Oleh: ekoyw | Juli 13, 2011

Surabaya…

Menurut sebuah survei, Surabaya menduduki peringkat ketiga setelah Jogja dan Semarang sebagai kota yang nyaman bagi penduduknya, sementara Palembang setara dengan Jakarta. Demikian bunyi diskusi pagi, 29  Mei 2011 kemarin di radio Suara Surabaya FM yang aku dengarkan dalam perjalanan ke Bandara Juanda, Surabaya. Berbagai komentar pun muncul dari pendengar radio SSFM ini.

Berikut salah satu link yang membahas peringkat kota ternyaman ini. Klik disini.

Mungkin banyak yang tidak setuju karena Surabaya selalu identik dengan kota yang panas dan rakyatnya yang sering bicara kasar. Image ini semakin klop dengan tingkah polah bonek yang hampir selalu menjadi ‘musuh’ jika sedang keluar kota. Belum lagi sebagai kota terbesar kedua di negeri ini, Surabaya tentu tidak terlalu beda jauh keruwetannya dengan Jakarta. Benarkah ???

Hampir 12 tahun, sejak 1995 – 2007 aku tinggal di kota ini. Panas? tentu!!! Karena kota ini adalah kota pelabuhan di pantura yang tentu panasnya menyengat. Bicara kasar??? Nanti dulu…

Kosa kata bahasa Suroboyoan memang lengkap. Hampir semua makian dalam bahasa Inggris ada padanannya dalam bahasa Suroboyoan, yang mungkin di Bahasa Indonesia sendiri tidak ada padanannya. Makanya, sering arek Suroboyo ini mentalnya kuat. Kalau ketika di luar daerah hanya dimaki dalam dengan kata-kata ‘binatang’ saja mereka hanya nyengir cengengesan karena di kota sendiri itu terlalu biasa di dengar.

Tetapi menghubungkan ungkapan makian atau kata kasar tadi dengan sifat kasar atau pemarah juga tidak sepenuhnya tepat. Arek Suroboyo terlalu sering memakai kata-kata kasar ini. Sehingga bahkan ketika menyapa teman, memuji sebuah keindahan, berdecak kagum, ngobrol biasa, meledek teman dan lain – lain pun kata – kata kasar ini yang digunakan. Sehingga belum tentu arek Suroboyo berkata kasar maka saat itu dia sedang marah atau karena sifatnya kasar. Tinggal lihat saja, kalau sambil melotot dan membentak…. yaaa lari lah. Tapi kalo sambil nyengir dan cengengesan…. monggo silahkan dibales ngledek yang bersangkutan.

Kalau kesimpulanku, soal kata – kata kasar ini, bukan berarti Arek Suroboyo sifatnya kasar. Tetapi yaa karena kurangnya kosa kata yang halus di Suroboyo. Jika di daerah lain di Jawa, masih ada tingkatan berbahasa Jawa Ngoko sampai Kromo maka di Surabaya hal itu sulit ditemui. Kalau bicara halus yaa cuma bahasa ngoko yang disampaikan dengan nada yang lembut. Jadi jangan heran kalau di Surabaya banyak anak yang tidak bisa berbahasa kromo dengan orang tuanya sebagaimana lazimnya orang Jawa.

Soal sifat, rasanya tidak tepat mengatakan Arek Suroboyo kasar-kasar. Intinya kalau anda sopan akan kami hormati. Misalnya, jika anda menanyakan alamat ke tukang becak, tolong dong turun dulu dari sepeda motor anda dan tanya baik – baik serta berikan senyuman dan ucapan terima kasih yang tulus. Maka Insya Allah tukang becak itu akan sungguh – sungguh menunjukkan alamat yang anda tanyakan.

Kebersamaan??? Aku menyelesaikan sekolah di salah satu SMA yang termasuk SMA Kompleks Jl. Wijaya Kusuma Surabaya. SMA Kompleks ini boleh dibilang adalah salah satu SMA Favorit di Surabaya. Boleh dibilang banyak sekali anak – anak pejabat, bukannya tingkat Surabaya tetapi juga Jatim, yang sekolah di SMA ini. Meski demikian juga banyak anak – anak dari kalangan biasa yang sekolah di sini. Boleh dibilang lengkap… dari anak gedongan sampai yang tinggal di pinggir rel – rel kereta api. Dari kopral sampai anak Jenderal.

Yang aku salut sama teman-temanku adalah tidak memandang rendah teman-teman yang lain. Ngajak mampir, ngajak ikut dengan mobilnya jika ada suatu acara sekolah dan kita tidak ada kendaraan, mau bergaul dan cangkrukan bareng-bareng. Tidak ada perbedaan….

Bagaimana dengan masyarakat yang lain? Juga sama. Mereka dengan ringan tangan akan membantu kita jika tertimpa musibah. Arek Suroboyo adalah orang – orang dengan sifat terbuka dan blak-blak an yang membuka tangan selebar-lebarnya untuk menerima orang lain dari luar daerah menjadi teman cangkruk dan saling ledek antara mereka.

Mungkin inilah sebabnya maka hampir tidak pernah terjadi peristiwa tawuran antar sekolahan, kampus bahkan antar kampung yang sering ngetren di Ibukota negera ini. Lha mau tawuran antar sekolahan gimana, lha wong lawan tawuran ternyata teman main di kampung.Aku pernah waktu masih mahasiswa baru dicoba ‘diadu’ dengan jurusan lain dengan dipisahkan sungai kecil. Lha mau tawuran gimana, lha wong di seberang sana banyak teman SMA dan kami malah saling tunjuk sambil tertawa ngakak mengikuti ‘skenario’ senior… hehehe.

Jika tahun 1998, Jakarta dan Solo yang konon orangnya kalem terperosok ke kerusuhan  maka Surabaya yang katanya orangnya keras-keras malah adem ayem.

Untuk kebiasaan saling ledek ini memang di Surabaya  ‘keterlaluan’.  Yang tahu batasnya mana yang boleh diejek dan tidak adalah mereka sendiri. Di luar itu, mereka bisa saling ledek sambil tertawa ngakak ketika lawan bicaranya tidak bisa membalas ledekannya.

Kesimpulannya adalah memang, orang Surabaya tidak atau hanya sedikit memiliki kosa kata bahasa halus jadi jangan heran dan mudah tersinggu jika banyak kata kasar yang sering terucap. Yang jelas itu bukan menggambarkan sifat mereka sesungguhnya. Kemudian, rasa kekeluargaan, kebersamaan dan gotong royong warganya masih bisa dibilang kuat untuk ukuran kota besar. Sehingga jangan takut dan segan untuk bertandang dan menjadi warga Surabaya.


Responses

  1. huwaaaaaa jd kangen Suroboyo.. adoooh nek dibanding Jkt, saiki aq wes ngerasakno dw luwih enak nang Sby, luwih nyaman nang Sby, luwih ramahan wong Sby n pastine ora macett.. pokoke target pindah nang Sby, nang Jkt 2-3 thn ae ga usah suwi2… #tp nek jodohku kerjo nang jkt piye?? #galau #golek wong sby ae wes😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: