Oleh: ekoyw | Maret 24, 2010

Ketika Cinta Bertasbih

Bertugas di pedalaman Sumatera, di sebuah kota yang mengaku kota nomor dua di sebuah provinsi yang kaya sumber daya mineral tidak menjadikanku bisa cepat up to date menonton film yang diincar, maklum, tidak ada bioskop. Termasuk ketika film Ketika Cinta Bertasbih yang sudah bergaung sejak tahun kemarin baru akhir pekan kemarin bisa dinikmati setelah membeli DVD bajakannya di Bandung.

Secara keseluruhan, dibandingkan Ayat-Ayat Cinta, aku masih lebih suka Ketika Cinta Bertasbih. Konflik di Ayat – Ayat Cinta, seperti pengadilan, fitnah dan lain – lain, menurutku ‘terlalu sinetron’ sehingga seolah – olah seperti melihat sinetron Islami di layar lebar.

Tetapi KCB juga tidak sepenuhnya perfect. Kalau AAC banyak konflik yang menyebabkan mirip ‘sinetron’, di KCB malah minim konflik. Ini seperti cerita-cerita Islam lainnya yang segala sesuatu bisa diselesaikan dengan damai, peacefully, tanpa perlu berdarah – darah. Memang, hal ini lumrah dalam kehidupan sehari – hari tetapi menjadi ‘garing’ jika diangkat ke film dan menyebabkan endingnya bisa ditebak.

Padahal selesai melihat KCB 1 dan 2, masih banyak pertanyaan yang muncul di kepala, seperti : bagaimana Anna yang sebetulnya sedang mengerjakan Thesis setelah proposalnya diterima bisa berbulan – bulan di Indonesia tanpa sedikit pun menyentuh thesis-nya? Juga bagaimana Azzam bisa mengembangkan bisnis Bakso dalam tempo singkat? Juga Eliana yang setelah berbulan – bulan berpisah dengan Azzam bisa kembali ingat dan datang lagi ke kehidupan Azzam.

Soal pesan moral pernikahan Islami memang sangat terasa di sini. mulai proses khitbah, prinsip Anna yang tidak mau dimadu sampai prosesi akad nikah tergambar bagus. Nilai – nilai Islam bisa tersampaikan meskipun terlalu datar.

Untuk akting, selain artis – artis senior, semua masih rata – rata. Hal ini wajar jika melihat pemeran dalam film ini kebanyakan dari audisi.

Kesimpuluannya : Film ini adalah film Islami yang peacefully, damai. Tetapi belum bisa menjadikan diriku pengin melihat berkali – kali. Kenapa yaa, minim konflik dan akhir cerita bisa ditebak. Terus terang, beda sama film Nagabonar Jadi 2 atau Sinetron Kiamat Sudah Dekat arahan Pak Haji Deddy Mizwar yang meskipun cerita biasa tetapi konflik ada dan tidak berlebihan sepertiĀ  di sinetron serta akhir cerita tidak bisa ditebak.

Tinggal nunggu film – film dari P Haji lagi neehh….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: