Oleh: ekoyw | Juni 27, 2013

Cerita Mudik….

Apa yang ditunggu dan selalu dihitung oleh kaum perantau? Itulah mudik.. hehehe. Seperti saat ini, menjelang puasa, count down kapan mudik sudah dimulai oleh perantau, utamanya bagi perantau yang jarang mudik. Kenapa mudik terasa asyik? Ada banyak energi berlebih yang terasa saat akan mudik, belum lagi ada begitu banyak strategi yang dijalankan saat akan mudik. Mulai dari strategi mencari tiket, hingga strategi acara di kampung halaman.

Cerita ini, berisi pengalaman pribadi menjalani ritual mudik selama di tanah seberang. Mungkin bisa jadi pelajaran dalam menentukan strategi mudik selanjutnya. Oke, kita mulai saja.

2007, tahun pertama di seberang. Yang aku ingat pada saat itu, aku belum memiliki hak cuti yang cukup luang untuk mudik. Dan tahun ini, adalah mudik pertama yang memakan waktu 24 jam lebih. Semua dimulai dari beli tiket. Untuk tiket ke Jakarta, tidak ada masalah karena mesti menantang arus mudik yang keluar dari Jakarta. Tapi tiket Jakarta – Surabaya adalah perjuangan sendiri. Jalur ini terkenal sebagai jalur penerbangan tergemuk di negeri ini. Sementara kereta api terbatas, tidak sebanyak pilihan jika mudik dari Jakarta ke Jateng atau Jogja. Singkatnya, dari bantuan seorang teman di Jakarta, tiket Argo Bromo Anggrek, yang saat itu hanya bisa dibeli di stasiun atau agen, bisa di beli. Dan perjalanan pun di mulai.

Kami, aku dan istri, berangkat sekitar pukul 10 – 11 pagi dengan travel untuk mengejar pesawat sore dari Bengkulu. Mobil travel full berisi 7 orang. Bayangan kepala pusing karena jalan berliku – liku melintasi pegunungan Bukit Barisan sudah hadir bahkan sebelum perjalanan di mulai. Alhamdulillah kami duduk di bangku tengah sehingga tidak sempat Jackpot (baca : Mabuk hehehe) seperti beberapa penumpang di bangku belakang. Sampai Bengkulu sekitar jam 4-5 sore. Dan Alhamdulillah tidak ketinggalan pesawat. Sampai Cengkareng langsung ke Gambir. Argo Anggrek ini pun sampai Surabaya sekitar jam 9 keesokan harinya. Perjalanan belum selesai. Dengan naik motor, perjalanan diteruskan ke rumah mertua di seberang Surabaya. Sampai rumah, sekitar pukul 11 – 12 siang. Yang aku ingat saat itu hari Jumat, dan aku tidak sempat ikut Sholat Jumat.

2008. Dari pengalaman tahun 2007 yang butuh waktu lama kami ganti rute. Kami pilih naik pesawat ke Jakarta dari Palembang dibanding dari Bengkulu. Pertimbangannya adalah di Palembang ada pesawat yang menginap di bandara sehingga berangkat pagi – pagi jam 06.00 dari Palembang. Sehingga akan masih belum siang sampai Surabaya.

Problemnya sama !!! Tiket Jakarta – Surabaya belum ada di tangan sementara waktu tinggal 2 minggu sebelum berangkat. Tiket kereta api sudah habis dan tidak bisa didapatkan meski telah minta bantuan banyak teman di Jakarta. Akhirnya, rencana terakhir naik bis pun disiapkan. Kami minta tolong ke paman di Tangerang untuk booking tiket Bis Rosalia Indah dari Cikokol. Untuk sementara aman. Sekitar 2 minggu sebelum berangkat, iseng aku buka situs lion air. Dan Voila… this is it !!!! Tiba – tiba tiket pesawat jauh lebih murah dari biasanya. Tapi banyak pikir, aku langsung booking dan beli tiket tersebut. Dari sini aku ambil kesimpulan, untuk Lion Air, tiket akan cenderung lebih murah mendekati hari H keberangkatan….. asal… kursi masih tersedia.. hehehehe. Cenderung gambling sih. Tapi It’s OK!

Akhirnya, dengan travel malam kami berangkat pukul 21.00 ke Palembang. Sampai Bandara Shubuh sekitar pukul 03.30. Musholla pun jadi tempat jujugan kami. Ternyata sudah ada beberapa orang lain yang tidur di sana menunggu penerbangan paling pagi itu. Mandi??? Ah… tidak usah, cukup gosok gigi, basuh muka sebanyak – banyaknya, pake parfum sebanyak – banyaknya, dan rambut disisir rapi hahahaha…. Akhirnya jam 13:00 hari itu kami tiba di rumah Lamongan.

2009, aku mudik sendiri karena istri hamil dan sudah aku ungsikan beberapa bulan sebelumnya ke rumah mertua😀. Perjalanan mudik sendiri tentu lebih bebas, artinya kalo ga dapat tiket pun, naik bis Jakarta – Surabaya juga ga masalah. Untuk tiket berbekal pengalaman 2008 aku terapkan lagi saat itu. Rute dan waktu keberangkatan sampai tidak usah mandi di bandara pun aku terapkan… hehehehe

2010, sudah ada si kecil yang belum genap setahun. Biaya nambah meski belum banyak karena masih dihitung bayi. Kali ini rute Jakarta – Surabaya aku ganti Jakarta – Jogja karena ada acara keluarga. Untuk mudik kali ini, lebih keren. Tiket Garuda Palembang – Jakarta – Jogja berhasil diamankan. Untuk Garuda ini, saat itu aku pesan sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan dan harganya masih terjangkau. Kami berangkat tetap jam 20:00 dan sampai Jogja sekitar jam 12:00 siang keesokan harinya.

2011, si kecil semakin besar. Alhamdulillah masih dihitung tiket bayi. Rute kembali Jakarta – Surabaya. Dengan pengalaman 2008 – 2009, kami beli tiket Lion Air Palembang – Jakarta – Surabaya. Aku beli tiket juga mepet – mepet mau berangkat, yang jelas masih bulan puasa. Yang penting tiket Jakarta – Surabaya diamankan dulu, baru tiket Palembang – Jakarta.

2012, si kecil sudah harus pake tiket anak – anak yang meski bernama tiket anak – anak tapi tidak lebih murah dibanding orang dewasa. 2012 ini ada perubahan mendasar di PT KAI. Dengan alasan perbaikan sistem, tiba – tiba tiket KA Eksekutif Jakarta – Surabaya yang biasanya saat lebaran hanya berkisar 400 rb an melonjat menjadi 700 rb. Aku awalnya nyantai saja menyikapi hal ini. Sampai 2 bulan sebelum Lebaran aku belum beli tiket pesawat Jakarta – Surabaya karena masih berharap dapat keajaiban tiket akan turun seperti sebelumnya. Tapi lho.. lho… bukannya turun, tiket pesawat malah naik sampai batas atas dimana paling murah adalah Rp. 1 juta… Wah strategi sebelumnya ga bisa dipake nih. Akhirnya, aku dan adikku putuskan ngincar tiket kereta. Tapi alamaaak….. Mulai Sembrani, Bima sampai Argo Bromo semua ludes. Pikir – pikir, coba lihat tiket Gajayana. Dan hampir tengah malam, saat tiket kereta api tambahan dibuka, adikku yang tinggal di Jakarta berhasil booking 4 kursi tiket Gajayana Jakarta – Malang tapi turun di Kertosono. Ga masalah, toh Kertosono – Lamongan sudah dekat. Minta jemput saja. Tengah malam itu, aku beli tiket Gajayana lewat ATM Mandiri.

Dari sini aku ambil kesimpulan, di tahun – tahun selanjutnya kayanya tiket pesawat  Jakarta – Surabaya jika pesan 1-2 bulan sebelum Lebaran tidak bakalan dapat lebih murah. Karena tiket kereta api saja sudah naik jadi 700 rb.

Tiket pesawat ke Jakarta sendiri bermasalah. Tiket Sriwijaya Air yang awalnya rencana berangkat siang dari Bengkulu ternyata beberapa hari sebelum Lebaran diberitahu akan delay dan baru berangkat sore. Waduh… gimana nih, bisa ketinggalan kereta. Alhamdulillah pihak Sriwijaya Air Bengkulu membantu banyak. Mereka bersedia memindahkan naik pesawat Lion Air pagi. Yaa harus pagi tidak berani ambil siang mengingat reputasi Lion Air yang juga sering delay. Apalagi ke Surabaya-nya naik kereta, tidak naik pesawat. Yang aku salut, ternyata ada kelebihan dari harga tiket Sriwijaya Air diganti Lion Air. Dan kelebihan tersebut ditransfer kembali ke rekeningku meski harus menunggu usai Lebaran. Salut untuk Sriwijaya Air.

Tahun 2012 ini pun perjalanan kembali 24 jam lebih. Kami berangkat habis Shubuh untuk mengejar pesawat jam 10.00 yang kemudian ternyata molor sampai jam  11.00 baru berangkat. Alhasil, kami sekeluarga duduk – duduk santai dulu di Cengkareng sampai sekitar jam 15.00 sebelum bergerak ke Gambir. Dan sampai Kertosono jam 05.00 keesokan harinya.

Tahun 2013 ini ??? Berbekal pengalaman 2012, bahwa tiket pesawat Jakarta – Surabaya tidak akan lebih murah dari tiket Kereta Api yang saat itu berkisar 700 rb, maka tiket Jakarta – Surabaya sudah diamankan sejak tahun kemarin. 10 Bulan sebelum perjalanan😀. Begitu browsing dan dapat jadwal libur nasional 2013 maka langsung lihat kalender dan memutuskan tanggal berapa akan mudik.  Bagaimana dengan ke Jakartanya? Juga Alhamdulillah sudah diamankan.

Bagaimana perjalanan tahun ini???? Semoga dimudahkan…..:D


Responses

  1. Kalau pesan kan, bisa lewat Internet dan bisa H-90?

  2. Kalau pesannya pas H-90 harganya bisa jauh lebih murah, mas

    • Wah… kalo pas musim mudik, meski H-90 tetep rebutan dan susah dapatnya mas.

  3. Kalau sekarang H-89 sudah tidak kebagian tiket.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: