Oleh: ekoyw | Maret 15, 2013

Susahnya Mendefinisikan Jumlah BTS….

Awal tahun seperti ini, hampir semua operator seluler melaporkan kinerja mereka tahun kemarin. Salah satu poin yang ikut dilaporkan adalah jumlah BTS yang dimiliki tiap operator, baik 2G, 3G maupun CDMA. Sering juga timbul pertanyaan, mengapa operator X dengan jumlah BTS yang lebih banyak dari operator lain tetapi memiliki jumlah pelanggan dan pendapatan yang lebih sedikit dibanding operator lain tersebut.

BTS atau Base Transceiver Station adalah perangkat yang langsung berhubungan dengan gadget pelanggan. Meskipun disebut perangkat, masih sering terjadi kerancuan penghitungan jumlah BTS. Juga semakin rancu jika BTS dicampuradukkan dengan site dan tower.

Site sendiri menunjukkan ke lokasi lahan tempat perangkat berada. Jadi site tidak merujuk dan terpisah dengan perangkat.  Sehingga beberapa operator menyerahkan pengelolaan site ini bukan ke divisi teknikal sebab pekerjaannya yang cenderung rutinitas maintenance fasilitas di site yang bersifat pendukung perangkat seluler.

Tower jelas merujuk pada perangkat tower. Satu site umumnya terdiri dari 1 tower meski tidak menutup kemungkinan 1 site bisa terdiri dari beberapa tower. Dalam satu site atau tower, tidak selalu terdapat BTS. Misalnya site – site yang berfungsi sebagai repeater yang hanya meneruskan sinyal transmisi dari satu tower ke tower lain tanpa ada perangkat BTS di dalamnya.

Dari penjelasan di atas maka jelas BTS tidak bisa dihitung berdasarkan jumlah site atau tower. Jika mengacu ke perangkat keras / hardware maka terjadi pula kerancuan penghitungannya jika berdasar teknologi. Umum diketahui, teknologi seluler di Indonesia adalah 2G (GSM & DCS) serta 3G. Lantas apakah tiap teknologi tersebut memerlukan perangkat BTS sendiri- sendiri? Ternyata tidak. Teknologi BTS sekarang sudah jauh berkembang yang menyebabkan satu modul perangkat bisa memberi layanan 2G (baik GSM maupun DCS) maupun sekaligus 2G + 3G.

Antenna BTS pun sekarang bisa memancarkan tidak hanya sinyal GSM yang bekerja di frekuensi 900 MHz tetapi juga DCS 1800 dan 3G 2100 dalam satu perangkat antenna.

Kita ambil satu contoh, perangkat Flexy Multi Radio dari NSN, umumnya terdiri dari System Module yang berfungsi sebagai CPU BTS dan RF Module.yang berfungsi menjembatani antara System Module dan Antenna. Dalam 1 System Module 2G, bisa digunakan bersamaan baik untuk GSM maupun DCS. Pertanyaanya adalah berapakah jumlah BTS-nya? Jika patokannya adalah hardware System Module maka berarti jumlah BTS adalah 1. Tetapi jika patokannya adalah teknologi frekuensi seluler yang dihasilkan maka jumlah BTS-nya adalah 2 karena terdiri dari GSM dan DCS. Ini belum lagi jika kelak 1 system module ini bisa memberi layanan frekuensi seluler lebih dari 2 – 3 teknologi seluler. Tentu akan semakin sedikit jumlah hardware BTS yang akan dihitung.

Perangkat BTS yang semakin compact ini memang sudah menjadi tuntutan, selain untuk menekan cost yang timbul juga untuk menekan konsumsi listrik yang dipakai BTS.

Pendefinisian penghitungan jumlah BTS ini yang sepertinya belum ada kesepakatan yang tepat dan jelas yang dijalankan oleh semua operator untuk melaporkan jumlah BTS yang mereka miliki.

Tidak heran, mungkin ke depan masih ada operator seluler dengan pertumbuhan BTS yang tidak agresif tetapi memiliki jumlah pelanggan dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding kompetitor-nya.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: