Oleh: ekoyw | September 8, 2010

Ironi Wong Ndeso…

Dua hari menjelang lebaran. Siaran arus mudik pun semakin memenuhi berita – berita di TV. Padahal beritanya yaaaa itu – itu saja, jalur pantura macet atau tol Cikampek merambat, dan sejenisnya. Di tengah sibuknya melototi siaran mudik ini, di media online juga sedang gencar berita yang berhubungan dengan transportasi. Beritanya adalah salah seorang wakil ketua lembaga tinggi negara dan salah seorang ‘putra mahkota’, yang juga sekjen partai terkuat, di negeri ini terlambat dan memaksa pesawat Garuda yang akan ditumpanginya untuk menunggunya. Kedua pejabat tersebut telah menyampaikan bantahannya.

Entahlah, kadang kalau dipikir-pikir, perilaku pejabat, orang pintar, kaya sangat paradoks dengan semua predikat yang ditanggungnya tadi.  Mau beberapa contoh ??

Sekitar beberapa bulan yang lalu, salah seorang menteri kita harus menerima kenyataan pahit tidak bisa menghadiri sebuah pertemuan penting dengan rekan kerjanya dari Jepang DI JAKARTA. Alasannya hanya karena menteri kita ini telat datang dengan alasan macet.

Kemudian, masih juga seorang menteri, ketahuan menyerobot jalur busway dengan menggunakan mobil dinasnya. Dan parahnya, difoto pula oleh warga yang lewat dan kemudian menjadi pemberitaan hangat yang kemudian memaksa menteri tersebut mendatangi polsek tempat kejadian untuk meminta tilang.

Mendekati lebaran ini, beberapa kepala daerah pun mengeluarkan aturan tidak populer yakni mengizinkan pemakaian mobil dinas untuk mudik yang notabene merupakan urusan pribadi.

Atau level masyarakat kebanyakan, beberapa bulan yang lalu juga ada peristiwa adu mulut penumpang pesawat dengan crew yang memaksa pesawat jangan terbang dulu karena suaminya belum sampai di Bandara. Akhirnya, karena penumpang ini bukan pejabat maka dia pun diturunkan dan pesawat tetap berangkat.

Masih juga tentang pesawat, contoh kecil lagi. Ketika pesawat baru saja akan mendarat maka sering kali telinga ini dibikin geli dengan bunyi HP penumpang, yang tentu kebanyakan dari orang menengah ke atas dan mengaku berpendidikan, yang tiba – tiba dinyalakan hanya untuk sekedar menyampaikan kabar kalau penumpang tersebut sudah mendarat.

Hanya satu kata, suatu hal yang ironi dan paradoks dengan status dan predikat dari setiap yang bersangkutan dengan peristiwa di atas. Orang yang seharusnya semakin paham, disiplin dan menaati aturan dengan semakin bertambahnya ilmu, jabatan dan kekuasaan yang didapatnya ternyata malah menjadi kelompok pertama dari orang – orang yang melanggar aturan, tukang ngaret sejati, dan jumawa dengan kekuasaannya. Jika orang – orang ini adalah orang yang belum paham, tidak mengerti, pendidikan rendah mungkin masih bisa dimaklumi. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa penyebabnya? Rasa-rasanya kalau dicari akan melebar kemana – mana mengikuti kompleks dan kronisnya masalah di negeri ini.

Ingatanku pun melayang ke orang – orang di desa ku. Mereka ini sering dicap sebagai berpendidikan rendah, penghasilan rendah, berpikiran pendek dan kampungan. Khusus kata ‘kampungan’ ini pernah beberapa tahun yang lalu jadi perdebatan yang panjang di DPR.

Tapi mereka yang ‘kampungan’ ini justru memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap hukum, penghargaan yang tinggi terhadap waktu, adab yang mulia dalam kehidupan sesama. Ketika, misalnya, mereka diminta membayar pajak maka mereka akan bayar selagi mereka memiliki uang. Mereka bukan tipe tukang kemplang pajak. Juga ketika mereka tiba-tiba dipanggil aparat maka mereka akan tergopoh – gopoh untuk segera memenuhi panggilan itu tanpa sempat memikirkan membuat alasan sakit seperti yang sedang nge-trend di kalangan tersangka korupsi. Sekali mereka diberitahu tidak menghidupkan HP di pesawat maka mereka pun dengan patuh melakukan aturan itu dan baru menghidupkan lagi ketika aturan membolehkan.

Inilah ‘ironi’ wong ndeso. Mereka yang sering dicap ‘kampungan’ ini ternyata justru memiliki kebudayaan dan kearifan yang lebih tinggi daripada orang – orang yang mengaku lebih pintar dan berkuasa. Hanya karena ketiadaan akses media dan kalah berkuasa yang membuat mereka menjadi bulan – bulanan, lelucon dan tempat sampah kesalahan yang dibuat orang-orang pintar. Karena terpinggirkan maka mereka tidak memiliki kekuasaan untuk mendefinisikan suatu kata. Mereka tidak bisa mendefinisikan disiplin itu apa, taat hukum itu apa, menghargai orang lain itu apa karena semua itu, menurut orang – orang pintar, menjadi domain orang – orang pintar untuk mendefinisikannya meski sering kali terbukti ternyata orang – orang ‘kampungan’ itu lebih pandai mengaplikasikannya dibanding golong pembuat definisi itu sendiri. Jika demikian, kemudian siapa yang ‘kampungan’ ???

Apakah anda termasuk ‘kampungan’ atau kampungan ???

Kotak, 8 September 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: