Oleh: ekoyw | Januari 8, 2010

Two Thumbs buat Lamongan

Senin terakhir di tahun 2009 kemarin aku dan adikku  gunakan untuk mengurus perpanjangan SIM C, buat SIM A sekalian sama adik mau buat SIM C,  serta perpanjangan STNK. Semuanya di instansi Polres dan Samsat Lamongan.

Kita ke Polres dulu. Pemandangan berbeda terlihat dibandingkan tahun 2000 saat pertama kali ngurus SIM. Calo – calo SIM, yang menyamar menjadi tukang parkir yang biasanya langsung menanyakan mau mengurus SIM apa dan kemudian diikuti dengan besar tarif masing-masing, tidak ada yang menghampiri kami.  Hanya terlihat puluhan orang yang bergerombol tes kesehatan di poliklinik di depan Polres Lamongan. kami pun langsung parkir.

Setelah fotokopi KTP, kami langsung masuk ke Polres. Beberapa bapak – bapak nampak sedang latihan tes praktek SIM C.  Ku lihat adikku mulai ciut karena gak ada perempuan sama sekali yang tes pagi itu. Aku langsung ke bagian pendaftaran, yang bersebelahan dengan loket BRI, menanyakan apakah bisa memperpanjang SIM C yang mau habis Juli 2010.  Jawabannya…. diutamakan bagi yang SIM-nya habis. Alamak, akhirnya kami cuma duduk – duduk di bawah tenda melihat bapak – bapak yang sedang tes praktek. Adikku ciut juga nyalinya sehingga mengubur keinginannya mendapatkan SIM. Akhirnya misi ke Polres.. tidak berhasil.

Kami pindah ke Samsat, Alhamdulillah STNK motor bututku yang mau habis Februari bisa diperpanjang Desember itu meski harus mengeluarkan uang ekstra. Entah ini namanya suap atau tidak, sebab terus terang ini juga salahku sendiri yang tidak membawa serta BPKB saat itu. Akhirnya, oleh petugas yang mungkin kasihan melihat kami yang berasal dari ujung kabupaten dibilangin titip aja yaa mas….

Dengan biaya 260 rb untuk motorku, STNK pun ditangan.  Kalau di lihat dari biaya pajak yang harus dibayar, ditambah iuran parkir setahun, bapak tadi hanya menarik 10-20 rb an. Yaaa…. lumayan lha daripada pulang balik ke rumah ambil BPKB dan bari bisa balik besok harinya.

Tapi kalau aku lihat di Samsat ini, sama seperti Polres, calo – calo yang berkeliaran juga agak susah ditemui. Entah apa karena aku yang gak bakat jadi intel yaa jadi gak bisa mengenali…hehehe. Tapi dari beberapa orang yang juga berurusan dengan Samsat ini, aku lihat waktu pelayanannya relatif cepat, jadi mungkin benar memang gak ada calo. Mungkin hanya orang – orang seperti aku, yang tidak bawa persyaratan, yang bisa dijadikan mangsa calo-calo tersebut.

Tapi bagaimana pun juga, dua jempol buat Lamongan dan Jatim. Layak jika akhir tahun kemarin, berdasarkan survei KPK, Jatim menjadi provinsi dengan layanan publik terbaik di negeri ini.

Di kedua instansi tersebut, berbagai informasi tentang prosedur pengurusan dokumen termasuk biaya serta diagram alur prosesnya terpampang dengan jelas dan mudah dipahami.  Sehingga rasa-rasanya bagi masyarakat yang sudah lengkap persyaratannya tidak perlu lagi timbul rasa takut dipersulit untuk kemudian terpaksa terjerat calo.

Semoga bisa ditingkatkan dan diperluas ke sektor layanan publik yang lainnya.


Responses

  1. hahahahha sialan.. tp akhirnya aku dpt SIM juga dan akhirnya jg lwt calo hehe… si yet2 emang pinter nyari calo drpd sampean, aku kan malu kalo tes nyetir trus diliatin bpk2 polisi wkwkwkwkkw…..😀

  2. SAYA UDAH 5X DATANG KE POLRES UNTUK.MEMBUAT SIM.TP GK ADA HASL MALAH HBS BNYK BUAT PP.KLO AD CALO AQ MAU MNTK BUATIN AJA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: