Oleh: ekoyw | September 5, 2010

Enaknya Puasa Ramadlan di Indonesia

Saat tulisan ini dibuat, di kalender menunjukkan malam tanggal 27 Ramadlan 1431 H yang bertepatan dengan Minggu, 5 September 2010. Berarti usia Ramadlan tahun ini tinggal 2-3 hari lagi. Berita – berita di TV pun mulai menyiarkan siaran mudik sementara pasar – pasar masih terus ramai didatangi untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan Lebaran.

Kalau dipikir – pikir, sangat enak sekali (hiperbola bangetttt) menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadlan di Indonesia. Meski negeri ini tidak secara resmi menyatakan diri sebagai negara Islam tetapi hampir semua sendi kehidupan menyambut bulan ini.

Mulai kebutuhan perut, warung – warung pun dengan sukarela tutup di siang hari atau dengan malu-malu kucing memasang kain lebar di depan warung agar orang yang sedang makan di dalam tidak menggoda yang sedang puasa.  Masih urusan perut, di meja – meja makan di rumah – rumah pun tiba – tiba terjadi peningkatan gizi dan menu. Makan malam, yang diganti dengan buka puasa, yang biasanya hanya tersedia air putih atau paling banter teh manis pun sekarang harus ditemani kolak, kue – kue kering, dll.  Orang mau merokok pun harus sembunyi – sembunyi.

Tempat – tempat maksiat pun kompak. Lokalisasi serentak ditutup, hiburan malam dibatasi jam kerjanya, para ‘pemberi kenikmatan’ sesaat pun rame-rame harus lari tunggang langgang dikejar – kejar oleh Polisi Pamong Praja bahkan sejak jauh – jauh hari dari bulan Ramadlan. Umat muslim pun seolah – olah meningkat sensitifitasnya sehingga tidak menolerir semua bentuk kemaksiatan di bulan ini. Sampai – sampai umat muslim bersedia untuk melakukan aksi sweeping jika ada yang masih bandel bermaksiat.

Media pun tidak tinggal diam. Di Televisi ditampilkan berbagai tayangan yang ‘mendadak’ Islami. Mulai dari lawakan – lawakan garing diiringi kuis murahan sampai dengan sinetron – sinetron bermutu dan tidak menggurui seperti garapan Deddy Mizwar pun muncul silih berganti. Demikian juga siraman ilmu keIslaman mulai dari hanya tingkat dasar sampai tafsir Al Quran pun ada. Para selebritis yang biasanya suka ‘blak – blakan’ dan ‘buka – bukaan’ pun tiba – tiba ramai-ramai suka memakai kerudung dan baju muslim. Koran – koran pun menyediakan rubrik khusus yang membahas agama.

Mendekati lebaran kesibukan pun semakin meningkat. Jalan – jalan dikebut dioles mulus – mulus agar orang – orang kota bisa lewat dengan bahagia, para operator telekomunikasi berlomba – lomba meningkatkan kapasitas agar tidak ada keluhan susah call seperti hari – hari biasa. Mulai polisi, petugas ambulance, sampai teknisi – teknisi pun diminta standby.

What is the point ???

Dalam Ramadlan kita seolah – olah tidak tinggal di Indonesia. Tiba – tiba semua serba indah di negeri ini. Kita pun baru tersentak kaget dan bangun dari mimpi setelah Ramadlan pergi dan mendapati semua telah kembali ke negeri ini. Hampir semua yang kita temui di bulan suci ini bukanlah yang kita temui di luar Ramadlan. Sehingga seolah – olah tidak tepat jika disebutkan Ramadlan disebut sebagai bulan penuh ujian karena di luar Ramadlan kita telah terbiasa mendapatkan pelajaran dan ujian level anak SMA tetapi tiba – tiba pada bulan Ramadlan  kita malah dihadapkan pada soal ujian anak SD.

Apakah hal ini yang membuat kita tidak pernah berubah meski telah bertemu sekian puluh Ramadlan dalam hidup kita? Apakah hal seperti ini pula yang membuat negeri ini seolah – olah hanya jalan di tempat dari tahun ke tahun. Masalah – masalah yang kita hadapi dari tahun ke tahun bukannya tambah berkurang tetapi malah bertambah dan kita pun sering hanya bisa bengong tidak bisa bertindak untuk kemudian digilas oleh zaman.

Meskipun kita bisa berpuasa tidak hanya menahan lapar dan haus tetapi kita sering kali gagap dalam bertindak dan bersikap di luar Ramadlan. Ibadah kita di bulan Ramadlan, bacaan Al-Quran kita yang mungkin bisa Khatam 2-3 kali, Sholat Tarawih dan witir kita yang berpuluh – puluh rakaat dalam sebulan seolah – olah hanya mengasah pisau tumpul yang tidak segera menjadi tajam. Apa yang kita lakukan selama Ramadlan, baik itu puasa atau ibadah yang lain, seperti mirip dengan saat – saat pelatihan atau training pekerjaan atau dulu di sekolah – sekolah ada yang namanya Penataran P4. Kita berlomba – lomba menghafalkan semua tata tertib pelatihan dan butir – butir Pancasila. Kita berlomba – lomba menjadi ‘good boy’ saat pelatihan hanya karena kita ingin mendapat gelar ‘The best ten’ meski kita buta esensi dari pelatihan itu. Jika kembali ke esensi sarjana, kita mendapat gelar sarjana tanpa benar – benar menjadi ‘sarjana’.

Sepertinya ada sesuatu hal yang lebih besar dari pada sekadar menahan lapar, haus dan nafsu di bulan Ramadlan. Sesuatu itu adalah sejauh mana menahan lapar, haus dan nafsu itu memberikan dampak dan andil dalam kehidupan sesudah Ramadlan. Sesuatu inilah yang membuat orang mampu tetap survive setelah keluar dari lingkungan ‘kondusif’ di bulan Ramadlan. Sesuatu inilah yang memberikan sebuah prinsip bagi seorang muslim tentang bagaimana harus bertindak di luar Ramadlan. Sesuatu inilah yang disebut takwa.

Sepertinya, jika ingin mencapai predikat takwa ini, godaan yang harus dilawan bukan hanya godaan negatif. Lingkungan kondusif saat Ramadlan pun merupakan godaan. Seperti halnya di ujung Ramadlan ini, tiap dini hari kita dihadapkan pada godaan apakah melihat sinetron Para Pencari Tuhan atau tayangan tafsir Al Misbah kesayangan kita atau menjalankan sholat tahajud demi mendapatkan lailatul qadr? Atau para teknisi tetap bekerja keras menyiapkan jaringan telekomunikasi yang lebih handal (suatu pekerjaan yang sebetulnya pekerjaan rutin sehari – hari) dengan resiko berkurangnya kesempatan untuk lebih beribadah sehingga terasa hambarnya Ramadlan ini?

Di facebook-ku malam ini aku tulis, “Malam ke-27, 2-3 hari lagi Lebaran. Senang atau sedih? Ayoo Ngaku!!!”

Watervang, 27 Ramadlan 1431 H/5 September 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: