Oleh: ekoyw | Juli 27, 2010

Film Perjuangan

Bulan Juli tinggal menghitung hari dan akan berganti bulan Agustus.  Bulan yang mungkin selalu ditunggu oleh Bangsa Indonesia karena peringatan Proklamasi Kemerdekaan yang bertepatan setiap tanggal 17 Agustus.

Peringatan HUT RI beberapa tahun ini memang berbeda dengan tahun 80-90 an. Saat itu berbagai film – film perjuangan biasaya diputar mendekati tanggal 17 Agustus. Meskipun stasiun TV cuma satu dan pesawat TV bisa – bisa satu RT hanya satu tetapi pemutaran film – film ini tetap ditunggu warga.

Terakhir kali film yang bernuansa Perang Kemerdekaan yang aku tonton adalah film Merah Putih (2009). Tapi entah kenapa, sekali lihat langsung bosan meskipun film ini digembar-gemborkan didukung oleh ahli film yang katanya pernah turut membuat film Saving Private Ryan dan Black Hawk Down.

Beberapa film perjuangan tempo dulu itu misalnya berjudul ‘Janur Kuning’. Film yang mengisahkan Serangan Umum 1 Maret 1949 ini boleh dibilang sekarang termasuk yang di-black list karena dianggap terlalu Suharto sentris.  Beberapa tokoh yang tampil di film ini memerankan Letkol Suharto, Panglima Besar Sudirman serta Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ada beberapa pendapat peran Suharto terlalu besar di film ini dan peran tokoh – tokoh lain tidak diungkap. Menurutku, hal ini sah – sah saja. Kalau semua tokoh yang berperan pada saat itu dimasukkan dalam film maka film ini akan menjadi film dokumenter yang panjangnya bisa tidak ketulungan karena terlalu luasnya lingkup yang akan diangkat. Bukankah untuk menerangkan situasi drama pendaratan sekutu di Normandy, Steven Spielberg cukup mengisahkan drama dari seorang Kapten lewat Saving Private Ryan ?? Dan hasilnya juga apik.

Kemudian ada juga film ‘Soerabaia 45’ yang mengisahkan pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Berbeda dengan Janur Kuning, film ini malah terlalu banyak tokoh Surabaya yang diangkat. Mulai Bung Tomo, Sungkono, Residen Sudirman, Moestopo, dll. Belum juga beberapa tokoh fiktif sebagai bumbu film.  Sehingga kesan yang didapat film ini terlalu luas. Apalagi didukung oleh jalan cerita mulai dari proklamasi, insiden bendera, Mallaby sampai terakhir Arek – Arek Suroboyo bersiap mundur.  Aku kadang berandai-andai, jika film ini hanya mengangkat satu kompi atau peleton misalnya tentara pelajar yang terjun di peristiwa itu tentu lebih menarik. Yang patut diacungi jempol di film ini adalah penggunaan warga asing baik Jepang, Inggris maupun Belanda dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Demikian juga dengan senjata, seragam dan peralatan tempur yang  digunakan yang mendekati situasi saat itu. Konon, untuk mendapatkan tokoh yang persis untuk film ini maka sampai dibuat semacam lomba mirip tokoh. Kalau tidak salah ingat, waktu itu Radio Suzana Surabaya sebagai salah satu penyelenggaranya.

Kemudian ada pula film ‘Serangan Fajar’. Film ini menceritakan suasana revolusi di Jogja sejak zaman Jepang sampai menjelang Agresi Militer Belanda kedua. Dengan tokoh fiktif bernama ‘Temon’. Temon adalah seorang anak biasa yang kehilangan bapak karena menjadi Romusha, yang hidup bersama nenek, ibu dan pamannya yang menjadi pejuang. Di akhir cerita, akhirnya Temon menjadi sebatang kara setelah rumah ‘sesek’-nya dibom pesawat Belanda, yang membuatnya kemudian diasuh oleh seorang prajurit AURI dan kemudian dia menjadi penerbang. Di sini juga menceritakan percintaan antara anak seorang priyayi dengan anak petani biasa. Juga bagaimana pemuda Indonesia melucuti tentara Jepang di Kotabaru Jogja.  Palagan Ambarawa juga ditampilkan. Dan lagi, tentu muncul nama Suharto sebagai salah seorang tokoh pemuda. Meskipun ceritanya lumayan panjang, namun film ini enak juga dilihat.

Film – film perjuangan Jadoel itu secara teknis tentu kalah dengan saat ini. Tetapi entah kenapa masih lebih berkesan film – film jadoel itu daripada misalnya film Merah Putih. Tampilan para pemeran film – film jadoel itu apa adanya, yaa lusuh, berkeringat rambut acak – acakan dll. Ini beda dengan Merah Putih yang lebih bersih, klimis. Rasa-rasanya, di jaman perang seperti itu, apa sempat memikirkan penampilan meskipun para kadet itu ada di lingkungan Akmil. Background Merah Putih yang mengumbar keindahan alam Indonesia apa adanya juga tidak mendukung jaman – jaman perang dimana semua serba suram. Mungkin bisa dibandingkan dengan miniseri ‘Band of Brothers’ yang menggunakan warna – warna suram/kelabu yang ikut membawa penonton merasakan suasana Perang Dunia II di Eropa.  Ada juga yang mengkritik kenapa di Merah Putih, pejuang memakai senjata M1 buatan Amerika yang pada saat itu malah jarang dipakai karena sebagian besar senjata yang dipakai pejuang adalah buatan Jepang dan Inggris.

Kapan yaa sineas kita tergerak membangkitkan lagi film – film perjuangan ini dan tidak sekedar membuat film dengan genre yang tidak jelas antara komedi – horor dan porno…..????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: