Oleh: ekoyw | April 22, 2014

Citra Indah dan Transportasinya

Well…. setelah hampir tiga bulan menghuni Citra Indah, secara umum belum ada keluhan… kecuali satu, transportasi dan akses ke lokasi. Dari tol Jagorawi, Citra Indah dikenalkan sebagai Kota Nuansa Alam di Timur Cibubur. Tapi kalo kita keluar tol Cikarang ke arah Jonggol, disebut Kota Nuansa Alam di Selatan Cikarang. Nah lhooo…. hehehe. Memang sih, dua – duanya benar. Kalo lihat di peta dan digambar sebuah persegi panjang dengan sisi Jl Tol Jagorawi – Cibubur di barat, Jl Tol Cikampek – Cikarang di utara, Jl Trans Yogie Cibubur – Jonggol di Selatan dan Jl Cikarang – Jonggol di Timur maka posisi Citra Indah persis di pojok tenggara persegi panjang tersebut, pertemuan antara Cikarang – Jonggol dan Cibubur – Jonggol.

Dari lokasinya yg nun jauh tersebut sudah terbayang problem utama adalah transportasi. Memang benar ada angkot 24 jam di depan kompleks tetapi pertanyaannya adalah butuh berapa jam kita ke lokasi tujuan, misalnya ke Semanggi. Ada juga Feeder busway dari Citra Indah ke Blok M/Grogol yang beroperasi mulai sebelum shubuh sampai selepas Isya’ tetapi juga masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu antara lain adalah :

  • Jadwal. Jika kita searching ke berbagai site/blog yang merujuk ke Citra Indah. Jadwal feeder pertama duuuulluuuuu jam 05.30 WIB. Tetapi kemudian mundur teratur tiap 15 menit dan sekarang bis pertama berangkat jam 04.30. Daaannnn pada hari Senin keberangkatan pun maju 15 menit, alias pukul 04.15. Bisa kebayangkan kalo warga Citra Indah itu pada rajin bangun pagi hehehehe. Dengan jadwal bis pertama, biasanya akan sampai Semanggi sekitar pukul 05.30 pagi. Aku biasa sampai kantor pukul 06.00 malah seringnya kurang dari pukul 06.00, saat security masih berpakaian PDL dinas malam dan OB pun masih 1 – 2 yang datang. Alhasil, Masjid kantor yang dituju untuk membayar kurang tidur hehehe. Tapi, bagiku pribadi, bangun pagi dan rutinitas pagi seperti ini tidak masalah kecuali saat hujan atau macet hikss. Bagaimana jika naik bis kedua jam 04.45 dst ??? Yaa siap – siap sampai Semanggi jam 07.00 pagi atau bahkan bisa lebih. Yang jadi masalah itu saat jam pulang kantor. Jadwal bis feeder Citra Indah tidak bersahabat bagi yang pulang kantor jam 15.00 – 16.00 yang biasanya sudah nongkrong di Semanggi sejak jam 16.30. Pada jam segitu, Semanggi dan tol dalam kota sebetulnya masih lancar jaya. Harapan bisa segera sampai rumah pun tidak tercapai. Bis Feeder baru berangkat pukul 16.30 dari Blok M dan 16.45 dari Citraland dan rata – rata sampai di Semanggi jam 17.00 saat kondisi jalan mulai merambat bahkan di tol dalam kota. Alhasil, rencana sampai rumah jam 18.00 – 18.30 bahkan sebelum Maghrib pun tinggal impian. Dengan bis pertama baru datang jam 17.00 bahkan lebih maka sampai rumah rata – rata jam 19.15 – 19.45 atau bahkan bisa sampai lebih dari jam 20.00 malam. Tinggal dihitung berapa waktu tersisa buat keluarga dan istirahat. Sering membayangkan bagaimana jika kelak tambah tahun bis feeder berangkat semakin pagi (baca : malam)?
  • Penumpang. Salah satu keluhan warga Citra Indah adalah banyaknya warga non Citra Indah yang naik bis terutama saat pulang kerja. Sehingga saat pulang kerja, jika tempat duduk penuh, minimal anda harus berdiri dulu sampai keluar tol Cibubur dan baru setelah itu satu persatu penghuni tempat duduk turun. Memang susah sih untuk mendefinisikan penumpang ini benar ke Citra atau tidak. Tetapi mungkin bisa dibuat aturan misalnya saat kembali ke Citra Indah maka penumpang terdekat adalah yang turun di Cileungsi. Memang sih, kalau kita pandang dari sisi operator bis, maka akan memandangnya dari sisi bisnis. Baik itu masalah jadwal maupun penumpang, tentu masalah okupansi penumpang bis jadi pertimbangan utama. Meski sisi kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan warga kompleks Citra Indah juga harus diperhatikan.
  • Jurusan. Hanya ada dua, Blok M dan Citraland. Dari FB Citra Indah, sudah banyak usulan untuk menambah jurusan misalnya ke Tanjung Priok. Tapi entah lah…
  • Jumlah Armada. Resminya ada 5 bis yang masuk jadwal dalam sehari. Dan tentu masih kurang karena jarak keberangkatan relatif tidak sama antara bis pertama dan selanjutnya dalam satu hari. Demikian pula saat kembali dari Jakarta. Anda harus ingat betul kira – kira jam berapa bis akan lewat.  Misalnya jika anda menunggu jam 15.00 di Semanggi maka siap – siaplah menunggu selama sekitar 2 jam hehehe.
  • Rute. Bis menempuh rute dari Citra Indah – Cibubur – Tol Jagorawi – Tol Dalam Kota. Daerah Cibubur – Cileungsi merupakan daerah macet. Satu titik dibenahi, muncul titik lain. Titik macet di Jembatan Cileungsi dibenahi dan relatif lancar, muncul lagi macet selepas Fly over Cileungi – Metland – Harvest City. Bagaimana jika feeder busway di re-route lewat Tol Cikarang ??? Menarik juga kayanya.. Sing penting cepet sampai :D

Bagaimana jika berganti – ganti transportasi. Masalahnya hanya pada sifat ngetem angkot / bis kota yang ada. Juga jika berganti – ganti maka jatuhnya bisa lebih mahal. Di sini feeder busway punya kelebihan.

Bagaimana tentang rencana akses ke Citra Indah? Ada beberapa rencana pembangunan tol, jalan, KRL yang sempat sliweran di internet. Oke, coba kita bahas.

  • Tol JORR2 Cimanggis – Cileungsi – Cibitung. Katanya sih nanti memotong di sekitar Harvest kemudian ke arah Cibitung. Tetapi sampai sekarang boleh dibilang tidak ada perkembangan berarti dari rencana tol ini. Akses tol Nagrak – Cimanggis yang ada progres pembangunan dan bisa diharapkan sedikit mengurai kemacetan di Cibubur. Tetapi meski ruas tol ini jadi, yang jadi pertanyaan adalah mampukah ruas tol Jagorawi Cimanggis sampai dalam kota dan Cibitung sampai dalam kota menampung tambahan kendaraan yang melintas? Karena muara ruas tol Cimanggis – Cibitung ini tetap kedua ruas jalan tol utama tersebut yang pada saat jam sibuk sekarang ini saja sudah macet luar biasa. Tol hanya menambah nafsu orang memakai mobil pribadi.
  • Jalan Poros Tengah Timur. Ini rencana menghubungkan Bogor – Puncak – Cianjur – dan Deltamas di Cikarang. Konon untuk mengatasi kemacetan di Puncak. Dan konon melewati Jonggol. Tetapi beberapa situs, misal di Sentul City, jalan ini akan memotong kecamatan Tanjung Sari, satu kecamatan arah Cianjur dari Jonggol. Progressnya? Minimal saat pernah jalan – jalan ke Kec Sukamakmur dan mencoba jalur Puncak 2, belum ada perkembangan atau kegiatan pembangunan yang bisa di lihat.
  • KRL Cibinong – Cileungsi – Cikarang. Benar Cikarang akan ada KRL proyek double – double track. Cibinong ada dari stasiun Nambo. Tapi ke Cileungsi apalagi Citra Indah?? Sebetulnya KRL ini paling relevan mengatasi kemacetan. Juga punya keunggulan dari sisi biaya dan waktu pembangunan dibanding tol. Toh di negara – negara maju lebih mengedepankan KRL daripada kendaraan bermotor. Progressnya? Cikarang ada progress. Nambo – Cibinong? KRL-nya aja belum berfungsi meski infrastrukturnya siap. Ke Cileungsi? Sama kaya nasib tol.. :D
  • Ada lagi berita info jalan tol lintas tengah/selatan dari Jakarta – Jonggol – Cianjur  terus sampai ke Tasik. Tapi sepertinya rencana ini juga menguap entah kemana.

Rencana – rencana di atas, sebagian besar sudah dipublikasikan secara umum dan dengan mudah bisa kita cari peta rencananya di internet. Tapi tentang implementasinya… mungkin nunggu mau pensiun kali yaaa hehehehe.

Usulan buat Citra Indah. Konsep feeder busway bagus meski perlu perbaikan mulai jadwal, jumlah armada, rute, tujuan dll. Tetapi, jika suatu saat Jakarta benar – benar sudah macet total dan harus berangkat lebih pagi lagi maka mengirimkan bis – bis ke Jakarta juga kurang membantu. Mungkin bisa dipikirkan membuat shuttle terjadwal ke stasiun – stasiun KRL terdekat, misalnya ke Depok atau Cikarang juga sudah aktif.

Penutup :

Sore itu di halte Semanggi, dibawah jembatan penyeberangan. Dua warga Citra Indah sedang duduk berbincang sambil nunggu bis Citra yang sampai jam 17.00 itu belum juga datang. Membicarakan berbagai kabar angin surga tentang jalan akses di belakang Citra Indah, tol, kereta, dll.

A : “Nasib e wong ga nduwe duit yo Mas. Duwe omah adoh tenan. Untung ga dewean, minimal sing senasib wong sak bis.”

A & B : Hahahahaha….. tertawa ngakak bersamaan dan segera loncat bareng mengejar bis Citra Indah yang datang.

 

Oleh: ekoyw | Desember 24, 2013

Berburu Rumah….

Akhirnya…. setelah lebih dari 20 tahun menyandang predikat anak kost, bulan ini aku resmi punya hutang 15 tahun demi sebuah rumah yang baru bisa ditempati setahun lagi hehehehe…

Cerita bermula awal September 2013. Saat datangnya kesempatan untuk kembali bermukim ke tanah Jawa. Meski tidak di kampung halaman tetapi malah ikut menyesaki belantara hutan beton ibukota, akhirnya.. Bismillah… aku ambil kesempatan untuk kembali dan lebih dekat dengan orang tua. Meski sampai Oktober belum ada kepastian apakah mutasiku berhasil atau tidak tetapi persiapan pun dilakukan, setidaknya untuk mencari sebuah rumah tinggal nan nyaman buat sekeluarga.

Mbah Google pun dihubungi dengan segala jampi – jampi dan uba rampe-nya. Dengan rumus matematika f(x) = dx dengan d = duit hehehe… googling pun dilakukan. Browsing pun dilakukan. Kesimpulannya adalah :

  • Serpong : Wow….sama sekali gak berminat. Mahalnya minta ampuuuuuunnn. Rumah 1 M di sana kayanya bukan rumah mewah lagi. Juga terbius hipotesa harga perumahan di sini sudah overprice atau overvalue. Nggak tahu lah apa istilahnya :D
  • Tangerang : Bersama Serpong masuk target sebetulnya, karena banyak keluarga besar bermukim di sini. Tetapi harganya juga sudah mirip – mirip Serpong. Harga Rp 700 – 800 jt dapat tipe 42 – 45 an. Kalo bener punya uang segitu, 250 jt buat rumah dan 500 jt buat beli kebun sawit di Sumatera… halaaah…:D
  • Depok : Terus terang masih buta daerah ini, yang kutahu hanya mulai macet dan harganya ga jauh beda dengan Tangerang. Juga jalan – jalannya yang sempit.
  • Bogor : Harga lebih turun dari Tangerang/Depok. Tapi ga turun – turun amat.
  • Bekasi : Entahlah, tidak seberapa nyari daerah sini. Kesanku Bekasi itu panas dan beberapa daerah rawan banjir. Hampir 10 tahun lalu pernah tinggal di Cikarang jadi lumayan tahu suasananya.
  • Cibubur : Ini kayanya bakal jadi “the next” Serpong dengan harga juga mendekati Serpong hehehe….
  • Cileungsi : Akhirnya pilih yang disini. Jauh sini, di pojok dunia hehehe. Sekitar 50 km dari Jakarta Pusat atau setara jarak Lamongan – Surabaya. Padahal Lamongan – Surabaya terasa ga jauh – jauh amat hehehe. Tetapi, Bismillah… dengan f(x) = dx pilihan pun jatuh ke sini. Tepatnya di Citra Indah, meski di ujung dunia dan kayanya harus berangkat jam 05.00 tetapi dijalani aja, toh ada bis perumahannya juga.

Oke… pilihan pun telah dijatuhkan. Bertepatan dengan Hari Pahlawan yang juga bertepatan dengan Dies Natalis kampus tercinta yang ke-53 booking fee sebesar 1 jt pun dibayarkan dengan syarat 2 minggu setelahnya berkas KPR diserahkan. Dan DP dilunasi maksimal 1 bulan sejak booking fee. Meski sampai saat itu, belum pernah ke perumahannya. Nah lho… hihihihi. Sebagian berkas – berkas KPR dikirim ke email untuk diprint dan tinggal diisi. Utamanya adalah form permohonan KPR dari 3 bank : BCA, BRI, BNI dan BTN.  Berkas lain yang perlu disiapkan adalah kurang lebih : Copy KTP Suami/Istri, KK, Surat Nikah, Keterangan kerja, Slip gaji 3 bulan terakhir, rekening koran

Tips : Mintalah berkas yang lengkap jika dikirim via email. Ternyata ke depan hampir semua bank di atas minta berkas ini – itu untuk kelengkapannya.

Dua minggu kemudian, 23 November 2013, berkas pun diserahkan ke developer dan sekaligus baru pertama kalinya kesana. Terasa jauh juga. Sekitar 1 jam dari Lanud Halim tempat sementara aku nebeng sama kakak sepupu yang juga seorang arsitek di Dephan dan ikut antar aku ke sana. Semua berkas sudah aku copy jadi 5 berkas. Tetapi disana hanya ketemu dengan pihak dari BCA saja. Setelah periksa berkasku sebentar, Mas dari BCA tersebut kasih surat pernyataan yang isinya adalah aku tidak punya tanggungan hutang dan KPR/KPA di mana pun. Sementara berkas – berkas yang lain disimpan oleh admin developer.

Setelah itu, gantian HP yang sibuk dihubungi bank ini dan bank itu. Berikut resume-nya :

BCA, bank ini bekerjasama dengan developer dengan paket menarik 9 % fixed selama 5 tahun karena aku tidak punya rekening BCA, tepatnya rekening BCA ku sudah mati :D. Juga bebas biaya admin dan KPR. Sang Marketing, bukan mas yang di Citra Indah kemarin, menghubungi pertama tanggal 2 Desember 2013. Pertama bilang pengin konfirmasi ke HRD karena susah dihubungi. Di sini tantangan pertama mulai. Surat keterangan kerjaku aku buat di Sumatera sementara aku sudah dipindah ke Jakarta. Tapi… yaa insyaAllah teman – teman di Sumatera masih ingat aku lah :) Akhirnya dengan pede aku kasih nomor HP bapak manager HRD yang tanda tangan di surat keterangan kerja. Selesaikah, ternyata tidak. BCA ternyata meragukan tabunganku di Bank Syariah Mandiri (BSM). Pihak BCA tanya apa ada kenalan orang BSM yang bisa di-cross check soal tabunganku. Di Sumatera kebetulan tetanggaku adalah orang BSM yang punya posisi lumayan di BSM Cabang. Tapi jelas, bapak ini tidak bisa memberi konfirmasi apa – apa selain membenarkan kalo memang aku punya rekening di BSM.  Alasannya jelas, data – data nasabah adalah rahasia bank dan tentu pihak bank tidak bisa memberikan ke pihak lain apalagi hanya lewat telepon. Aku sempat tawarkan apa perlu screenshot tampilan di internet banking BSM dan copy buku tabungan BSM, tetapi dijawab tidak bisa. Akhirnya, solusinya adalah pihak marketing bank memintaku untuk bersama – sama dengan dia nge-print rekening koran di BSM. Saat ketemu dan ngobrol, alasan BCA ternyata akhir – akhir ini banyak rekening bank fiktif saat ajukan KPR. Nilai transaksi dan saldonya ternyata fiktif. Alhamdulillah selesai.

BNI, selain BCA, developer juga kerja sama dengan BNI. BNI relatif lancar. Satu form persyaratan yang perlu diserahkan adalah surat tanda tidak punya hutang KPR/KPA di tempat lain yang dikirim via email. Di sini masalah mulai muncul karena harus tanda tangan suami istri. Sementara mantan pacarku itu sedang di Jawa Timur. Tetapi Alhamdulillah, sama BNI diberi jalan untuk ditandatangai saja dua – duanya oleh suami dan nanti jika KPR di-setujui tinggal tanda tangan lagi berdua dengan istri. Syarat yang lain, BNI minta foto buku tabungan BSM dan halaman terakhir saldonya. Mungkin bagian ini yang sedikit membedakan dengan BCA. Bank ini menghubungi pertama kali tanggal 29 November 2013 atau 6 hari sejak penyerahan berkas KPR.

Mandiri, pertama menghubungi tanggal 28 November 2013. Dari bank ini, tempat domisili sempat jadi masalah. Pertama dia minta alamat keluarga di Jakarta. Oke… selesai. Kedua alamat di Sumatera, dan ini masalah berlanjut karena analisnya bilang butuh surat keterangan domisili RT/RW di Sumatera. Setelah diterangkan kalo sudah tinggal di Jakarta, bank ganti minta surat domisili di Jakarta. Dan yang ini tidak bisa (baca : malas) untuk aku penuhi hehehe. Dari bank ini aku juga baru nyadar ternyata tidak ada nama perusahaan atau pun kata – kata keterangan asli di slip gaji kantor yang bersistem paperless dari intranet kantor. Untungnya bank cukup minta screenshot saja dari tampilan intranet payroll kantor.

BRI, syarat yang diminta juga tidak banyak. Mereka hanya minta dikirimkan surat keterangan kerja kembali dan SK pengangkatan sebagai karyawan. Saat – saat terakhir, BRI mengirimkan form pernyataan tidak punya pinjaman KPR/KPA di tempat lain.

Dan hasilnya adalah….. BCA menghubungi tanggal 4 Desember atau hanya 2 hari setelah print bareng rekening koran di BSM dan memberitahukan KPR disetujui sesuai plafon, bebas KPR, bebas biaya administrasi, bebas biaya notaris, bebas asuransi kebakaran dan hanya membayar asuransi jiwa 4,5 jt. BNI menghubungi sekitar 2 hari kemudian juga memberitahukan KPR disetujui sesuai plafon, bunga 0,5 % lebih rendah dari BCA dan hanya berlaku 1 tahun. Sementara BRI dan Mandiri masih sibuk dengan syarat – syarat form KPR yang menurutku terlalu ribet.

Akhirnya BCA yang aku pilih. Dan tanggal 17 Desember 2013 kemarin resmi punya hutang selama 15 tahun hiks… Atau resmi berinvestasi 15 tahun untuk rumah :D. Tanggal 17 Desember itu juga pertama kali naik bis Citra Indah. Berangkat jam 08:30 dari Ratu Plaza hanya butuh sekitar 1 jam untuk sampai Citra Indah. Dan pulang jam 11:30 sampai Semanggi sekitar jam 12:50. Sepertinya waktu sekitar 1,5 jam ini waktu rata – rata perjalanannya. Waktu sebagai ukuran jauh? Mungkin ya, tapi juga tidak selamanya tepat  untuk ukuran Jakarta. Aku pernah dari Halim pukul 17:30 ke kost Adik di Cipulir butuh waktu 2 Jam lebih padahal saat itu hari Sabtu dan sore hari. Itulah Jakarta…

Ke depan… pengin alihkan KPR ini ke KPR syariah. Mungkin jika sudah selesai 5 tahun atau saat suku bunga tidak gila – gilaan seperti saat ini.

Amiiiinnnnnn

Semua berawal tanggal 14 Agustus 2013 saat kami ke Stasiun Lamongan dan si kecil pun rewel minta saat balik nanti pilih naik Kereta Api daripada Pesawat. Padahal beberapa hari terakhir sebelumnya aku sudah browsing tiket – tiket pesawat Surabaya – Jakarta. Akhirnya aku ganti browsing tiket kereta. Pilihan pun jatuh pada Argo Anggrek Pagi dengan pertimbangan sampai Jakarta masih bisa istirahat bermalam sebelum lanjut perjalanan keesokan harinya.

Saat itu pun aku baru tahu kalo sekarang tiket KA ada sub kelas – kelasnya, meski sama – sama kelas eksekutif. Browsing pun berlanjut. Ada empat kelas yang berbeda sekitar Rp. 25 rb antara sub kelas terendah sampai yang paling mahal. Argo Anggrek misalnya, harganya terpaut antara Rp. 375 rb, Rp. 400 rb, Rp. 425 rb dan Rp. 450 rb. Sebenarnya mirip – mirip tipis dengan harga tiket pesawat. Sub kelas ini, sekali lagi dari hasil googling, ternyata berbeda tempat duduk. Untuk kursi yang dekat sambungan gerbong atau gerbong paling ujung maka harganya paling murah. Maklum bro, biasanya di posisi ini goyangan kereta paling yahud hehehe. Dan semakin ke tengah, harganya semakin mahal. Dahiku sedikit mengkerut saat melihat hasil googling harga tiket di aplikasi Android (Once again… thanks to Android), kok Harga tiket Sembrani sama dengan tiket Argo Bromo Anggrek yaa? Malah di hari yang sama lebih mahal Bima daripada Anggrek, meski jalurnya berbeda karena lewat Jogja. Bukannya dulu Anggrek selalu lebih mahal dibanding dua KA Eksekutif itu? Maklum bro, terakhir naik Anggrek sekitar tahun 2008 :D. Setelah itu beberapa kali naik Sembrani, Bima atau malah Gajayana.

Akhirnya uang Rp. 1,35 juta pun bertukar 3 tiket KA Argo Bromo Anggrek Pagi dari Stasiun Pasar Turi ke Gambir.

Dan perjalanan pun di mulai….

Kami sampai Stasiun Pasar Turi sekitar pukul 07.15 WIB, masih ada waktu 1 jam sebelum keberangkatan. Tidak ada yang berubah dari stasiun ini. Kesannya masih kumuh dibanding Stasiun Gubeng. Ruang tunggu eksekutif benar – benar tidak nyaman. Tidak mampu menampung penumpang yang akan berangkat pagi itu. Banyak penumpang yang harus berdiri dan barang – barang bawaan berserakan dimana – mana bercampur petugas KA, portir, dll. Kalau untuk tempat tunggu eksekutif, kayanya lebih nyaman menunggu di stasiun – stasiun yang di lewati. Stasiun Jombang misalnya, meski kecil tapi nyaman, meskipun kayanya ga bakalan cukup juga kalo saat kereta Bangunkarta akan berangkat.

Sekitar jam 07:30, KA Argo Anggrek Malam dari Jakarta tiba. Tampak stiker Go Green di gerbongnya. Dalam hati, masak naik KA ini? Masak KA ini langsung puter kepala? Lha kalo suatu saat ada masalah, bagaimana nasib kami? Ternyata kami ga perlu khawatir, dari arah utara masuk KA di jalur 2. Dan pengumuman pun berbunyi meminta calon penumpang untuk naik.

Di sinilah keraguanku pun muncul. Tampilan eksterior kereta ini tidak mirip dengan Go Green. Juga tidak mirip dengan KA Argo Anggrek sebelumnya yang bermotif warna merah – keunguan. Dengan warna putih dan satu kaca jendela penumpang tiap deret kursi, rasanya KA ini harusnya untuk Sembrani atau KA – KA Eksekutif yang lain. Oke lha… Don’t judge the train by it’s cover… :D

Kaki pun melangkah masuk. Dengan bantuan portir, barang – barang kami pun bisa masuk bagasi di atas tempat duduk. Di sini keraguanku tadi menemui kenyataan pertama. Tidak ada leg rest di kursi penumpang yang dulu bisa menyangga betis agar tidak kaku dan bisa selonjor. Hanya ada foot rest di ujung belakang kursi di depan, sama dengan di Bima, Sembrani ataupun Gajayana. Kursi penumpang pun terlihat kusam, beberapa bekas baret ataupun noda – noda debu terlihat menurunkan aura eksekutif kereta ini. Yup… show must go on…

Sempat terjadi insiden kecil sebelum kereta berangkat. Seorang makhlus halus berdekat kecil dengan penumpang lain karena tiket mereka ternyata sama – sama kursi 8A di gerbong yang sama. Singkat cerita mereka turun, dan naik kereta lagi. Melihat kursi sebelahku kosong, sang makhluk halus pun permisi duduk di situ. Ternyata, dari cerita dia, dari data KAI penumpang lain tersebut telah membatalkan tiketnya. Selesaikah? Ternyata tidak. Penumpang tersebut pun turun dan mengurus ke KAI. Saat kembali, sambil tersenyum penumpang itu cerita dan bilang akan me-somasi KAI 100 kali harga tiket jika dia tidak bisa berangkat pagi itu karena dia tidak merasa membatalkan tiketnya. Dengan berbekal selembar kertas yang entah berisi apa, penumpang tadi kembali ke tempat duduknya dan si makhluk halus itu pun tetap duduk di sampingku :D

Dan perjalanan pun dimulai tepat pukul 08:15 sesuai jadwal. Meski sudah di gerbong tengah, di bangku tengah, dengan harga sub kelas paling mahal goyangan yahud kereta api ini masih sangat terasa. Rasa – rasanya tidak terlalu berbeda kenyamanan antara yang di dekat sambungan gerbong dengan yang duduk di tengah. Ketiadaan leg rest juga mengurangi kenyamanan naik kereta pagi itu.

Selesaikah? Tidak. Sesi buang air pun dimulai. Jika biasanya kita temui tombol untuk membuka pintu kaca antara ruang penumpang dan ujung gerbong maka untuk saat ini tidak ada. Butuh tenaga lumayan kuat untuk menggeser pintu itu jika ingin keluar masuk gerbong. Huuffhhh. Dan ternyata belum selesai. Di toilet, yang aku temui adalah toilet jongkok padahal saat naik Gajayana tahun sebelumnya, toilet duduk yang bersih dan wangi yang aku temui. Lewat tengah hari pun diberi tahu petugas kalau air toilet habis dan diminta ke gerbong sebelah…. wadeeewwww…

Lewat Cirebon, perutku pun memanggil minta diisi. Nasi Krawu pun jadi pilihan. Pertama, Nasgor ataupun steak di KA yaaa begitulah rasanya. Nasi rames??? kan kepanjangannya Nasi Ra Mesti lawuh e hehehehe. Untuk Krawu pun sebetulnya hanya berisi serundeng, suwiran daging, sambal dan telor asin. Ini Krawu mana yaa? Hanya camuran serundeng dengan nasi yang cukup bisa membangkitkan semangat 45 untuk menghabiskan menu ini. Tapi tunggu dulu, mana nih meja lipat yang biasanya disembunyikan di pegangan kursi penumpang? Seolah hilang tidak berbekas. Pegangan kursi itu terasa solid, tidak ada tanda – tanda bahwa ada yang disembunyikan di sana. Yaa…. what ever lah…. panggilan perut telah lama menjerit.

KA ini akhirnya landing di Gambir sekitar pukul 18:20 WIB atau terlambat 30 menit dari jadwal.

Jadi Kesimpulannya adalah :

  • Ketepatan Waktu : Masih bagus, terlambat 30 menit masih bisa ditolerir… Iki kebiasaane wong Indonesia hehehe.
  • Makanan : Masih mengikuti harga properti, Lhoo???? Maksudnya minimalis dan harga tinggi :D
  • Toilet : Buruk. Ini KA Eksekutif bro! Toilet jongkok, air menggenang, air sempat habis dan kalah kelas dengan KA di bawahnya.
  • Kursi : Buruk. Leg Rest adalah pembeda dengan KA yang lain yang mengandalkan foot rest. Tidak ada meja lipat untuk makan malah semakin menurunkan nilai KA ini. Sekali lagi KA ini kalah telak dengan KA kelas di bawahnya.
  • AC : Buruk. Entah karena siang jadi tidak dingin, tapi lontaran AC tidak dingin ini sempat terucap oleh penumpang.
  • Gerbong : Pintu penumpang yang harus di buka manual, gerbong yang kusam, berderit dan berdecit seharusnya tidak dipakai untuk KA ini.

Kesimpulan terakhir. Terjawab sudah kenapa harga tiket KA Argo Anggrek sekarang sama dengan Sembrani dan malah lebih murah dibanding Bima. Jadi, ga usah takut – takut lagi naik Argo Anggrek meski bersiaplah kecewa karena bukan Argo Anggrek yang dulu. Ini lah sebabnya aku lebih suka menyebut sebagai KA Sembrani Pagi, minus tidak berhenti di Lamongan – Bojonegoro dan Cepu. Miris kalo menyebut KA Argo Anggrek Pagi :D

Terakhir, masih mending naik pesawat yang harganya beda – beda tipis dengan KA Eksekutif. Sampai tulisan ini dibuat, rasa pegal – pegal naik kereta masih terasa.

Semoga dibaca direksi KAI…. lho…???!!??? :D

Update :

Menurut info kakak sepupu yang kebetulan tahu seluk beluk kereta, katanya gerbong merah – keunguan Argo Bromo Anggrek sedang diistirahatkan karena sering anjlok. Benarkah ?

Oleh: ekoyw | Juni 27, 2013

Cerita Mudik….

Apa yang ditunggu dan selalu dihitung oleh kaum perantau? Itulah mudik.. hehehe. Seperti saat ini, menjelang puasa, count down kapan mudik sudah dimulai oleh perantau, utamanya bagi perantau yang jarang mudik. Kenapa mudik terasa asyik? Ada banyak energi berlebih yang terasa saat akan mudik, belum lagi ada begitu banyak strategi yang dijalankan saat akan mudik. Mulai dari strategi mencari tiket, hingga strategi acara di kampung halaman.

Cerita ini, berisi pengalaman pribadi menjalani ritual mudik selama di tanah seberang. Mungkin bisa jadi pelajaran dalam menentukan strategi mudik selanjutnya. Oke, kita mulai saja.

2007, tahun pertama di seberang. Yang aku ingat pada saat itu, aku belum memiliki hak cuti yang cukup luang untuk mudik. Dan tahun ini, adalah mudik pertama yang memakan waktu 24 jam lebih. Semua dimulai dari beli tiket. Untuk tiket ke Jakarta, tidak ada masalah karena mesti menantang arus mudik yang keluar dari Jakarta. Tapi tiket Jakarta – Surabaya adalah perjuangan sendiri. Jalur ini terkenal sebagai jalur penerbangan tergemuk di negeri ini. Sementara kereta api terbatas, tidak sebanyak pilihan jika mudik dari Jakarta ke Jateng atau Jogja. Singkatnya, dari bantuan seorang teman di Jakarta, tiket Argo Bromo Anggrek, yang saat itu hanya bisa dibeli di stasiun atau agen, bisa di beli. Dan perjalanan pun di mulai.

Kami, aku dan istri, berangkat sekitar pukul 10 – 11 pagi dengan travel untuk mengejar pesawat sore dari Bengkulu. Mobil travel full berisi 7 orang. Bayangan kepala pusing karena jalan berliku – liku melintasi pegunungan Bukit Barisan sudah hadir bahkan sebelum perjalanan di mulai. Alhamdulillah kami duduk di bangku tengah sehingga tidak sempat Jackpot (baca : Mabuk hehehe) seperti beberapa penumpang di bangku belakang. Sampai Bengkulu sekitar jam 4-5 sore. Dan Alhamdulillah tidak ketinggalan pesawat. Sampai Cengkareng langsung ke Gambir. Argo Anggrek ini pun sampai Surabaya sekitar jam 9 keesokan harinya. Perjalanan belum selesai. Dengan naik motor, perjalanan diteruskan ke rumah mertua di seberang Surabaya. Sampai rumah, sekitar pukul 11 – 12 siang. Yang aku ingat saat itu hari Jumat, dan aku tidak sempat ikut Sholat Jumat.

2008. Dari pengalaman tahun 2007 yang butuh waktu lama kami ganti rute. Kami pilih naik pesawat ke Jakarta dari Palembang dibanding dari Bengkulu. Pertimbangannya adalah di Palembang ada pesawat yang menginap di bandara sehingga berangkat pagi – pagi jam 06.00 dari Palembang. Sehingga akan masih belum siang sampai Surabaya.

Problemnya sama !!! Tiket Jakarta – Surabaya belum ada di tangan sementara waktu tinggal 2 minggu sebelum berangkat. Tiket kereta api sudah habis dan tidak bisa didapatkan meski telah minta bantuan banyak teman di Jakarta. Akhirnya, rencana terakhir naik bis pun disiapkan. Kami minta tolong ke paman di Tangerang untuk booking tiket Bis Rosalia Indah dari Cikokol. Untuk sementara aman. Sekitar 2 minggu sebelum berangkat, iseng aku buka situs lion air. Dan Voila… this is it !!!! Tiba – tiba tiket pesawat jauh lebih murah dari biasanya. Tapi banyak pikir, aku langsung booking dan beli tiket tersebut. Dari sini aku ambil kesimpulan, untuk Lion Air, tiket akan cenderung lebih murah mendekati hari H keberangkatan….. asal… kursi masih tersedia.. hehehehe. Cenderung gambling sih. Tapi It’s OK!

Akhirnya, dengan travel malam kami berangkat pukul 21.00 ke Palembang. Sampai Bandara Shubuh sekitar pukul 03.30. Musholla pun jadi tempat jujugan kami. Ternyata sudah ada beberapa orang lain yang tidur di sana menunggu penerbangan paling pagi itu. Mandi??? Ah… tidak usah, cukup gosok gigi, basuh muka sebanyak – banyaknya, pake parfum sebanyak – banyaknya, dan rambut disisir rapi hahahaha…. Akhirnya jam 13:00 hari itu kami tiba di rumah Lamongan.

2009, aku mudik sendiri karena istri hamil dan sudah aku ungsikan beberapa bulan sebelumnya ke rumah mertua :D. Perjalanan mudik sendiri tentu lebih bebas, artinya kalo ga dapat tiket pun, naik bis Jakarta – Surabaya juga ga masalah. Untuk tiket berbekal pengalaman 2008 aku terapkan lagi saat itu. Rute dan waktu keberangkatan sampai tidak usah mandi di bandara pun aku terapkan… hehehehe

2010, sudah ada si kecil yang belum genap setahun. Biaya nambah meski belum banyak karena masih dihitung bayi. Kali ini rute Jakarta – Surabaya aku ganti Jakarta – Jogja karena ada acara keluarga. Untuk mudik kali ini, lebih keren. Tiket Garuda Palembang – Jakarta – Jogja berhasil diamankan. Untuk Garuda ini, saat itu aku pesan sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan dan harganya masih terjangkau. Kami berangkat tetap jam 20:00 dan sampai Jogja sekitar jam 12:00 siang keesokan harinya.

2011, si kecil semakin besar. Alhamdulillah masih dihitung tiket bayi. Rute kembali Jakarta – Surabaya. Dengan pengalaman 2008 – 2009, kami beli tiket Lion Air Palembang – Jakarta – Surabaya. Aku beli tiket juga mepet – mepet mau berangkat, yang jelas masih bulan puasa. Yang penting tiket Jakarta – Surabaya diamankan dulu, baru tiket Palembang – Jakarta.

2012, si kecil sudah harus pake tiket anak – anak yang meski bernama tiket anak – anak tapi tidak lebih murah dibanding orang dewasa. 2012 ini ada perubahan mendasar di PT KAI. Dengan alasan perbaikan sistem, tiba – tiba tiket KA Eksekutif Jakarta – Surabaya yang biasanya saat lebaran hanya berkisar 400 rb an melonjat menjadi 700 rb. Aku awalnya nyantai saja menyikapi hal ini. Sampai 2 bulan sebelum Lebaran aku belum beli tiket pesawat Jakarta – Surabaya karena masih berharap dapat keajaiban tiket akan turun seperti sebelumnya. Tapi lho.. lho… bukannya turun, tiket pesawat malah naik sampai batas atas dimana paling murah adalah Rp. 1 juta… Wah strategi sebelumnya ga bisa dipake nih. Akhirnya, aku dan adikku putuskan ngincar tiket kereta. Tapi alamaaak….. Mulai Sembrani, Bima sampai Argo Bromo semua ludes. Pikir – pikir, coba lihat tiket Gajayana. Dan hampir tengah malam, saat tiket kereta api tambahan dibuka, adikku yang tinggal di Jakarta berhasil booking 4 kursi tiket Gajayana Jakarta – Malang tapi turun di Kertosono. Ga masalah, toh Kertosono – Lamongan sudah dekat. Minta jemput saja. Tengah malam itu, aku beli tiket Gajayana lewat ATM Mandiri.

Dari sini aku ambil kesimpulan, di tahun – tahun selanjutnya kayanya tiket pesawat  Jakarta – Surabaya jika pesan 1-2 bulan sebelum Lebaran tidak bakalan dapat lebih murah. Karena tiket kereta api saja sudah naik jadi 700 rb.

Tiket pesawat ke Jakarta sendiri bermasalah. Tiket Sriwijaya Air yang awalnya rencana berangkat siang dari Bengkulu ternyata beberapa hari sebelum Lebaran diberitahu akan delay dan baru berangkat sore. Waduh… gimana nih, bisa ketinggalan kereta. Alhamdulillah pihak Sriwijaya Air Bengkulu membantu banyak. Mereka bersedia memindahkan naik pesawat Lion Air pagi. Yaa harus pagi tidak berani ambil siang mengingat reputasi Lion Air yang juga sering delay. Apalagi ke Surabaya-nya naik kereta, tidak naik pesawat. Yang aku salut, ternyata ada kelebihan dari harga tiket Sriwijaya Air diganti Lion Air. Dan kelebihan tersebut ditransfer kembali ke rekeningku meski harus menunggu usai Lebaran. Salut untuk Sriwijaya Air.

Tahun 2012 ini pun perjalanan kembali 24 jam lebih. Kami berangkat habis Shubuh untuk mengejar pesawat jam 10.00 yang kemudian ternyata molor sampai jam  11.00 baru berangkat. Alhasil, kami sekeluarga duduk – duduk santai dulu di Cengkareng sampai sekitar jam 15.00 sebelum bergerak ke Gambir. Dan sampai Kertosono jam 05.00 keesokan harinya.

Tahun 2013 ini ??? Berbekal pengalaman 2012, bahwa tiket pesawat Jakarta – Surabaya tidak akan lebih murah dari tiket Kereta Api yang saat itu berkisar 700 rb, maka tiket Jakarta – Surabaya sudah diamankan sejak tahun kemarin. 10 Bulan sebelum perjalanan :D. Begitu browsing dan dapat jadwal libur nasional 2013 maka langsung lihat kalender dan memutuskan tanggal berapa akan mudik.  Bagaimana dengan ke Jakartanya? Juga Alhamdulillah sudah diamankan.

Bagaimana perjalanan tahun ini???? Semoga dimudahkan…..:D

Oleh: ekoyw | April 2, 2013

Setting VPN Huawei Mediapad S7-301u

Memasuki bulan keempat tahun 2013 ini, aku mendapat beberapa gadget dinas dari kantor. Yup, gadget dinas karena memang diperuntukkan untuk keperluan kerja sehari – hari.

Deretan gadget itu dimulai sekitar akhir Februari lalu, saat sebuah Smartphone Huawei Ascend D Quad XL dikirim dan dijadikan HP operasional pekerjaan. Kemudian disusul minggu kemarin, sebuah tablet Huawei Mediapad S7-301u juga datang untuk kepentingan pelaksanaan pendataan asset. Semuanya berbasis Android.

Hampir dua tahun berkenalan dengan Android, dimulai dari Samsung Galaxy Gio yang hanya berumur tidak sampai 5 bulan karena terjatuh dari mobil saat mudik, Galaxy Ace dan sekarang Huawei.

Selama berkenalan dengan gadget android baru, membuatku sekarang memiliki parameter tersendiri untuk menilai kinerja sebuah gadget. Parameter itu adalah fitur VPN. Memang, hampir semua gadget Android sudah mendukung fitur VPN. Namun perlakuan untuk “menghidupkan” fitur itu bisa dibilang berbeda satu dengan yang lain. Utamanya untuk mengakses VPN IPSec PSK XAuth yang dipakai kantor.

Untuk Galaxy Gio dan Ace, harus di-root dulu dengan pengalaman yang mendebarkan karena baru pertama kali memegang android. Sementara Huawei Ascend, tanpa root sudah mengaktifkan fitur VPN IPSec PSK XAuth. Cukup fungsional sich. Meski cukup menyiksa juga jika harus remote PC kantor dari handphone yang hanya selebar sekitar 3-4 inch hehehe.

Lain lagi dengan Huawei Mediapad S7-301u. Tablet ini sudah memiliki fitur seperti Huawei Ascend, tapi tidak bisa dijalankan. Status VPN hanya connecting… terus kemudian timeout. Saat install VPNCilla versi Trial, sebetulnya tablet ini sudah mendapatkan IP. Tapi tidak bisa membangun sebuah link yang established. Dari VPNCilla, disebutkan kesalahan di parameter server atau module Tun.ko yang tidak ditemukan. Akhirnya, jalan satu – satunya harus di root, karena Tun.ko diinstall lewat TUN.KO Installer yang hanya berjalan di gadget yang telah di-root.

Berikut langkah – langkah untuk membuat Tablet Huawei Mediapad S7-301u kita bisa terkoneksi ke VPN, utamanya VPN IPSec PSK XAuth :

  1. Root Mediapad : Dengan tujuan agar bisa install TUN.KO Module yang dipakai untuk akses VPN.
    • Download aplikasi 1clickroot dari http://1clickroot.com/ ke PC. Bisa baca-baca juga tutorialnya di sini.
    • Buka Meped. Klik agak lama ditampilan tanggal (pojok kanan bawah) dan klik setting (sebelah SRS) dan pilih Settings.
    • Pilih Developer Options
    • Aktifkan USB Debugging.
    • Jika perlu, unmount storager di Setting – storage – Unmount SD Card
    • Hubungkan PC dan Meped.
    • Setelah terhubung, jalankan 1clickroot yang sudah di-download di PC.
    • Dan pilih root dan tunggu beberapa saat (ga sampai 5 menit) sudah selesai. Dan lepas kabel USB Meped ke PC.
    • Untuk mengecek sudah root, buka Meped dan lihat di Apps apakah sudah ada Aplikasi Superuser. Jika sudah ada, root berhasil.
  2. Install TUN.KO
    • Download Tun.ko Installer dari Playstore.
    • Jalankan Tun.ko Installer di Meped.
    • Centang semua, dan klik Install.
    • Pilih Allow jika ada pertanyaan apakah kita mengizinkan aplikasi ini mengakses superuser. Sebenarnya untuk kasus ini, tujuan root hanya untuk ini J
    • Selesai.
  3. Install VPNC
    • Download VPNC di Playstore.
    • Setting Buka VPNC Widget di  Apps.
    • Klik Check Prerequisites untuk mengecek apakah VPNC bisa jalan atau tidak.
    • Klik Set Preferences dengan settingan sbb :
    • IPSecGateway : IP VPN
    • IPSecId : Nama Group
    • IPSecSecret : Password Group
    •  XauthUsername : Nama User
    • XauthPassword : Password User
    • VPNC Widget ini dijalankan secara Widget (Bukan Aplikasi) dari Homescreen.Jika sudah ada VPNC, tinggal klik agak lama sampai VPNC ditempatkan di HomescreenJika belum ada VPNC, matikan dan nyalakan Meped. Cek lagi di Widgets, harusnya VPNC Widget sudah ada di sana.
    • Jika sudah tampil di Homescreen, klik VPNC Widget. Jika sudah benar, kedua panah akan berwarna hijau yang menandakan kita sudah terkoneksi ke VPN kantor.
    • Silahkan dicoba misal untuk koneksi Telnet via app Connectbot atau remote PC kantor via app PocketCloud atau koneksi ke server database via aplikasi Connect to SQL.

     

Sebetulnya, untuk Android Ice Cream Sandwich (ICS) ke atas sudah ada aplikasi VPNCilla yang tidak membutuhkan rooting meski tetapi juga tidak gratis hehehe. Berhubung di-tablet ini VPNCilla tidak bisa jalan dan salah satu jalan untuk VPN adalah harus rooting maka aku pakai VPNC saja yang meski jadul tapi tetap bisa diandalkan dan yang penting gratis buat yang ga punya credit card seperti aku… hehehehe…

Semoga bermanfaat.

Oleh: ekoyw | Maret 15, 2013

Susahnya Mendefinisikan Jumlah BTS….

Awal tahun seperti ini, hampir semua operator seluler melaporkan kinerja mereka tahun kemarin. Salah satu poin yang ikut dilaporkan adalah jumlah BTS yang dimiliki tiap operator, baik 2G, 3G maupun CDMA. Sering juga timbul pertanyaan, mengapa operator X dengan jumlah BTS yang lebih banyak dari operator lain tetapi memiliki jumlah pelanggan dan pendapatan yang lebih sedikit dibanding operator lain tersebut.

BTS atau Base Transceiver Station adalah perangkat yang langsung berhubungan dengan gadget pelanggan. Meskipun disebut perangkat, masih sering terjadi kerancuan penghitungan jumlah BTS. Juga semakin rancu jika BTS dicampuradukkan dengan site dan tower.

Site sendiri menunjukkan ke lokasi lahan tempat perangkat berada. Jadi site tidak merujuk dan terpisah dengan perangkat.  Sehingga beberapa operator menyerahkan pengelolaan site ini bukan ke divisi teknikal sebab pekerjaannya yang cenderung rutinitas maintenance fasilitas di site yang bersifat pendukung perangkat seluler.

Tower jelas merujuk pada perangkat tower. Satu site umumnya terdiri dari 1 tower meski tidak menutup kemungkinan 1 site bisa terdiri dari beberapa tower. Dalam satu site atau tower, tidak selalu terdapat BTS. Misalnya site – site yang berfungsi sebagai repeater yang hanya meneruskan sinyal transmisi dari satu tower ke tower lain tanpa ada perangkat BTS di dalamnya.

Dari penjelasan di atas maka jelas BTS tidak bisa dihitung berdasarkan jumlah site atau tower. Jika mengacu ke perangkat keras / hardware maka terjadi pula kerancuan penghitungannya jika berdasar teknologi. Umum diketahui, teknologi seluler di Indonesia adalah 2G (GSM & DCS) serta 3G. Lantas apakah tiap teknologi tersebut memerlukan perangkat BTS sendiri- sendiri? Ternyata tidak. Teknologi BTS sekarang sudah jauh berkembang yang menyebabkan satu modul perangkat bisa memberi layanan 2G (baik GSM maupun DCS) maupun sekaligus 2G + 3G.

Antenna BTS pun sekarang bisa memancarkan tidak hanya sinyal GSM yang bekerja di frekuensi 900 MHz tetapi juga DCS 1800 dan 3G 2100 dalam satu perangkat antenna.

Kita ambil satu contoh, perangkat Flexy Multi Radio dari NSN, umumnya terdiri dari System Module yang berfungsi sebagai CPU BTS dan RF Module.yang berfungsi menjembatani antara System Module dan Antenna. Dalam 1 System Module 2G, bisa digunakan bersamaan baik untuk GSM maupun DCS. Pertanyaanya adalah berapakah jumlah BTS-nya? Jika patokannya adalah hardware System Module maka berarti jumlah BTS adalah 1. Tetapi jika patokannya adalah teknologi frekuensi seluler yang dihasilkan maka jumlah BTS-nya adalah 2 karena terdiri dari GSM dan DCS. Ini belum lagi jika kelak 1 system module ini bisa memberi layanan frekuensi seluler lebih dari 2 – 3 teknologi seluler. Tentu akan semakin sedikit jumlah hardware BTS yang akan dihitung.

Perangkat BTS yang semakin compact ini memang sudah menjadi tuntutan, selain untuk menekan cost yang timbul juga untuk menekan konsumsi listrik yang dipakai BTS.

Pendefinisian penghitungan jumlah BTS ini yang sepertinya belum ada kesepakatan yang tepat dan jelas yang dijalankan oleh semua operator untuk melaporkan jumlah BTS yang mereka miliki.

Tidak heran, mungkin ke depan masih ada operator seluler dengan pertumbuhan BTS yang tidak agresif tetapi memiliki jumlah pelanggan dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding kompetitor-nya.

 

Semua berawal sekitar seminggu lalu saat sebuah email muncul di HP Mbak Andro-ku. Seorang teman di wilayah timur Indonesia mengabarkan tentang sebuah software G-NetTrack. Awalnya tidak aku anggap serius karena software untuk monitoring sinyal seluler di Android boleh dibilang sangat banyak jumlahnya meski hanya beberapa saja yang memenuhi harapan.

G-NetTrack sendiri secara lengkap bisa dibaca di sini. G-NetTrack bisa juga digunakan sebagai pelengkap dari RF Signal Tracker. RF Signal Tracker sendiri bisa di baca di blog-ku di sini.

G-Net Tracking

G-Net Tracking

Oke… akhirnya aku download aplikasi G-NetTrack dari toko mainan (baca : Playstore) Mbah Google. Sekilas, tidak ada yang istimewa. Data BTS tidak muncul di aplikasi seperti kebanyakan aplikasi sejenis. Tapi nanti dulu, ditampilan email yang di-forward-kan temanku itu kok data BTS-nya muncul. Selidik punya selidik ternyata harus membuat sebuah file teks (.txt) yang kemudian dimasukkan ke folder G-NetTrack-Logs -> cellfile di HP Android.

Format cellfile.txt itu adalah sebagai berikut :

CELLNAME        LAT              LONG               LAC        CELLID    AZIMUTH    TECH    NODE
Air_Dingin_1    -3.35858    102.44979    28993    35234      145                 2G
Air_Dingin_2    -3.35858    102.44979    28993    35235     240                 2G
Air_Dingin_3    -3.35858    102.44979    28993    35236     345                 2G

Dengan keterangan sebagai berikut :

CELLNAME adalah nama sektor dari BTS tersebut. Harap diingat, penulisan cellname ini jangan ada spasi. Pada awalnya, cellname-ku, misal Air_Dingin_1 aku tulis biasa Air Dingin 1. Hasilnya, tidak keluar tampilan BTS di aplikasi G-NetTrack. Ini sedikit berbeda dengan RF Signal Tracker yang membolehkan spasi. Hal ini karena RF Signal Tracker menggunakan file dengan format .csv sehingga tiap kolom data sudah diberi pemisah koma “,”. Sementara file .txt tidak ada pemisah kecuali spasi. Sehinga jika ditulis Air Dingin 1 bisa – bisa CELLNAME adalah Air kemudian LAT adalah Dingin dan seterusnya.

LAT adalah latitude yang menunjukkan koordinat garis lintang dari BTS tersebut.

LONG adalah longitude yang menunjukkan koordinat garis bujur dari BTS tersebut.

LAC adalah Local Area Code.

CELLID adalah Cell ID dari sektor BTS tersebut.

AZIMUTH adalah arah antenna sektor BTS tersebut dalam derajat. Kolom ini yang beda dan tidak terdapat di RF Signal Tracker. Data ini sebenarnya digunakan untuk menggambar arah antenna BTS di aplikasi sehingga pengguna dapat lebih mudah memperkirakan coverage dari sektor BTS tersebut.

TECH adalah Technology yang dipakai oleh BTS tersebut, apakah 2G atau 3G

NODE digunakan jika GSM maka dikosongkan, jika 3G diisi dengan No RNC dan jika 4G diisi dengan eNodeB ID.

Untuk memudahkan, tinggal buka saja aplikasi Excel buat sesuai kolom di atas dan save as ke .txt. Jika sudah lengkap, jangan lupa masukkan file cellfile.txt ini ke folder cellfile di dalam folder G-NetTrack-Logs di HP.

Sekarang saatnya mencoba berkeliling…

Aktifkan G-NetTrack. Kita akan mendapatkan 4 tab menu utama, yakni :

  • Cell : Berisi ringkasan data sektor BTS yang sekarang melayani HP kita mulai dari MCC, MNC, LAC, RNC, CELLID, dll.
  • Nei : Berisi informasi cell neighbors/tetangga di sekitar cell yang sekarang melayani kita. Tetapi, seperti disebutkan oleh developernya, cell neighbors ini hanya bisa ditampilkan dibeberapa jenis HP yang telah dites sebelumnya seperti Sony, HTC, Alcatel dan LG.
  • Map : Berisi peta google map. Sayang, belum bisa disetting agar peta yang ditampilkan bisa juga peta offline. Ada pilihan untuk memilih informasi apa yang akan ditampilkan di peta ini, yakni : Level kuat sinyal yang diterima, Kualitas, Cell, Download rate, Upload rate dan kecepatan. Yang sedikit mengganggu adalah tingkat pewarnaan yang tidak lazim saat kita memilih level. Umumnya, saat drive test, sinyal terkuat sampai terlemah akan digambar dengan titik berwarna hijau terang – kuning – jingga dan merah untuk sinyal terlemah. Namun dalam aplikasi ini, terkuat adalah merah – jingga – kuning – hijau – biru – abu-abu dan hitam untuk yang terlemah.
  • Info : berisi informasi tentang HP dan sofware G-NetTrack yang sedang dipakai.

Sebelum memulai drive test, pastikan BTS beserta arah sektornya sudah tampil di peta dengan cara pilih menu – settings dan centang : Show Sites, Show Serving Line dan Show Cell Names.

Jangan lupa aktifkan GPS. Jika HP kita sudah mengunci satelit GPS yang berarti posisi kita di peta sudah sesuai posisi sebenarnya maka kita tinggal jalan melakukan drive test. Jika ingin menyimpan log file, tekan menu dan pilih Start Log. Jika sudah selesai jangan tekan End Log.

Ada yang sedikit mengganjal dengan cara Start – End Log ini.  Jika sudah tekan start log, kemudian kita melakukan drive test. Jika suatu saat ada telepon yang masuk ke HP kita maka akan meng-interupt proses logging ini. Dan, entah mengapa, kita harus melakukan Start Log lagi dari awal. Hasil Logging sebelumnya yangdi-interupt telpon masuk juga tidak bisa kita buka di google earth.

Satu kelemahan yang lain adalah tidak adanya fasilitas untuk memutar atau menampilkan lagi file Log tersebut di aplikasi G-NetTrack di HP. Jadi hasil log hanya bisa dibuka di PC. Di sini RF Signal Tracker lebih unggul karena ada fasilitas Big Picture untuk menampilkan log yang sudah ada dan bisa memutar kembali tracking yang sudah dilakukan.

Kita juga dapat melakukan pengetesan kualitas call dan data dengan menekan menu – settings dan isi parameter di voice sequence dan data sequence.

Setelah end log, kita dapat mengolah file log tersebut dengan google earth untuk keperluan lebih lanjut. Hasil file log tersebut bisa seperti berikut :

Hasil G-NetTrack dibuka dengan Google Earth

Hasil G-NetTrack dibuka dengan Google Earth

Overall…. berikut keunggulan G-NetTrack dibanding RF Signal Tracker :

  • Data yang dikumpulkan lebih bervariasi, misal yang berhubungan dengan call, data dan quality dan tidak melulu sekedar kuat sinyal yang diterima HP.
  • Tampilan peta dan BTS lebih bagus karena menyertakan arah sektor dari BTS. Sehingga memudahkan memperkirakan service area dari sektor tersebut.
  • Disediakan situs tersendiri untuk mengolah data log kita jika kita tidak sempat install Google Earth. Situs tersebut berada di sini yang disebut G-NetDiag.

Sedangkan kelemahannya antara lain adalah :

  • Tidak ada fitur untuk melihat log yang sudah dilakukan langsung di HP.  Hasil log hanya bisa dilihat melalui PC, google earth atau ke situs pembuatnya.
  • Putusnya log saat ada call yang masuk juga mengganggu yang membuat harus logging ulang dari awal.
  • Pengelompokan warna kuat sinyal yang lumayan aneh karena sedikit keluar dari pakem yang sudah ada dari warna hijau – kuning -merah menjadi warnah merah – kuning – hijau – biru- hitam.
  • Sayang, neighbors cell hanya bisa dilihat di HP tertentu. Daftarnya di sini.

Semoga bermanfaat…

Curup – Kepahiang, dua daerah di Provinsi Bengkulu ini terkenal dengan alamnya yang sejuk karena tepat berada di lembah dan dikelilingi gunung – gunung di deretan Pegunungan Bukit Barisan.  Alamnya masih asri, dengan kelokan kiri – kanan yang cukup mengocok perut baik mencapai daerah ini dari Bengkulu maupun Lubuk Linggau.

Daerah ini tepat berada di jalur lintas antara Bengkulu – Lubuk Linggau. Jalan terbilang mulus. Ada beberapa angkutan untuk mencapainya. Untuk bis, ada Bis PO Waspada yang melayani trayek Bengkulu – Lubuk Linggau. Sayang, bis 3/4 ini terbilang kondisi buruk untuk menempuh trayek berkelok – kelok ini. Jika ingin mendapatkan angkutan lebih nyaman, juga terdapat beberapa jasa travel yang menuju ke area ini.

Kondisi jalan pun relatif mulus, meski di beberapa tempat terdapat aspal yang mengelupas. Jika dari Bengkulu, yang perlu di waspadai adalah bahaya longsor di area “Gunung”, sebuah jalan penuh kelokan yang menembus rimba Sumatra dan membelah pegunungan Bukit Barisan sepanjang sekitar 20 – 30 km. Jika dari Lubuk Linggau, terdapat sedikit titik rawan kriminalitas di sekitar Desa Kepala Curup – Padang Ulak Tanding, terutama bagi pelancong yang menggunakan sepeda motor disarankan untuk melakukan konvoi jika melewati daerah ini.

Bagaimana dengan obyek wisatanya? Berikut sedikit ulasannya :

Danau Mas :

Danau ini terletak di Desa Karang Jaya, Kec Selupu Rejang, Kab Rejang Lebong. Berada di sebuah cekungan yang mirip seperti sebuah kawah yang telah mati. Berlokasi tepat di pinggir Jalan Lintas Curup – Lubuk Linggau, sekitar 20 km dari Curup.

Danau Mas

Danau Mas

Jujur, sebenarnya obyek wisata ini kurang menarik. Terdapat banyak tumbuhan, sepertinya bukan Enceng Gondok, di atas danau yang menyebabkan luas danau terlihat sempit dan kotor.

Bagaimana dengan fasilitasnya? Obyek wisata ini boleh dibilang minim fasilitas. Permainan naik perahu, bebek-bebekan, flying fox dan area bermain anak – anak memang ada. Tetapi kondisinya kurang terawat. Demikian juga dengan sarana umum, seperti toilet, tempat istirahat dan Musholla yang kotor dengan cat yang sudah kusam. Mungkin yang bisa dinikmati di obyek wisata ini hanyalah segarnya udara, kencangnya angin yang dingin dan pemandangan penuh bukit di sekitarnya.

Meski demikian, obyek wisata ini sangat overload terutama saat liburan seperti tahun baru kemarin. Tetapi menjadi sepi peminat di hari biasa meskipun lokasinya tepat berada di pinggir jalan raya.

Jika membaca Ekspedisi Musi oleh Kompas, sepertinya lokasi sumber mata air Sungai Musi yang mengalir jauh ke Palembang, berada di sekitar perbukitan di sekitar danau ini.

Sekitar 10 km dari danau ini ke arah Lubuk Linggau, di sekitar Desa Beringin 3 Kecamatan Sindang Kelingi, banyak berderet para penjual jagung manis baik dibakar maupun direbus. Cukup nikmat sebagai tempat melepas lelah para pelancong setelah melakukan perjalanan jauh sambil menikmati pemandangan kebun kopi yang membentang.

Sering terbayang, andaikan kios – kios pedagang ini dikemas seperti kawasan wisata “Payung” antara Batu – Pujon, Malang, Jawa Timur tentu lebih membuat orang kerasan berlama – lama di sana. Menu yang disajikan pun beragam, tidak hanya jagung rebus dan bakar. Andaikan….

Kolam Air Panas Suban :

Kalau melihat lokasinya, obyek wisata ini berada di dalam kota Curup. Terdapat sebuah gapura yang dibangun di pinggir Jalan Lintas Curup – Lubuk Linggau yang menunjukkan jalan masuk ke lokasi ini, sekitar 2-3 km dari jalan raya.

Kolam Air Panas Suban

Kolam Air Panas Suban

Terletak di sebuah lembah, dengan dua lereng curam yang mengapit sebuah sungai kecil yang mengalir deras. Terdapat sebuah kolam renang utama yang besar dan beberapa kolam kecil berair panas. Juga terdapat jogging track menyusuri jalan setapak menuju ke sebuah air terjun.

Sama seperti Danau Mas, fasilitas di obyek wisata ini juga minim. Terdapat beberapa kamar mandi yang kurang bersih, yang untungnya tertutup dengan air yang berlimpah dan segar. Beberapa ruang ganti pakaian bagi yang akan berenang juga disediakan. Namun juga kurang terawat, beberapa malah tidak terpasang kunci untuk menutup pintu ruang ganti.

Kondisi air kolam juga kotor. Banyak dedaunan yang masuk ke kolam. Ditambah, kondisi air yang agak keruh, terutama ketika hari libur ketika banyak pengunjung yang datang menyerbu lokasi.

Parkir mobil juga tidak luas sehingga saat hari libur mobil pengunjung terpaksa berjajar di kiri kanan jalan masuk ke lokasi, dimana jalan tersebut adalah sebuah jalan yang miring.

Untuk penginapan, terdapat beberapa villa dan hotel sederhana di sekitar Danau Mas. Meski disayangkan belum ada hotel berbintang tiga yang layak baik di Curup dan Kepahiang. Hal ini sedikit berbeda dengan Lubuk Linggau yang telah memiliki beberapa hotel berbintang tiga. Sedikit banyak, hal ini membuat para pelancong lebih nyaman tinggal di Lubuk Linggau atau Bengkulu yang hanya 2 jam perjalanan ke Curup – Kepahiang.

Kebun Teh Kaba Wetan :

Berbeda dengan Danau Mas dan Kolam Air Panas Suban, obyek wisata yang ini gratis. Berlokasi dekat dengan kota Kepahiang. Pelancong tinggal mengikuti penunjuk jalan yang banyak terdapat di sekitar Pasar Kepahiang untuk menuju lokasi kebun teh ini. Kondisi kendaraan harus benar-benar disiapkan karena kondisi jalan yang meskipun mulus tetapi penuh dengan tanjakan tajam. Tidak jarang kendaraan harus berjalan dengan persnelling gigi 1 terutama saat musim liburan dan banyak kendaraan lewat.

Kebun Teh Kaba Wetan

Kebun Teh Kaba Wetan

Apa yang ditawarkan kebun teh ini? Tidak ada selain pengunjung akan dimanjakan dengan sejuknya udara dan pemandangan hamparan kebun teh yang indah memanjakan mata. Tidak diketahui apakah terdapat fasilitas umum, seperti toilet atau masjid, yang khusus disediakan bagi pengunjung. Sehingga pengunjung harus buang hajat dulu sebelum ke lokasi ini. Jika pun terpaksa, hal yang paling mungkin adalah ke desa terdekat yang terdapat di dalam lokasi ini.

Di areal kebun teh ini pun tidak ada areal khusus yang disediakan untuk pengunjung. Pengunjung boleh memarkir kendaraannya di tepi sepanjang jalan akses dari kebun teh ini ke desa – desa sekitarnya.  Pengunjung pun dapat masuk ke sisi kebun teh manapun yang dikehendaki meski sekedar untuk foto – foto atau menyantap bekal yang dibawa.

Tour keliling kebun, melihat proses pengolahan teh, Ecotourism, sarana penginapan di areal kebun, toko souvenir yang disiapkan pihak perkebunan pun belum aku jumpai. Entah tidak ada atau tersembunyi. Pengunjung kebanyakan hanya datang, foto – foto atau bersantap siang di areal kebun, dan kemudian pulang.

Ada yang sedikit mengganggu ketika melewati jalan akses ke kebun teh ini. Terdapat sebuah rumah mewah di pinggir jalan dengan pilar – pilar yang tinggi, berlokasi tepat di tanjakan. Menurut penduduk setempat, rumah itu milik keluarga bupati. Juga saat berjalan antara Curup – Kepahiang, akan nampak bangunan mirip istana dengan pilar – pilarnya yang megah dan bercat putih sehingga tidak jarang disebut sebagai “Gedung Putih”. Gedung – gedung itu adalah kantor bupati dan dprd setempat. Entahlah…. sebuah ironi dari otonomi dan pemekaran daerah.

Curup – Kepahiang, bagaikan dua perawan yang belum bersolek. Sebetulnya banyak area wisata yang menarik yang jika digarap serius akan semakin membuat kedua daerah ini terkenal.

Jika melihat pengelolaan Danau Mas dan Suban Air Panas, aku malah teringat zaman baheula obyek wisata Tanjung Kodok saat dikelola Pemda Lamongan, Jatim. Kondisinya sama, tanpa daya tarik dan hanya seonggok batu karang menyerupai katak di pinggir pantai yang sering dijadikan tempat melihat hilal. Namun, siapa sekarang yang tidak kenal Wisata Bahari Lamongan yang berlokasi sama dan menjadi salah satu daya tarik wisata di Jawa Timur? Rasa-rasanya, jika pengelolaan masih sama seperti sekarang, Danau Mas dan Suban Air Panas tidak berkembang. Pengunjung beramai – ramai ke sana buka karena obyek wisatanya yang menarik tetapi karena kurangnya pilihan wisata obyek wisata lainnya yang lebih menarik.

Demikian juga kebun teh Kaba Wetan yang seharusnya melihat banyaknya wisatawan yang masuk ke area kebun sebagai potensi untuk mendapatkan pendapatan di luar hasil kebun.

Dari sarana penunjang, kondisi jalan akses ke ketiga obyek wisata di atas memuaskan. Untuk hotel, jika pun tidak ada hotel berbintang, keberadaan hotel yang layak dan bersih di area ini harus ditingkatkan jumlahnya.

Potensi yang terdapat di sepanjang jalan kedua daerah ini juga ditingkatkan. Dari penjual Jagung bakar di Beringin 3, beragam keripik di Curup sampai hasil kebun di Kepahiang sebetulnya sangat – sangat layak untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih dari apa yang disajikan saat ini. Curup – Kepahiang, dua daerah yang terletak di lembah Pegunungan Bukit Barisan ini dikaruniai tanah yang subur yang hampir semua tumbuhan dapat tumbuh. Bahkan pisang di Curup pun memiliki kesegaran dan wangi yang berbeda dengan yang dijual di daerah lain. Sayuran dari daerah ini pun menyebar sampai ke Palembang dan Bangka.

Curup – Kepahiang, dua perawan yang harus benar – benar segera bersolek…

 

 

Oleh: ekoyw | Januari 2, 2013

Perbandingan Modem untuk Gammu

Sudah dua bulan lebih, SMS Gateway Gammu yang aku gunakan untuk monitoring, mengambil alarm BTS faulty dan mengirimkannya via SMS berjalan selama hampir 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu.  Dan sudah 3 modem yang aku coba untuk aplikasi ini.

Untuk aplikasi yang aku buat dan pakai, silahkan baca disini.

Modem yang telah aku pakai adalah : ZTE MF-636, Huawei K-3765 dan Wavecom Multiband 900E 1800. Berikut beberapa catatan, pengalaman penggunaan ketiga modem tersebut.

ZTE MF-636 :

Modem ini berbalut “baju” Indosat Broadband 3.5 G yang sudah sekitar 4 tahun aku pakai untuk pemakaian internet di luar kantor.

ZTE MF-636

ZTE MF-636

Berikut beberapa catatan pengalaman penggunaan modem ini untuk Gammu.

  1. Setting AT Connection menggunakan at115200
  2. Selama pemakaian 24 jam/7 hari, modem jarang disconnect atau mengalami sleep/freeze mode.
  3. Aku mengalami sedikit kesulitan untuk mematikan service SMS di aplikasi bawaan modem. Ketika aplikasi ditutup maka modem tidak bekerja. Tetapi ketika aplikasi bawaan modem dibuka maka sms yang masuk ke modem akan masuk ke aplikasi bawaan modem, tidak tersedot masuk ke database MySQL. Untuk yang ini, aku temukan solusinya dan bisa dibaca di bagian akhir postingan ini disini.
  4. Kekurangannya banyak sms dengan status SendingError.  Perkiraanku, sepertinya masalahnya di modem. Beberapa referensi menyebutkan, SendingError ini lebih banyak disebabkan oleh koneksi dari database MySQL ke hardware modem. Ada juga yang bilang disebabkan karena sinyal seluler yang jelek atau problem di sisi operator. Tapi penyebab terakhir aku kesampingkan karena tower terdekat hanya berjarak kurang dari 50 m di belakang kantor tempat PC dengan Gammu ku berjalan. Dan tentu, BTS di tower ini tidak akan aku biarkan faulty.

Poin terakhir tentang banyaknya sms dengan status SendingError ini menyebabkan modem ini untuk sementara aku istirahatkan.

Huawei K-3765 :

Modem ini aku beli menggantikan modem ZTE dengan harapan performa lebih handal dibanding sebelumnya. Modem ini berbalut baju Vodafone. Ada sedikit cerita menggelitik saat penjual dengan percaya diri menyebut merk-nya adalah Vodafone bukan Huawei.

Modem Huawei K-3765

Modem Huawei K-3765

Berikut beberapa pengalaman penggunaan modem ini untuk Gammu.

  1. Sama seperti ZTE MF-636, aku gunakan AT Connection at115200
  2. Untuk status pengiriman SMS, selama berjalan normal,  hampir semua SMS yang dikirim berstatus SendingOKNoReport.
  3. Untuk mematikan service SMS di aplikasi bawaan modem, aku cukup menutup aplikasi Mobile Partner bawaan modem. Dengan demikian aplikasi SMS bawaan modem ditutup dan SMS yang masuk ke modem bisa langsung ke database MySQL. Sementara modem dapat terus bekerja.
  4. Untuk kekurangannya, gammu ini sering mengalami seperti modem masuk ke freeze/sleep mode atau modem sedang diakses aplikasi lain. Kejadian ini berulang dalam waktu yang tidak tentu. Bisa semalaman berjalan normal tetapi kemudian freeze. Bisa juga hanya berjalan 2-3 kemudian freeze.

Beberapa referensi menyebutkan, modem jenis baru sekarang ini rata – rata memiliki lebih dari 1 port COM. Dan modem ini salah satunya, memiliki 3 port COM yang berbeda untuk modem, UI dan diagnosa. Dugaanku, port untuk Modem terpakai untuk aplikasi lain.  Ada juga referensi yang menyebutkan AT Command untuk modem Huawei memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan modem pada umumnya.

Beberapa langkah aku coba untuk mengatasi hal ini, agar Gammu kembali start dan “merebut” port yang pakai aplikasi lain, misalnya :

  • Memasukkan setting ResetFrequency dan HardResetFrequency ke file smsdrc. Tetapi ini tidak membantu banyak.
  • Jika sedang diluar kantor, jika di-cek via VPN sedang freeze, yang paling sering aku lakukan dengan meremote PC adalah membuka dan menutup kembali aplikasi Mobile Partner, atau mencoba men-switch antara sinyal 3G dan 2G di Mobile Partner. Rata – rata berhasil. Sepertinya ini semacam “pancingan” agar modem kembali aktif melalui aktifitas di Mobile Partner.
  • Masuk ke Device Manager, melakukan proses Disable port COM selain modem.
  • Masuk ke Device Manager, melakukan proses Disabel dan Enable port COM modem.
  • Di coding, aku sisipkan script yang mengecek berapa lama idle time yang membandingkan antara nilai di field UpdateInDB di Tabel Phones dan waktu sekarang. Jika lebih dari 5 menit aku jalankan script untuk reset Hard Gammu (gammu –reset HARD).  Juga aku padukan dengan stop-start service gammu dan mengidentifikasi status gammu (gammu identify). Jika di-debug, cara ini sering berhasil. Tetapi jika aplikasi berjalan, jarang berhasil malah aplikasi jadi hang karena proses yang terus berulang – ulang. Sepertinya, meski modem terdeteksi Gammu setelah di-reset, service gammu berjalan, tetapi field UpdateInDB tidak langsung terupdate. Tapi menunggu beberapa saat. Dan karena belum ter-update, maka proses terus berulang – ulang.
  • Pernah juga aku sisipkan script, saat freeze mode, aku stop service smsd-uninstall service smsd-gammu identify. Jika modem terdeteksi maka service smsd, aku install dan start. Tujuannya satu, “merebut” port COM yang diduduki aplikasi lain. Tetapi solusi ini juga malah membuat aplikasi hang karena looping yang tidak perlu.
  • Di hardware, modem yang semula langsung masuk ke port USB, aku ganti dengan menambahkan kabel USB yang terdiri dari 3 connecter bawaan modem ZTE, yakni bagian female connector terhubung ke modem. Dan dua lainnya (satu merupakan port data + power dan satunya lagi hanya power) ke 2 port USB di PC dengan harapan ada tambahan power untuk modem yang akan membuat modem akan selalu terjaga dari tidurnya, seperti pendapat beberapa referensi.

Secara umum, langkah – langkah yang sudah aku ambil itu masih bersifat temporer dalam artian, freeze/sleep mode kadang bisa dihentikan dan kadang tetap tidak terusik, kecuali untuk buka tutup aplikasi Mobile Parter dan disable-enable port Modem. Tapi ini cukup merepotkan jika tiap berapa jam harus remote PC dan melakukan hal tersebut.

Wavecom Multiband 900E 1800 :

Modem ini aku temukan tidak sengaja saat membongkar laci meja kerja. Ternyata terdapat sebuah modem lawas yang lumayan besar dengan karet penutup antenna eksternal yang terpotong. Ukuran dan bentuk antenna eksternal ini mirip seperti Handy Talky / HT.

Modem Wavecom 900E 1800

Modem Wavecom 900E 1800

Modem ini dulu digunakan untuk monitoring booster yang dipasang di antenna BTS. Sedikit ragu ketika menggunakan modem untuk Gammu karena ketiadaan driver untuk modem ini. Tapi coba saja lah. Berikut beberapa pengalaman menggunakan modem ini.

  1. Lain dengan kedua modem ini. Di device manager, tidak aku temukan modem ini di bagian  Modem. Aku coba buka bagian Ports (COM & LPT) dan aku temukan “MAT USB-to-Serial Bridge (COM2)”.  Aku kira COM2 ini yang ter-create dari modem karena saat modem dicabut dan dimasukkan lagi ke port maka port ini akan hilang dan kemudian muncul kembali. Bismillah, aku coba port ini.
  2. Untuk AT Connection di gammurc, aku hanya pakai “at”
  3. Aku jalankan gammu identify, dan modem bisa terdeteksi dengan hasil sebagai berikut :

Device                   : com2:
Manufacturer     : Wavecom
Model                    : MULTIBAND  900E  1800 (MULTIBAND  900E  1800)
Firmware             : 641b09gg.Q2403A 1320676 061804 14:38
IMEI                      : 351047888189814
SIM IMSI             : 510013230686516

Sedangkan untuk kinerjanya :

  1. SMS yang dikirim hampir semua berstatus SendingOKNoReport, seperti Huawei.
  2. Berhubung modem tidak terdeteksi di bagian Modem di Device Manager, tidak ada aplikasi bawaan yang perlu di-install dan tentu tidak pula terlalu repot untuk mematikan service SMS di aplikasi bawaan. Tetapi tentu sedikit menyulitkan jika modem ini dipakai juga untuk koneksi internet.
  3. Freeze/sleep mode yang sering dijumpai di K3765, jarang terjadi kalau tidak bisa dikatakan tidak pernah terjadi. Memang beberapa kali aku temukan UpdateInDB tidak terupdate selama lebih dari 5 menit. Tetapi ketika ada aktifitas dari modem, baik itu SMS masuk atau ada SMS yang akan dikirim,  maka modem kembali update dan merefresh nilai di field UpdateInDB. Hal ini memudahkanku untuk tidak menghabiskan waktu me-remote PC kantor di luar jam kerja.
  4. Modem ini sudah berjalan hampir satu minggu dan selama itu pula, baik aplikasi yang aku buat maupun modem yang digunakan, bisa dibilang berjalan dengan lancar.

Kesimpulan yang aku buat, karena modem ini hanya terdiri dari 1 port COM, maka tidak terjadi semacam rebutan pemakaian port COM. Hal ini sedikit banyak akan membantu jika terjadi kasus seperti di modem Huawei. Mungkin alasan – alasan seperti ini yang menyebabkan beberapa “suhu” Gammu menyarankan, bahkan sampai berjualan, modem Wavecom untuk pembuatan aplikasi Gammu.

Kesimpulan yang bisa aku buat selanjutnya juga masalah stabilitas Gammu yang sering dikeluhkan. Sepertinya masalahnya lebih disisi modem yang dipakai untuk Gammu, bukan Gammu-nya sendiri. Gammu mungkin dibuat secara generic sehingga mungkin masih ada celah satu – dua yang merupakan karakteristik dari setiap modem yang belum ter-cover oleh Gammu. Tinggal pilihan kepada pengguna Gammu, yang tentu sebagian besar adalah developer dan berjiwa “ngoprek”, apakah akan terus berkeluh kesah dengan bercerita ketidakstabilan Gammu atau meng-oprek-nya mencari cara mengatasinya.

Di luar modem, sedikit tips, buat yang menjalankan aplikasi Gammu 24 jam, minus UPS dan PLN sering mati, bisa di-setting lebih dulu di BIOS agar ketika PLN ON maka PC juga otomatis reboot. Dan untuk login PC, agar kemudian aplikasi kita berjalan, bisa tinggal remote desktop. Aku biasanya remote desktop menggunakan Android di Samsung Galaxy Ace-ku. Ketika dijalankan, maka PC otomatis login user dan bunyi khas Windows yang baru di-start pun terdengar nyaring di Samsung-ku.

Agar aplikasi bisa otomatis berjalan tanpa menunggu login user saat Windows booting, aplikasi bisa di-setting sebagai service. Untuk langkah lengkapnya bisa dibaca disini dan disitu.

Semoga bermanfaat, di awal 2013.

Oleh: ekoyw | Desember 12, 2012

myOMC, a SMS Gateway which informs any faulty BTS

Alhamdulillah… software myOMC ku sudah berjalan hampir 1 bulan. Selama itu, belum ada problem berarti. Problem paling sering terjadi adalah modem Huawei K3765 yang dipake ngehang sendiri.

myOMC ini adalah salah satu hasil lamunan beberapa tahun terakhir. Idenya karena kuli tower seringnya menerima SMS dari ‘OMC resmi’ dalam jumlah sampai sekitar 500 sms per hari. Menurutku ini nggak sehat. Pertama, dengan jumlah begitu banyaknya, kuli tower akan jadi kebal dengan SMS yang berarti dia tidak akan responsif lagi untuk sekedar membuka SMS yang masuk meskipun itu SMS yang benar-benar emergency. Kedua, SMS yang diterima seringnya merupakan SMS alarm dari BTS yang tidak menjadi tanggung jawab kuli tower tersebut. Hal ini yang mendorong aku ingin sebuah sistem yang lebih efektif lagi.

myOMC ini merupakan gabungan dari mySMSGateway yang merupakan software untuk mengirimkan SMS BTS faulty baik yang terjadwal maupun yang tidak terjadwal dan mySMSAnswer yang merupakan software yang menjawab setiap SMS yang masuk ke sistem. myOMC dipermudah karena BSC bisa diakses dengan menggunakan telnet. Kalau port telnet ini ditutup… yaa wassalam…. harus cari solusi lain :D

Untuk mySMSGateway dan mySMSAnswer bisa dibaca di tulisan sebelumnya di sini.

Tampilan myOMC

Tampilan myOMC

myOMC, seperti tampilan di atas, merupakan gabungan dari telnet, Gammu SMS Gateway dan Database. Kotak BSC akan menampilkan nama BSC yang telah di-enable di database.

Lingkaran merah, sebetulnya hanya sebagai informasi kapan dan berapa lama terakhir kali modem melakukan update status yang diambil dari field UpdateInDB di tabel Phones bawaan gammu. Jika update terakhir sudah puluhan menit, bisa dipastikan service gammu tidak jalan.  Dan aku sisipkan script untuk restart service gammu.

Telnet

Telnet

Bagian kedua adalah Telnet. Di sini, myOMC akan melakukan koneksi telnet ke BSC, memasukkan “command” ke BSC misalnya untuk mengambil data BTS mana yang faulty, status BTS serta restart BTS lewat lock/unlock BTS. Dua lingkaran biru di sebelah kanan, aslinya di-hidden. Hanya tetap aku tampilkan untuk memudahkan untuk tracing dan melihat respons yang dihasilkan BSC.

BTS Faulty

BTS Faulty

Bagian selanjutnya adalah Faulty BTS yang akan ‘mengolah’ data  hasil telnet. Mengelompokkan sektor dalam satu baris BTS yang sama. Dan kemudian mengidentifikasi BTS tersebut masuk area mana. Dari data area ini akan diketahui, kuli tower siapa saja yang meng-handle area yang kemudian akan dikirimi SMS info BTS yang faulty tersebut.

SMS Diterima

SMS Diterima

Selanjutnya adalah bagian yang berisi data SMS yang diterima gammu. Secara garis besar, tidak ada perbedaan pengolahan data antara SMS yang dikirimkan system dan SMS yang diolah dan dikirimkan system sebagai jawaban dari SMS yang diterima system. SMS yang diterima, yang sesuai dengan ‘keyword’ yang telah ditentukan di database akan diproses. myOMC juga mengecek no pengirim apakah memiliki hak untuk mengirimkan SMS atau tidak.

Tools

Tools

Tools ini untuk memudahkan jika membutuhkan untuk cek status gammu, install, start, stop, uninstall service gammu tanpa perlu repot – repot membuka command prompt atau service di Control panel.

Tetapi, seperti telah disampaikan di depan, masalah yang belum terselesaikan adalah mengatasi modem huawei yang tiba – tiba hang atau freeze/sleep mode. Belum ditemukan semacam command atau AT Command yang pas untuk merestart modem. Beberapa situs mengungkapkan hal ini karena AT Command Huawei yang sedikit berbeda dibanding modem pada umumnya.

Solusi yang selama ini aku lakukan jika tiba – tiba hang adalah menjalankan aplikasi mobile partner kemudian ditutup lagi, disable – enable port bawaan huawei di Device Manager, atau restart service gammu. Semua via VPN. Rata – rata berhasil. Hanya aku belum puas karena recovery-nya tidak dari myOMC sendiri.

Tentang modem Huawei ini, kelebihannya adalah saat service gammu berjalan OK, SMS jarang SendingError. Tapi kekurangannya yaa suka ngehang atau freeze/sleep mode itu. Sedangkan untuk modem ZTE, kelebihannya hampir tidak pernah hang, tapi entah mengapa SMS juga beberapa kali SendingError. Mungkin karena fisik ZTE yang sudah tuaa kali yaa… hehehehe

Satu lagi pelajaran aku dapat. Pastikan pulsa di Modem tetap ada !!! Beberapa kali cek banyak SMS dengan status SendingError. Sudah capek cek port, status gammu, buka – tutup mobile partner, tapi ternyata pulsanya habis :D

Setelah dicek, kartu IM3 dengan layanan IM3 Anti Galau pada 1 hari rata – rata  telah mengirim lebih dari 1000 SMS jadinya gratisannya habis dan SMS ke 1001 dst membayar normal…hehehee

Semoga berguna.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 709 pengikut lainnya.