNC, LAC, RNC, CELLID, dll.
  • Nei : Berisi informasi cell neighbors/tetangga di sekitar cell yang sekarang melayani kita. Tetapi, seperti disebutkan oleh developernya, cell neighbors ini hanya bisa ditampilkan dibeberapa jenis HP yang telah dites sebelumnya seperti Sony, HTC, Alcatel dan LG.
  • Map : Berisi peta google map. Sayang, belum bisa disetting agar peta yang ditampilkan bisa juga peta offline. Ada pilihan untuk memilih informasi apa yang akan ditampilkan di peta ini, yakni : Level kuat sinyal yang diterima, Kualitas, Cell, Download rate, Upload rate dan kecepatan. Yang sedikit mengganggu adalah tingkat pewarnaan yang tidak lazim saat kita memilih level. Umumnya, saat drive test, sinyal terkuat sampai terlemah akan digambar dengan titik berwarna hijau terang – kuning – jingga dan merah untuk sinyal terlemah. Namun dalam aplikasi ini, terkuat adalah merah – jingga – kuning – hijau – biru – abu-abu dan hitam untuk yang terlemah.
  • Info : berisi informasi tentang HP dan sofware G-NetTrack yang sedang dipakai.

Sebelum memulai drive test, pastikan BTS beserta arah sektornya sudah tampil di peta dengan cara pilih menu – settings dan centang : Show Sites, Show Serving Line dan Show Cell Names.

Jangan lupa aktifkan GPS. Jika HP kita sudah mengunci satelit GPS yang berarti posisi kita di peta sudah sesuai posisi sebenarnya maka kita tinggal jalan melakukan drive test. Jika ingin menyimpan log file, tekan menu dan pilih Start Log. Jika sudah selesai jangan tekan End Log.

Ada yang sedikit mengganjal dengan cara Start – End Log ini.  Jika sudah tekan start log, kemudian kita melakukan drive test. Jika suatu saat ada telepon yang masuk ke HP kita maka akan meng-interupt proses logging ini. Dan, entah mengapa, kita harus melakukan Start Log lagi dari awal. Hasil Logging sebelumnya yangdi-interupt telpon masuk juga tidak bisa kita buka di google earth.

Satu kelemahan yang lain adalah tidak adanya fasilitas untuk memutar atau menampilkan lagi file Log tersebut di aplikasi G-NetTrack di HP. Jadi hasil log hanya bisa dibuka di PC. Di sini RF Signal Tracker lebih unggul karena ada fasilitas Big Picture untuk menampilkan log yang sudah ada dan bisa memutar kembali tracking yang sudah dilakukan.

Kita juga dapat melakukan pengetesan kualitas call dan data dengan menekan menu – settings dan isi parameter di voice sequence dan data sequence.

Setelah end log, kita dapat mengolah file log tersebut dengan google earth untuk keperluan lebih lanjut. Hasil file log tersebut bisa seperti berikut :

Hasil G-NetTrack dibuka dengan Google Earth

Hasil G-NetTrack dibuka dengan Google Earth

Overall…. berikut keunggulan G-NetTrack dibanding RF Signal Tracker :

  • Data yang dikumpulkan lebih bervariasi, misal yang berhubungan dengan call, data dan quality dan tidak melulu sekedar kuat sinyal yang diterima HP.
  • Tampilan peta dan BTS lebih bagus karena menyertakan arah sektor dari BTS. Sehingga memudahkan memperkirakan service area dari sektor tersebut.
  • Disediakan situs tersendiri untuk mengolah data log kita jika kita tidak sempat install Google Earth. Situs tersebut berada di sini yang disebut G-NetDiag.

Sedangkan kelemahannya antara lain adalah :

  • Tidak ada fitur untuk melihat log yang sudah dilakukan langsung di HP.  Hasil log hanya bisa dilihat melalui PC, google earth atau ke situs pembuatnya.
  • Putusnya log saat ada call yang masuk juga mengganggu yang membuat harus logging ulang dari awal.
  • Pengelompokan warna kuat sinyal yang lumayan aneh karena sedikit keluar dari pakem yang sudah ada dari warna hijau – kuning -merah menjadi warnah merah – kuning – hijau – biru- hitam.
  • Sayang, neighbors cell hanya bisa dilihat di HP tertentu. Daftarnya di sini.

Semoga bermanfaat…

UPDATE !!!!

Karena beberapa permintaan, berikut urutan bagaimana aku membuat dan menampilkan cellname.

  • Aku mulai dari membuat file cellfile di Excel. Lhoo ?? Yaaa alasannya simple. Karena cellfile yang aku buat ada lebih dari 17000 Cell ID. Jadi cara paling gampang ya lewat Excel dan tinggal di save as ke .txt

 

Buat cellfile di Excel

Buat cellfile di Excel

  • Nah…. berikut penampakan file cellfile.txt nya.
Cellfile.txt

Cellfile.txt

  • Setelah itu, tinggal copy file cellfile.txt itu.
Copy cellfile ke Folder G-NetTrack

Copy cellfile ke Folder G-NetTrack_Logs

  • Dan berikut hasilnya
Hasil sebelum di zoom

Hasil sebelum di zoom

 

Setelah di-zoom

Setelah di-zoom

Note : Ini contoh untuk BTS 3G yaa… sebab kebetulan mau monitor yg 3G dan berhubung jumlah cell ID-nya sudah 17 rb an. Yaa sudah, yang 2G tidak dimasukkan.

Semoga berguna.

Curup – Kepahiang, dua daerah di Provinsi Bengkulu ini terkenal dengan alamnya yang sejuk karena tepat berada di lembah dan dikelilingi gunung – gunung di deretan Pegunungan Bukit Barisan.  Alamnya masih asri, dengan kelokan kiri – kanan yang cukup mengocok perut baik mencapai daerah ini dari Bengkulu maupun Lubuk Linggau.

Daerah ini tepat berada di jalur lintas antara Bengkulu – Lubuk Linggau. Jalan terbilang mulus. Ada beberapa angkutan untuk mencapainya. Untuk bis, ada Bis PO Waspada yang melayani trayek Bengkulu – Lubuk Linggau. Sayang, bis 3/4 ini terbilang kondisi buruk untuk menempuh trayek berkelok – kelok ini. Jika ingin mendapatkan angkutan lebih nyaman, juga terdapat beberapa jasa travel yang menuju ke area ini.

Kondisi jalan pun relatif mulus, meski di beberapa tempat terdapat aspal yang mengelupas. Jika dari Bengkulu, yang perlu di waspadai adalah bahaya longsor di area “Gunung”, sebuah jalan penuh kelokan yang menembus rimba Sumatra dan membelah pegunungan Bukit Barisan sepanjang sekitar 20 – 30 km. Jika dari Lubuk Linggau, terdapat sedikit titik rawan kriminalitas di sekitar Desa Kepala Curup – Padang Ulak Tanding, terutama bagi pelancong yang menggunakan sepeda motor disarankan untuk melakukan konvoi jika melewati daerah ini.

Bagaimana dengan obyek wisatanya? Berikut sedikit ulasannya :

Danau Mas :

Danau ini terletak di Desa Karang Jaya, Kec Selupu Rejang, Kab Rejang Lebong. Berada di sebuah cekungan yang mirip seperti sebuah kawah yang telah mati. Berlokasi tepat di pinggir Jalan Lintas Curup – Lubuk Linggau, sekitar 20 km dari Curup.

Danau Mas

Danau Mas

Jujur, sebenarnya obyek wisata ini kurang menarik. Terdapat banyak tumbuhan, sepertinya bukan Enceng Gondok, di atas danau yang menyebabkan luas danau terlihat sempit dan kotor.

Bagaimana dengan fasilitasnya? Obyek wisata ini boleh dibilang minim fasilitas. Permainan naik perahu, bebek-bebekan, flying fox dan area bermain anak – anak memang ada. Tetapi kondisinya kurang terawat. Demikian juga dengan sarana umum, seperti toilet, tempat istirahat dan Musholla yang kotor dengan cat yang sudah kusam. Mungkin yang bisa dinikmati di obyek wisata ini hanyalah segarnya udara, kencangnya angin yang dingin dan pemandangan penuh bukit di sekitarnya.

Meski demikian, obyek wisata ini sangat overload terutama saat liburan seperti tahun baru kemarin. Tetapi menjadi sepi peminat di hari biasa meskipun lokasinya tepat berada di pinggir jalan raya.

Jika membaca Ekspedisi Musi oleh Kompas, sepertinya lokasi sumber mata air Sungai Musi yang mengalir jauh ke Palembang, berada di sekitar perbukitan di sekitar danau ini.

Sekitar 10 km dari danau ini ke arah Lubuk Linggau, di sekitar Desa Beringin 3 Kecamatan Sindang Kelingi, banyak berderet para penjual jagung manis baik dibakar maupun direbus. Cukup nikmat sebagai tempat melepas lelah para pelancong setelah melakukan perjalanan jauh sambil menikmati pemandangan kebun kopi yang membentang.

Sering terbayang, andaikan kios – kios pedagang ini dikemas seperti kawasan wisata “Payung” antara Batu – Pujon, Malang, Jawa Timur tentu lebih membuat orang kerasan berlama – lama di sana. Menu yang disajikan pun beragam, tidak hanya jagung rebus dan bakar. Andaikan….

Kolam Air Panas Suban :

Kalau melihat lokasinya, obyek wisata ini berada di dalam kota Curup. Terdapat sebuah gapura yang dibangun di pinggir Jalan Lintas Curup – Lubuk Linggau yang menunjukkan jalan masuk ke lokasi ini, sekitar 2-3 km dari jalan raya.

Kolam Air Panas Suban

Kolam Air Panas Suban

Terletak di sebuah lembah, dengan dua lereng curam yang mengapit sebuah sungai kecil yang mengalir deras. Terdapat sebuah kolam renang utama yang besar dan beberapa kolam kecil berair panas. Juga terdapat jogging track menyusuri jalan setapak menuju ke sebuah air terjun.

Sama seperti Danau Mas, fasilitas di obyek wisata ini juga minim. Terdapat beberapa kamar mandi yang kurang bersih, yang untungnya tertutup dengan air yang berlimpah dan segar. Beberapa ruang ganti pakaian bagi yang akan berenang juga disediakan. Namun juga kurang terawat, beberapa malah tidak terpasang kunci untuk menutup pintu ruang ganti.

Kondisi air kolam juga kotor. Banyak dedaunan yang masuk ke kolam. Ditambah, kondisi air yang agak keruh, terutama ketika hari libur ketika banyak pengunjung yang datang menyerbu lokasi.

Parkir mobil juga tidak luas sehingga saat hari libur mobil pengunjung terpaksa berjajar di kiri kanan jalan masuk ke lokasi, dimana jalan tersebut adalah sebuah jalan yang miring.

Untuk penginapan, terdapat beberapa villa dan hotel sederhana di sekitar Danau Mas. Meski disayangkan belum ada hotel berbintang tiga yang layak baik di Curup dan Kepahiang. Hal ini sedikit berbeda dengan Lubuk Linggau yang telah memiliki beberapa hotel berbintang tiga. Sedikit banyak, hal ini membuat para pelancong lebih nyaman tinggal di Lubuk Linggau atau Bengkulu yang hanya 2 jam perjalanan ke Curup – Kepahiang.

Kebun Teh Kaba Wetan :

Berbeda dengan Danau Mas dan Kolam Air Panas Suban, obyek wisata yang ini gratis. Berlokasi dekat dengan kota Kepahiang. Pelancong tinggal mengikuti penunjuk jalan yang banyak terdapat di sekitar Pasar Kepahiang untuk menuju lokasi kebun teh ini. Kondisi kendaraan harus benar-benar disiapkan karena kondisi jalan yang meskipun mulus tetapi penuh dengan tanjakan tajam. Tidak jarang kendaraan harus berjalan dengan persnelling gigi 1 terutama saat musim liburan dan banyak kendaraan lewat.

Kebun Teh Kaba Wetan

Kebun Teh Kaba Wetan

Apa yang ditawarkan kebun teh ini? Tidak ada selain pengunjung akan dimanjakan dengan sejuknya udara dan pemandangan hamparan kebun teh yang indah memanjakan mata. Tidak diketahui apakah terdapat fasilitas umum, seperti toilet atau masjid, yang khusus disediakan bagi pengunjung. Sehingga pengunjung harus buang hajat dulu sebelum ke lokasi ini. Jika pun terpaksa, hal yang paling mungkin adalah ke desa terdekat yang terdapat di dalam lokasi ini.

Di areal kebun teh ini pun tidak ada areal khusus yang disediakan untuk pengunjung. Pengunjung boleh memarkir kendaraannya di tepi sepanjang jalan akses dari kebun teh ini ke desa – desa sekitarnya.  Pengunjung pun dapat masuk ke sisi kebun teh manapun yang dikehendaki meski sekedar untuk foto – foto atau menyantap bekal yang dibawa.

Tour keliling kebun, melihat proses pengolahan teh, Ecotourism, sarana penginapan di areal kebun, toko souvenir yang disiapkan pihak perkebunan pun belum aku jumpai. Entah tidak ada atau tersembunyi. Pengunjung kebanyakan hanya datang, foto – foto atau bersantap siang di areal kebun, dan kemudian pulang.

Ada yang sedikit mengganggu ketika melewati jalan akses ke kebun teh ini. Terdapat sebuah rumah mewah di pinggir jalan dengan pilar – pilar yang tinggi, berlokasi tepat di tanjakan. Menurut penduduk setempat, rumah itu milik keluarga bupati. Juga saat berjalan antara Curup – Kepahiang, akan nampak bangunan mirip istana dengan pilar – pilarnya yang megah dan bercat putih sehingga tidak jarang disebut sebagai “Gedung Putih”. Gedung – gedung itu adalah kantor bupati dan dprd setempat. Entahlah…. sebuah ironi dari otonomi dan pemekaran daerah.

Curup – Kepahiang, bagaikan dua perawan yang belum bersolek. Sebetulnya banyak area wisata yang menarik yang jika digarap serius akan semakin membuat kedua daerah ini terkenal.

Jika melihat pengelolaan Danau Mas dan Suban Air Panas, aku malah teringat zaman baheula obyek wisata Tanjung Kodok saat dikelola Pemda Lamongan, Jatim. Kondisinya sama, tanpa daya tarik dan hanya seonggok batu karang menyerupai katak di pinggir pantai yang sering dijadikan tempat melihat hilal. Namun, siapa sekarang yang tidak kenal Wisata Bahari Lamongan yang berlokasi sama dan menjadi salah satu daya tarik wisata di Jawa Timur? Rasa-rasanya, jika pengelolaan masih sama seperti sekarang, Danau Mas dan Suban Air Panas tidak berkembang. Pengunjung beramai – ramai ke sana buka karena obyek wisatanya yang menarik tetapi karena kurangnya pilihan wisata obyek wisata lainnya yang lebih menarik.

Demikian juga kebun teh Kaba Wetan yang seharusnya melihat banyaknya wisatawan yang masuk ke area kebun sebagai potensi untuk mendapatkan pendapatan di luar hasil kebun.

Dari sarana penunjang, kondisi jalan akses ke ketiga obyek wisata di atas memuaskan. Untuk hotel, jika pun tidak ada hotel berbintang, keberadaan hotel yang layak dan bersih di area ini harus ditingkatkan jumlahnya.

Potensi yang terdapat di sepanjang jalan kedua daerah ini juga ditingkatkan. Dari penjual Jagung bakar di Beringin 3, beragam keripik di Curup sampai hasil kebun di Kepahiang sebetulnya sangat – sangat layak untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih dari apa yang disajikan saat ini. Curup – Kepahiang, dua daerah yang terletak di lembah Pegunungan Bukit Barisan ini dikaruniai tanah yang subur yang hampir semua tumbuhan dapat tumbuh. Bahkan pisang di Curup pun memiliki kesegaran dan wangi yang berbeda dengan yang dijual di daerah lain. Sayuran dari daerah ini pun menyebar sampai ke Palembang dan Bangka.

Curup – Kepahiang, dua perawan yang harus benar – benar segera bersolek…

 

 

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 714 pengikut lainnya.