Oleh: ekoyw | Oktober 4, 2010

Bis Eka : Jogja – Jombang

Tanggal menunjukkan 13 September 2010 yang berarti cuti bersama libur Lebaran 2010 akan berakhir. Pada hari itu pula kami sekeluarga meneruskan perjalanan mudik dari Jogja ke Lamongan. Total ada 4 orang dewasa dan 1 bayi dan hanya aku sendiri yang laki – laki.

Pada malam harinya, sudah terbayang bagaimana susahnya mendapatkan tempat duduk bis di Terminal Giwangan, Jogja. Maklum, sejak jaman kuliah dulu, sepertinya setiap Lebaran maka orang – orang mendadak menjadi kaya. Bis Cepat Eka jurusan Surabaya – Jogja – Magelang PP yang pada hari – hari biasa jarang yang melirik mendadak menjadi idola saat mudik. Saat arus mudik, bisa dipastikan penumpang meluber di Terminal Purabaya, Bungurasih, Waru, Sidoarjo. Demikian juga saat arus balik, hal yang sama terjadi di Terminal Giwangan Jogja. Bis – bis bumel, seperti Mira dan Sumber Kencono (yang terakhir sering diplesetkan sebagai Sumber Bencono, dan memang Lebaran kemarin 3 hari berturut-turut terjadi kecelakaan yang melibatkan bis ini) sama sekali tidak dilirik para pemudik, meskipun banyak dari bis-bis ini yang memakai AC dan jarak Jogja – Surabaya yang relatif dekat.

Akhirnya, dengan bismillah sekitar pukul 07:30 kami berlima sampai di parkir timur Terminal Giwangan tempat bis – bis jurusan Jatim ngetem. Aku sempat ketipu saat sudah gembira ada bis Eka yang masih ngendon belum berangkat, ehhh… nggak tahunya sampai atas hanya sisa 1 tempat duduk yang kosong. Penumpang pun penuh sesak menanti di jalur bis patas ini. Teriakan – teriakan ajakan naik bis bumel dari para calo seolah – olah tidak dihiraukan.

Bersama adik, aku ngatur strategi.

“Kamu, siap – siap di sana. Di tempat kira – kira pintu belakang bis berada. Aku di sini, jaga di pintu depat,” Perintahku sambil menggendong tas ransel yang berisi notebook lumayan berat ini. “Ojo lali, bawa tas yang kecil – kecil untuk nandai tempat duduk yang lain. Kita butuh 4 tempat duduk.” Sambungku. Istri, Ibu dan anakku tetap menunggu di ruang tunggu.

Ternyata tidak terlalu lama, bis yang ditunggu datang. Penumpang pun langsung berebutan mendekat. Dan tiba – tiba, Ssssttt….. bis berhenti tepat pintu penumpang depan berada tepat di depanku. Aku mencoba membuka pintu tetapi tidak bisa. Pak Sopir yang di dalam kemudian membuka pintu. Dan aku, tepat sebagai orang pertama yang melangkah masuk ke bis dari pintu depan. Ternyata tas ransel yang lumayan besar tadi “berguna” menjadi penghalang bagi penumpang di belakangku untuk masuk mendahului langkahku.  Kayanya trik ini perlu digunakan jika rebutan bis lagi…. hehehe..

Sampai di dalam, ternyata adikku tepat di belakangku. Njedul teko endi kowe, Nduk?? Akhirnya 4 bangku pilihan bisa ditandai. Terdengar teriakan salah seorang kru bis. ” Tidak lewat Madiun, Nganjuk, Kertosono dan Jombang. Langsung Mojokerto…!!!!” Tidak lewat Madiun??? Memang bis ini dari Ngawi langsung Karang Jati terus Caruban. Langsung Mojokerto ???? Otakku berputar, kira – kira bis ini lewat rute mana ?? Mojokerto ??? Aaah jelas lewat Gedeg-Ploso-Plandaan. Ahaa… berarti melewati tanggul Kali Brantas. Wah, malah kebeneran. Tidak usah turun Jombang. Turun Ploso saja terus ganti bis ke Babat. Akhirnya kami pun tetap di bis. Perkiraanku, paling jam 14:00 sudah sampai Ploso.

Jam 08:00 bis kami mulai keluar dari Terminal Giwangan. Saat membayar karcis, barulah aku tahu dari kondektur bis kalau terjadi kemacetan panjang saat mulai masuk Caruban sampai Nganjuk dan akan semakin parah ketika sampai Jombang karena bergabungnya kendaraan dari arah Kediri, Tulungagung dan Trenggalek. Bayar karcis di atas bis? Yaa itulah salah satu keunikan naik bis Jogja – Surabaya, dan bis – bis lain di Jawa Timur. Tidak perlu repot pesan karcis di loket. Cukup bayar di atas bis.

Perjalanan sudah mulai terasa merayap sejak keluar Jogja.  Jogja – Solo lancar…. maklum sambil tidur hehehe. Sampai di Solo sekitar pukul 11:00. Seperti biasa, penumpang pun terlihat penuh mengantri di jalur bis patas ke Surabaya. Oaalllaaah… lha wong yang di Jogja saja banyak yang tidak terangkut, apalagi yang di sini. Hanya seorang penumpang yang naik menggantikan satu penumpang yang turun. Kru bis pun  seolah hanya absen dan numpang lewat di Terminal Tirtonadi ini. Keluar Terminal Solo bis tidak melewati jalur tengah kota, perkiraanku bis melewati jalur lingkar luar kota. Dan ternyata benar…. Akhirnya Jembatan Bengawan Solo dengan taman yang biasa aku tandai sebagai batas kota Solo pun tidak aku lewati.

Perjalananan semakin lambat ketika memasuki Sragen dan lebih – lebih ketika akan masuk Jawa Timur. Jarum jam menunjukkan hampir pukul 12:00. Kayanya bakal molor sampai Ploso. Jalur alas Mantingan pun ramai, baik kendaraan yang ke arah barat maupun yang ke arah timur. Sempat mesem juga melihat 2 kendaraan plat BG di depan bis.  Adoh e nek mudik (podo karo aku hehehe). Sementara sopir bis ini, seorang bapak yang sudah berumur dengan songkok hitam di kepala tidak henti berkomunikasi lewat HP. Sepertinya dengan sopir bis lain yang menanyakan kondisi jalur Caruban sampai Jombang. Pukul 13:00 bis berhenti di Rumah Makan Duta di Ngawi. Menu Ayam Bakar Duta pun langsung aku pilih. Tampak sebuah bis AAL juga ikut parkir dan beberapa Taruna AAL juga sedang makan.

Salut untuk bapak sopir bis ku ini, beliau sholat dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Jika normal, jam 13:00 ini harusnya bis sudah mulai masuk Jombang. Minimal sampai Kertosono, nah ini baru di Ngawi. Jalur Ngawi – Karang Jati – Caruban lumayan sepi untuk ukuran Lebaran. Bis – bis cepat masih bisa melaju dengan normal. Bis – bis Sumber Kencono yang seharusnya tidak lewat sini pun ternyata masih lewat jalur ini karena masih di-sweepingnya bis – bis SK dari Madiun – Ngawi akibat kecelakaan 2 hari sebelumnya.

Memasuki Caruban, sekitar pukul 13:30, bis benar – benar merambat. Benar – benar merambat dalam arti sesungguhnya. Jalur Caruban – Saradan – Wilangan sebagian adalah hutan Jati. Sebetulnya tidak cukup berliku dan paling hanya 15 km. Tetapi jalur ini terasa sangat – sangat sesak oleh kendaraan terutama yang ke arah Surabaya. Kadang iri juga melihat kendaraan dari Surabaya melaju tenang dan cepat di sebelah bis yang sedang menyemut ini.

Satu, Dua, Tiga… lhoo… kok sampai ada 3 bis Cepat Eka yang menyalip bis ku? Memang jarak keberangkatan antara bis Eka tidak terlalu jauh. Paling hanya 30 menit. Tetapi sampai ada 4 bis berkonvoi di jalan yang macet ini adalah pertama yang aku alami. Pak Sopir yang tadinya sabar pun mulai kelihatan tidak sabarnya. Dengan HP dia terus menghubungi teman – temannya menanyakan jalur yang akan diambil. Terus – terusan dia menyarankan bis – bis yang lain lewat jalur alternatif di samping Terminal Bis Nganjuk. Dari bis – bis yang dari arah timur baik satu PO ataupun tidak, Simbah sopir ini (begitu beberapa sopir dari bis – bis berpapasan berteriak memanggilnya), juga bertanya sejauh mana kemacetannya.

Akhirnya, jarak 15 km itu tuntas dalam waktu 3 JAM !!!! Kemacetan mulai terurai saat bis keluar dari Alas Wilangan, keluar dari jalan melingkar yang bersebelahan dengan rel KA tempat KA Logawa terguling beberapa minggu sebelumnya.  Pemandangan unik tampak di SPBU – SPBU setelah Alas Wilangan, tampak banyak sekali kendaraan parkir, terutama sepeda motor. Ternyata bukan antri beli BBM, tetapi para penumpangnya antri ke toilet.. hehehe. Sepertinya sudah pada nahan akibat kemacetan tadi. Sekitar jam 16:30 bis mengambil belok kiri di Terminal Bis Nganjuk. Tidak lurus masuk kota seperti biasanya.

Jalan – jalan alternatif pun di lalui. Sempit memang. Tapi lumayan efektif membunuh kemacetan jika lewat jalur sebenarnya. Ketika sampai di SPBU Lengkong, Nganjuk bis berhenti, memberi kesempatan penumpang istirahat sejenak dan ke toilet. Kembali melanjutkan perjalanan. Jalan – jalan sempit penghubung antar kecamatan di Nganjuk dan Jombang pun dilalui. Sementara si kecil sudah mulai rewel akibat lamanya di bis. Ooallaahhh Nduk, bapakmu dulu terima naik bis berbentuk jip tahun 80’an saat ikut nenekmu mudik di jalur yang sama.

Akhirnya… tanggul Kali Brantas tampak di sisi kanan bis, pertanda sudah masuk daerah Jombang. Plandaan pun dilalui dan sampai Ploso sekitar pukul 18:00. Total 10 jam naik bis dari Jogja sampai Ploso. Rekor terbaru naik bis Cepat Eka. Jogja – Jombang yang biasanya ditempuh 6 jam pun harus molor sampai 4 jam. Sepertinya bis Eka yang aku tumpangi akan sampai di Surabaya 2-3 jam lagi, dari waktu normal Ploso – Surabaya 1,5 jam.

Apakah tobat naik bis??? Tidak…. terutama naik bis ini hanya sekali setahun…. Nikmati aja hehehehe.


Responses

  1. wkwkwkkwkwk lha aku kan nang mburi nggandholi tas sampean.. lha pintu belakang wes rame desel2-an trus mburine sampean longgar yo wes aku ndusel2 nggandholi tas sampean, itulah enaknya pny postur mungil hehehehhe….
    yayaya benar2 perjalanan yg sangat melelahkan dr jogja pdhl udah naik eka hufft… thn ngarep nggowo mobil ya?? smg wes karo bojoku sisan huakakakak….😀

    • Memang e calon e wis ono? wekkk….😛
      Tahun ngarep numpak sepur Sancaka ae… bebas macet….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: