Oleh: ekoyw | Februari 8, 2012

The Power of Radio

Apa yang dirindukan perantau dengan kampung halamannya? Selain sanak keluarga dan makanan khasnya? Salah satunya adalah suasananya. Suasana ini bisa berarti logat kampung halaman, cara bertutur orang-orangnya, budaya dan sejenisnya yang mengendap di alam kenangan sang perantau.

Jika makanan masih bisa dicari dan mungkin ada yang jual di rantau, jika sanak keluarga masih bisa ditelpon dan dihubungi dari rantau maka untuk suasana ini memiliki kekhasan sendiri. Dia tidak bisa dibeli karena bukan materi dan dia juga tidak bisa diajak berkomunikasi karena juga bukan materi.

Inilah kekuatan radio. Meskipun TV juga sudah banyak TV lokal dengan nuansa kedaerahan yang kental dan bisa ditangkap siarannya dengan parabola satelit maupun internet tetapi masih terkesan ribet, mahal, tidak praktis. Hal ini lain dengan radio. Radio, bisa didengarkan melalui parabola satelit dan internet seperti halnya TV. Tetapi radio bisa lebih praktis. Karena hanya berupa suara maka, misalnya, radio tidak membutuhkan speed internet sebesar TV. Karena hanya butuh speed yang kecil pula, radio bahkan bisa dinikmati secara online lewat internet seluler sekelas EDGE melalui telepon seluler.

Dengan radio, perantau bisa mendengarkan siaran-siaran radio favorit kampung halamannya. Siaran wayang kulit tengah malam, Ludruk sampai banyolan ala ‘Trioburulu’ pun bisa dinikmati jauh, ribuan kilometer, dari stasiun radionya. Para perantaunya pun seolah dibawa angan dan khayalannya kembali ke kampung halamannya.

Saat saya tulis blog ini, lewat internet saya dengarkan siaran “Trioburulu” Radio Suzana online maka angan pun terbawa ke suasana Surabaya. Sebuah kota yang panas, tetapi penuh dengan orang blak-blakan bahkan ‘nyek-nyekan’.  Cara bertutur Arek-Arek Suroboyo, gaya bicaranya pun kembali muncul segar di ingatan sehingga seolah-olah kembali berada di Surabaya, berada di tengah-tengah rakyatnya, sambil angkat kaki cangkrukan di warung Gresikan. Meskipun nyatanya ribuan kilometer dari Kota Pahlawan itu.

Atau ketika mendengarkan siaran Suara Surabaya FM, baik lewat parabola maupun internet, maka bayangan akan panasnya dan ruwetnya lalu lintas Surabaya pun kembali muncul. Nama-nama jalan yang lama tidak disusuri juga kembali tampil sambil ingatan kembali menerka-nerka nama jalan tersebut terletak di kota sebelah mana. Rute-rute yang dulu biasa dilalui juga kembali melintas di kepala.

Atau ketika mendengarkan siaran wayang kulit di tengah malam sampai dini hari, ingatan pun kembali ke masa kecil ketika Bapak atau Kakek-kakek kita memutar RRI yang menyiarkan Wayang Kulit melalui radio transistor kecil yang diputar keras-keras sehingga membuat kita kecil saat itu menjadi sulit tertidur nyenyak.

Tidak heran, hal ini lah yang membuat misalnya banyak pertanyaan melalui “Mbah Google” yang bertanya link online radio Suzana, atau bahkan banyak tanya dan saling berbagi rekaman siaran acara favorit. Kerinduan terhadap suasana kampung halaman yang ditumpahkan dengan mendengarkan siaran radio kesayangan, dirasakan dapat menyegarkan pikiran para perantau.

Tetapi sayang, tidak semua stasiun radio menangkap peluang ini, menangkap peluang bahwa siaran radionya dapat ditangkap lebih jauh dari batasan gelombang radio yang bisa dipancarkannya. Masih sedikit stasiun radio yang bisa ditangkap dengan gratis melalui antena parabola satelit. Dari Surabaya, hanya Suara Surabaya FM yang bisa ditangkap. Padahal lewat satelit ini, bisa siaran radio bisa ditangkap gratis seluas area layanan Satelit.

Melalui online internet, hanya beberapa dan rata-rata stasiun radio yang besar yang memiliki website sendiri dan terdapat fasilitas radio streaming. Terdapat juga beberapa website yang menjadi “pengepul” radio streaming dari berbagai stasiun radio. Tetapi memiliki website sendiri, akan lebih memudahkan penggemar untuk mencari, berinteraksi dengan stasiun radio kesayangannya.

Lewat smartphone yang semakin murah dengan generasi Android, juga terdapat berbagai aplikasi radio online yang bisa menyiarkan radio dari berbagai penjuru dunia.

Jika TV Lokal sudah mulai berinteraksi dengan pemirsanya lewat telepon dan SMS karena pemirsanya melihat melalui parabola satelit maka ke depan, sangat mungkin teman kita di Jerman sedang request lagu dari stasiun radio di Indonesia. Atau para pendengarnya menjadi ‘pewarta berita’ dadakan melalui radio untuk menyiarkan peristiwa apa yang terjadi di tanah rantau.

Siapkah stasiun radio kita ????

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: