Oleh: ekoyw | Desember 23, 2010

Jalan Korea

Jalan ini bukanlah jalan di Korea yang sedang tidak akur dengan saudaranya. Jalan ini berada di Indonesia, di Pulau Sumatra, menjadi salah satu ruas Jalan Lintas Tengah Sumatra yang menghubungkan Lubuk Linggau ke utara, perbatasan Sumsel dan Jambi. Sebelum Jalan Lintas Timur Sumatera beroperasi, dengar – dengar, ruas jalan ini adalah ruas jalan utama yang menghubungkan kota – kota besar di Sumatra bagian utara dengan Lampung dan Jawa.

Salah satu ruas jalan

Menurut cerita penduduk setempat, jalan sepanjang sekitar 100 an km ini dibangun oleh kontraktor dari Korea. Nama perusahaannya RCA. Beberapakali googling, belum aku temukan RCA ini singkatan dari nama perusahaan apa. Pertigaan utama di Lubuk Linggau pun kerap disebut oleh warga sekitar sebagai Simpang RCA. Simpang inilah sebagai awal jalan yang dibangun kontraktor ini.

Jalan ini dibangun sekitar awal 1980-an. Sebetulnya antara Lubuk Linggau – Sarolangun, Jambi ini sudah terdapat jalan lama yang menghubungkan antara satu desa dengan desa yang lain. Dan, sebagaimana lazim ditemui di Sumsel, letak desa ini rata – rata berada di pinggir sungai sehingga jalan lama ini juga rata – rata mengikuti aliran anak sungai. Sejak jalan baru dibuat, jalan lama pun ditinggalkan.

Apa istimewanya jalan buatan orang korea ini? Yang pertama adalah kelurusannya. Belokan memang ada, tetapi karena relatif jarang dan bukan belokan tajam maka berkendara di jalan ini seolah – olah di jalan yang lurus. Beberapa ruas harus memotong bukit, misalnya di bukit beton (sekitar 50 km dari Lubuk Linggau). Ada juga daerah rawa yang harus ditimbun dan dipadatkan sehingga layak untuk dilewati jalan, misalnya beberapa kilometer sebelum masuk Muara Rupit, sekitar 80 km dari Lubuk Linggau.

Yang kedua adalah ketahanannya. Selama beberapa tahun melewati jalan ini, boleh dibilang jarang sekali ditemui kerusakan jalan yang parah misalnya sampai berlobang. Kerusakan jalan paling sering adalah aspal mengelupas atau jalan sedikit bergelombang. Kerusakan ini pun tidak cukup terasa meskipun kita berkendara sampai 100 km/jam sekalipun.

Yang ketiga adalah kelengangannya. Jalan lintas sepanjang 100 an km ini cukup lengang buat memacu kendaraan. Kendaraan dengan kecepatan 80 km/jam seolah – olah berjalan dengan kecepatan biasa, 40-60 km/jam, karena paduan jalan yang lurus, bagus dan sepi. Bis – bis besar antar pulau serta truk – truk besar memang melewati jalan ini tetapi tetap saja terasa jalan ini masih cukup lengang berkendara.  Ketiga paduan keunggulan tersebut menurutku membuat jalan ini mengalahkan jalan tol terlancar dan terbagus di Jawa.

Melintasi Jembatan Sungai Rawas di Muara Rupit

Tetapi jangan terlena, meskipun jalan ini mulus dan lancar, beberapa titik di sebut sebagai warga sebagai titik yang rawan kriminalitas, misalnya antara Muara Rupit ke perbatasan Sumsel – Jambi. Cerita yang beredar, tindakan kriminalitas ini berupa pemasangan ‘ranjau’ darat yang menjebak kendaraan yang lewat.  Satu tips dari warga setempat adalah jangan sekali – kali melindas sampah di jalanan ini karena biasanya telah disiapkan paku atau sejenisnya.

Tapi bagaimanapun, sebetulnya ini adalah salah satu contoh, bahwa dengan teknologi yang benar sebetulnya bangsa kita sudah mampu membuat jalan di semua kondisi medan. Sehingga jika sungguh – sungguh dikerjakan, tentunya tidak ada lagi cerita perbaikan jalan yang tambal sulam.


Responses

  1. Maaf bukan jembatan sungai Rawas justru namanya “jembatan RCA” populer dipanggil oleh masyarakat Rupit, OK . Ir Frans SD Syahrial Rawas Kota Bandung.

    • Maksud saya jembatan ini melintasi sungai Rawas pak. Untuk sebutan, saya malah baru dengar di sebut Jembatan RCA. Seringnya dengar di sebut sebagai “Jembatan Rupit”

  2. Just inform for readers, it was called out as “Jembatan RCA” . I knew that caused I was born this village, my parents was from Muara Rupit too. Ir Frans Syukri D Syahrial, MM from Gempolsari Indah 45 Bandung.

  3. Singkatan dari RCA = Restated Cooperation Agreement. Jadi Perjanjian Kerja sama yang di amendement. Jalan Lintas Sumatra disebut populer jalan RCA karena kontraktornya adalah RCA ini adalah bentuk kerjasama antara pemerintah Korea selatan dengan RI melalui pendanaan World bank untuk membangun Sumatra High way ini, kalo gak salah ya. Thanks, Frans SD Syahrial Rawas Ir, MM (putra Rupit asli dari Bandung kota kembang).

    • Mantap… infonya pak. Beberapa kali saya coba cari info soal RCA ini ke penduduk di sini, tetapi nggak tahu kepanjangannya. Malah menurut mereka RCA itu nama perusahaan kontraktor dari Korea. Ternyata nama sebuah perjanjian kerjasama

  4. Selamat berpuaso dik Eko semoga amal ibadah makin mantap di bulan suci ini, Oh ya kalo kakak dan klg jadi balek ke Rupit tahun ini insya Allah kito pacak bertemu dan diskusi mengenai muratara dan seputar lubuk linggau dan Muara Rupit, aku lahir di rupit putra alm Haji syahrial bin Haji Ya’cub. SD negeri No 2 di Rupit 1970, SMP negeri I Lubuk Linggau (SMP Pemiri) 1973, SMA di Palembang 1976, Kuliah di bandung 1982. Bagawe di PT NTP -IPTN dan tinggal di bandung sejak 1977. Maaf atas koreksinyo yang penting
    kito bangga nian ado yang galak exspose muara rupit ( I very appreciate for adik Eko) salam. Kak Frans dari Gempolsari Indah 45 Bandung.

    • Berarti kita sama-sama perantauan pak. Saya Arek Jatim yang kebetulan sedang nyasar cari rezeki di sini hehehe…
      Silahkan mampir ke kantor saya di sebelah Linggau Hotel, kalo bapak sedang mudik ke Rupit.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: