Oleh: ekoyw | Februari 28, 2011

Film Perjuangan (lagi)

Beberapa minggu yang lalu aku nonton film Merah Putih 2 : Darah Garuda. Rasa penasaran dan harapan bahwa film ini akan lebih bagus daripada film pertama ternyata tidak terpuaskan. Kesanku Film ini masih sama dengan film pertama : Terlalu Amerika mulai dari senjata yang dipakai sampai model barak pejuang, terlalu bersih scene dan pejuangnya, miskin latar belakang karena sepertinya hanya syuting sekitar Lawang Sewu Semarang. Intinya sekali nonton yaaa sudah, tidak ada kesan. Berikut beberapa screenshot-nya :

Lukman Sardi dengan senjata Thompson buatan Amrik yang biasa ditemui di film Band of Brothers atau Saving Private Ryan.  Jarang ditemui senjata buatan Jepang, Inggris atau Australia seperti Sten Gun, Bren Gun sampai Owen Gun yang sebetulnya, dari beberapa sumber, lebih sering dipakai pejuang saat itu.

Atau cobalah lihat barak pejuang yang dipakai. Amerika bangeeettttt. Terdiri dari tenda – tenda, mirip tenda peleton dengan tempat tidur di sisi kanan-kiri bagian dalam tenda. Lihatlah saat Lukman Sardi menginspeksi salah satu tendi, para gerilyawan berdiri tegap layaknya tentara Amrik sedang di-inspeksi.  Bukankah saat itu pejuang kita lebih banyak tidur di rumah penduduk, bercampur dengan penduduk? Agaknya memang pas beberapa pendapat komentator, film ini mulai dari skenario, bahasa yang dipakai, scene, senjata dibuat ala Amerika tanpa ada usaha dari kru Indonesia mengingatkan keganjilan yang ada. Entahlah… Mungkin kru Indonesia sendiri tidak paham sejarah.

Kemudian, dari youtube, aku temukan film “Kereta Api Terakhir” yang mengisahkan perjalanan kereta api dari Purwokerto sampai Jogja sekitar Agresi Militer I Belanda. Film ini dibuat tahun 1979 alias seusia dengan aku… hehehehe. Mungkin karena jaman pembuatan yang tidak terlalu jauh dengan saat peristiwa terjadi (baca : Perang Kemerdekaan), sekitar 32 tahun dari Agresi Militer Belanda I tahun 1947, atau karena memang saat dibuat teknologi film masih jadoel sehingga film  sehingga masih terlihat orisinil. Pejuang tidak berseragam, senjata beraneka jenis sampai yang paling orisinil adalah kereta uap jadoel yang mungkin sekarang cuma ada di Museum Kereta Api di Stasiun Ambarawa.  Lihatlah Bangun Sugito (Gito Rollies) menjadi seorang Sersan Tobing dengan memanggul Sten dan Gitar. Juga pemeran Kol Gatot Subroto lengkap dengan omelan “monyet”-nya., yang konon panggilan “monyet” itu keluar saat hati sang Kolonel sedang senang. Yang tak kalah orisinilnya adalah background stasiun Kereta Api mulai Purwokerto, Gombong dan Tugu Jogja yang dipakai. Mungkin yang agak mengganggu dari film ini adalah pemakaian bahasa Indonesia yang terkesan terlalu baku sehingga bagi anak-anak gaul di zaman internet sekarang terdengar aneh dan lucu.

Seangkatan dengan Kereta Api Terakhir adalah film Janur Kuning. Mungkin sudah banyak yang tahu. Film ini mirip dengan Kereta Api Terakhir, senjata Owen Gun Pak Harto, Sten Gun Letnan Komarudin, adalah hal yang sering ditemui di buku – buku sejarah. Mungkin yang menganggu di sini hanyalah pemeran Belanda yang kebanyakan diperankan oleh artis lokal seperti Dicky Zulkarnaen. Di sini Darah Garuda selangkah lebih maju dengan banyaknya artis bule yang menjadi tentara Belanda. Soal pemeran, Dedi Sutomo mirip banget dengan Jenderal Sudirman sementara entah kenapa Kaharuddin Syah yang gak mirip malah menjadi Letkol Suharto.

Di tahun 1990 ada film Soerabaia 45. Dari sisi seragam, pemeran, senjata bahkan tank yang dipakai film ini mendapat acungan jempol. Bahasa yang dipakai : Indonesia, Suroboyoan dengan semua pisuhannya, Inggris, Belanda, Jepang. Total ada 5 bahasa !!!! Kekurangan film ini hanya ceritanya yang terlalu panjang dan tidak fokus. Terlalu panjang menceritakan mulai dari setelah Kemerdekaan sampai perang 10 Nov 1945 dengan semua tokoh yang terlibat.  Sehingga semua menjadi tokoh utama di film ini. Sering membayangkan, mungkin jika film ini cukup menceritakan perjalanan satu regu atau jaman perang sering disebut seksi saja, misalnya satu seksi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) selama perang sejak perebutan HBS sampai harus mundur ke arah Malang, mungkin filmnya akan lebih bagus. Berikut beberapa screenshotnya.

Pihak “Penjajah” pun tidak mau kalah. Ada film Oeroeg yang dibuat orang Belanda yang mengisahkan seorang sinyo Johan dan Oeroeg, anak seorang buruh perkebunan.  Film ini menurutku lebih ke drama dengan latara belakang perang kemerdekaan. Tentu, karena dibuat bule pemerannya pun banyak yang bule asli. Aku sendiri juga sudah lama tidak menonton film ini lagi.

Si Johan kemudian kembali ke Indonesia saat perang sebagai tentara Belanda dan mencari tahu siapa pembunuh ayahnya. Sementara si Oeroeg telah menjadi pejuang.

Nasib film “Saudara Tua” kita ternyata lebih buruk lagi. Filmnya dicekal tidak boleh ditayangkan di Indonesia, film ini berjudul Merdeka 17805.  Film ini terhitung baru. Jika dilihat di youtube, salah satu alasan pencekalan adalah adanya adegan seorang wanita tua Jawa yang menyembah dan mencium kaki serdadu Jepang dan mengatakan bahwa kedatangan mereka telah diramalkan dan ditunggu – tunggu oleh orang Jawa. Dari beberapa sumber, film ini bercerita sebagian tentara Jepang yang tidak pulang ke Jepang saat Jepang kalah perang tetapi malah ikut berjuang dengan anak didiknya di PETA.  Sampai sekarang aku belum melihat secara full film ini. Jika ada yang punya filenya, tolong dibagi yaa….


Responses

  1. kereta api terakhir adalah film sejarah paling mengesankan diantara film lainnya. meski ada sedikit kekurangan yakni ada adegan yang terbalik. namun sepertinya tidak semua penonton memahaminya. intinya tetap top markotop

    • Benar bro, Film Kereta Api terakhir ini paling mengesankan. Tidak ada aroma politik seperti Janur Kuning. Bumbu Asmaranya tidak terlalu vulgar dan mengharu biru. Mungkin bahasanya yang baku yang bagi kita sekarang terasa janggal mendengar. Apakah memang saat perang dulu se-baku itu yaa bahasa yang dpakai pejuang kita?

  2. Salam yahh begini saja,untuk setting perjuangan kemerdekaan saat itu pake taktik gerilya,serangan frontal besar-2an pd musuh ialh pilihan terakhir bila kekuatan peju ang perlawanan telah cukup,ye jelas ndak pas dan nyambung kalo disamakan dgn action perang ala Amriks,. Para pejuang qt dulu tuh lebih mirip kayak partisan ato gerilyawan di yugoslavia ketika melawan nazi & italia. pola perangnya sabotase serang ,lalu hindar bgitoe ,.. lihat film force-10 of navarone .

  3. justeru film-2 perang yang lebih jujur itu dibuat oleh ph,studio,yg independent dn biasanya ndak terkenal,aktor-2nya jauh banget dari hingar bingar holywood amrik,justeru lebih dekat pada kenyataan ,kita harus belajar pd sejarah yg benar. film dr amrik rtu dah banyak dimanipulasi shg diragukan kebenarannya, amat beda jauh dgn film semisal,produksi Jadran Studio di Mostar dan Zagreb, Bosnia-herzegovina (era yugo dulu), yah skadar bagi-2 ilmu dan info ajah, trims. Wassl @

  4. film saudara tua ini propaganda jepang.
    maklum kebiasaan nippon ini dari jaman perang. sampai sekarangpun banyak anak muda yang masih dan akan terus menjadi jongos nippon melalui invasi mobil motornya plus manga dan jav nya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: