Oleh: ekoyw | Maret 12, 2012

RF Signal Tracker, Tool Untuk Cek Sinyal

Dalam tulisan sebelumnya, aku sempat kecewa dengan RF Signal Tracker yang belum berfungsi di Mbak Andro ku. Ternyata setelah baca sana-sini, ada yang terlewatkan saat setting. Tepok jidat !!!!

RF Signal Tracker adalah salah satu dari beberapa aplikasi berbasis android yang bisa digunakan untuk drive test sinyal seluler. Meski mungkin tidak selengkap TEMS, aplikasi ini sudah cukup dengan beberapa fitur seperti :

  1. Input data site (MCC, MNC, LAC, ID, Longitude dan Latitude site) secara manual sesuai data site yang kita miliki.  Dan ini yang aku lewati.
  2. Dapat merekam data RSSI, menyimpannya dan meng-convertnya ke bentuk file XML, CVS dan KML untuk dianalisa lebih lanjut.
  3. Dapat me-replay data yang telah rekam langsung dari HP.
  4. Dapat memperkirakan coverage dari suatu cell.
  5. Dan yang pasti gratis :)

Tampilan RF Signal Tracker

Untuk dapat menjalankan aplikasi ini maka yang dibutuhkan adalah :

  1. HP dengan operating system Android dari hasil kerja halal :) . Untuk HP dengan O/S Blackberry atau IOS, saya kurang tahu karena tidak punya. Kalau ada yang mau nyumbang HP Blackberry atau IOS dengan senang hati saya terima :)
  2. Aplikasi RF Signal Tracker yang dapat didownload secara gratis (tapi tarif data karena download tetap jalan) dari android market (http://market.android.com/App/tools) dan search RF Signal Tracker. Bagi yang masih awam dengan android, bisa langsung masuk ke aplikasi Market yang telah ada di HP Android masing-masing.

Sejak minggu kemarin, Menu Market Android berubah menjadi Google Play di HP Android.

Versi terakhir adalah RF Signal Tracker versi 2.4.1 tetapi baca di web pembuatnya akan segera keluar 2.4.2

Pembuatan data site :

Sesuai petunjuk di http://sites.google.com/site/androiddevelopmentproject/home/rf-signal-tracker yang pertama disiapkan adalah data site. Caranya adalah :

  1. Buka aplikasi notepad di PC.
  2. Pada baris pertama, masukkan data ini : mcc,mnc,lac,ci,latitude,longitude
  3. Pada baris selanjutnya, masukkan data tiap cell sesuai urutan di point b.

-         MCC : 510 (Untuk Indonesia)

-         MNC : 01 (Misal Untuk Operator Indosat)

-         LAC : Local Area Code

-         CI : Cell ID Code

-         Latitude : Garis Lintang

-         Longitude : Garis Bujur

  1. Hasil file-nya seperti ini untuk GSM/DCS :

mcc,mnc,lac,ci,latitude,longitude

510,01,28993,35234,-3.35858,102.44979

510,01,28993,35235,-3.35858,102.44979

510,01,28993,35236,-3.35858,102.44979

510,01,28993,35227,-3.45647,102.63289

510,01,28993,35228,-3.45647,102.63289

510,01,28993,35229,-3.45647,102.63289

Dan untuk 3G/WCDMA, misalnya :

510,01,51101,29221,-3.27516,102.90281

510,01,51101,29222,-3.27516,102.90281

510,01,51101,29223,-3.27516,102.90281

510,01,51101,29211,-3.32104,102.82963

510,01,51101,29212,-3.32104,102.82963

510,01,51101,29213,-3.32104,102.82963

510,01,51101,29141,-3.26561,102.91903

510,01,51101,29142,-3.26561,102.91903

510,01,51101,29143,-3.26561,102.91903

  1. Perlu diingat, 1 site GSM/DCS/3G memiliki 3 cell/sektor. Jadi ketiga cell/sektor tersebut juga harus diinput. Dari data di atas, untuk site yang sama (ditunjukkan dengan koordinat latitude/longitude yang sama) terlihat hanya berbeda di data CI saja untuk ketiga cell-nya.
  2. Save As file di atas dalam format .CVS. Simpan dengan nama terserah.
  3. Sambungkan kabel data PC ke HP android. Pilih USB Selected.
  4. Pilih Connect USB Storage.
  5. Copy-kan file CSV yang telah dibuat ke folder rfsignaldata di HP Android kita.
  6. Done.

Jika kita tidak memiliki akses/informasi tentang data MCC, MNC, LAC dan CI maka kita bisa membuatnya secara manual. Dan pertama yang dibutuhkan adalah :

  1. Kita harus tahu site/tower tersebut milik operator siapa.
  2. Memiliki GPS untuk mencatat data koordinat tower tersebut.

Untuk mengisi data tersebut, yang perlu diingat adalah :

  1. MCC/Mobile Country Code yang berarti kode negara, untuk Indonesia yaitu : 510
  2. MNC/Mobile Network Code yang berarti kode untuk tiap operator, misalnya : 01 untuk Indosat, 10 untuk Telkomsel dan 11 untuk XL Axiata.
  3. LAC/Local Area Code, kode area seluler. Untuk mengetahui LAC dan CI, ada banyak aplikasi di Android Market/Google Play yang bisa digunakan. Misalnya di aplikasi android Antennas akan ditemukan informasi LAC dan CID di bagian bawahnya.
  4. CI/Cell ID. Untuk mengetahui CI, sama dengan cara LAC. Sekedar diketahui, dalam satu site biasanya terdiri dari 3 sektor yang memiliki CI berurutan dari sektor 1 sampai 3.

Penomorannya pun unik, tinggal melihat digit terakhir dari CI tersebut maka kita akan tahu di-handle oleh sektor berapa, misalnya : Untuk sektor 1 digit terakhir CI adalah 1 atau 4 atau 7. Sektor 2 dengan digit terakhir 2 atau 5 atau 8. Sektor 3 dengan digit CI terakhir adalah 3, 6 dan 9. Sehingga dalam satu site, secara berurutan, penomoran CI dari sektor 1 sampai 3 bisa : xxxx1, xxxx2, xxxx3 atau xxxx4, xxxx5, xxxx6 atau xxxx7, xxxx8, xxxx9.

Sebagai informasi kecil, jika dalam satu site terdapat GSM dan DCS atau bahkan 3G maka bisa terdiri dari lebih dari 3 sektor dalam site yang sama. Nah, penomoran CI di atas bisa berbeda. Misalnya untuk GSM dari aabb1, aabb2, aabb3 sedangkan DCS memakai nomor bisa ccdd4,ccdd5,ccdd6. Demikian pulan untuk 3G.

Terakhir, data koordinat site telah kita dapatkan dari GPS. Sehingga kita pun bisa membuat file .CSV seperti contoh di atas.

Setting di HP :

  1. Buka aplikasi RFSignalTracker
  2. Klik tombol Menu di HP.
  3. Pilih Preferences. Di Pilihan Site Database, pilih Local. Pilihan ini akan membuat aplikasi akan mencari database site ke file yang kita buat, bukan ke data Google atau OpenCellID karena mungkin data site kita tidak terdapat di Google maupun OpenCellID.
  4. Di Preference juga kita bisa mengaktifkan banyak hal. Misalnya : Unit of Measure pilih metric, Centang di Show signal strength, Sector Coverage, Show Serving Cell, mengaktifkan Vibrate/Sound ketika terjadi Hand Over.
  5. Keluar dari menu Preference dengan menekan tombol Back di HP.
  6. Pilih DB yang memiliki icon koin bertumpuk di sudut kanan atas.
  7. Pilih Import site record. Dan pilih nama file CSV yang telah kita buat sebelumnya.

Penggunaan :

  1. Aktifkan GPS di HP kita.
  2. Buka RFSignalTracker
  3. Klik Map
  4. Tunggu beberapa saat sampai GPS telah mengunci lokasi kita.
  5. Setelah terkunci, Done!!!
  6. Di bagian bawah Halaman Map akan terdapat beberapa informasi seperti : LAC/CID, Site bearing/berapa derajat arah kita/HP ke site, Site Dist/berapa km jarak kita ke site, dll.

 

Penggunaan RF Tracker Signal

Dari gambar di atas terlihat, lokasi HP kita  terletak antara CI 56639 dan 36141 dengan RSSI -91 dBm dan yang aktif saat itu adalah CI 56639.

  1. Jika akan drive test, tinggal klik Tombol RF di pojok kiri bawah halaman Map sehingga timbul warna  hijau. Dan kita dapat mulai drive test.
  2. Setelah selesai kita drive test, klik lagi tombol RF dan warna hijau akan mati. Hasil drive test bisa disimpan dalam file XML, CSV atau KML sehingga bisa kita load di Google Earth.
  3. Hasil drive test, dapat kita putar ulang dengan klik Rec di sebelah Map.

Hasil Replay Record

Gambar di atas menunjukkan replay dari hasil drivetest sebelumnya. 245 menunjukkan total terdapat 245 titik/dot dan sekarang berada di titik 104.

  1. File KML dapat kita buka di GoogleEarth dan memberikan gambaran ringkas tentang coverage dan RSSI sepanjang drive test yang kita lakukan.
  2. File CVS dan XML dapat dibuka menggunakan Excel untuk kepentingan analisa lebih lanjut seperti di lokasi mana sinyal masih lemah.

Semoga bermanfaat…..

Oleh: ekoyw | Maret 6, 2012

My Android

Setelah sempat hilang pada hari pertama Lebaran tahun lalu, akhirnya HP Android ‘kembali’ ke tanganku. Entahlah, dari dulu aku tidak tertarik dengan HP sejuta umat. Ketika jaman kuliah dan awal-awal kerja dulu orang-orang ramai-ramai pakai Nokia, aku malah memilih Siemens dengan alasan bisa di-oprek, dibuka developer menu-nya dan dengan harga yang murah, bisa mendapatkan teknologi yang sudah sesuai kebutuhan.

Demikian juga saat generasi smartphone sekarang. Di saat yang lain pada pilih blackberry, aku lebih melongok ke Android. Jujur, pernah tertarik juga melirik si BB sebelum kenal jauh dengan mbak Andro. Tetapi kemudian dengan tegas aku pun jatuh dalam pelukan mbak Andro. Alasannya pun kurang lebih sama ketika pilih Siemens dulu. Dengan harga berkisar 1-2 jutaan, sudah mendapatkan smartphone dengan beragam fitur, mulai GPS, Wifi, 3G, VPN, kamera, bahkan bisa bantu membuat kopi, merestart BTS, matikan lampu dan menjalankan mobil :D . Bandingkan, berapa kira-kira harga si BB untuk fitur standar seperti GPS, Wifi, 3G, VPN, kamera dengan harga mbak Andro dengan fitur yang sama?

Rasa nasionalisme pun meledak ketika akhir-akhir ini tahu jika si RIM lebih memilih Malaysia untuk jadi pabrik BB, India sebagai tempat server dan Singapura sebagai server aggregate-nya. Sementara Indonesia, seperti ungkapan para petinggi RIM, selalu dianggap memegang peranan penting di mata RIM, yakni sebagai tempat jualan dan menarik duit rakyat negeri ini !!!!

Bagaimana dengan mbak Andro? Dua HP Android yang pernah aku miliki, kebetulan sama-sama dari Samsung. Tapi dari sisi produksi, dua-duanya bukan made in Indonesia. Satu dibuat di China, dan terakhir di Vietnam. Oke, dari sisi produksi impas dengan BB. Dari sisi service, aku tidak usah capek-capek langganan bulanan ke RIM. Artinya duit yang dikeluarkan untuk layanan data yaa hanya muter ke operator seluler saja. Bahkan harusnya duit yang dibayarkan ke operator lebih besar daripada BB karena Android belum mengenal kompresi data seperti BB. Meskipun, ujung-ujungnya, belum ada operator yang 100% sahamnya dipegang oleh bumi putera.

Kembali lagi ke HPku. Jika para pemilik Android banyak yang bangga dengan kemampuan game-game di Android, entah mengapa aku tidak tertarik fitur itu. Yaa sebab dari dulu gak terlalu suka game yang ribet. Mending game perang dar-der-dor…. nembak asal-asalan dan selesai… hehehehe.

Mbak Andro keduaku, Samsung Galaxy Ace, akhirnya banyak aku install aplikasi-aplikasi yang berhubungan dengan pekerjaan. Misalnya untuk tracking GPS menggunakan peta offline. Untuk aplikasi ini, aku install NDrive yang berjalan baik dan serasa memiliki GPS pribadi untuk mobilitas di jalan raya. Tetapi ketika harus tracking masuk pedalaman, aplikasi ini seperti tidak berguna. Tidak ada info seperti kontur pegunungan, nama desa-desa terdekat, dll. Untuk ini aku install aplikasi Locus Pro dan Maverick yang memiliki beragam pilihan peta offline yang bisa disimpan dalam cache dan digunakan untuk keperluan tracking. Peta OSM Cyclo Map, cukup akurat untuk menunjukkan kontur-kontur gunung di sekitar kita meskipun tidak akurat untuk menunjukkan lokasi desa-desanya. Namun dari nama-nama dan lokasi desa yang tidak akurat itu, minimal kita bisa memperkirakan sekarang secara riil berada di desa mana dan ada desa apa saja di sekitar kita.

Aplikasi lain yang aku install dengan gratis adalah untuk keperluan ‘drive test’ sinyal seluler. Disini aku belum menemukan aplikasi yang sesuai seperti software drive test TEMS ataupun Field Test. Kekurangan itu antara lain : peta harus on line, misalnya Google Maps sehingga mengharuskan kita terus terkoneksi ke internet, belum bisa menunjukkan lokasi tower secara tepat dan konsisten, record drive test rata-rata masih berupa data angka, dll. Aplikasi yang pernah aku install antara lain adalah RF Signal Tracker, OpenSignal, dan Antennas.

Satu lagi aplikasi yang belum bisa terutilisasi adalah VPN. Dari PC, aku biasa menggunakan VPNClient dari Cisco untuk terkoneksi ke jaringan kantor dimanapun. Tapi sampai saat ini masih menemui kendala untuk setting VPN melalui HP Android.

Si Glace yang baru berumur 2 bulan ini pun sudah aku root. Caranya sangat mudah dan bertebaran di berbagai situs. Benar, root tidak membuat mbak Andro kita menjadi lebih cepat berlari. Rooting utamanya membuat kita memiliki akses penuh ke HP kita. Dengan akses penuh ini membuat kita bisa melakukan apapun ke HP kita. Misalnya dengan instalasi aplikasi ke SD Card kita atau memindahkan aplikasi yang telah terinstall ke SD Card yang secara tidak langsung akan membuat space di Memory internal HP akan lebih longgar dan lega. Bisa membuat lebih cepat? Yup, itu hanya efek samping saja :D

Terakhir, memiliki sebuah smartphone yang bisa kita acak-acak seperti Mbak Andro ini memang mengasyikan dan membuat ketagihan. Kita seperti memiliki sebuah PC mini dengan tambahan kemampuan komunikasi dan PC tersebut bisa kita acak-acak kapanpun dan dimanapun tanpa repot untuk booting, memakan tempat, berat dan lain-lain.

Oleh: ekoyw | Februari 26, 2012

Pembuat Peta

Jam di arlojiku menunjukkan pukul 13.10 saat kami mulai meninggalkan Muara Lakitan. Sebuah kota kecamatan kecil yang berbatasan dengan Kabupaten Musi Banyuasin. Sebuah jembatan panjang melintasi Sungai Musi yang terletak di pinggir kota kecil ini. Sebagai mana lazimnya nama muara di provinsi ini, berarti mengacu pada suatu sungai kecil yg bermuara ke sungai yang lebih besar. Dalam hal ini, sungai Lakitan bermuara di Sungai Musi.
Mobil yang kami tumpangi adalah sebuah Mitsubishi Strada berpenggerak 4 roda berwarna hitam. Mobil jenis 4WD ini sangat lazim ditemui di luar Jawa, terutama di daerah tambang dan perkebunan. Agus, memegang setir menggantikan Epi yang kini duduk di jok belakang yang letih setelah selama seminggu harus menempuh jalur off road.
“Gus, nanti di simpang Semeteh, kita belok kanan. Kayanya jalannya bagus. Harusnya di dalam banyak desa”, kataku ke Agus.
“Ya mas”.
Aku memang sudah punya rencana untuk survei daerah sekitar sini. Begitulah kami. Pekerjaan mencari daerah untuk new site atau untuk menentukan coverage dari existing site membuat kami seperti pembuat peta. Dan sebuah GPS Garmin 60 pun kini sudah mulai penuh dengan berbagai hasil tracking dan point. GPS itu pula yang kini berada di tanganku dan sudah aktifkan untuk tracking kali ini.
Agus membelokkan Strada hitam kami keluar dari jalan aspal mulus masuk ke jalanan dengan lapisan koral.
“Kalo jalannya kaya gini terus, enak juga mas,” seru Agus sambil mulai menginjak gas lebih dalam.
“Yup, kalo lihat jalan koral yang lancar dan ga ada kubangan kaya ini, berarti ada dua kemungkinan. Ada tambang atau pabrik di dalam, atau bisa juga beberapa kampung besar”, jawabku.
“Kalo lihat truk-truk tangki itu, sepertinya pabrik sawit di dalam mas”, kata Agus sambil menunjuk iring-iringan 4 truk tangki berwarna hijau yang berpapasan dengan kami. Memang, truk-truk itu biasa membawa CPO dari pabrik pengolahan sawit untuk diolah lebih lanjut.
“Atau cuman jalan ke kebun karet”, sambung Epi di belakang sambil menunjuk seorang bapak sambil membawa karet berbentuk kotak di sepeda motornya.
“Kalo yg itu kayanya bukan dari kebun. Tuh, ibunya pakaian rapi kaya gitu. Kaya mau kondangan”, balasku sambil menunjuk seorang bapak – ibu yang berboncengan.
Begitu lah, kami terus berdebat tentang apa yang akan ada di depan. Meski Agus dan Epi asli penduduk kabupaten ini, mereka juga awam dengan daerah ini. Kami kembali bersorak ketika kami berpapasan denga sebuah mobil avanza. Jika avanza saja bisa keluar dari jalan yang kiri kanan penuh dengan kebun karet liar ini maka tentu jalanan di depan kondisinya bagus, bukan off road.
Jalanan melintasi kebun karet liar ini semakin panjang ketika samar di depan tampak sebuah portal yang sedikit terbuka dan sebuah pos jaga. Semakin dekat tampak kebun sawit dibalik portal tersebut.
Setelah berbasa-basi dan minta ijin ke bapak penjaga berkaos security tersebut akhirnya kami diijinkan melintas masuk setelah lebih dahulu mencatat nopol mobil kami dan tidak lupa bapak tadi minta uang rokok.
Medan di depan kami sekarang berubah menjadi kelapa sawit semua. Kemanapun mata memandang hanya kelapa sawit dimana-mana.
“Di kebun kaya gini yang malah bikin bingung mas,” kata Agus. Yup, di kebun kelapa sawit dibuat berblok-blok yang menyebabkan banyaknya simpang empat di dalam kebun. Pohon yang seragam dan banyaknya simpang empat yang dilewati membuat orang baru akan gampang tersesat dan hanya mutar-mutar di dalam kebun jika salah mengambil jalan.
“Bisa buat rally nih jalan ini,” seruku ketika sekarang jalan berubah jalan tanah tetapi muljs dan banyaknya turunan dan tanjakan. Kami semua tertawa. Apalagi Agus semakin dalam menginjak gas. Benar – benar nengingatkan tahun 90 an saat Indonesia sering jadi tuan rumah rally dunia.
“Kapan keluarnya nih. Sawit melulu!” sambungku ketika sudah setengah jam lebih kami belum keluar dari kebun ini.
“Kalo di GPS, kita mengarah kemana, mas?”.
Aku lirik GPS yang dari tadi hanya merekam tracking saja karena tidak ada pemukiman atau obyek lain yang layak ditandai.
“Sebelah kiri kita ada desa Karya Sakti dan Marga Sakti. Sekitar 5 km jarak garis lurus dari sini. Kalo gak salah itu desa-desa Trans Juanda,” jawabku ke Agus.
“Kayanya mulai keluar mas”, tunjuk Epi ke depan.
Di depan, deretan karet mulai nampak. Berarti kami mulai keluar dari kebun sawit. Tapi apa yang nampak di depan??? Beberapa truk tampak berhenti.
“Kayanya ada yang nyangkut Mas. Pi, kamu kesana cek dan tanyakan jalan ini tembus ke sana”, Suruh Agus ke Epi.
Tak lama Epi telah kembali.
“Katanya jalan ini bisa tembus Megang Sakti mas. Tapi mereka ga tau desa apa saja yg akan dilewati. Truk itu nyangkut segini”, kata Epi sambil tangannya menunjuk ke pinggang.
“Lalu darimana avanza tadi? Kalo lewat sini kayanya bakal nyangkut di sini. Padahal sepanjang jalan di kebun sawit tadi, yaaa ini lah jalur yang paling baik,” tanyaku sendiri.
Tidak ada yang menjawab. Kami putuskan putar balik mencari jalan ke desa-desa di Trans Juanda yang berada di sisi kiri kami.
Sekarang benar-benar blank. Hanya GPS yang jadi pedoman kami. Jalan sawit yang kami lalui nampak sama. Hanya melihat GPS, mengamati jalanan kebun sawit mana yang ada jejak mobil dan feeling yang kami jadikan acuan harus berbelok kemana.
“Ada gerandong mas”, kata Agus.
Kami menganggukan kepala dan mengucap salam kepada bapak yg berdiri di samping gerandong.
Gerandong ini adalah mobil sejenis jeep seperti Daihatsu Hiline atau bahkan juga jeep yang telah dimodifikasi sehingga jok belakang menjadi seperti bak truk. Kebanyakan juga mobil 4WD. Fungsinya melangsir buah sawit dari dalam kebun keluar menuju truk yang telah menunggu. Entah mengapa dijuluki gerandong, mungkin karena kotornya, berkarat yang membuatnya menyandang sebutan anak angkat Mak Lampir itu.
“Wuuiihhh!” Seru Agus menunjuk kubangan jalan di depan. Kembali Epi turun mengecek lewat jalur mana. Ternyata bapak pengemudi gerandong tadi sudah di belakang kami.Beliau berjalan ke kami dan menganjurkan ambil lajur kanan karena kering dan dibawahnya banyak ditaruh kayu. Dari logatnya aku tahu bapak ini orwng Jawa meski memakai bahasa daerah sini. Sepertinya seorang transmigran.
Kami mengucapkan terima kasih. Persneling 4WD segera digerakkan Agus. Aku harap kali ini kami tidak salah ambil jalur dan kemudian nyangkut seperti yang kami alami puasa 2010 lalu.
Kami akhirnya keluar dari kubangan jalan tersebut.
Agus terus menginjak gas mobil hingga kami akhirnya keluar dari kebun sawit dan bertemu pertigaan jalan koral. Setelah melihat GPS, kami belok kanan menuju Desa Karya Sakti. Kami sudah mulai masuk daerah trans. Tujuan kami sekarang adalah Desa Beliti Jaya yang akan menjadi new site. Aku pertama kali survey dua desq ini tahun 2008 lalu. Tidak banyak yang berubah di sini. Hanya listrik sudah mulai masuk Beliti Jaya. Sebuah tower seluler juga telah berdiri di simpang jalan antara kedua desa ini tetapi entah mengapa saat itu tidak ada sinyal. Beberapa rumah juga di bangun di Karya Sakti. Seperti lazimnya daerah transmigrasi Jawa, tidak tampak rumah-rumah panggung. Beberapa mobil juga lalu lalang dijalanan desa trans ini, bahkan tidak jarang kendaraan sejenis Toyota Fortuner bahkan Land Cruiser keluar masuk desa trans menandakan kemakmuran yang mulai dirasakan setelah puluhan tahun berjuang.
Tanganku pun mulai aktif memberi tanda waypoint terhadap perumahan di desa-desa tersebut.
Kami akhirnya beristirahat dan makan bakso di Beliti Jaya.
“Kalo ke Tugu Sempurna masih jauh nggak mas?” tanyaku ke abang bakso dengan bahasa Jawa.
“Waduh, kurang tahu pak. Saya baru 5 hari sampai sini dari Cilacap”, Jawabnya.
Wow, jauh juga mas ini merantau sampai ke pedalaman ini. Siang itu sangat terik. Dari jauh terdengar uyon-uyon gending Jawa di putar dari warung seberang jalan.Aaaahhh…. Seperti sedang di Jawa saja.
Sebetulnya ada 2 jalan lain keluar dari Beliti Jaya, yakni off road ke Megang Sakti atau keluar ke jalan besar di Muara Kelingi. Tapi entah kenapa aku ingin mencoba jalur baru. Selesai makan, kembali kami menyusuri jalan. Desa Tugu Sempurna tujuan kami sekarang. Tanganku masih aktif merekam waypoint dan tracking sepanjang jalan lewat GPS.
Menurut kabar yang aku dapatkan, kata penduduk lebih dekat ke Tugu Sempurna daripada ke Karyasakti.
“Kayanya kita sampai di Bali nih”,kataku menunjuk sebuah pura yang tampak di kejauhan.
Ternyata Tugu Sempurna ini kebanyakan penduduknya transmigran dari Bali. Hal ini mudah dikenali dari tempat persembahyangan yang dibangun di depan rumah dengan ukiran khas Bali. Ada satu-dua yang nampak kasar ukirannya tetapi kebanyakan persembahyangan tersebut memiliki arsitektur Bali yang halus. Kami sering menyebutnya sebagai Kampung Bali. Dan Tugu Sempurna ini adalah kampung Bali keempat yg berhasil kami identifikasi di kabupaten ini.
Kami berputar-putar sebentar di kampung Bali ini. Selain agar tahu luas dan topografi Kampung ini, juga untuk menikmati arsitektur rumah yang jarang kami jumpai ini. Akhirnya kami temukan ujung jaringan listrik lengkap dengan 3 kabel fasanya. Kami putuskan untuk mengikuti kabel ini. Berdasarkan pengalaman, tiang listrik dengan 3 kabel fasa menunjukkan adanya pemukiman besar di depan atau sebaliknya bisa membawa keluar ke jalan besar. Tidak heran, selain kondisi jalan akses yang layak, keberadaan tiang listrik juga menjadi acuan akan adanya ‘kehidupan’ yang ramai di depan.
GPS kami terus mencatat hasil tracking dan waypoint yg aku simpan ketika sekitar pukul 15.30 akhirnya kami keluar ke jalan raya. Aku matikan GPS. Data telah terkumpul untuk area tadi. Tinggal diambil dari GPS untuk kemudian diolah lagi menjadi peta.
Kami kembali diam karena letih di akhir pekan itu.

Oleh: ekoyw | Februari 8, 2012

The Power of Radio

Apa yang dirindukan perantau dengan kampung halamannya? Selain sanak keluarga dan makanan khasnya? Salah satunya adalah suasananya. Suasana ini bisa berarti logat kampung halaman, cara bertutur orang-orangnya, budaya dan sejenisnya yang mengendap di alam kenangan sang perantau.

Jika makanan masih bisa dicari dan mungkin ada yang jual di rantau, jika sanak keluarga masih bisa ditelpon dan dihubungi dari rantau maka untuk suasana ini memiliki kekhasan sendiri. Dia tidak bisa dibeli karena bukan materi dan dia juga tidak bisa diajak berkomunikasi karena juga bukan materi.

Inilah kekuatan radio. Meskipun TV juga sudah banyak TV lokal dengan nuansa kedaerahan yang kental dan bisa ditangkap siarannya dengan parabola satelit maupun internet tetapi masih terkesan ribet, mahal, tidak praktis. Hal ini lain dengan radio. Radio, bisa didengarkan melalui parabola satelit dan internet seperti halnya TV. Tetapi radio bisa lebih praktis. Karena hanya berupa suara maka, misalnya, radio tidak membutuhkan speed internet sebesar TV. Karena hanya butuh speed yang kecil pula, radio bahkan bisa dinikmati secara online lewat internet seluler sekelas EDGE melalui telepon seluler.

Dengan radio, perantau bisa mendengarkan siaran-siaran radio favorit kampung halamannya. Siaran wayang kulit tengah malam, Ludruk sampai banyolan ala ‘Trioburulu’ pun bisa dinikmati jauh, ribuan kilometer, dari stasiun radionya. Para perantaunya pun seolah dibawa angan dan khayalannya kembali ke kampung halamannya.

Saat saya tulis blog ini, lewat internet saya dengarkan siaran “Trioburulu” Radio Suzana online maka angan pun terbawa ke suasana Surabaya. Sebuah kota yang panas, tetapi penuh dengan orang blak-blakan bahkan ‘nyek-nyekan’.  Cara bertutur Arek-Arek Suroboyo, gaya bicaranya pun kembali muncul segar di ingatan sehingga seolah-olah kembali berada di Surabaya, berada di tengah-tengah rakyatnya, sambil angkat kaki cangkrukan di warung Gresikan. Meskipun nyatanya ribuan kilometer dari Kota Pahlawan itu.

Atau ketika mendengarkan siaran Suara Surabaya FM, baik lewat parabola maupun internet, maka bayangan akan panasnya dan ruwetnya lalu lintas Surabaya pun kembali muncul. Nama-nama jalan yang lama tidak disusuri juga kembali tampil sambil ingatan kembali menerka-nerka nama jalan tersebut terletak di kota sebelah mana. Rute-rute yang dulu biasa dilalui juga kembali melintas di kepala.

Atau ketika mendengarkan siaran wayang kulit di tengah malam sampai dini hari, ingatan pun kembali ke masa kecil ketika Bapak atau Kakek-kakek kita memutar RRI yang menyiarkan Wayang Kulit melalui radio transistor kecil yang diputar keras-keras sehingga membuat kita kecil saat itu menjadi sulit tertidur nyenyak.

Tidak heran, hal ini lah yang membuat misalnya banyak pertanyaan melalui “Mbah Google” yang bertanya link online radio Suzana, atau bahkan banyak tanya dan saling berbagi rekaman siaran acara favorit. Kerinduan terhadap suasana kampung halaman yang ditumpahkan dengan mendengarkan siaran radio kesayangan, dirasakan dapat menyegarkan pikiran para perantau.

Tetapi sayang, tidak semua stasiun radio menangkap peluang ini, menangkap peluang bahwa siaran radionya dapat ditangkap lebih jauh dari batasan gelombang radio yang bisa dipancarkannya. Masih sedikit stasiun radio yang bisa ditangkap dengan gratis melalui antena parabola satelit. Dari Surabaya, hanya Suara Surabaya FM yang bisa ditangkap. Padahal lewat satelit ini, bisa siaran radio bisa ditangkap gratis seluas area layanan Satelit.

Melalui online internet, hanya beberapa dan rata-rata stasiun radio yang besar yang memiliki website sendiri dan terdapat fasilitas radio streaming. Terdapat juga beberapa website yang menjadi “pengepul” radio streaming dari berbagai stasiun radio. Tetapi memiliki website sendiri, akan lebih memudahkan penggemar untuk mencari, berinteraksi dengan stasiun radio kesayangannya.

Lewat smartphone yang semakin murah dengan generasi Android, juga terdapat berbagai aplikasi radio online yang bisa menyiarkan radio dari berbagai penjuru dunia.

Jika TV Lokal sudah mulai berinteraksi dengan pemirsanya lewat telepon dan SMS karena pemirsanya melihat melalui parabola satelit maka ke depan, sangat mungkin teman kita di Jerman sedang request lagu dari stasiun radio di Indonesia. Atau para pendengarnya menjadi ‘pewarta berita’ dadakan melalui radio untuk menyiarkan peristiwa apa yang terjadi di tanah rantau.

Siapkah stasiun radio kita ????

 

Oleh: ekoyw | Januari 31, 2012

‘Pekerja Telekomunikasi’

Umurnya baru sekitar 19 tahun. Aku menemuinya saat mengunjungi sebuah tower seluler yang sedang dibangun. Dia nampak sibuk memberikan arahan ke bawahannya yang kebanyakan berusia jauh di atasnya. Yup, para pria yang rata-rata berusia lanjut yang sebagian diantaranya sudah berambut putih, yang selayaknya jadi bapak atau kakeknya, itu lah bawahannya.

Mandor ABG

Kami menjulukinya mandor ABG.  Di foto di atas, dia memakai topi biru sambil berkacak pinggang mendengarkan arahan supervisornya. Kata supervisornya, dia sudah sejak lama ikut pekerjaan pembangunan tower seluler. Mungkin sejak lulus SMP.

Para ‘Pekerja Telekomunikasi’ ini rata-rata didatangkan dari Jawa untuk mengerjakan berbagai proyek telekomunikasi. Dalam satu grup, mereka dipimpin oleh seorang mandor. Satu grup ini, biasanya berasal dari satu daerah yang sama. Sehingga tidak heran, ketika kita sampai di satu site, kita mendengar obrolan dalam bahasa Sunda, di site lain bahasa Banyumasan, dan di lain site bertemu dengan logat Jawa Timuran.

Iseng aku tanya sama supervisornya kenapa tidak memakai tenaga lokal. Jawabannya bermacam-macam, misalnya tenaga lokal yang cenderung lambat bekerja. Misalnya, datang jam 9 pagi, kemudian dhuhur istirahat sampai jam 2 dan pekerjaan selesai jam 4 sore. Tentu ini merepotkan kontraktor yang dikejar deadline pembangunan tower telekomunikasi.

Banyak suka duka para ‘pekerja telekomunikasi’ ini.  Mereka lah yang pertama ‘babat alas’ untuk infrastruktur telekomunikasi. Tidak jarang preman setempat meminta ‘jatah’ kepada mereka. Padahal mereka, hanyalah seorang kuli yang ikut mengais rezeki di kampung orang demi sesuap nasi untuk keluarga di kampung halaman.

Atau dengarlah cerita para penggali kabel Fiber Optik (FO). Pernah ketika mereka sedang enak menggali, tiba-tiba ada orang yang menodongkan parang sambil meminta mereka keluar dari lubang galian dan menghentikan pekerjaan sampai permintaan mereka terpenuhi. Para penggali kabel FO ini tidak jarang hanya tidur di pinggir-pinggir jalan, di tengah kebun atau di bawah pohon, sepanjang jalur pembangunan FO. Sama seperti pembangun tower, mereka juga rata-rata dari Jawa.

Supervisornya memberi tahu jika mereka dibayar tiap meter pekerjaan selesai. Jika sehari mereka bisa menanam FO sepanjang 15 meter maka mereka dibayar misalnya Rp. 150 rb sehari. Tidak heran supervisornya memberi tahuku bahwa tidak sedikit dari mereka yang memiliki rumah bagus di Jawa meski dirantau mereka seadanya.

Apakah mereka pernah membuat masalah? Beberapa kali aku temui kasus para pembangun tower meninggalkan utang ke warung-warung yang menjadi langganan mereka. Tapi menurutku itu lebih karena manajemen tim mereka yang tidak bagus.

Yup, itulah sisi lain dari ‘pekerja telekomunikasi’ yang tidak melulu harus dimonopoli oleh para insinyur.

Oleh: ekoyw | November 22, 2011

SEA GAMES, Siapa Sesungguhnya Raja Olahraga Asean?

Final Sepakbola Sea Games ke-26 di Gelora Bung Karno tadi malam terasa sangat menyesakkan. Untuk kedua kalinya, dalam waktu tidak sampai setahun, Gelora Bung Karno menjadi saksi bisu penyerahan penghargaan medali emas kepada kesebelasan Malaysia yang untuk kedua kalinya mengalahkan Indonesia setelah Desember tahun lalu, ditempat yang sama, menerima Piala AFF dengan mengalahkan Indonesia juga.

Sea Games, atau South East Asian Games ini rutin diselenggarakan setiap 2 tahun. Sejak menginjak bangku sekolah sampai akan lulus SMA, seingatku Indonesia selalu menjadi Juara Umum dan hanya diselingi Thailand di tahun 1985 dan 1995. Dan sejak 1997, saat Orde Baru masih kuat, baru pada tahun 2011 inilah Indonesia kembali menjadi juara umum.

Sejak tahun pertama diadakan tahun 1977  sampai akhir tahun 1990-an hanya dua negara inilah, Thailand dan Indonesia, yang sempat mencicipi menjadi juara umum. Namun sejak tahun 2000, Malaysia, Philipina dan Vietnam juga muncul menjadi Juara Umum. Ketiganya pun memiliki persamaan, yakni sama-sama menjadi Juara Umum saat menjadi tuan rumah.  Dari ketiga negara ini, mungkin yang stabil prestasinya hanya Vietnam yang hampir selalu masuk ketiga besar peraih medali.

Tahun Acara Tuan rumah Negara Juara umum
1977 IX Kuala Lumpur Bendera Malaysia Malaysia Bendera Indonesia Indonesia
1979 X Jakarta Bendera Indonesia Indonesia Bendera Indonesia Indonesia
1981 XI Manila Bendera Filipina Filipina Bendera Indonesia Indonesia
1983 XII Singapura Bendera Singapura Singapura Bendera Indonesia Indonesia
1985 XIII Bangkok Bendera Thailand Thailand Bendera Thailand Thailand
1987 XIV Jakarta Bendera Indonesia Indonesia Bendera Indonesia Indonesia
1989 XV Kuala Lumpur Bendera Malaysia Malaysia Bendera Indonesia Indonesia
1991 XVI Manila Bendera Filipina Filipina Bendera Indonesia Indonesia
1993 XVII Singapura Bendera Singapura Singapura Bendera Indonesia Indonesia
1995 XVIII Chiang Mai Bendera Thailand Thailand Bendera Thailand Thailand
1997 XIX Jakarta Bendera Indonesia Indonesia Bendera Indonesia Indonesia
1999 XX Bandar Seri Begawan Bendera Brunei Brunei Bendera Thailand Thailand
2001 XXI Kuala Lumpur Bendera Malaysia Malaysia Bendera Malaysia Malaysia
2003 XXII Hanoi dan Kota Ho Chi Minh Bendera Vietnam Vietnam Bendera Vietnam Vietnam
2005 XXIII Manila Bendera Filipina Filipina Bendera Filipina Filipina
2007 XXIV Nakhon Ratchasima Bendera Thailand Thailand Bendera Thailand Thailand
2009 XXV Vientiane Bendera Laos Laos Bendera Thailand Thailand
2011 XXVI Jakarta dan Palembang Bendera Indonesia Indonesia Bendera Indonesia Indonesia

Sedangkan Malaysia, Philipina (dan mungkin Indonesia) sejak tahun 2000 bisa dibilang prestasinya naik turun. Seperti misalnya Indonesia mendapat peringkat 5 pada tahun 2005, peringkat ke 4 tahun 2007, peringkat ke 3 tahun 2009 dan juara umum tahun 2011.

Tahun 2003

Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara 2003
Peringkat Negara Medali emas Emas Medali perak Perak Medali perunggu Perunggu Jumlah medali
1  Vietnam 158 97 91 346
2  Thailand 90 93 98 281
3  Indonesia 55 68 98 221
4  Filipina 49 55 75 179
5  Malaysia 43 42 49 144
6  Singapura 30 33 50 113
7  Myanmar 16 43 50 109
8  Laos 1 5 15 21
9  Kamboja 1 5 11 17
10  Brunei 1 1 8 10
11  Timor Leste 0 0 0 0

Tahun 2005

Posisi Negara Medali Emas Medali Perak Medali Perunggu Total
1. Flag of the Philippines.svg Filipina 113 84 94 291
2. Flag of Thailand.svg Thailand 87 78 118 283
3. Flag of Vietnam.svg Vietnam 71 68 89 228
4. Flag of Malaysia.svg Malaysia 61 50 64 175
5. Flag of Indonesia.svg Indonesia 49 79 89 217
6. Flag of Singapore.svg Singapura 42 32 55 129
7. Flag of Myanmar.svg Myanmar 17 34 48 99
8. Flag of Laos.svg Laos 3 4 12 19
9. Flag of Brunei.svg Brunei 1 2 2 5
10. Flag of Cambodia.svg Kamboja 0 3 9 12
11. Flag of East Timor.svg Timor Leste 0 0 3 3

Tahun 2007

Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara 2007
SEA Games 2007 Logo.jpg
Peringkat Negara Medali emas Emas Medali perak Perak Medali perunggu Perunggu Jumlah medali
1  Thailand 183 123 103 409
2  Malaysia 68 52 96 216
3  Vietnam 64 58 82 204
4  Indonesia 56 64 83 203
5  Singapura 43 43 41 127
6  Filipina 41 91 96 228
7  Myanmar 14 26 47 87
8  Laos 5 7 32 44
9  Kamboja 2 5 11 18
10  Brunei 1 1 4 6
11  Timor Leste 0 0 0 0

Tahun 2009

Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara 2009
SEA Games 2009 Logo.jpg
Peringkat Negara Medali emas Emas Medali perak Perak Medali perunggu Perunggu Jumlah medali
1  Thailand 86 83 97 266
2  Vietnam 83 75 57 215
3  Indonesia 43 53 74 170
4  Malaysia 40 40 59 139
5  Filipina 38 35 51 124
6  Singapura 33 30 35 98
7  Laos 33 25 52 110
8  Myanmar 12 22 37 71
9  Kamboja 3 10 27 40
10  Brunei 1 1 8 10
11  Timor Leste 0 0 3 3
Grand Total 372 374 500 1246

Apa yang dapat disimpulkan dari tabel – table di atas? Ketika Sea Games diselenggarakan oleh negara-negara besar dan tradisional ASEAN, seperti : Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Philipina dalam sepuluh tahun terakhir maka hampir selalu dipastikan bahwa tuan rumahlah yang akan menjadi juara umum.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, Siapakah sesungguhnya raja olahraga di ASEAN?

Banyak penyebab, misalnya sportifitas. Ketika misalnya Indonesia berlaga Sea Games di negara lain maka beberapa kali akan kita temui berita di media tentang atlet Indonesia dirugikan dengan keputusan-keputusan wasit terutama di cabang olahraga yang tidak terukur. Namun ketika Sea Games dilakukan di Indonesia, berita sejenis hampir tidak pernah muncul. Salah satu yang muncul adalah “strategi” gigit lawan pesilat Indonesia saat melawan Thailand yang sangat-sangat memalukan. Apakah muncul berita lain di media luar negeri? Wallahu’alam.

Demikian juga dengan cabang olahraga yang dipertandingkan. Tuan rumah cenderung mengusulkan dan melaksanakan cabang olahraga yang benar-benar mereka kuasai yang kebanyakan tidak dipertandingkan di event yang lebih tinggi seperti Asian Games ataupun Olimpiade. Muncullah kemudian nama-nama “aneh” cabang olah raga seperti : Petanque, Muay Thai, Dansa, Go (eksebisi), Fin Swimming, Vovinam dan lain – lain. Atau muncul juga beberapa cabang yang sudah cukup populer dan ternyata baru atau hanya bebeberapa kali dipertandingkan di Sea Games seperti : Ski Air, Bridge, Panjat Tebing, Catur dan Sepatu Roda. Mungkin suatu saat nama “aneh” dari Indonesia juga akan muncul seperti : Gobaksodor, Egrang dan lain – lain.. hehehe

Jika Sea Games bukan hanya sekadar ajang gengsi untuk menunjukkan sebagai “Raja Olahraga” di Asean, harusnya cabang olahraga yang dipertandingkan secara resmi mengacu kepada cabang olahraga di Asian Games atau bahkan Olimpiade.  Sehingga negara Asean tidak hanya bertengger di urutan dua puluhan saat Olimpiade tetapi bisa berbicara lebih di event sedunia itu.

Melihat dari data yang ada, maka sering timbul pemikiran konyol bahwa siapa sesungguhnya “Raja Olahraga” di Asean itu bisa dilihat saat Sea Games dilaksanakan di negara-negara kecil di Asean yang prestasi olahraganya masih belum mengkilat  seperti : Laos, Kamboja, Myanmar, Brunei Darussalam atau bahkan di Timor Leste kelak.

Jadi, benarkan Indonesia menjadi Raja Olahraga Asean lagi sejak era Orde Baru? Jawabannya bukan nanti malam saat penutupan. Tetapi 2 tahun lagi saat pelaksanaan di Myanmar, 2015 saat di Singapura, 2017 saat di Kamboja, 2019 saat di Brunei Darussalam, 2021 saat di Malaysia, 2023 saat di Vietnam. Jika dari enam penyelenggaraan Sea Games ke depan Indonesia bisa menjadi minimal 4 kali juara umum maka bolehlah bangsa ini berbangga karena kejayaan Olahraganya telah kembali.

Untuk saat ini….. Kita nikmati saja pesta penutupan Sea Games nanti malam.

Oleh: ekoyw | November 13, 2011

Lubuk Linggau

Kota ini terletak di bagian barat Sumatera Selatan berbatasan langsung dengan Bengkulu. Konon merupakan kota terbesar kedua setelah Palembang, meskipun menurutku sekelas dengan kota kabupaten biasa di Jawa. Hanya bentuk kota ini memanjang sepanjang jalan utama yang melintasi kota ini. Memanjang dari timur ke barat sekitar 20 km. Terlihat besar memang, tapi yaa itu, pemukimannya yaa kebanyakan di kanan kiri sepanjang jalan itu dan di belakang pemukiman tersebut masih berupa kebun karet warga. Ada beberapa jalan masuk tetapi tidak panjang sebagaiman jalan – jalan masuk layaknya kota besar dan sekedar jalan penghubung dari rumah ke jalan raya. Praktis jalan lintas utama ini lah yang menjadi sumbu utama pergerakan masyarakatnya.

Nama resmi kota ini pun Lubuklinggau, kedua kata digabung, bukan Lubuk Linggau. Entahlah, apa bedanya penamaan ini dengan misalnya Lubuk Pakam, Lubuk Basung atau nama awalan muara seperti Muara Enim yang semuanya ditulis terpisah.

Salah Satu Sudut Lubuk Linggau berlatar Peg. Bukit Barisan

Kota ini awalnya adalah ibukota kabupaten Musi Rawas yang kemudian memekarkan diri menjadi kota tersendiri. Pemekaran itu pun sampai sekarang masih menyisakan sejumlah masalah aset, seperti terminal, bandara dan rumah sakit yang masih diklaim milik kabupaten meskipun berada di wilayah kota. Anehnya, yang terlihat bukan usaha join operation aset yang telah ada untuk dioptimalkan dan dimanfaatkan bersama seperti contoh Terminal Bungurasih di Waru, Sidoarjo. Tetapi malah seperti saling berebut aset demi PAD. Ketika terminal di Simpang Priuk masih dikelola kabupaten, maka pemkot pun membangun terminal di petanang dan sayangnya kedua terminal ini sama-sama sepi peminat. Kedua terminal ini lebih berfungsi sebagai pos Dishub untuk menarik retribusi dari bis dan truk yang lebih banyak sekedar lewat daripada masuk dan singgah ke terminal untuk mencari penumpang.

Soal rebutan aset ini mirip dengan rebutan batas wilayah misalnya antara Musi Rawas dan Musi Banyuasin di daerah Suban dan Musi Rawas dan Sarolangun Jambi. Masalah di Suban juga bersumber dari kekayaan alam, yakni migas. Dengan contoh blok migas Cepu yang sahamnya dimiliki baik Jatim maupun Jateng serta Bojonegoro dan Blora, seharusnya masalah seperti ini tidak perlu berkelanjutan.

Lubuk Linggau sendiri sebenarnya kota yang cukup menyenangkan ditinggali bagi pendatang. Perekonomian dan kesempatan usaha masih banyak terbuka lebar karena salah satu sebabnya kota ini terletak cukup jauh dengan kota – kota tetangganya. Kota terdekat, Curup dan Tebing Tinggi, berjarak sekitar 60 – 70 km. Dengan Palembang malah sekitar 300 km. Tidak heran kota ini menjadi tujuan terdekat bagi daerah – daerah sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Salah satu hambatan utama di kota ini adalah masalah keamanan, baik di dalam maupun di luar kota. Di luar kota, terdapat beberapa daerah yang rawan tindak kejahatan yang membuat misalnya pendatang, enggan untuk sekedar jalan – jalan naik motor sendirian. Ke arah Curup, terdapat daerah antara Padang Ulak Tanding dan Kepala Curup yang sering terjadi perampasan/penjambretan sepeda motor. Sedangkan ke arah Muara Rupit/Jambi, dikenal rawan dengan ‘ranjau darat’ disamping perampasan sepeda motor. Demikian pula dengan ke arah Tebing Tinggi. Yang lumayan aman adalah arah ke Sekayu yang relatif  jarang terjadi tindak kejahatan.

Bagaimana dengan dalam kota? Tindak kejahatan pun masih kerap menghiasi media lokal, mulai dari penjambretan, perampasan sepeda motor sampai ada pencurian genset di tengah hari bolong. Masalah keamanan ini, baik di dalam maupun luar kota, menjadi PR jika kota ini ingin menjadi kota yang ramah bagi penduduknya dan akan menarik investor dan pendatang di kota ini karena sebetulnya kota ini nyaman ditinggali dengan lokasi yang dekat pegunungan Bukit Barisan membuat cuaca kota ini tidak terlalu panas/dingin dan air bersih melimpah ruah dimana – mana.

Bagaimana dengan obyek wisata? Secara resmi, kota ini memiliki obyek wisata Watervang, sebuah bendungan kecil peninggalan Belanda dan air terjun Temam. Sayang, kedua tempat ini tidak layak dijadikan obyek wisata karena kurang terkelola. Watervang misalnya, tidak lebih hanya sebuah bendungan irigasi biasa yang kotor dan minim fasilitas. Mungkin mirip dengan Tanjung Kodok di Lamongan yang sampai awal tahun 2000-an juga tidak terkelola maksimal oleh Pemda. Namun ketika dikelola swasta dan menjadi Wisata Bahari Lamongan, maka  obyek wisata ini pun menjadi terkenal.

Watervang

Soal lalu lintas, entah kenapa, seringkali terjadi peristiwa kecelakaan di jalan lintas yang merupakan jalan raya satu-satunya yang membelah kota ini. Dan paling sering adalah sepeda motor. Di sini, pengemudi sepeda motor masih banyak memiliki kebiasaan mengemudi menantang arus dengan terus berjalan di pinggir jalan sampai akhirnya pindah ke jalur yang benar ketika kondisi jalan sudah aman dilewati. Atau lihatlah masih sering ditemui bersepeda motor berjajar dua. Kemudian komentar para tamu, misalnya dari Jakarta, hampir sama, yakni harga kampas rem sepeda motor di kota ini mahal. Suatu sindiran karena sering ngebutnya kendaraan beroda dua di jalanan kota ini.

Tentang fasilitas umum. Hampir semua bank nasional membuka cabang di kota ini, baik yang konvensional maupun syariah. Bahkan perusahaan leasing juga banyak bertebaran membuka kantor di kota ini, baik yang telah dikenal luas secara nasional maupun yang sama sekali asing. Ini membuktikan bahwa perputaran uang di kota ini dalam jumlah besar.

Di sisi telekomunikasi, ketiga operator seluler membuka kantor di kota ini, termasuk juga dari Telkom. Jaringan kabel serat optik juga telah digelar ini karena letak strategis kota ini yang menghubungkan Palembang dan Bengkulu. Terdapat sekitar 2-3 stasiun pemancar radio FM. Cukup sedikit bagi pendatang dari kota besar atau Jawa yang terbiasa mendengarkan banyak siaran radio. Meski demikian, siarannya cukup beragam, mulai dari acara dangdut, kesenian Melayu, Padang sampai Campur Sari Jawa juga ada. Terdapat juga satu siaran TV swasta lokal yang sepertinya masih sangat amatir. Di kota ini, kita harus menggunakan parabola jika ingin menonton siaran TV Swasta nasional. Hanya TVRI yang memiliki stasiun relay di kota ini. Hampir setiap rumah memilik parabola, baik untuk menonton siaran TV gratisan via satelit (Free to air) sampai parabola teleivisi berbayar. Soal TV ini, sering terjadi kekecewaan bagi warga kota ini karena seringnya siaran via parabola diacak sehingga tidak dapat dinikmati, seperti saat Piala Dunia 2011 sampai Thomas-Uber Cup.

Kendala untuk menikmati fasilitas tersebut di kota ini hanya satu, yakni ketersediaan listrik. Entah kenapa, PLN di kota ini bisa dibilang payah karena seringnya pemadaman. Baik pemadaman yang telah dijadwalkan dan diumumkan maupun yang tidak. Pemadamannya pun tidak tanggung-tanggung, rata-rata 8 jam dari pukul 08:00 – 16:00 bahkan pernah sampai hampir 48 jam yang konon karena masalah di Gardu Induk. Tidak heran, kantor PLN di kota ini menjadi salah satu instansi layanan publik yang paling sering didemo warga karena seringnya pemadaman listrik. Demo terakhir oleh mahasiswa sempat diwarnai aksi bakar ban di depan kantor PLN ini. Sebetulnya hal ini agak ironi dibanding dengan Kab Rejang Lebong, beribukota di Curup, yang menjadi tetangganya. Di Curup, boleh dibilang jarang terjadi pemadaman listrik dan jika ada juga tidak dalam jangka waktu yang lama. Di Curup ini terdapat satu PLTA yang memanfaatkan hulu sungai Musi yang seharusnya juga bisa dinikmati oleh Lubuk Linggau.

Demikian juga ketersediaan BBM. Di kota ini terdapat 4 SPBU dan hampir setiap hari mendapatkan kiriman BBM dari Palembang. Namun masih terlalu sering ditemui antrian BBM mengular di setiap SPBU dan menyebabkan harga eceran membumbung tinggi, bahkan pernah mencapai 15 rb/liter bensin. Banyak penyebabnya, mulai dari angkutan umum/warga yang mencari keuntungan sesaat, industri yang memakai BBM subsidi, sampai manajemen pengawasan SPBU yang tidak berjalan.

Cukup disayangkan, karena listrik dan BBM ini membuat biaya tinggi di kota ini. Investor harus mengeluarkan biaya lebih untuk pembelian genset dan BBM untuk menjalankan usahanya. Warga juga harus memiliki genset tersendiri jika ingin pasokan listriknya aman dan juga harus menyimpan BBM untuk keperluannya. Biaya tinggi ini juga, disamping distribusi barang yang lumayan jauh untuk mencapai kota ini, membuat barang-barang relatif lebih mahal bahkan dibanding kota Jakarta. Harga Nasi Padang berlauk telur dadar saja mencapai 9 rb/porsi, belum barang-barang kebutuhan lainnya.

Menurutku, kota ini masih kota kecil dalam artian seharusnya mulai dibenahi dan ditata ulang bagi infrastruktur maupun masyarakatnya sebelum benar-benar menjadi kota besar. Misalnya, pembuatan separator pemisah lajur sepanjang jalan lintas untuk meminimalisir pengemudi yang sering menantang arus. Pemangku kekuasaan juga selayaknya tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata jika pada akhirnya aset fisik tersebut lebih banyak tidak berfungsinya. Masih banyak PR yang harus dikerjakan sehingga kota ini layak disebut kota terbesar kedua di Sumatera Selatan bukan hanya dari segi ukuran fisik semata.

Oleh: ekoyw | Oktober 17, 2011

Perangkat BTS

Dalam dunia seluler, BTS berada dalam garis depan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. BTS yang merupakan kepanjangan dari Base Transceiver Station ini biasanya terpasang pada suatu areal atau site tertentu bersama dengan perangkat – perangkat pendukung lainnya.

Dalam site, secara garis besar bisa dibagi menjadi dua perangkat, yakni :

  • Perangkat utama/inti : misalnya perangkat BTS dan transmisi.
  • Perangkat pendukung : misalnya sistem kelistrikan dan pengatur suhu.

Perangkat BTS memiliki beberapa bentuk tergantung oleh vendor pembuat dan versi pembuatannya. Misalnya di Siemens memiliki rack dengan seri BS-240, BS-240 XL, BS-241 dan lain – lain. Kemudian Nokia memiliki misalnya BTS Flexy Multi Radio yang lebih compact dan tidak seperti rack Siemens.

BTS BS-240 XL Siemens

Gambar di atas adalah contoh dari rack BS-240 XL dari Siemens. Bagian atas, yang terhubung dengan kabel besar yang merupakan jumper ke kabel Feeder yang terhubung ke antena, adalah di sebut sebagai Combiner. Bagian bawah, terlihat beberapa modul dengan pegangan, adalah Cell Unit atau CU dimana pada gambar di atas 1 CU menghandle 1 TRx. Namun untuk jenis CU lain, misalnya Flexy CU maka 1 Cu bisa menghandle 2 TRx. Dari istilah TRx maka dapat diketahui bahwa rack di atas adalah rack BTS 2G.

Rack BTS ini, apa pun merk vendor dan tipenya, biasanya bisa diketahui dengan mudah dari adanya sambungan kabel jumper yang menghubungkan Combiner dengan Feeder. Kabel Feeder sendiri adalah kabel yang terhubung langsung ke antena BTS di tower.

BTS ini lah yang berfungsi berhadapan langsung dengan handphone kita. Melalui BTS ini handphone akan menerima atau pun mengirimkan panggilan, SMS dan semua layanan seluler lainnya. Bentuk antena BTS biasanya berbentuk balok empat persegi panjang dengan panjang sekitar 3 meter dan menghadap ke arah tertentu yang sering disebut sebagai antena sektoral. Dalam satu BTS, biasanya terdapat 3 arah antena sektoral. Dalam satu sektor, bisa terdapat 2 antena jika antena bertipe space diversity sehingga bisa terdapat 6 antena maupun hanya 1 antena setiap sektor.

Dalam dunia 2G, setiap sektor ini mewakili satu cell dan dilayani oleh frekuensi tersendiri. Sehingga dalam satu BTS terdiri dari 3 cell dan 3 frekuensi yang berbeda. Dalam dua cell yang bertetangga tidak boleh menggunakan frekuensi yang sama. Sehingga frekuensi yang sama bisa digunakan di cell lain yang tidak bersinggungan langsung.

Handphone pada umumnya sudah di-setting untuk bisa menerima sinyal seluler sesuai teknologi masing – masing misalnya 2G yakni sekitar 900 MHz dan 3G sekitar 1800 MHz. Sehingga sebetulnya, meskipun kita misalnya memakai kartu 2G Telkomsel dan kebetulan saat itu tidak mendapat sinyal, maka handphone kita masih dapat menerima sinyal dari operator lain yang sama-sama bekerja di frekuensi 900 MHz. Hanya karena kita tidak memiliki otoritas masuk jaringan mereka maka kita tidak bisa menikmati layanan seluler mereka.

Sedangkan untuk transmisi, yang paling sering terlihat di site adalah transmisi microwave. Untuk transmisi jenis ini, biasanya dibagi dalam dua perangkat yakni perangkat indoor dan outdoor. Perangkat indoor memiliki bentuk seperti VCD player seperti pada contoh gambar di bawah :

IDU Microwave PDH

Bagian indoor microwave sering disebut sebagai IDU atau  Indoor Unit (IDU).  Berdasarkan teknologinya, perangkat transmisi yang di-install di site biasanya menggunakan teknologi PDH atau SDH. Untuk beberapa site utama atau backbone, tidak jarang menggunakan transmisi serat optik.

Transmisi sendiri dapat diibaratkan seperti jalan bagi komunikasi seluler. Dia dapat menghubungkan antara BTS satu dengan BTS yang lain maupun antara BSC dengan BTS. Jika terjadi gangguan di sisi transmisi maka bisa dipastikan BTS yang terhubung ke transmisi tersebut, baik di site tersebut atau site di belakangnya, juga akan mengalami gangguan.

Bentuk antena transmisi microwave berbentuk lingkaran, ada yang menggunakan tambur yang berbahan seperti kain jeans tetapi tebal dan ada juga yang tambur dari bahan logam. Semakin besar diameter antena yang digunakan maka jarak antena lawan di tower yang lain juga semakin jauh. Diameter antena yang pernah saya temui paling kecil berdiameter 60 cm dan paling besar lebih dari 3 meter. Antara perangkat IDU dan antena di tower terhubung dengan kabel coaxial.

Anything is nothing without power. Baik perangkat BTS ataupun transmisi membutuhkan catuan daya. Daya yang dibutuhkan adalah DC yang bersumber dari rectifier. Rectifier ini berfungsi untuk merubah tegangan AC menjadi DC serta fungsi mengisi battery sebagai cadangan DC jika sumber AC baik dari PLN maupun genset tidak tersedia. Setiap perangkat BTS bekerja pada tegangan DC tertentu.

Lama tidaknya battery mem-back up saat tidak ada sumber AC tergantung dari banyak faktor, seperti : besarnya daya DC yang harus disalurkan, kondisi battery, tegangan battery yang tersimpan masih banyak atau tidak, sistem charge dari rectifier ke battery masih bagus atau tidak dan lain lain.

Beberapa perangkat BTS terbaru, sekarang ini lebih compact dan hampir tidak membedakan baik fungsi BTS, microwave dan rectifier dalam perangkat yang berdiri sendiri. Misalnya perangkat ZTE, dalam satu rack sudah terdapat rectifier lengkap dengan batterynya, BTS yang bisa di-set sebagai 2G atau 3G, kabel feeder yang sudah digantikan oleh kabel optik dan demikian juga dengan perangkat transmisi. Semua menjadi satu dalam satu rack yang sama.

Perangkat yang lebih compact ini secara perawatan lebih mudah dan hemat energi. Kesulitan baru ditemui ketika penggantian perangkat. Jika perangkat lama, 1 CU atau TRx rusak maka hanya CU atau TRx yang rusak tersebut yang diganti maka di perangkat baru tidak jarang dalam satu kesatuan modul satu sektor yang harus diganti semua.

Oleh: ekoyw | Oktober 12, 2011

Bendera Sea Games (Lagi)

Sea Games tinggal menghitung minggu dan hari. Perhelatan olahraga negara-negara Asia Tenggara ini akan digelar 11-11-11. Entahlah.. asyik benar kayanya memilih angka itu.

Sumatera Selatan, sebagai salah satu tempat penyelanggaraan Sea Games pun jadi perhatian bangsa ini. Di Metro TV beberapa hari ini dimuat berita dengan headline menyolok “DARURAT SEA GAMES” yang menyoroti lambatnya pembangunan fisik venue yang akan dipakai.

Bagaimana dengan daerah lain di Sumatera Selatan yang sejak berbulan-bulan lalu diwajibkan mengibarkan bendera Sea Games? Jawabannya merana. Bendera – bendera itu sudah banyak yang terkoyak. Kalaupun masih utuh, warnanya sudah pudar dan banyak noda-noda hitam debu yang menempel yang menunjukkan bendera tersebut tidak pernah dicuci apalagi di ganti.

Bukan hanya di instansi swasta, bendera yang dipasang di depan kantor pemerintahan pun kondisinya sangat-sangat merana, seperti dalam gambar berikut ini :

Bendera Sea Games di Kantor DPRD

Nampak bendera Thailand hanya satu tali bendera yang masih terikat, sementara bendera Malaysia dan Vietnam serta satu negara lain “bernasib” lebih baik dengan dua tali yang masih terikat di tiang. Dan Sang Saka Merah Putih masih bernasib lebih baik lagi dengan masih terikat sempurna meski dengan warna yang pudar karena dijemur, terkena hujan siang malam selama berbulan – bulan. Mungkin anggota dewan terlalu sibuk bekerja meskipun tidak jelas, bekerja untuk siapa….

Sepertinya bendera yang dipasang di gedung DPRD ini bendera generasi pertama yang dipasang karena seperti terlihat di bendera Malaysia, Thailand dan Vietnam, ada perbedaan ketajaman warna antara dua sisi bendera. Salah satu sisi terlihat lebih tajam dan sisi lain lebih buram. Seperti hasil sablon di satu sisi saja dan bukan dari hasil pembuatan bendera yang benar – benar serius.

Keadaan lebih baik terlihat di bendera yang dipasang di depan kantor pemerintah di bawah ini. Tidak ada yang terjuntai atau lepas dari tiangnya. Keadaan bendera juga lebih bagus daripada foto di atas. Meskipun masih tertangkap kesan kusam dan buram karena kurang perawatan.

Depan Instansi Pemerintah

Kedua foto di atas hanyalah sebuah contoh dan masih ada lagi di beberapa tempat yang lain. Bahkan yang lebih memalukan malah lokasi dimana bendera Merah Putih yang bernasib paling buruk dengan hampir terlepas dari tiangnya dan dibiarkan berhari-hari berkibar tanpa ada perbaikan.

Entahlah, apa yang ada dalam benak para penyelenggara negeri di tingkat lokal ini ketika menyambut Sea Games. Apa berpikir ini adalah ajang untuk menyambut tamu bangsa yang harus dihormati dan kesempatan memperkenalkan bangsa ini pada bangsa lain. Atau hanya sekedar ini ada proyek pasang bendera, yang penting bendera sudah dipasang dan sudah dibayar beress… Jika bendera rusak lagi toh nanti ada proyek pengadaan lagi.

Indonesia adalah negara besar di ASEAN. Bersama Thailand, Malaysia, Filipina dan Singapura menjadi founding father di ASEAN. Sehingga akan memalukan jika pelaksanaan Sea Games ini serampangan, apa adanya dan selevel dengan negara-negara ASEAN yang baru bergabung.

Sungguh, suatu pertaruhan besar bagi Sumatera Selatan khususnya dan bangsa ini pada umumnya.

Oleh: ekoyw | Agustus 22, 2011

24 Agustus

Apa yang istimewa pada bulan Agustus selain peringatan “pitulasan” ? Kalo tahun ini jelas ada yang lebih istimewa yakni Lebaran yang menyebabkan gaung “pitulasan” jadi kurang. Lomba-lomba kurang greget, jualan bendera pun seret.

Ada satu yang istimewa yakni tanggal 24 Agustus. Tanggal ini adalah tanggal lahir 3 TV tertua di Indonesia yakni TVRI (kalo gak salah tahun 1963), RCTI (1989) dan SCTV (1990). Entah mengapa dua TV swasta tertua ini lahir pada hari yang sama dengan TVRI.

Aku mengenal TV Swasta pertama adalah SCTV sekitar 20 tahun lalu. Saat itu, boleh dibilang SCTV adalah adik dari RCTI. Jika RCTI di Jakarta maka SCTV di Surabaya. Konon apa yang diputar di RCTI pun selalu diputar di SCTV.

Di awal tahun 1990-an, menikmati siaran TV swasta apalagi di pelosok, bukanlah sesuatu yang mudah. Antena TV harus diulur panjang menggunakan bambu, kemudian beberapa perangkat ditambahkan sehingga antena tersebut dapat menangkap gelombang UHF TV Swasta yang berbeda dengan TVRI yang selama ini memakai VHF. Pesawat TV pun bisa dibilang masih barang mewah di desa-desa di Jawa pada awal 90-an. Bahkan dikenakan pajak. Waktu itu pun juga ada pajak untuk radio. Kalo sekarang dikenakan, wahhh bisa banyak hasil dari pungutan pajak TV dan Radio, lha HP saja ada radionya… bisa kena pajak tuh jika HP kita ada radionya hehehehe.

Menikmati TV di tahun – tahun itu pun tidak mudah. PLN belum masuk. Genset, yang akrab disebut ‘diesel’,  yang ada di desa pun sering mati daripada hidup. Satu-satunya hanyalah aki. Nge-charge aki atau dulu disebut “nyetrum/nyeterek” aki pun bukan pekerjaan mudah. Aku masih ingat, hampir tiap seminggu sekali harus ke kota terdekat dengan memegangi aki membonceng bapak menyusuri jalan tanah berbatu di tengah hutan yang semakin rusak jika terkena hujan. Sekali nyetrum, aki bisa bertahan sekitar seminggu. Hari pertama masih full bisa lihat semalaman, lama kelamaan hanya bertahan setengah jam dan gambar di layar TV semakin menyempit.

Bagaimana dengan acaranya? TV masih barang mahal, tak heran ketika ada acara bagus warga masih berduyun-duyun ngumpul ke tetangga untuk nonton TV. Misalnya saat malam minggu, meski sekedar TV Sharp cembung ukuran 14 Inch hitam putih yang kemudian diberikan layar pelangi, tetapi tetangga – tetangga, dengan modal sarung, selimut bahkan tikar, tetap berduyun-duyun datang, menunggu acara favorit “Film Akhir Pekan” yang ditayangkan di TVRI setiap malam minggu, mendekati tengah malam. Acara ini biasa menampilkan film Indonesia terkini. Atau lihatlah ketika Mike Tyson sedang jaya-jayanya saat itu, setiap pertandingan yang hampir selalu dilakukan pagi hari maka hampir selalu ada acara nonton bareng, terkesima melihat sang petinju hanya dalam hitungan menit bisa menjatuhkan lawannya. Betul – betul suasana kekeluargaan dan keakraban yang susah ditemui di jaman ini.

Bagaimana dengan siaran TV Swasta? Aku masih ingat beberapa daftar acaranya saat prime time, yakni setiap pukul 20:00 WIB.

Hari Senin, ada film “21 Jump Street”. Johny Depp yang tampil nggilani di The Pirates of Caribbean masih imut dan culun menjadi detektif polisi muda mengungkap kejahatan. Bener-bener masih culun.

21 Jump Street

Hari Selasa. It’s war movie time!! Kisah satu peleton tentara Amrik yang sedang terseok-seok di Perang Vietnam ditampilkan dalam film “Tour of Duty”.  Film ini mengisahkan peleton yang dipimpin Letda Myron Goldman (diperankan Stephen Caffrey) dan Sersan Zake Anderson (diperankan Terrence Knox) memimpin anak buahnya bertempur di Vietnam.  Mungkin gara-gara film ini, soundtrack atau themesong film ini saat ini biasa diputar jika ada tayangan berbau militer.

Tour of Duty

Rabu, saatnya mobil pintar KITT beraksi. KITT atau Knight Industries Two Thousands adalah mobil pintar yang bisa bicara, tahan tembak dan memiliki beberapa roket dan senapan yang siap menghajar musuhnya. Betul – betul kombinasi sempurna untuk membentuk imajinasi anak laki-laki dengan mobil-mobilan, teknologi dan adu otot… hehehehe. David Hasselhoff yang berperan sebagai driver bernama Michael Knight belum memiliki otot sebesar ketika dia berperan di Baywatch.

Knight Rider

Kamis, setelah aksi mobil pintar, maka saatnya aksi helikopter tempur nan lincah dalam seri Air Wolf. Heli tempur ini jika dibandingkan dengan sekarang, tidak sesangar heli tempur semisal blackhawk, apache. Heli jenis Bell 222 yang ramping dan lincah bermanuver lah yang berperan sebagai Air Wolf dan dipiloti oleh Stringfellow Hawke (diperankan Jan-Michael Vincent). Kalo tidak salah, Hawke ini adalah mantan pilot heli di jaman perang Vietnam. Mungkin karena tahun 80 an yang tidak terlalu jauh dari peristiwa perang Vietnam sehingga banyak sekali film-film berlatar perang ini. Mungkin 5-10 tahun lagi banyak film tentang perang Irak dan Afghanistan dan lagi-lagi Paklik Sam jadi pemenangnya yaaa.. hehehehe

Air Wolf

Jumat, waktu yang paling ditunggu saat si Genius MacGyver (diperankan Richard Dean Anderson) beraksi. Mungkin inilah film seri yang masih paling diingat dari sekarang. Tentang seorang agen Phoenix Foundation, yang selalu menolak menggunakan senjata api dan hanya mengadalkan sebilah pisau Swiss Army dan kemampuan Fisika dan Kimia-nya. Film ini sangat-sangat menginspirasi. Aku ingat saat itu, sampai – sampai anak-anak membuat roket dengan selongsong isi tinta pulpen yang terbuat dari logam. Selongsong ini diisi pentul korek api, kemudian disumbat ujung yang satunya. Maka ketika selongsong ini dibakar, melesatlah selongsong ini bak roket. Semua diinspirasi dari film ini. Pokoknya, jika lihat difilm dan sekiranya bisa ditiru, maka segera kami tiru. Film ini juga membuat anak-anak memiliki keinginan tersendiri untuk memiliki pisau multiguna karena melihat sang doi begitu lihai memanfaatkan untuk berbagai hal.

MacGyver

Dan satu yang pasti positif, timbul keinginan untuk menguasai pelajaran fisika dan kimia dan menjadi insinyur demi bisa menyaingi sang doi hehehehehe…….

Sabtu, ini yang aku heran. Aku sama sekali gak punya kenangan acara favorit di malam minggu ini. Yang ada dulu paling sekitar Lenong Rumpi.

Minggu, saatnya detektif beraksi. Perkenalan pertama dengan Mission Impossible dimulai di sini. Theme Song-nya masih sama terdengar dari dulu sampai sekarang. Cuman, karena dulu masih anak-anak maka film – film detektif seperti ini gak pernah masuk dalam pikiran karena terlalu memeras otak demi mengikuti alur cerita.

Well… Saat itu memang terkagum-kagum melihat film itu. Tetapi ketika diputar kembali saat ini, misalnya MacGyver yang atas bantuan Om Google aku bisa dapatkan DVD Seri-nya, terasa lucu juga dilihat. Lampu-lampu panel elektronik yang kerlap-kerlip yang dulu dianggap sebagai panel yang canggih mungkin sekarang tak lebih dari lampu-lampu biasa yang bekerja dengan sistem analog. Atau lihatlah layar cembung komputer dan OS DOS yang ditampilkan yang sudah paling canggih saat itu dan bandingkan Win 7, Mac, dll saat ini. Juga settingnya, yakni meski bersetting timur tengah misalnya tetapi jika dilihat sekarang bisa ditebak hanya di sebuah gurun di Amerika.

Ngomong-ngomong…. nonton MacGyver dulu ah… belum khatam nih sejak setahun lalu :D

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.