Oleh: ekoyw | Februari 26, 2012

Pembuat Peta

Jam di arlojiku menunjukkan pukul 13.10 saat kami mulai meninggalkan Muara Lakitan. Sebuah kota kecamatan kecil yang berbatasan dengan Kabupaten Musi Banyuasin. Sebuah jembatan panjang melintasi Sungai Musi yang terletak di pinggir kota kecil ini. Sebagai mana lazimnya nama muara di provinsi ini, berarti mengacu pada suatu sungai kecil yg bermuara ke sungai yang lebih besar. Dalam hal ini, sungai Lakitan bermuara di Sungai Musi.
Mobil yang kami tumpangi adalah sebuah Mitsubishi Strada berpenggerak 4 roda berwarna hitam. Mobil jenis 4WD ini sangat lazim ditemui di luar Jawa, terutama di daerah tambang dan perkebunan. Agus, memegang setir menggantikan Epi yang kini duduk di jok belakang yang letih setelah selama seminggu harus menempuh jalur off road.
“Gus, nanti di simpang Semeteh, kita belok kanan. Kayanya jalannya bagus. Harusnya di dalam banyak desa”, kataku ke Agus.
“Ya mas”.
Aku memang sudah punya rencana untuk survei daerah sekitar sini. Begitulah kami. Pekerjaan mencari daerah untuk new site atau untuk menentukan coverage dari existing site membuat kami seperti pembuat peta. Dan sebuah GPS Garmin 60 pun kini sudah mulai penuh dengan berbagai hasil tracking dan point. GPS itu pula yang kini berada di tanganku dan sudah aktifkan untuk tracking kali ini.
Agus membelokkan Strada hitam kami keluar dari jalan aspal mulus masuk ke jalanan dengan lapisan koral.
“Kalo jalannya kaya gini terus, enak juga mas,” seru Agus sambil mulai menginjak gas lebih dalam.
“Yup, kalo lihat jalan koral yang lancar dan ga ada kubangan kaya ini, berarti ada dua kemungkinan. Ada tambang atau pabrik di dalam, atau bisa juga beberapa kampung besar”, jawabku.
“Kalo lihat truk-truk tangki itu, sepertinya pabrik sawit di dalam mas”, kata Agus sambil menunjuk iring-iringan 4 truk tangki berwarna hijau yang berpapasan dengan kami. Memang, truk-truk itu biasa membawa CPO dari pabrik pengolahan sawit untuk diolah lebih lanjut.
“Atau cuman jalan ke kebun karet”, sambung Epi di belakang sambil menunjuk seorang bapak sambil membawa karet berbentuk kotak di sepeda motornya.
“Kalo yg itu kayanya bukan dari kebun. Tuh, ibunya pakaian rapi kaya gitu. Kaya mau kondangan”, balasku sambil menunjuk seorang bapak – ibu yang berboncengan.
Begitu lah, kami terus berdebat tentang apa yang akan ada di depan. Meski Agus dan Epi asli penduduk kabupaten ini, mereka juga awam dengan daerah ini. Kami kembali bersorak ketika kami berpapasan denga sebuah mobil avanza. Jika avanza saja bisa keluar dari jalan yang kiri kanan penuh dengan kebun karet liar ini maka tentu jalanan di depan kondisinya bagus, bukan off road.
Jalanan melintasi kebun karet liar ini semakin panjang ketika samar di depan tampak sebuah portal yang sedikit terbuka dan sebuah pos jaga. Semakin dekat tampak kebun sawit dibalik portal tersebut.
Setelah berbasa-basi dan minta ijin ke bapak penjaga berkaos security tersebut akhirnya kami diijinkan melintas masuk setelah lebih dahulu mencatat nopol mobil kami dan tidak lupa bapak tadi minta uang rokok.
Medan di depan kami sekarang berubah menjadi kelapa sawit semua. Kemanapun mata memandang hanya kelapa sawit dimana-mana.
“Di kebun kaya gini yang malah bikin bingung mas,” kata Agus. Yup, di kebun kelapa sawit dibuat berblok-blok yang menyebabkan banyaknya simpang empat di dalam kebun. Pohon yang seragam dan banyaknya simpang empat yang dilewati membuat orang baru akan gampang tersesat dan hanya mutar-mutar di dalam kebun jika salah mengambil jalan.
“Bisa buat rally nih jalan ini,” seruku ketika sekarang jalan berubah jalan tanah tetapi muljs dan banyaknya turunan dan tanjakan. Kami semua tertawa. Apalagi Agus semakin dalam menginjak gas. Benar – benar nengingatkan tahun 90 an saat Indonesia sering jadi tuan rumah rally dunia.
“Kapan keluarnya nih. Sawit melulu!” sambungku ketika sudah setengah jam lebih kami belum keluar dari kebun ini.
“Kalo di GPS, kita mengarah kemana, mas?”.
Aku lirik GPS yang dari tadi hanya merekam tracking saja karena tidak ada pemukiman atau obyek lain yang layak ditandai.
“Sebelah kiri kita ada desa Karya Sakti dan Marga Sakti. Sekitar 5 km jarak garis lurus dari sini. Kalo gak salah itu desa-desa Trans Juanda,” jawabku ke Agus.
“Kayanya mulai keluar mas”, tunjuk Epi ke depan.
Di depan, deretan karet mulai nampak. Berarti kami mulai keluar dari kebun sawit. Tapi apa yang nampak di depan??? Beberapa truk tampak berhenti.
“Kayanya ada yang nyangkut Mas. Pi, kamu kesana cek dan tanyakan jalan ini tembus ke sana”, Suruh Agus ke Epi.
Tak lama Epi telah kembali.
“Katanya jalan ini bisa tembus Megang Sakti mas. Tapi mereka ga tau desa apa saja yg akan dilewati. Truk itu nyangkut segini”, kata Epi sambil tangannya menunjuk ke pinggang.
“Lalu darimana avanza tadi? Kalo lewat sini kayanya bakal nyangkut di sini. Padahal sepanjang jalan di kebun sawit tadi, yaaa ini lah jalur yang paling baik,” tanyaku sendiri.
Tidak ada yang menjawab. Kami putuskan putar balik mencari jalan ke desa-desa di Trans Juanda yang berada di sisi kiri kami.
Sekarang benar-benar blank. Hanya GPS yang jadi pedoman kami. Jalan sawit yang kami lalui nampak sama. Hanya melihat GPS, mengamati jalanan kebun sawit mana yang ada jejak mobil dan feeling yang kami jadikan acuan harus berbelok kemana.
“Ada gerandong mas”, kata Agus.
Kami menganggukan kepala dan mengucap salam kepada bapak yg berdiri di samping gerandong.
Gerandong ini adalah mobil sejenis jeep seperti Daihatsu Hiline atau bahkan juga jeep yang telah dimodifikasi sehingga jok belakang menjadi seperti bak truk. Kebanyakan juga mobil 4WD. Fungsinya melangsir buah sawit dari dalam kebun keluar menuju truk yang telah menunggu. Entah mengapa dijuluki gerandong, mungkin karena kotornya, berkarat yang membuatnya menyandang sebutan anak angkat Mak Lampir itu.
“Wuuiihhh!” Seru Agus menunjuk kubangan jalan di depan. Kembali Epi turun mengecek lewat jalur mana. Ternyata bapak pengemudi gerandong tadi sudah di belakang kami.Beliau berjalan ke kami dan menganjurkan ambil lajur kanan karena kering dan dibawahnya banyak ditaruh kayu. Dari logatnya aku tahu bapak ini orwng Jawa meski memakai bahasa daerah sini. Sepertinya seorang transmigran.
Kami mengucapkan terima kasih. Persneling 4WD segera digerakkan Agus. Aku harap kali ini kami tidak salah ambil jalur dan kemudian nyangkut seperti yang kami alami puasa 2010 lalu.
Kami akhirnya keluar dari kubangan jalan tersebut.
Agus terus menginjak gas mobil hingga kami akhirnya keluar dari kebun sawit dan bertemu pertigaan jalan koral. Setelah melihat GPS, kami belok kanan menuju Desa Karya Sakti. Kami sudah mulai masuk daerah trans. Tujuan kami sekarang adalah Desa Beliti Jaya yang akan menjadi new site. Aku pertama kali survey dua desq ini tahun 2008 lalu. Tidak banyak yang berubah di sini. Hanya listrik sudah mulai masuk Beliti Jaya. Sebuah tower seluler juga telah berdiri di simpang jalan antara kedua desa ini tetapi entah mengapa saat itu tidak ada sinyal. Beberapa rumah juga di bangun di Karya Sakti. Seperti lazimnya daerah transmigrasi Jawa, tidak tampak rumah-rumah panggung. Beberapa mobil juga lalu lalang dijalanan desa trans ini, bahkan tidak jarang kendaraan sejenis Toyota Fortuner bahkan Land Cruiser keluar masuk desa trans menandakan kemakmuran yang mulai dirasakan setelah puluhan tahun berjuang.
Tanganku pun mulai aktif memberi tanda waypoint terhadap perumahan di desa-desa tersebut.
Kami akhirnya beristirahat dan makan bakso di Beliti Jaya.
“Kalo ke Tugu Sempurna masih jauh nggak mas?” tanyaku ke abang bakso dengan bahasa Jawa.
“Waduh, kurang tahu pak. Saya baru 5 hari sampai sini dari Cilacap”, Jawabnya.
Wow, jauh juga mas ini merantau sampai ke pedalaman ini. Siang itu sangat terik. Dari jauh terdengar uyon-uyon gending Jawa di putar dari warung seberang jalan.Aaaahhh…. Seperti sedang di Jawa saja.
Sebetulnya ada 2 jalan lain keluar dari Beliti Jaya, yakni off road ke Megang Sakti atau keluar ke jalan besar di Muara Kelingi. Tapi entah kenapa aku ingin mencoba jalur baru. Selesai makan, kembali kami menyusuri jalan. Desa Tugu Sempurna tujuan kami sekarang. Tanganku masih aktif merekam waypoint dan tracking sepanjang jalan lewat GPS.
Menurut kabar yang aku dapatkan, kata penduduk lebih dekat ke Tugu Sempurna daripada ke Karyasakti.
“Kayanya kita sampai di Bali nih”,kataku menunjuk sebuah pura yang tampak di kejauhan.
Ternyata Tugu Sempurna ini kebanyakan penduduknya transmigran dari Bali. Hal ini mudah dikenali dari tempat persembahyangan yang dibangun di depan rumah dengan ukiran khas Bali. Ada satu-dua yang nampak kasar ukirannya tetapi kebanyakan persembahyangan tersebut memiliki arsitektur Bali yang halus. Kami sering menyebutnya sebagai Kampung Bali. Dan Tugu Sempurna ini adalah kampung Bali keempat yg berhasil kami identifikasi di kabupaten ini.
Kami berputar-putar sebentar di kampung Bali ini. Selain agar tahu luas dan topografi Kampung ini, juga untuk menikmati arsitektur rumah yang jarang kami jumpai ini. Akhirnya kami temukan ujung jaringan listrik lengkap dengan 3 kabel fasanya. Kami putuskan untuk mengikuti kabel ini. Berdasarkan pengalaman, tiang listrik dengan 3 kabel fasa menunjukkan adanya pemukiman besar di depan atau sebaliknya bisa membawa keluar ke jalan besar. Tidak heran, selain kondisi jalan akses yang layak, keberadaan tiang listrik juga menjadi acuan akan adanya ‘kehidupan’ yang ramai di depan.
GPS kami terus mencatat hasil tracking dan waypoint yg aku simpan ketika sekitar pukul 15.30 akhirnya kami keluar ke jalan raya. Aku matikan GPS. Data telah terkumpul untuk area tadi. Tinggal diambil dari GPS untuk kemudian diolah lagi menjadi peta.
Kami kembali diam karena letih di akhir pekan itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: