Oleh: ekoyw | Agustus 12, 2011

Inlander….

Semuanya berawal dari dunia informasi, yakni TV dan internet. Beberapa minggu terakhir, setidaknya ada 3 peristiwa yang membuatku seneng karena negara ini diperhatikan oleh dunia Barat.

Peristiwa pertama dari TV. Karena satu dan lain hal, antena parabola di rumah harus berbagi sehingga beberapa siaran hilang. Agar kembali ‘normal’ akhirnya kami sekeluarga putuskan membeli receiver parabola yang bisa menikmati layanan TV berbayar. Nah… suatu malam di channel National Geographic Advendture menyiarkan acara petualangan By Any Means yang menceritakan perjalanan Charley Boorman dari Dublin, Irlandia sampai Sydney, Australia.  Begitu terdengar Sydney, dan saat siaran itu sudah sampai di India, maka yang terbayang adalah tentu akan lewat Indonesia. Tapi ternyata perkiraan ruteku salah. Ternyata dari India, malah muter ke Nepal dan kemudian naik pesawat ke China, sebelum kemudian menyusuri Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura dan akhirnya masuk Indonesia.

Rasa surprise pun ada di dada meskipun rute yang diambil terbilang tidak lazim, yakni dari Batam ke Pontianak kemudian naik pesawat ke Bali dan menyusuri Nusa Tenggara sampai Timor Leste. Sebetulnya Indonesia dibahas hanya sekilas sama seperti ketika lewat Malaysia dan Singapura. Mungkin karena dianggap negara maju kali yee… hehehehe.

Peristiwa kedua dari internet sekitar 3 hari yang lalu. Dari iseng – iseng, akhirnya nyasar dan ketemu info ternyata ada marinir Amerika (USMC) yang tewas di Fallujah Irak dan ternyata keturunan Jawa. Namanya Lance Corporal Harry Agung Basudewo. Cerita Kopral Harry ini pun dimuat di blog seorang marinir USMC berdarah Indonesia yang lain yang pertama kali bertemu Harry masih berpangkat kapten dan sekarang berpangkat Kolonel bernama Kolonel Humphrey Samosir. Banyak hal yang diungkapkan kolonel ini di blognya, mulai perjalanan hidupnya sampai menanggapi tulisan di eramuslim tentang perang di Afghanistan dimana sang kolonel berpendapat bahwa AS tidak bermaksud mengalahkan atau melenyapkan Taliban tetapi hanya melemahkan dan menyudutkannya. Yuup…. mungkin itu jawaban dari seorang perwira militer yang tentu menjawab dari sisi taktik dan strategi perang. Tetapi mungkin lain juga juga jawaban yang akan kita dapatkan dari orang politik, misalnya dalam lingkaran dalam Presiden Bush sendiri yang menyulut kedua perang itu. Adakah perang tanpa tujuan politik?

Rasa campur aduk pun terasa di dada, antara bangga ada orang berdarah Indonesia di USMC dan juga sikapku yang anti terhadap perang Amerika di Irak dan Afghanistan. Selesai membaca blog itu, pertanyaan konyol pun muncul. Sebetulnya, dengan tidak mengurangi rasa hormat, apa istimewanya Kopral Harry dan Kolonel Samosir dibanding misalnya jaman dulu ada beribu pemuda Indonesia yang masuk KNIL dan sebagian malah memerangi bangsanya sendiri atau juga beberapa pemuda Indonesia yang bergabung dengan angkatan perang negara lain saat PD II berkecamuk? Dengan kata lain, ini bukan hal yang baru.

Peristiwa terakhir terjadi malam tadi.  Kembali dari National Geographic Adventure, terdapat acara Ultimate Traveller. Acara ini mengisahkan 6 orang pemuda dari Inggris miskin petualangan yang bertualang di Indonesia. Perjalanan di mulai dari Jakarta, terus ke Bandung, Jogja – Solo Bali sampai kemudian berakhir di Lombok demi hadiah 10 rb pounds. Beragam keunikan pun terjadi dalam acara itu. Mulai pakai topi petani sampai makan sate kobra di Solo.

Entahlah, kadang aku merasa ada ‘rasa’ tersendiri saat bangsa dan negara ini diliput negara lain. ‘Rasa’ itu campur aduk mengetahui negara ini ‘dilihat’ dan diakui negara lain. Dalam sisi lain tentu ada positifnya yakni mengangkat negara ini sejajar dengan negara lain. Tetapi di sisi lain, jika rasa ini tidak dikelola, malah yang muncul adalah sifat seperti Inlander. Sifat seorang pribumi yang tergopoh-gopoh, terheran-heran dan terkagum-kagum kepada sesuatu yang datang dari luar. Yang akhirnya bisa menyembulkan rasa bahwa yang dari luar mesti lebih bagus. Bahwa setiap bule mesti lebih berkualitas dari pribumi. Suatu pendapat yang konyol yang entah mengapa, menurutku, masih sangat menjangkit di negeri ini. Mulai dari para pejabatnya yang Inlander ketika bernegoisasi dengan orang luar saat mengelola kekayaan negeri ini sampai para pengusaha yang menggaji lebih para bule daripada pekerja lokal yang juga tidak kalah berkualitas.

Yaaa…. hampir 66 tahun negara ini merdeka tetapi sifat gampang ‘nggumun’ dan berujung jadi ‘inlander’ dan merasa inferior ini ketika berhadapan dengan orang luar, terutama bule, masih menjangkit di negeri ini.

Inlander-kah anda??

12082011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: