Oleh: ekoyw | Februari 5, 2010

Dolanan Tempo Doeloe : Be(n)tengan

Saat kuliah dulu, seorang dosen bilang kalau anak yang lahir sesudah tahun 80’an adalah anak – anak yang tidak kreatif. Salah satu sebabnya karena dolanan/mainan anak – anak sejak masa itu bersifat : instan, tidak usah membuat sendiri, individu, tidak banyak gerak. Hal ini berbeda dengan generasi – generasi sebelumnya. Tulisan ini tidak untuk mempertentangkan pendapat tersebut. Tetapi akan mencoba melukiskan beberapa permainan zaman doeloe.

Permainan betengan berasal dari kata Beteng atau Benteng. Lazimnya orang Jawa tidak bisa menyebut “Benteng” tetapi “Beteng” sehingga di Jogja ada tempat yang disebut “Pojok Beteng Kulon” dan “Pojok Beteng Wetan”. Bukan “Pojok Benteng Kulon/Wetan”.

Seperti namanya, permainan ini juga ada “daerah” yang harus dipertahankan, “daerah” yang harus diserang, mencari “tawanan” hingga membebaskan teman kita yang “ditawan”.

Alatnya apa? Cukup dua tiang lapangan bola volley atau tiang – tiang yang lain. Pesertanya, bagi menjadi dua tim dengan kekuatan sama. Berikut beberapa aturannya :

  1. Biasanya dulu saya memainkan di lapangan SD yang ada lapangan volley. Kekuatan kedua tim sama.
  2. Masing – masing tim mempertahankan markas/bentengnya yakni tiang volley.
  3. Tim yang menang adalah tim yang berhasil merebut markas musuh dengan cara bisa menyentuh markas/tiang musuh tanpa tubuhnya terkena sentuhan tangan anggota tim musuh sambil berteriak “Beteng..!!!!”. Sehingga permainan berakhir dan kedua tim berganti posisi dan memulai permainan lagi.
  4. Tiap tim akan mengirimkan beberapa orang untuk menyerang dengan berlari. Tim yang diserang tentu akan mengirimkan salah seorang anggotanya untuk menghadang dan mengejar penyerang.
  5. Jika seorang anggota tim tersentuh oleh anggota lain saat dikejar maka status anggota tersebut menjadi tawanan bagi tim lain.
  6. Tawanan biasanya diletakkan di sisi pojok lapangan bola volley yang segaris dengan tiang tempat tim yang menawan.
  7. Anggota tim yang lain dari tawanan akan berusaha membebaskan temannya dengan cara berlari ke tempat temannya ditawan dan menyentuh tubuhnya. Tentu saja dia harus menghindari kejaran tim yang menahan temannya tersebutĀ  sehingga jangan sampai maksud hati membebaskan tim yang menahan tetapi malah menjadi tawanan.
  8. Dalam menyerang, tim tetap harus meninggalkan 1 atau 2 anggotanya untuk istirahat sekaligus menjaga benteng agar tidak direbut tim lawan.
  9. Biasanya dalam satu permainan, misal dari 5 anggota tim, bisa terjadi 4 orang menjadi tawanan. Dalam keadaan seperti ini, tim musuh akan berduyun-duyun menyerang 1 orang yang tersisa yang sedang berusaha mempertahankan bentengnya. Sambil diejek, digodain… 1 orang ini akan mati-matian mempertahankan agar benteng/tiangnya tidak tersentuh lama. Tapi… yaaa akhirnya benteng itu pun berhasil direbut.

Permainan ini sederhana, tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Anak – anak pun menjadi sehat karena banyak bergerak dan lari serta ada unsur pendidikan seperti bersosialisasi dengan teman atau bagaimana mengatur strategi penyerangan.

Masih ada yang mau coba ????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: