Oleh: ekoyw | September 17, 2010

Hari Raya Ketupat

Pagi ini kalender menunjukkan tanggal 17 September2010 atau bertepatan dengan 8 Syawal 1431 H.  Artinya Idul Fitri telah satu minggu lewat. Bagi sebagian muslim, hari – hari ini adalah hari – hari biasa setelah berpuasa satu bulan lamanya atau hari – hari ini adalah hari persiapan balik ke tempat mencari nafkah setelah pulang menyalurkan dan memandikan semangat hidup dengan kembali ke tempat dimana dia berasal.

Namun tidak bagi sebagian umat muslim di sebagian wilayah Jawa Timur. Hari ini adalah Hari Raya Ketupat atau Riyoyo Kupat. Bagi sebagian umat muslim ini, makan ketupat tidak dilakukan pada saat Hari Raya Idul Fitri seperti yang jamak ditemui di negeri ini atau pun juga di negara – negara Melayu.  Perayaan makan ketupat baru dilakukan seminggu setelah Lebaran usai.

Inilah yang disebut Hari Raya Ketupat atau Riyoyo Kupat.  Dilaksanakan seminggu setelah Lebaran karena ummat Islam disunahkan puasa Syawal selama 6 hari di bulan Syawwal.  Karena pada 1 Syawwal yang bertepatan dengan Idul Fitri adalah hari terlarang untuk berpuasa bagi umat Islam maka puasa Syawwal baru boleh dilaksanakan sesudahnya. Jika dilaksanakan berturut – turut selama 6 hari maka puasa Syawwal ini tepat berakhir pada tanggal 7 Syawwal. Untuk mengakhirinya inilah dilakukan acara yang disebut Hari Raya Ketupat yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawwal.

Sampai sekarang, saya belum menemukan tuntunan acara ini.  Acara ini hanya sekedar tradisi yang sepertinya hanya dikenal di tanah Melayu. Tulisan ini pun tidak akan membahas apakah hari raya ini (jika boleh disebut hari raya) termasuk bid’ah atau tidak. Penyebutan hari raya semata – mata mengacu pada masyarakat yang merayakan yang menyebutnya demikian, Hari Raya Ketupat atau Riyoyo Kupat.

Meskipun dimaksudkan untuk merayakan ibadah puasa sunnah di bulan Syawwal namun sepertinya hanya sedikit yang menjalankan ibadah puasa syawwal ini langsung berurutan selama 6 hari setelah Idul Fitri. Perayaan ini pun hanya dikenal dikenal di sebagian Jawa Timur, terutama daerah Pantura, sekitar Surabaya dan Madura. Bahkan di Madura perayaan ini pun sering ditempatkan sejajar dengan Idul Fitri sehingga tradisi mudik (di Madura disebut ‘Toron’) bahkan kadang mengalahkan mudik saat Idul Fitri. Penyebarangan Surabaya – Kamal lebih penuh sesak saat Toron daripada saat Idul Fitri meski saat ini hal itu tidak terasa ketika Jembatan Suramadu mulai dioperasikan.

Juga tidak ada urutan acara yang baku saat Riyoyo Kupat ini. Di sebagian desa di Lamongan Selatan, saat Riyoyo ini hanya ditandai dengan berkumpulnya para lelaki di balai desa atau rumah kepala desa setempat. Setiap lelaki membawa ember atau nampan berisi ketupat. Nampan ini dibungkus dengan taplak meja. Mereka berkumpul pada pagi hari sekitar pukul 06.00. Tidak ada tempat khusus yang disediakan. Mereka bisa duduk – duduk di pinggir jalan atau di emper – emper rumah tetangga kepala desa. Acaranya sangat singkat. Pertama adalah semacam sambutan atau pengantar dari tetua desa yang disampaikan dalam bahasa Jawa.  Penyampaiannya mirip dengan doa dalam bahasa Jawa Timuran. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh pemuka agama yang diaminkan semua hadirin. Dan selesai. Semua yang hadir pun kembali pulang dengan membawa nampan masing – masing untuk dimakan di rumah.  Urutan acara ini mirip dengan acara sedekah bumi atau acara – acara sejenis yang dilakukan di desa – desa agraris.

Ketupat pun tidak harus baru boleh dimakan setelah acara ini. Ketupat bahkan boleh dimakan sore hari sebelum acara. Penyajian ketupat untuk makan pun berbeda – beda antar daerah. Di Lamongan Selatan, ketupat disajikan dengan sambal kacang. Sambal ini bukan diuleg tetapi ditumbuk. Berisi kacang tanah dan cabe yang ditumbuk kasar, tidak sehalus tepung.  Ketupat tinggal dipotong – potong dan dicocolkan ke sambal ini. Tidak lazim di daerah ini ketupat dimakan bareng dengan opor ayam seperti lazimnya daerah lain di Indonesia.  Hal ini juga berbeda dengan sebagian daerah di Madura yang juga merayakan Hari Raya Ketupat dimana ketupat dimakan dengan sayur ayam kampung.

Ketupat, dalam bahasa Jawa disebut Kupat yang merupakan kependekan dari ‘Ngaku Lepat’ atau mengaku salah. Mungkin dimaksudkan sebagai bentuk pengakuan salah antara satu manusia ke manusia yang lain yang dilaksanakan disekitar Hari Raya Idul Fitri.

Garung, 17 September 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: