Oleh: ekoyw | Oktober 18, 2010

My Cellphone, Dari waktu ke waktu

Saat SMA (saat itu masih disebut SMU), seingatku belum ada teman – temanku yang memiliki handphone. Antara tahun 1995 – 1998, boleh dibilang handphone adalah barang mahal. Termasuk, bagi sebagian teman – teman SMA ku, meskipun SMA ku termasuk salah satu SMA favorit di Kota Pahlawan. Yaa, siapa yang tidak tahu SMA 2 Surabaya, salah satu SMA di SMA Kompleks Wijaya Kusuma yang katanya banyak diisi anak – anak pejabat.Termasuk (Alm) bapakku, yang juga pejabat meski hanya ‘Mantri Alas’ di pedalaman Lamongan… hehehehe. Thanks God, meski wong sugih, ternyata teman – teman SMA ku tidak membeda-bedakan pergaulan denganku yang ‘ndeso’.

Aku ingat, saat kunjungan ke SMA 1 Pasuruan, yang dilanjut ke Bromo, dengan menyewa 4 buah bis, komunikasi antara bis dilakukan dengan menggunakan Handy Talky. Jadi bisa dibayangkan jika tiba – tiba jarak bis saling berjauhan. Demikian juga saat ada acara – acara sekolah, seperti Malam Seni sampai Pondok Ramadlan. Handy Talky-lah yang menjadi andalan komunikasi antar panitia.

Beranjak kuliah, handphone baru dikenal teman – teman kuliah sekitar tahun 2000 an. Kebanyakan bermerk Nokia, Ericsson dan Siemens. Beberapa seri HP yang dipakai saat itu seperti Nokia 5110, Ericsson T28 dan model – model jadul lainya. GPRS, EDGE dan sejenisnya saat tahun – tahun itu hanyalah materi kuliah pembuatan paper yang sama sekali belum tahu bentuknya seperti apa.

Namun, handphone itu tetap jadi barang mahal bagi mahasiswa kantong pas – pasan seperti kami. Sehingga telepon umum dan wartel tetap menjadi favorit kami.  Saking bloonnya saat itu, sampai – sampai aku tanya ke teman kontrakan yang sekarang kerja di NSN, memang kartu seluler itu ada berapa dan apa beda kartu perdana dan voucher. Katrookkk tenan… hehehe..

Saat – saat itu, masih jamak ditemui antrian di telepon umum depan kantin kampus. Juga beberapa trik ‘ngakali’ kartu telepon. Untuk yang terakhir ini, boleh dibilang kartu telepon sudah punah. Antrian di wartel pun semakin panjang terutama saat – saat malam minggu. Sekali telepon, bisa sekitar Rp. 5000 habis. Coba bandingkan dengan murahnya tarif seluler saat ini.

 

Siemens C35i

 

Akhirnya handphone pertamaku terbeli juga mendekati Lebaran 2001. Jelas barang bekas. Siemens C35i ini terbeli setelah magang di sebuah ISP di Graha Pena Surabaya. Di beli di THR Surabaya, yang sekarang berubah menjadi Hi-Tech Mall. Harganya seingatku sekitar 600 rb an. Seingatku saat itu aku maunya Nokia 3310. Tetapi karena uang tidak cukup maka Siemens C35 yang terbeli. Untuk perdana, si merah Simpati yang kubeli dengan harga Rp. 130.000 sebuah. Kalau gak salah, nomornya sisa dari paket Merdeka HUT RI tahun 2002. Mungkin untuk saat ini, harga segitu sudah bisa membeli 20 atau 30 buah SIM Card.

Masalah belum selesai. Setelah puas bisa mejeng punya handphone, eehhh… ternyata di rumah, di desa tidak ada sinyal sama sekali. Demikian juga saat dibawa mudik Lebaran ke rumah nenek di tepian Kali Progo di Jogja. Blannkkk…..  Sekitar tahun 2003 baru aku tahu adanya antena outdoor untuk handphone. Bentuknya mirip dengan antena TV tetapi dengan ukuran lebih kecil. Tinggal di tiang bambu dan tempelkan handphone ke pangkal kabel antena, kemudian putar tiang bambu tersebut sampai didapatkan sinyal paling kuat. Persis sama kaya antena TV. Antena outdoor inipun aku pasang di tiang bambu tempat Bapakku memasang antena Handy Talky. Bagaimana dengan fungsinya??? Mengikuti kantong maka handphone ini pun kebanyakan hanya untuk SMS. Pokok e yang penting ada pulsa buat SMS. GPRS?

Apa kekurangan Siemens? Salah satunya adalah ganti casing yang susahnya minta ampun. Alkisah sekitar tahun 2003, aku pun membeli sebuah casing baru untuk merubah suasana C35i ini di sebuah Mall di Jl A. Yani Surabaya. Kata yang jaga counter, “kami ganti sekalian casingnya mas, harga pasangnya cuman 25 rb rupiah”. Langsung aku tolak, “nggak mas, aku ganti dewe ae.” Dalam hati, aku nyombong, “Mosok arek elektro gak iso ganti casing HP dewean. Timbang duit 25 rb entek, lak enak digawe tuku mangan. Lumayan iso mangan seminggu hehehe…” Maklum, harga makanan di warung – warung sekitar ITS saat itu masih berkisar 2000 rupiah.

Akhirnya kesombonganku pun membuahkan hasilnya. Casing sukses aku bongkar, termasuk bongkar juga jeroan handphone. Speaker yang nempel di casing pun sukses copot. Dengan hati bercampur aduk antara sedih, misuh dan seneng karena berarti ganti HP.

 

M50

 

Handphone kedua yang kemudian tetap Siemens, seri M50 di tahun 2003. Sebenarnya bukan beli, tetapi tukar tambah dari rongsokan C35i dengan HP baru M50. Kebetulan ada kakak kelas SMP yang memiliki counter dan berbaik hati menawarkan tukar tambah handphone ini. Handphone ini bertahan cukup lama mulai menjelang wisudah sampai bekerja sekitar akhir tahun 2006.

Pada handphone ini, boleh dibilang mulai tumbuh rasa nge-fans terhadap produk – produk Siemens. Produk – produknya yang tidak pelit dengan teknologi serta handphone yang tahan banting, terutama serie M, menjadikan handphone pilihanku selanjutnya tetap Siemens.

M50 ini pun kemudian harus pensiun, tetapi bukan karena kecelakaan seperti pendahulunya C35i. Tapi lebih karena mengikuti mode, maklum sudah mulai bekerja jadi mulai merasakan enaknya duitt hehehe… Pada seri ini pula mulai memanfaatkan layanan GPRS yang sebelumnya hanya kenal di teori kuliah.

 

CX75

 

Handphone ketiga masih Siemens, yakni CX 75 baru. Dibeli di Plasa Marina Surabaya sekitar pergantian tahun 2006 – 2007.  Handphone ini pula yang pertama aku gunakan untuk ngoprek, merubah – rubah theme sampai menampilkan developer menu Siemens untuk mengetahui receive level signal yang diterima handphone dari BTS.

Sekitar tahun 2006 – 2007 adalah tahun perpisahan dengan Siemens. Secara resmi Siemens mulai menggandeng BenQ dan perlahan – lahan Siemens tidak memproduksi lagi handphone – handphonenya.  Hal ini membawa kesulitan tersendiri saat sebagai pencinta Siemens hendak berganti handphone. Nokia ??? Hp sejuta umat, dan rasa – rasanya banyak sekali para pemakai Nokia sehingga handphone terasa pasaran sekali.

 

C702

 

Akhirnya sekitar akhir 2008, aku mengalihkan pandangan ke Sony Ericsson C702. Sebenarnya pilihan ini hanya karena terutama dia lah handphone outdoor yang cocok untuk pekerjaanku saat ini yang sering di lapangan. Juga adanya fasilitas GPS yang juga cocok untuk pekerjaanku saat ini. Handphone ini masih terus bertahan hingga saat ini. Meskipun sering dibanting sama anak, paling hanya mati kemudian saat dinyalakan bisa hidup kembali. Paling masalah yang sering timbul hanyalah konsumsi baterai yang boros. Hal ini menurutku wajar, karena sesuai pekerjaan, penggunaan telepon dan sms ku boleh dibilang di luar batas yang biasa dipakai orang lain.

 

M65

 

Selesaikah? Pada tahun 2009, melalui sebuah forum, satu handphone Siemens M65 menjadi koleksiku sekaligus handphone Siemens terakhir yang aku miliki. Seri ini telah di-oprek sebelumnya, sehingga menampilkan receive level signal dalam bentuk grafik di tampilan layarnya. Juga berbagai info penting ‘ditanam’ di layar tersebut, seperti baterai tinggal berapa persen, kuat sinyal , dll.

Saat – saat ini aku masih sangat tertarik sama handphone – handphone outdoor yang tangguh, tidak mudah hang karena cuaca, sinyal kuat saat yang lain sudah SOS, dll. Namun sayangnya, sepertinya saat ini sudah jarang handphone – handphone sejenis ini. Sekarang ini sangat susah mencari handphone seperti ini saat desain – desain handphone yang cenderung feminim dan futuristik.

Pertanyaan selanjutnya…. ganti handphone apa yaaa????


Responses

  1. Cak Eko, Coba samsung galaxy atau HTC Desire ? dari harga sich masih pantas lah untuk fitur yang akan didapat🙂. selamat mencari HP-baru…

    • Lagi nglirik E5 Nokia. Penginnya se cari yang kemampuan email setara blackberry, 3G, HSDPA, HSUPA, GPS, Wifi, Touchscreen, Anti Air, dilindas mobil gak masalah, dimasukkan lumpur tetep OK, harga cuman 2 jtan… Ono ora Tam? hehehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: