Oleh: ekoyw | Juni 8, 2010

Mengejar Rezeki

Jam menunjukkan pukul 13:10 saat mobil Strada kami parkir di halaman Masjid Agung Tebing Tinggi, Kab Empat Lawang, Sumatera Selatan. Dengan bercanda, mengejek teman yang saat itu sedang memakai sepatu baru kami pun masuk Masjid. Sambil menunggu sandal untuk ambil air wudlu pandanganku tertuju ke seorang pemuda hitam, berbaju putih dan celana jeans belel yang sedang merapikan beberapa tas kerja warna hitam. Sepertinya dia sudah selesai sholat. Ehmmm… Kayanya bukan asli Sumatra, kayanya orang Jawa nih.

Selesai sholat, pemuda hitam tersebut masih berada di tangga masjid sambil matanya menerawang ke seberang jalan, entah ke arah pasar atau ke jalan yang selalu macet karena bis-bis besar dari Medan ke Jawa atau sebaliknya tidak mendapat ruang yang cukup di jalan sempit itu.

Sambil memasang sepatu kami pun ngobrol. Ternyata benar, dia orang Semarang yang sedang menjajakan tas kerja dengan bahan beragam yang diakuinya dibuat di Semarang. Di Sumatera ini dia tinggal di Lubuk Linggau, sekitar 75 km barat laut Tebing Tinggi. Tahu dia dari Semarang, obrolan dalam bahasa Jawa pun mengalir. Akhirnya sebuah tas untuk laptop seharga 60 rb pun berpindah tangan.

Sebetulnya, pemuda tersebut bukan satu-satunya. Masih banyak pemuda atau bapak – bapak yang berjalan mengukur jalan menjajakan mulai kaligrafi sampai jemuran baju. Dan hampir semua yang aku temui berasal dari Pulau Jawa.  Ada bapak yang jual kaligrafi yang mengaku berasal dari Kudus, penjual jemuran baju yang dari Bandung, atau ada penjual kue ‘putu’ yang berasal dari Boyolali. Atau minggu kemarin seorang bapak tua menjual kasur gulung dengan alas kaki sandal jepit yang beda sebelah.

Sekilas, terasa tidak impas antara apa yang mereka lakukan dan yang didapatkan. Mengukur jalan puluhan kilometer di Sumatra tentu beda jauh dengan di Jawa. Jarak antar desa yang berjauhan, kelelahan hingga ancaman keamanan selalu mengikuti langkah mereka. Sekitar setahun lalu, dimuat di koran seorang pedagang penjual alat-alat rumah tangga yang berasal dari Jawa Barat yang tewas ‘ditujah’ orang yang tak dikenal. ‘Ditujah’ ini adalah bahasa setempat yang artinya sama dengan ditusuk.

Yaa… begitulah hidup, mengembara jauh, mengukur setapak demi setapak langkah kaki di atas ‘catwalk’ hitam dan berdebu. Mengumpulkan selembar demi selembar rupiah demi menyambung hidup. Sebuah perjuangan yang aku sendiri belum tentu sanggup melakukan. Sebuah perjuangan yang lebih mulia daripada yang bersliweran di atas mobil mewah yang mengatasnamakan rakyat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: