Oleh: ekoyw | Januari 31, 2012

‘Pekerja Telekomunikasi’

Umurnya baru sekitar 19 tahun. Aku menemuinya saat mengunjungi sebuah tower seluler yang sedang dibangun. Dia nampak sibuk memberikan arahan ke bawahannya yang kebanyakan berusia jauh di atasnya. Yup, para pria yang rata-rata berusia lanjut yang sebagian diantaranya sudah berambut putih, yang selayaknya jadi bapak atau kakeknya, itu lah bawahannya.

Mandor ABG

Kami menjulukinya mandor ABG.  Di foto di atas, dia memakai topi biru sambil berkacak pinggang mendengarkan arahan supervisornya. Kata supervisornya, dia sudah sejak lama ikut pekerjaan pembangunan tower seluler. Mungkin sejak lulus SMP.

Para ‘Pekerja Telekomunikasi’ ini rata-rata didatangkan dari Jawa untuk mengerjakan berbagai proyek telekomunikasi. Dalam satu grup, mereka dipimpin oleh seorang mandor. Satu grup ini, biasanya berasal dari satu daerah yang sama. Sehingga tidak heran, ketika kita sampai di satu site, kita mendengar obrolan dalam bahasa Sunda, di site lain bahasa Banyumasan, dan di lain site bertemu dengan logat Jawa Timuran.

Iseng aku tanya sama supervisornya kenapa tidak memakai tenaga lokal. Jawabannya bermacam-macam, misalnya tenaga lokal yang cenderung lambat bekerja. Misalnya, datang jam 9 pagi, kemudian dhuhur istirahat sampai jam 2 dan pekerjaan selesai jam 4 sore. Tentu ini merepotkan kontraktor yang dikejar deadline pembangunan tower telekomunikasi.

Banyak suka duka para ‘pekerja telekomunikasi’ ini.  Mereka lah yang pertama ‘babat alas’ untuk infrastruktur telekomunikasi. Tidak jarang preman setempat meminta ‘jatah’ kepada mereka. Padahal mereka, hanyalah seorang kuli yang ikut mengais rezeki di kampung orang demi sesuap nasi untuk keluarga di kampung halaman.

Atau dengarlah cerita para penggali kabel Fiber Optik (FO). Pernah ketika mereka sedang enak menggali, tiba-tiba ada orang yang menodongkan parang sambil meminta mereka keluar dari lubang galian dan menghentikan pekerjaan sampai permintaan mereka terpenuhi. Para penggali kabel FO ini tidak jarang hanya tidur di pinggir-pinggir jalan, di tengah kebun atau di bawah pohon, sepanjang jalur pembangunan FO. Sama seperti pembangun tower, mereka juga rata-rata dari Jawa.

Supervisornya memberi tahu jika mereka dibayar tiap meter pekerjaan selesai. Jika sehari mereka bisa menanam FO sepanjang 15 meter maka mereka dibayar misalnya Rp. 150 rb sehari. Tidak heran supervisornya memberi tahuku bahwa tidak sedikit dari mereka yang memiliki rumah bagus di Jawa meski dirantau mereka seadanya.

Apakah mereka pernah membuat masalah? Beberapa kali aku temui kasus para pembangun tower meninggalkan utang ke warung-warung yang menjadi langganan mereka. Tapi menurutku itu lebih karena manajemen tim mereka yang tidak bagus.

Yup, itulah sisi lain dari ‘pekerja telekomunikasi’ yang tidak melulu harus dimonopoli oleh para insinyur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: