Oleh: ekoyw | Desember 17, 2009

Ulat dan Enthung (Kepompong) Jati

Alas Jati atau hutan Jati jamak ditemui di daerah pegunungan kapur. Di Jawa, daerah ini bisa ditemui di pantai utara Jawa, di daerah kapur selatan Jawa dan beberapa tempat yang lain.

Hutan Jati Meranggas

Hutan Jati ini secara tidak langsung memberi manfaat begitu banyak alternatif makanan bagi penduduk desa di sekitarnya.  Kita mulai dari satu jenis serangga, ulat dan kepompong (enthung). Jijik bukan??  hii…

Ulat ini biasanya mulai muncul setelah musim kemarau yang membuat pohon – pohon jati mulai meranggas yang kemudian diikuti oleh datangnya musim hujan. Musim hujan awal ini biasanya hanya datang sebentar tetapi sudah cukup untuk membuat pucuk – pucuk daun jati mulai tumbuh dan merubah suasana kering ini menjadi kembali segar. Pucuk – pucuk daun jati ini akhirnya berkembang menjadi daun muda. Jika hujan ini kemudian diikuti jeda tidak hujan (sebenarnya juga masih hujan tapi intensitasnya rendah) sekitar 1 bulan maka disaat itulah ulat – ulat daun jati ini mulai muncul dan memakan daun – daun muda jati. Suasana hutan pun seolah – olah kembali meranggas karena banyaknya ulat yang memakan daun – daun muda jati.

Ulat ini berwarna hitam, panjang sekitar 2 cm dan diameter sekitar 0,5 cm. Setelah memakan daun Jati, bersamaan dengan jatuhnya daun tersebut jatuh pula ulat – ulat tersebut ke tanah di bawah pohon. Di sanalah ulat – ulat tersebut mulai bermetamorfosis menjadi kepompong kemudian menjadi kupu – kupu.

Pada saat ini lah pesta perburuan kepompong (dan juga ulat) di mulai. Biasanya ibu – ibu desa beserta anak – anaknya langsung menyerbu hutan jati. Ada yang membawa kaleng, atau membuat wadah dari daun Jati yang masih utuh. Sebetulnya yang diburu utama adalah kepompong tetapi saat mengambil di daun – daun yang berjatuhan kadang ulat – ulatnya ikut terambil dan terbawa.

Soal masak, para penduduk desa biasanya memasak dengan ditumis, atau dicampur dengan sayuran lodeh. Ada juga yang membuatnya menjadi peyek. Soal rasa, paling pas ditumis. Rasanya gurih bercampur asin jadi satu. Lumayan menjadi penambah protein bagi penduduk desa. Penulis sendiri sudah sekitar 5 tahunan tidak pernah merasakan lagi masakan ini.

Sepiring Tumis Enthung

Musim enthung ini biasanya berjalan singkat, sekitar 1-2 bulan, antara bulan Nopember – Desember. Jika kemudian hujan kembali datang secara terus menerus, pada saat itulah ulat – ulat dan enthung mulai menghilang dan hutan jati pun kembali hijau. Sehingga, musim enthung ini juga tidak bisa datang setiap tahun. Kadang hanya sebentar, 1- 2 minggu, jika masa ‘kemarau’ antara hujan pertama dan hujan lebat yang benar – benar musim hujan juga sebentar. Demikian juga sebaliknya jika lama. Makanya, kadang orang – orang di desa yang sudah ke kota terlewatkan ‘reuni’ makan enthung ini.

Alam memang memberikan yang terbaik buat manusia. Tinggal manusia sendiri apakah mau berterima kasih atau tidak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: