Oleh: ekoyw | Maret 6, 2012

My Android

Setelah sempat hilang pada hari pertama Lebaran tahun lalu, akhirnya HP Android ‘kembali’ ke tanganku. Entahlah, dari dulu aku tidak tertarik dengan HP sejuta umat. Ketika jaman kuliah dan awal-awal kerja dulu orang-orang ramai-ramai pakai Nokia, aku malah memilih Siemens dengan alasan bisa di-oprek, dibuka developer menu-nya dan dengan harga yang murah, bisa mendapatkan teknologi yang sudah sesuai kebutuhan.

Demikian juga saat generasi smartphone sekarang. Di saat yang lain pada pilih blackberry, aku lebih melongok ke Android. Jujur, pernah tertarik juga melirik si BB sebelum kenal jauh dengan mbak Andro. Tetapi kemudian dengan tegas aku pun jatuh dalam pelukan mbak Andro. Alasannya pun kurang lebih sama ketika pilih Siemens dulu. Dengan harga berkisar 1-2 jutaan, sudah mendapatkan smartphone dengan beragam fitur, mulai GPS, Wifi, 3G, VPN, kamera, bahkan bisa bantu membuat kopi, merestart BTS, matikan lampu dan menjalankan mobil😀. Bandingkan, berapa kira-kira harga si BB untuk fitur standar seperti GPS, Wifi, 3G, VPN, kamera dengan harga mbak Andro dengan fitur yang sama?

Rasa nasionalisme pun meledak ketika akhir-akhir ini tahu jika si RIM lebih memilih Malaysia untuk jadi pabrik BB, India sebagai tempat server dan Singapura sebagai server aggregate-nya. Sementara Indonesia, seperti ungkapan para petinggi RIM, selalu dianggap memegang peranan penting di mata RIM, yakni sebagai tempat jualan dan menarik duit rakyat negeri ini !!!!

Bagaimana dengan mbak Andro? Dua HP Android yang pernah aku miliki, kebetulan sama-sama dari Samsung. Tapi dari sisi produksi, dua-duanya bukan made in Indonesia. Satu dibuat di China, dan terakhir di Vietnam. Oke, dari sisi produksi impas dengan BB. Dari sisi service, aku tidak usah capek-capek langganan bulanan ke RIM. Artinya duit yang dikeluarkan untuk layanan data yaa hanya muter ke operator seluler saja. Bahkan harusnya duit yang dibayarkan ke operator lebih besar daripada BB karena Android belum mengenal kompresi data seperti BB. Meskipun, ujung-ujungnya, belum ada operator yang 100% sahamnya dipegang oleh bumi putera.

Kembali lagi ke HPku. Jika para pemilik Android banyak yang bangga dengan kemampuan game-game di Android, entah mengapa aku tidak tertarik fitur itu. Yaa sebab dari dulu gak terlalu suka game yang ribet. Mending game perang dar-der-dor…. nembak asal-asalan dan selesai… hehehehe.

Mbak Andro keduaku, Samsung Galaxy Ace, akhirnya banyak aku install aplikasi-aplikasi yang berhubungan dengan pekerjaan. Misalnya untuk tracking GPS menggunakan peta offline. Untuk aplikasi ini, aku install NDrive yang berjalan baik dan serasa memiliki GPS pribadi untuk mobilitas di jalan raya. Tetapi ketika harus tracking masuk pedalaman, aplikasi ini seperti tidak berguna. Tidak ada info seperti kontur pegunungan, nama desa-desa terdekat, dll. Untuk ini aku install aplikasi Locus Pro dan Maverick yang memiliki beragam pilihan peta offline yang bisa disimpan dalam cache dan digunakan untuk keperluan tracking. Peta OSM Cyclo Map, cukup akurat untuk menunjukkan kontur-kontur gunung di sekitar kita meskipun tidak akurat untuk menunjukkan lokasi desa-desanya. Namun dari nama-nama dan lokasi desa yang tidak akurat itu, minimal kita bisa memperkirakan sekarang secara riil berada di desa mana dan ada desa apa saja di sekitar kita.

Aplikasi lain yang aku install dengan gratis adalah untuk keperluan ‘drive test’ sinyal seluler. Disini aku belum menemukan aplikasi yang sesuai seperti software drive test TEMS ataupun Field Test. Kekurangan itu antara lain : peta harus on line, misalnya Google Maps sehingga mengharuskan kita terus terkoneksi ke internet, belum bisa menunjukkan lokasi tower secara tepat dan konsisten, record drive test rata-rata masih berupa data angka, dll. Aplikasi yang pernah aku install antara lain adalah RF Signal Tracker, OpenSignal, dan Antennas.

Satu lagi aplikasi yang belum bisa terutilisasi adalah VPN. Dari PC, aku biasa menggunakan VPNClient dari Cisco untuk terkoneksi ke jaringan kantor dimanapun. Tapi sampai saat ini masih menemui kendala untuk setting VPN melalui HP Android.

Si Glace yang baru berumur 2 bulan ini pun sudah aku root. Caranya sangat mudah dan bertebaran di berbagai situs. Benar, root tidak membuat mbak Andro kita menjadi lebih cepat berlari. Rooting utamanya membuat kita memiliki akses penuh ke HP kita. Dengan akses penuh ini membuat kita bisa melakukan apapun ke HP kita. Misalnya dengan instalasi aplikasi ke SD Card kita atau memindahkan aplikasi yang telah terinstall ke SD Card yang secara tidak langsung akan membuat space di Memory internal HP akan lebih longgar dan lega. Bisa membuat lebih cepat? Yup, itu hanya efek samping saja😀

Terakhir, memiliki sebuah smartphone yang bisa kita acak-acak seperti Mbak Andro ini memang mengasyikan dan membuat ketagihan. Kita seperti memiliki sebuah PC mini dengan tambahan kemampuan komunikasi dan PC tersebut bisa kita acak-acak kapanpun dan dimanapun tanpa repot untuk booting, memakan tempat, berat dan lain-lain.


Responses

  1. wah.. menarik kayaknya android.. sayang, kesenengan oprek teknologi tak seperti kala kuliah dulu.

  2. waaa jadi tau ada Locus Pro dan Maverick, berat ga buka peta offline di andro, mas? tx infonya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: