Oleh: ekoyw | Juli 1, 2010

Mengunjungi Daerah Transmigrasi

Jam menunjukkan pukul 09:22 WIB ketika roda-roda strada kami mulai bergerak meninggalkan kota Lubuk Linggau ke arah utara. Hari ini kami berencana masuk ke site di sebuah daerah transmigrasi.

Jika berbicara transmigrasi, ternyata program ini sudah ada jauh sebelum Pemerintahan Pak Harto mencanangkan transmigrasi. Di Kabupaten Musi Rawas saja terdapat sebuah daerah bernama Tugu Mulyo yang merupakan daerah transmigrasi sejak jaman Belanda. Konon ada yang bilang sudah hampir seratus tahun mereka dipindahkan ‘meneer-meneer’ itu ke sini. Hasilnya, jika sekarang kita masuk daerah Tugu Mulyo ini, terasa masuk di suatu daerah pertanian yang subur di Jawa. Irigasi yang bagus (yang juga sebagian konon peninggalan Belanda), bentuk rumahnya, pertanian dan perikanan, dll. Bahkan karena mulai padatnya, daerah Tugu Mulyo ini sekarang terbagi dalam beberapa kecamatan. Soal kemajuan pun boleh di bilang kota kecamatan Tugu Mulyo lebih maju dan rame daripada Muara Beliti yang menjadi Ibukota Kabupaten. Setidaknya ada 4 bank yang membuka kantor di Tugu Mulyo dan adanya pasar buah yang menjadi salah satu indikasi makmurnya daerah ini.

Daerah yang kami kunjungi sekarang bernama SP 2 Trans Mandala. SP adalah singkatan dari Satuan Pemukiman. Mungkin setara dengan satu desa.  Trans Mandala sendiri, setahu kami terdiri dari 6 SP.  Daerah Trans Mandala ini dibuka sekitar tahun 80-an.

Setelah menempuh jalan aspal mulus Jalan Lintas Sumatra sepanjang sekitar 30 km, mobil kami berbelok ke kanan memasuki jalan yang aspalnya mulai mengelupas, diselingi lubang disana-sini. Beberapa desa kecil seperti Srimukti dan Sukamana kami lewati. Dari bentuk rumahnya, hampir bisa dipastikan juga jika desa ini juga desa Trans.

Sampai diujung jalan, mobil berbelok ke kanan. Jalanan model ‘Off road’ pun harus kami lahap.  Jalan ini terhitung sepi, meski kami berkonvoi dengan 3 truk ke arah yang sama. Di beberapa kubangan jalan terlihat beberapa batang pohon karet atau kelapa dibenamkan ke dalam lumpur untuk membantu roda melintasi kubangan itu.

Kebun sawit warga

Sepanjangan kanan kiri jalan terlihat perkebunan karet, baik yang liar maupun yang terawat rapi, dan kemudian perkebunan sawit. Memang, selain daerah Tugu Mulyo, kebanyakan warga trans daerah yang lain mencari nafkah dengan berkebun sawit dan karet.

Akhirnya, setelah sekitar 2-3 jam, kami sampai di SP2. Kami beruntung, jalan kering dan tidak ada hujan semalam sehingga memudahkan perjalanan kami.

Desa SP 2 ini terbilang maju. Terdiri dari beberapa blok sehingga terlihat lebih luas.  Dari bangunan rumah penduduknya boleh dibilang tidak kalah atau melebihi rata-rata bangunan rumah penduduk desa-desa di Jawa. Di beberapa rumah bahkan terparkir mobil – mobil double gardan seperti Daihatsu Hiline sampai Mitsubishi Strada. Yaa… karena mobil – mobil jenis inilah yang bisa menembus daerah ini.

Bagian dalam Masjid SP 2 Mandala

Fasilitas umum pun lengkap. Sebuah puskesmas pembantu, sebuah lapangan sepak bola dan sebuah masjid yang luas, ada toilet dengan airnya dan bersih. Berbicara masjid, terus terang agak sulit menemukan masjid yang bersih dan ada air bersih di kabupaten ini meskipun masjid tersebut terletak di pinggir jalan lintas Sumatra. Kebanyakan yang ditemui adalah masjid yang terkunci, tanpa air wudlu, teras yang berdebu yang kadang banyak dengan kotoran hewan. Hanya di kota-kota kecamatan yang agak besar baru bisa ditemukan masjid yang ‘layak’. Sehingga agak surprise juga ketika dapat menemukan masjid yang luas dan bersih di pedalaman daerah transmigrasi.

Keadaan tersebut sudah menggambarkan maju dan makmurnya desa ini. Namun, jika mendengar cerita warga desa tersebut, baru tahun – tahun terakhir ini lha mereka menikmati kemakmuran ini, terutama setelah sawit dan karet harganya naik.

Pada awal-awal ditempatkan di daerah tersebut, para pendahulu mereka harus prihatin melawan kurang pangan, rumah yang sangat sederhana, sarana transportasi yang terbatas dan segala keterbatasan lainnya. Boleh dibilang, generasi kedua saat ini yang mulai menikmati hasilnya. Harusnya generasi ketiga akan lebih menikmati hasilnya.

Sepertinya hanya listrik dan jalan desa yang lebih layak yang sekarang menjadi kendala mereka. Meskipun sebetulnya jika mau bergotong royong serta mengingat penghasilan berkebun mereka maka akan tidak terlalu sulit bagi mereka membeli separangkat genset ukuran beberapa puluh kVA untuk digunakan bersama satu desa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: