Oleh: ekoyw | Januari 3, 2013

Curup – Kepahiang, Dua Perawan yang Belum Bersolek

Curup – Kepahiang, dua daerah di Provinsi Bengkulu ini terkenal dengan alamnya yang sejuk karena tepat berada di lembah dan dikelilingi gunung – gunung di deretan Pegunungan Bukit Barisan.  Alamnya masih asri, dengan kelokan kiri – kanan yang cukup mengocok perut baik mencapai daerah ini dari Bengkulu maupun Lubuk Linggau.

Daerah ini tepat berada di jalur lintas antara Bengkulu – Lubuk Linggau. Jalan terbilang mulus. Ada beberapa angkutan untuk mencapainya. Untuk bis, ada Bis PO Waspada yang melayani trayek Bengkulu – Lubuk Linggau. Sayang, bis 3/4 ini terbilang kondisi buruk untuk menempuh trayek berkelok – kelok ini. Jika ingin mendapatkan angkutan lebih nyaman, juga terdapat beberapa jasa travel yang menuju ke area ini.

Kondisi jalan pun relatif mulus, meski di beberapa tempat terdapat aspal yang mengelupas. Jika dari Bengkulu, yang perlu di waspadai adalah bahaya longsor di area “Gunung”, sebuah jalan penuh kelokan yang menembus rimba Sumatra dan membelah pegunungan Bukit Barisan sepanjang sekitar 20 – 30 km. Jika dari Lubuk Linggau, terdapat sedikit titik rawan kriminalitas di sekitar Desa Kepala Curup – Padang Ulak Tanding, terutama bagi pelancong yang menggunakan sepeda motor disarankan untuk melakukan konvoi jika melewati daerah ini.

Bagaimana dengan obyek wisatanya? Berikut sedikit ulasannya :

Danau Mas :

Danau ini terletak di Desa Karang Jaya, Kec Selupu Rejang, Kab Rejang Lebong. Berada di sebuah cekungan yang mirip seperti sebuah kawah yang telah mati. Berlokasi tepat di pinggir Jalan Lintas Curup – Lubuk Linggau, sekitar 20 km dari Curup.

Danau Mas

Danau Mas

Jujur, sebenarnya obyek wisata ini kurang menarik. Terdapat banyak tumbuhan, sepertinya bukan Enceng Gondok, di atas danau yang menyebabkan luas danau terlihat sempit dan kotor.

Bagaimana dengan fasilitasnya? Obyek wisata ini boleh dibilang minim fasilitas. Permainan naik perahu, bebek-bebekan, flying fox dan area bermain anak – anak memang ada. Tetapi kondisinya kurang terawat. Demikian juga dengan sarana umum, seperti toilet, tempat istirahat dan Musholla yang kotor dengan cat yang sudah kusam. Mungkin yang bisa dinikmati di obyek wisata ini hanyalah segarnya udara, kencangnya angin yang dingin dan pemandangan penuh bukit di sekitarnya.

Meski demikian, obyek wisata ini sangat overload terutama saat liburan seperti tahun baru kemarin. Tetapi menjadi sepi peminat di hari biasa meskipun lokasinya tepat berada di pinggir jalan raya.

Jika membaca Ekspedisi Musi oleh Kompas, sepertinya lokasi sumber mata air Sungai Musi yang mengalir jauh ke Palembang, berada di sekitar perbukitan di sekitar danau ini.

Sekitar 10 km dari danau ini ke arah Lubuk Linggau, di sekitar Desa Beringin 3 Kecamatan Sindang Kelingi, banyak berderet para penjual jagung manis baik dibakar maupun direbus. Cukup nikmat sebagai tempat melepas lelah para pelancong setelah melakukan perjalanan jauh sambil menikmati pemandangan kebun kopi yang membentang.

Sering terbayang, andaikan kios – kios pedagang ini dikemas seperti kawasan wisata “Payung” antara Batu – Pujon, Malang, Jawa Timur tentu lebih membuat orang kerasan berlama – lama di sana. Menu yang disajikan pun beragam, tidak hanya jagung rebus dan bakar. Andaikan….

Kolam Air Panas Suban :

Kalau melihat lokasinya, obyek wisata ini berada di dalam kota Curup. Terdapat sebuah gapura yang dibangun di pinggir Jalan Lintas Curup – Lubuk Linggau yang menunjukkan jalan masuk ke lokasi ini, sekitar 2-3 km dari jalan raya.

Kolam Air Panas Suban

Kolam Air Panas Suban

Terletak di sebuah lembah, dengan dua lereng curam yang mengapit sebuah sungai kecil yang mengalir deras. Terdapat sebuah kolam renang utama yang besar dan beberapa kolam kecil berair panas. Juga terdapat jogging track menyusuri jalan setapak menuju ke sebuah air terjun.

Sama seperti Danau Mas, fasilitas di obyek wisata ini juga minim. Terdapat beberapa kamar mandi yang kurang bersih, yang untungnya tertutup dengan air yang berlimpah dan segar. Beberapa ruang ganti pakaian bagi yang akan berenang juga disediakan. Namun juga kurang terawat, beberapa malah tidak terpasang kunci untuk menutup pintu ruang ganti.

Kondisi air kolam juga kotor. Banyak dedaunan yang masuk ke kolam. Ditambah, kondisi air yang agak keruh, terutama ketika hari libur ketika banyak pengunjung yang datang menyerbu lokasi.

Parkir mobil juga tidak luas sehingga saat hari libur mobil pengunjung terpaksa berjajar di kiri kanan jalan masuk ke lokasi, dimana jalan tersebut adalah sebuah jalan yang miring.

Untuk penginapan, terdapat beberapa villa dan hotel sederhana di sekitar Danau Mas. Meski disayangkan belum ada hotel berbintang tiga yang layak baik di Curup dan Kepahiang. Hal ini sedikit berbeda dengan Lubuk Linggau yang telah memiliki beberapa hotel berbintang tiga. Sedikit banyak, hal ini membuat para pelancong lebih nyaman tinggal di Lubuk Linggau atau Bengkulu yang hanya 2 jam perjalanan ke Curup – Kepahiang.

Kebun Teh Kaba Wetan :

Berbeda dengan Danau Mas dan Kolam Air Panas Suban, obyek wisata yang ini gratis. Berlokasi dekat dengan kota Kepahiang. Pelancong tinggal mengikuti penunjuk jalan yang banyak terdapat di sekitar Pasar Kepahiang untuk menuju lokasi kebun teh ini. Kondisi kendaraan harus benar-benar disiapkan karena kondisi jalan yang meskipun mulus tetapi penuh dengan tanjakan tajam. Tidak jarang kendaraan harus berjalan dengan persnelling gigi 1 terutama saat musim liburan dan banyak kendaraan lewat.

Kebun Teh Kaba Wetan

Kebun Teh Kaba Wetan

Apa yang ditawarkan kebun teh ini? Tidak ada selain pengunjung akan dimanjakan dengan sejuknya udara dan pemandangan hamparan kebun teh yang indah memanjakan mata. Tidak diketahui apakah terdapat fasilitas umum, seperti toilet atau masjid, yang khusus disediakan bagi pengunjung. Sehingga pengunjung harus buang hajat dulu sebelum ke lokasi ini. Jika pun terpaksa, hal yang paling mungkin adalah ke desa terdekat yang terdapat di dalam lokasi ini.

Di areal kebun teh ini pun tidak ada areal khusus yang disediakan untuk pengunjung. Pengunjung boleh memarkir kendaraannya di tepi sepanjang jalan akses dari kebun teh ini ke desa – desa sekitarnya.  Pengunjung pun dapat masuk ke sisi kebun teh manapun yang dikehendaki meski sekedar untuk foto – foto atau menyantap bekal yang dibawa.

Tour keliling kebun, melihat proses pengolahan teh, Ecotourism, sarana penginapan di areal kebun, toko souvenir yang disiapkan pihak perkebunan pun belum aku jumpai. Entah tidak ada atau tersembunyi. Pengunjung kebanyakan hanya datang, foto – foto atau bersantap siang di areal kebun, dan kemudian pulang.

Ada yang sedikit mengganggu ketika melewati jalan akses ke kebun teh ini. Terdapat sebuah rumah mewah di pinggir jalan dengan pilar – pilar yang tinggi, berlokasi tepat di tanjakan. Menurut penduduk setempat, rumah itu milik keluarga bupati. Juga saat berjalan antara Curup – Kepahiang, akan nampak bangunan mirip istana dengan pilar – pilarnya yang megah dan bercat putih sehingga tidak jarang disebut sebagai “Gedung Putih”. Gedung – gedung itu adalah kantor bupati dan dprd setempat. Entahlah…. sebuah ironi dari otonomi dan pemekaran daerah.

Curup – Kepahiang, bagaikan dua perawan yang belum bersolek. Sebetulnya banyak area wisata yang menarik yang jika digarap serius akan semakin membuat kedua daerah ini terkenal.

Jika melihat pengelolaan Danau Mas dan Suban Air Panas, aku malah teringat zaman baheula obyek wisata Tanjung Kodok saat dikelola Pemda Lamongan, Jatim. Kondisinya sama, tanpa daya tarik dan hanya seonggok batu karang menyerupai katak di pinggir pantai yang sering dijadikan tempat melihat hilal. Namun, siapa sekarang yang tidak kenal Wisata Bahari Lamongan yang berlokasi sama dan menjadi salah satu daya tarik wisata di Jawa Timur? Rasa-rasanya, jika pengelolaan masih sama seperti sekarang, Danau Mas dan Suban Air Panas tidak berkembang. Pengunjung beramai – ramai ke sana buka karena obyek wisatanya yang menarik tetapi karena kurangnya pilihan wisata obyek wisata lainnya yang lebih menarik.

Demikian juga kebun teh Kaba Wetan yang seharusnya melihat banyaknya wisatawan yang masuk ke area kebun sebagai potensi untuk mendapatkan pendapatan di luar hasil kebun.

Dari sarana penunjang, kondisi jalan akses ke ketiga obyek wisata di atas memuaskan. Untuk hotel, jika pun tidak ada hotel berbintang, keberadaan hotel yang layak dan bersih di area ini harus ditingkatkan jumlahnya.

Potensi yang terdapat di sepanjang jalan kedua daerah ini juga ditingkatkan. Dari penjual Jagung bakar di Beringin 3, beragam keripik di Curup sampai hasil kebun di Kepahiang sebetulnya sangat – sangat layak untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih dari apa yang disajikan saat ini. Curup – Kepahiang, dua daerah yang terletak di lembah Pegunungan Bukit Barisan ini dikaruniai tanah yang subur yang hampir semua tumbuhan dapat tumbuh. Bahkan pisang di Curup pun memiliki kesegaran dan wangi yang berbeda dengan yang dijual di daerah lain. Sayuran dari daerah ini pun menyebar sampai ke Palembang dan Bangka.

Curup – Kepahiang, dua perawan yang harus benar – benar segera bersolek…

 

 

About these ads

Responses

  1. Mantap Mas Eko


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 714 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: