Oleh: ekoyw | Maret 1, 2011

Kritis Terhadap Tulisan Sejarah di Internet

Entah, sudah berapa banyak tulisan yang berisi sejarah yang bersliweran di internet. Yang menarik adalah tulisan yang sama bisa muncul di beberapa situs sehingga tidak jelas lagi situs mana yang pertama kali meng-upload tulisan itu. Yang menarik kedua adalah rata – rata pemberi komentar terlihat menghargai dan mempercayai tulisan tersebut sebagai sebuah sumber berita serta kehilangan sikap kritis menanyakan kebenaran sejarah tersebut. Pemberi komentar semakin bersemangat manakala tulisan sejarah tersebut mengulas peristiwa – peristiwa yang masih kontroversial sampai saat ini, misalnya kisah G 30 S baik dengan tambahan PKI ataupun tidak, sekitar Supersemar, Serangan Umum 1 Maret, Sekitar Agresi Militer Belanda, dll.

Secara pribadi, aku lebih menghargai sejarah yang tercantum di buku daripada di internet.  Karena di buku, biasanya jelas dicantumkan footnote sumber berita atau referensi dari tulisan yang dimuat. Sementara di internet, jarang sekali ditemukan tanda footnote baik berupa asterix ‘*’ atau angka yang kemudian di bawahnya tercantum sumber berita dari mana.  Jika kemudian sumber berita itu adalah hasil wawancara seseorang maka timbul pertanyaan seberapa besar kapasitas orang itu saat peristiwa itu terjadi? Misalnya, jika sumber berita seorang kopral maka agak sulit diterima jika dia mengetahui apa yang direncanakan para perwira di kesatuannya.

Beberapa tulisan di internet yang menurutku berlawanan dengan beberapa buku misalnya :

Tulisan “Sri Sultan Hamengku Buwono IX : Sepotong Sejarah dari Jogja” dari sumber http://orgawam.wordpress.com/2007/09/24/sri-sultan-hamengku-buwono-ix/ terdapat kalimat :  “AH Nasution juga sedang berada di Yogya dan terlibat perundingan namun tiba-tiba Belanda melakukan sebuah keputusan nekat menyerang Yogyakarta. ” Di buku “Doorstoot Naar Djokja” karya Julius Poor dijelaskan bahwa saat Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948, Kol AH Nasution tidak sedang berada di Jogja. Beliau bersama beberapa perwira stafnya sedang melakukan kunjungan kerja memantau garis depan di Jawa Timur antara Jombang – Mojokerto padahal beliau sudah diperingatkan salah seorang stafnya (Kalau tidak salah, Letkol Zulkifli Lubis) untuk tetap di Jogja. Begitu mendengar Jogja di serang Belanda, dengan kereta api beliau segera balik ke Jogja. Sempat berhenti di Solo bertemu dengan Kol Gatot Subroto dan memberi perintah, “Selesaikan..!” kepada tawanan seperti Amir Syarifudin yang terlibat PKI Madiun. Tetapi kereta api hanya sampai di daerah Klaten karena menyadari Jogja telah jatuh dan akhirnya P Nasution membuat markas di lereng Merapi, kalau nggak salah di Manisrenggo, Klaten.

Masih dalam tulisan yang sama, disebutkan :

Lemahnya pertahanan kota Yogyakarta bukan tidak menimbulkan protes. Rakyat banyak kecewa karena lemahnya pertahanan kota Yogya oleh pasukan TNI dan tudingan ini diarahkan pada komandan kota Yogya, Suharto. Letkol Abdul Latief Hendraningrat komandan pasukan pengawal Kepresidenan ( seorang pengerek bendera merah putih pada proklamasi 17 Agustus 1945) sendiri terbengong-bengong melihat sama sekali tidak adanya pasukan yang membangun barikade di sekitar Malioboro pada saat penyerbuan pasukan Belanda. Letkol Latief dengan mengendarai jeepnya ke rumah Jenderal Sudirman dan ikut Jenderal Sudirman mengungsi keluar kota setelah tahu keputusan Presiden Sukarno untuk menyerahkan diri pada pasukan Belanda. Kepada perwira-perwira di dalam rumah Jenderal Sudirman Latief menanyakan “Dimana pasukan-pasukan Yogya, mana Suharto?”.

Dalam buku yang sama, dan juga misalnya buku Yogyakarta 19 Desember 1948 : Jendral Spoor (Operatie Kraai) versus Jendral Sudirman (Perintah Siasat no. 1) karya Himawan Soetanto disebutkan bahwa sebagaian besar kekuatan Brigade X pimpinan Suharto digelar di sebelah barat Jogja, sepanjang jalan menuju Gombong, karena sesuai perkiraan dari Mabes TKR, tentara Belanda diperkirakan akan menerobos Jogja melalui Gombong karena jaraknya yang relatif sudah dekat dengan Jogja. Agak janggal juga jika Letkol Latief tidak tahu dan mempertanyakan hal ini, juga timbul pertanyaan kenapa informasi penggelaran pasukan Brigade X ini tidak dimuat dalam tulisan tersebut?

Kemudian jabatan Letkol Latief saat itu adalah Komandan Komando Militer Kota (KMK) Jogja yang harusnya lebih bertanggung jawab atas kota Jogja dibanding dengan Brigade X yang mendapat tanggung jawab lebih luas, yakni provinsi DIY dan beberapa kabupaten di sekitarnya seperti Purworejo. Jika dibandingkan dengan Solo, Mayor Achmadi sebagai KMK Solo lebih kuat dalam mengorganisir pejuang di Solo dengan peran yang sentral seperti dalam Serangan Umum Solo Agustus 1949 dan bekerjasama dengan komandan Wehrkreise-nya yakni Letkol Slamet Riyadi meskipun dalam beberapa hal sering juga diceritakan berbeda pendapat.

Keterangan lain yang tidak dicantumkan dalam tulisan itu adalah isi Perintah Siasat No. 1 Jenderal Sudirman yang menggariskan pertahanan wilayah, bukan linear seperti perang konvensional. Semua tentara yang Long March ke Jogja dan sekitarnya diwajibkan kembali ke daerah asal dan membangun basis gerilya di sana. Sehingga seluruh wilayah RI menjadi medan perang yang luas, tidak terkotak – kotak garis demarkasi Van Mook, dan mengakibatkan tentara Belanda dipaksa menggelar dan memecah semua pasukannya ke kelompok – kelompok kecil di semua kota dan mengamankan jalur-jalur distribusinya.

Konsekwensi dari Perintah ini pertama adalah, Divisi Siliwangi tidak ikut mempertahankan Jogja meski ada serangan dari Belanda serta telah diminta Letkol Soeharto untuk ikut mempertahankan Jogja dan memilih kembali ke Jawa Barat membangun basis gerilya di sana.  Yang kedua adalah, TNI diperintahkan untuk tidak mempertahankan mati-matian suatu wilayah. Perang dengan gaya hit & run yang dilakukan. Jika kekuatan musuh kecil maka diserang. Jika besar maka lakukan bumi hangus obyek vital dan penghambatan untuk memberi kesempatan di garis belakang untuk mundur bergerilya. Perintah ini sudah diketahui karena sudah disosialisasikan beberapa hari sebelumnya dan juga karena disiarkan RRI Jogja pada pagi 19 Desember 1948. Jadi tidak ada perintah untuk mempertahankan Jogja secara mati-matian meskipun yang bertanggungjawab atas Jogja bukan Letkol Soeharto ataupun Letkol Latief .

Skenario jika terjadi serangan adalah penghambatan untuk memberikan ruang dan waktu pada pemimpin republik di Jogja bergerilya karena skenario penyelamatan dan gerilya presiden dan Panglima Besar telah disiapkan sebelumnya meski kemudian Presiden memilih tetap tinggal di Jogja dan hanya Panglima Besar yang berangkat bergerilya.

Tulisan dengan judul di atas akan dapat dengan mudah kita jumpai di banyak situs yang sepertinya hanya karena tertarik kemudian meng-copy paste tanpa menyebutkan diambil darimana dan yang parah tanpa mengetahui valid tidaknya isi tulisan tersebut.

Kemudian juga ada lagi tulisan tentang gugurnya Gubernur Suryo dalam Pemberontakan PKI Madiun. Tulisan tersebut dapat ditemukan misalnya di http://www.asal-usul.com/2009/03/peristiwa-dulu-pemberontakan-pki-madiun.html. Dalam salah satu bagiannya ditulis :

Tanggal 10 September 1948, mobil Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo (RM Suryo) dan mobil 2 perwira polisi dicegat massa pengikut PKI di Ngawi. Ketiga orang tersebut dibunuh dan mayatnya dibuang di dalam hutan.

Dalam buku Yogyakarta 19 Desember 1948 karya Himawan Soetanto, disebutkan bahwa Gubernur Suryo gugur saat mobil yang ditumpanginya dicegat oleh pelarian PKI yang bergerak ke utara dari Madiun – Ngawi kemudian masuk Blora. Peristiwa ini terjadi setelah PKI Madiun mengumumkan pemberontakannya tanggal 18 September 1948 yang kemudian Kota Madiun diserang dari dua arah, Siliwangi dari barat dan Brawijaya dari timur.  Karena Madiun telah jatuh maka pemimpin PKI ini kemudian melarikan diri mulai ke arah selatan Ponorogo, Pacitan sampai kemudian balik lagi ke utara ke Magetan, Ngawi dan di sinilah terjadi penyegatan rombongan Gubernur Suryo.  Peristiwa itu terjadi tanggal 9 November 1948. 3 tahun sebelumnya Gubernur Suryo dengan gagah berani membalas ultimatum Inggris di Surabaya. Jadi jelas peristiwanya terjadi setelah 18 September 1948. Hal ini juga dapat ditemukan di web Kodam V Brawijaya http://kodam5-brawijaya.info/index.php/profile/satuan/14-profile-rem-081/70-dim-0805

Seperti lazimnya berita hoax dan email spam maka selayaknya kita juga kritis terhadap informasi yang juga memiliki sifat-sifat seperti hoax dan spam yang beredar di internet untuk tidak ditelan mentah – mentah. Rasa lapar ingin tahu harusnya tidak dilampiaskan dengan melahap mentah – mentah semua informasi yang ada.

Aira, 01032011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: