Oleh: ekoyw | November 13, 2011

Lubuk Linggau

Kota ini terletak di bagian barat Sumatera Selatan berbatasan langsung dengan Bengkulu. Konon merupakan kota terbesar kedua setelah Palembang, meskipun menurutku sekelas dengan kota kabupaten biasa di Jawa. Hanya bentuk kota ini memanjang sepanjang jalan utama yang melintasi kota ini. Memanjang dari timur ke barat sekitar 20 km. Terlihat besar memang, tapi yaa itu, pemukimannya yaa kebanyakan di kanan kiri sepanjang jalan itu dan di belakang pemukiman tersebut masih berupa kebun karet warga. Ada beberapa jalan masuk tetapi tidak panjang sebagaiman jalan – jalan masuk layaknya kota besar dan sekedar jalan penghubung dari rumah ke jalan raya. Praktis jalan lintas utama ini lah yang menjadi sumbu utama pergerakan masyarakatnya.

Nama resmi kota ini pun Lubuklinggau, kedua kata digabung, bukan Lubuk Linggau. Entahlah, apa bedanya penamaan ini dengan misalnya Lubuk Pakam, Lubuk Basung atau nama awalan muara seperti Muara Enim yang semuanya ditulis terpisah.

Salah Satu Sudut Lubuk Linggau berlatar Peg. Bukit Barisan

Kota ini awalnya adalah ibukota kabupaten Musi Rawas yang kemudian memekarkan diri menjadi kota tersendiri. Pemekaran itu pun sampai sekarang masih menyisakan sejumlah masalah aset, seperti terminal, bandara dan rumah sakit yang masih diklaim milik kabupaten meskipun berada di wilayah kota. Anehnya, yang terlihat bukan usaha join operation aset yang telah ada untuk dioptimalkan dan dimanfaatkan bersama seperti contoh Terminal Bungurasih di Waru, Sidoarjo. Tetapi malah seperti saling berebut aset demi PAD. Ketika terminal di Simpang Priuk masih dikelola kabupaten, maka pemkot pun membangun terminal di petanang dan sayangnya kedua terminal ini sama-sama sepi peminat. Kedua terminal ini lebih berfungsi sebagai pos Dishub untuk menarik retribusi dari bis dan truk yang lebih banyak sekedar lewat daripada masuk dan singgah ke terminal untuk mencari penumpang.

Soal rebutan aset ini mirip dengan rebutan batas wilayah misalnya antara Musi Rawas dan Musi Banyuasin di daerah Suban dan Musi Rawas dan Sarolangun Jambi. Masalah di Suban juga bersumber dari kekayaan alam, yakni migas. Dengan contoh blok migas Cepu yang sahamnya dimiliki baik Jatim maupun Jateng serta Bojonegoro dan Blora, seharusnya masalah seperti ini tidak perlu berkelanjutan.

Lubuk Linggau sendiri sebenarnya kota yang cukup menyenangkan ditinggali bagi pendatang. Perekonomian dan kesempatan usaha masih banyak terbuka lebar karena salah satu sebabnya kota ini terletak cukup jauh dengan kota – kota tetangganya. Kota terdekat, Curup dan Tebing Tinggi, berjarak sekitar 60 – 70 km. Dengan Palembang malah sekitar 300 km. Tidak heran kota ini menjadi tujuan terdekat bagi daerah – daerah sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Salah satu hambatan utama di kota ini adalah masalah keamanan, baik di dalam maupun di luar kota. Di luar kota, terdapat beberapa daerah yang rawan tindak kejahatan yang membuat misalnya pendatang, enggan untuk sekedar jalan – jalan naik motor sendirian. Ke arah Curup, terdapat daerah antara Padang Ulak Tanding dan Kepala Curup yang sering terjadi perampasan/penjambretan sepeda motor. Sedangkan ke arah Muara Rupit/Jambi, dikenal rawan dengan ‘ranjau darat’ disamping perampasan sepeda motor. Demikian pula dengan ke arah Tebing Tinggi. Yang lumayan aman adalah arah ke Sekayu yang relatif  jarang terjadi tindak kejahatan.

Bagaimana dengan dalam kota? Tindak kejahatan pun masih kerap menghiasi media lokal, mulai dari penjambretan, perampasan sepeda motor sampai ada pencurian genset di tengah hari bolong. Masalah keamanan ini, baik di dalam maupun luar kota, menjadi PR jika kota ini ingin menjadi kota yang ramah bagi penduduknya dan akan menarik investor dan pendatang di kota ini karena sebetulnya kota ini nyaman ditinggali dengan lokasi yang dekat pegunungan Bukit Barisan membuat cuaca kota ini tidak terlalu panas/dingin dan air bersih melimpah ruah dimana – mana.

Bagaimana dengan obyek wisata? Secara resmi, kota ini memiliki obyek wisata Watervang, sebuah bendungan kecil peninggalan Belanda dan air terjun Temam. Sayang, kedua tempat ini tidak layak dijadikan obyek wisata karena kurang terkelola. Watervang misalnya, tidak lebih hanya sebuah bendungan irigasi biasa yang kotor dan minim fasilitas. Mungkin mirip dengan Tanjung Kodok di Lamongan yang sampai awal tahun 2000-an juga tidak terkelola maksimal oleh Pemda. Namun ketika dikelola swasta dan menjadi Wisata Bahari Lamongan, maka  obyek wisata ini pun menjadi terkenal.

Watervang

Soal lalu lintas, entah kenapa, seringkali terjadi peristiwa kecelakaan di jalan lintas yang merupakan jalan raya satu-satunya yang membelah kota ini. Dan paling sering adalah sepeda motor. Di sini, pengemudi sepeda motor masih banyak memiliki kebiasaan mengemudi menantang arus dengan terus berjalan di pinggir jalan sampai akhirnya pindah ke jalur yang benar ketika kondisi jalan sudah aman dilewati. Atau lihatlah masih sering ditemui bersepeda motor berjajar dua. Kemudian komentar para tamu, misalnya dari Jakarta, hampir sama, yakni harga kampas rem sepeda motor di kota ini mahal. Suatu sindiran karena sering ngebutnya kendaraan beroda dua di jalanan kota ini.

Tentang fasilitas umum. Hampir semua bank nasional membuka cabang di kota ini, baik yang konvensional maupun syariah. Bahkan perusahaan leasing juga banyak bertebaran membuka kantor di kota ini, baik yang telah dikenal luas secara nasional maupun yang sama sekali asing. Ini membuktikan bahwa perputaran uang di kota ini dalam jumlah besar.

Di sisi telekomunikasi, ketiga operator seluler membuka kantor di kota ini, termasuk juga dari Telkom. Jaringan kabel serat optik juga telah digelar ini karena letak strategis kota ini yang menghubungkan Palembang dan Bengkulu. Terdapat sekitar 2-3 stasiun pemancar radio FM. Cukup sedikit bagi pendatang dari kota besar atau Jawa yang terbiasa mendengarkan banyak siaran radio. Meski demikian, siarannya cukup beragam, mulai dari acara dangdut, kesenian Melayu, Padang sampai Campur Sari Jawa juga ada. Terdapat juga satu siaran TV swasta lokal yang sepertinya masih sangat amatir. Di kota ini, kita harus menggunakan parabola jika ingin menonton siaran TV Swasta nasional. Hanya TVRI yang memiliki stasiun relay di kota ini. Hampir setiap rumah memilik parabola, baik untuk menonton siaran TV gratisan via satelit (Free to air) sampai parabola teleivisi berbayar. Soal TV ini, sering terjadi kekecewaan bagi warga kota ini karena seringnya siaran via parabola diacak sehingga tidak dapat dinikmati, seperti saat Piala Dunia 2011 sampai Thomas-Uber Cup.

Kendala untuk menikmati fasilitas tersebut di kota ini hanya satu, yakni ketersediaan listrik. Entah kenapa, PLN di kota ini bisa dibilang payah karena seringnya pemadaman. Baik pemadaman yang telah dijadwalkan dan diumumkan maupun yang tidak. Pemadamannya pun tidak tanggung-tanggung, rata-rata 8 jam dari pukul 08:00 – 16:00 bahkan pernah sampai hampir 48 jam yang konon karena masalah di Gardu Induk. Tidak heran, kantor PLN di kota ini menjadi salah satu instansi layanan publik yang paling sering didemo warga karena seringnya pemadaman listrik. Demo terakhir oleh mahasiswa sempat diwarnai aksi bakar ban di depan kantor PLN ini. Sebetulnya hal ini agak ironi dibanding dengan Kab Rejang Lebong, beribukota di Curup, yang menjadi tetangganya. Di Curup, boleh dibilang jarang terjadi pemadaman listrik dan jika ada juga tidak dalam jangka waktu yang lama. Di Curup ini terdapat satu PLTA yang memanfaatkan hulu sungai Musi yang seharusnya juga bisa dinikmati oleh Lubuk Linggau.

Demikian juga ketersediaan BBM. Di kota ini terdapat 4 SPBU dan hampir setiap hari mendapatkan kiriman BBM dari Palembang. Namun masih terlalu sering ditemui antrian BBM mengular di setiap SPBU dan menyebabkan harga eceran membumbung tinggi, bahkan pernah mencapai 15 rb/liter bensin. Banyak penyebabnya, mulai dari angkutan umum/warga yang mencari keuntungan sesaat, industri yang memakai BBM subsidi, sampai manajemen pengawasan SPBU yang tidak berjalan.

Cukup disayangkan, karena listrik dan BBM ini membuat biaya tinggi di kota ini. Investor harus mengeluarkan biaya lebih untuk pembelian genset dan BBM untuk menjalankan usahanya. Warga juga harus memiliki genset tersendiri jika ingin pasokan listriknya aman dan juga harus menyimpan BBM untuk keperluannya. Biaya tinggi ini juga, disamping distribusi barang yang lumayan jauh untuk mencapai kota ini, membuat barang-barang relatif lebih mahal bahkan dibanding kota Jakarta. Harga Nasi Padang berlauk telur dadar saja mencapai 9 rb/porsi, belum barang-barang kebutuhan lainnya.

Menurutku, kota ini masih kota kecil dalam artian seharusnya mulai dibenahi dan ditata ulang bagi infrastruktur maupun masyarakatnya sebelum benar-benar menjadi kota besar. Misalnya, pembuatan separator pemisah lajur sepanjang jalan lintas untuk meminimalisir pengemudi yang sering menantang arus. Pemangku kekuasaan juga selayaknya tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata jika pada akhirnya aset fisik tersebut lebih banyak tidak berfungsinya. Masih banyak PR yang harus dikerjakan sehingga kota ini layak disebut kota terbesar kedua di Sumatera Selatan bukan hanya dari segi ukuran fisik semata.


Responses

  1. Sebagai putra Musi rawas saya bangga dengan kotaku Lubuk Linggau, kota yang menempah diriku mulai dari SD Negeri 1, PGA IV tahun di megang hingga menjadi Engineer di perusahaan pswt terbang. Banyak kenangan indah rentang kurun waktu 70-an, radio satu satunya Bayangkara, bioskop satunya di tlg jawa dengan film india wah hmm sungguh mengesankan. Ir Frans Syukri Djunaidi Syahrial Rawas MM, Gempolsari Indah 45 bandung

    • Wah, kebalikan dengan saya pak. Saya sudah 5 tahun ditugaskan di daerah ini. Bioskop dan radio itu sudah tidak ada.
      Sebenarnya Linggau kota yang nyaman, hanya masalah keamanan, lalu lintas, tata kota yang harus terus dibenahi karena kota ini semakin besar.

      • Emang kalo sekarang beda dengan era saya tahun 1970 s/d 80-an dik Eko, Bioskop seroja di talang jawa merupakan bioskop top kelas satu zaman soekarno hingga soeharto dan bioskop lainnya berjamur tumbuh sesuai dengan perkembangan zaman, sebut saja bisokop musi dll, radio swasta juga bermunculan mulai radio bayangkara (era soekarno) hingga radio swasta yang lain. Tapi perkembangan zaman dimana tersedia compact disc, VCD, DVD membuat bisokop gulung tikar laen dengan di Bandung, bioskop kayak King, Queen dll masih bertahan untuk menayangkan film kelas satu. Saya sepakat dengan anda masalah keamanan jauh benar berubah, perampokan baik spd motor maupun mobi , pemalakan, terutama daerah saya Muara Rupit, mulai masuk embacang, Taj beringin, Noman, Batu gajah
        hingga maur dan beringin rupit belum lagi Rupit utara sebut saja, Karang anyar, kr waru, remban dan lesung batu sungguh rawan baik siang maupun malam.Kalo ingat zaman dulu (1971 s/d 1980) saya pernah dik naik spd motor sendiri dengan menggunakan jalan lama (bukan trans sumatera) yang memakan waktu 3-4 jam dari Lb Linggau ke Muara Rupit alhamdulillah aman dan tanpa sesuatu apapun.Sekarang baik di manapun di jawa barat, jawa tengah, jw timur dan DKI juga tingkat kerawanan keamanan meningkat….. sungguh memiriskan hati kita…… apakah ini yang bisa dipetik era reformasi? …. Politik ? Keamanan ? dan ekonomi ? semua berbeda dan berubah dan ada something wrong di negeri kita ini. Salam.

      • sepakat juga dengan anda mengenai lalulintas yang semerawut, kota tidak tertata dengan baik, saya kalo bawa mobil pribadi dari Bandung kebetulan mudik lebaran pulang ke Muara Rupit gak nyaman kalo maen belanja ajak anak anak ke lubuk linggau, seharusnya walkot dan bupati Ridwan Mukti harus punya master plan atau road map apaun istilahnya untuk mulai melakukan re-strutrukrisasi dan revitalisasi semua fasilitas umum maupun jalan. Kalo anda maen dari talang ajwa ke stasiun kereta lewat jln sudirman dekar toko obat Medika coba lihat kumuhnya pasar rakyat, serta angkot-angkot (kalau istilah sana Taxi) yang simpang siur gak disiplin diperparah sampah berserakan sana sini. Jadi bukan berebut lahan terminal bus dan taxi antara pemkot dgn Pemda. Masalah PLN itu cerita lama, saya sudah bosen nulis surat rubrik ke Linggau Pos gak pernah dimuat (mungkin gak berani ya) dan yang pernah memuat tulisan saya cuma sripo dan sumex mengenai PLN Muara Rupit sampe sekarang kadang hidup kadang mati……….. moso ngurus PLN sejak dulu gak pernah beres ? kalau pemilu wah semua balon walkot dan Cabup pada janji dengan meyakinkan ….. termasuk maaf mister Ridwan Mukti. Mengenai Muratara saja terkesan tarik ulur ini apresiasi rakyat Rawas yang sudah jenuh dan muak dengan Kab Musi Rawas dimana tanah kelahiran saya cuma jadi sapi perahan untuk mengembul Pendapatan Daerah Kab Mu-Ra sementara Muara Rupit dan sekitarnya gak pernah diurus dengan baik…….. pokok eh pusing memikirkan tanah kelahiran saya baik Lubuklinggau maupun Muara Rupit….. kadang saya mikir apakah saya perlu turun gunung ? salam Frans SD Syahrial Van Bandung Mohon maaf tulisan saya gak teratur, lagi sempatin diwaktu istirahat ditengah over load pekerjaan ” aircraft engines maintenance & services”, sementara badan lemas karena shaum.

  2. betul…menurut saya lubuklinggau msh tergolong ketinggalan jaman,seharusnya kota ini setidaknya terdapat 5 stasiun relay tv swasta nasional,hingga masyarakat tidak lagi menggunakan parabola+receiver satelit yg layananya bnyk mengecewakan,berbeda dg di jawa yg kota kecil saja sudah terjangkau lebih dari 10 stasiun tv swasta.

    • Menurut saya, masalah stasiun relay di Lubuk Linggau itu hanya masalah bisnis saja. Secara umum, kerapatan penduduk atau jarak antar kota di Sumatera lebih jarang dibanding di Jawa. Misal, 80 km dari Lubuk Linggau hanya sampai Muara Rupit dengan kota – kota kecamatan yang kecil. Tetapi jarak 80 km itu hampir sama dengan jarak Jogja – Solo atau Surabaya – Jombang atau Surabaya – Malang yang melewati beberapa kota kabupaten.
      Maklum, bagaimanapun juga TV adalah hitungan bisnis. Makanya hanya TVRI saja yang berani masuk ke Lubuk Linggau.

  3. sebagai Putra daerah Lubuklinggau, saya bangga dengan kota kelahiran saya, yang tidak bangga karena keamanannya. miris kondisi disana, kalo perkembangannya saya acungkan jempol.2 tahun lalu saya pulang dengan pesawat nya, sayang hanya sementara kara aturan birokrasi dan tilap keuangan peswat tujuan lubuklinggau sudah tidak berjalan, padahal prospek nya bagus.juga kawasan kota pendukung nya yang dijelaskan,sungguh dari ke tahun tidak ada perubahan, tetap rawan keamanan? sampai kapan kota pendukungnya bsa sama sama akur dalam soal keamanan. dan satu hal susah nya masuk investor masuk ke lubuklinggau, untuk deatil bisa tanya langsung ke penanaman modal daerah..birokrasi nya berbelit..mudah-mudahan lubuklinggau bisa tampil menjadi kota sekelas palembang, SDA banyak. SDM nya juga banyak, sayang SDM nya hampir rata rata ada diluar kota lubuklinggau.lebih memilih bekerja dan buka usaha diluar kota kelahirannya😦.

  4. gimana cara memasang visitor di blog ya, makasih atas bantuannya

    • Tinggal drag aja dari theme-nya.

  5. wong linggau, wang kite galeee.. hhhhe

  6. Sekarang lubuklinggau beda sama yang dulu,,Lubuklingga Kota Modern sekarang,,buat kalian yang sudah setahun meninggalkan Lubuklinggau,jangan kaget melihat pesatnya pembangunan Kota Lubuklinggau sekarang,,mau balik kesana lagi rasanya,,,:'(

  7. Salam kenal, kota masa kecil dulu. Saya sudah 23 tahun tak ke sana sedari tahun 1991 pulang kampung ke Jakarta. Silakan kunjung balik ke blog saya. Terima kasih.

  8. memang Kota-kota di Sumatera berbeda dengan di Jawa bukan cuma Lubuk Linggau. karena penduduk nya memang tidak sebanyak di Pulau Jawa karena jaraknya berjauhan satu sama lain. untuk masalah keamanan Pemda setempat harus mengatasi masalah ini.
    saran saya untuk Pemda coba belajar dengan negera tetangga Malaysia, disana penduduk nya sedikit tapi pembangunanya cukup baik dari Indonesia. silahkan ke Malaysia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: