Oleh: ekoyw | Agustus 26, 2013

KA Argo Anggrek, eh Salah, Sembrani Pagi Kini….

Semua berawal tanggal 14 Agustus 2013 saat kami ke Stasiun Lamongan dan si kecil pun rewel minta saat balik nanti pilih naik Kereta Api daripada Pesawat. Padahal beberapa hari terakhir sebelumnya aku sudah browsing tiket – tiket pesawat Surabaya – Jakarta. Akhirnya aku ganti browsing tiket kereta. Pilihan pun jatuh pada Argo Anggrek Pagi dengan pertimbangan sampai Jakarta masih bisa istirahat bermalam sebelum lanjut perjalanan keesokan harinya.

Saat itu pun aku baru tahu kalo sekarang tiket KA ada sub kelas – kelasnya, meski sama – sama kelas eksekutif. Browsing pun berlanjut. Ada empat kelas yang berbeda sekitar Rp. 25 rb antara sub kelas terendah sampai yang paling mahal. Argo Anggrek misalnya, harganya terpaut antara Rp. 375 rb, Rp. 400 rb, Rp. 425 rb dan Rp. 450 rb. Sebenarnya mirip – mirip tipis dengan harga tiket pesawat. Sub kelas ini, sekali lagi dari hasil googling, ternyata berbeda tempat duduk. Untuk kursi yang dekat sambungan gerbong atau gerbong paling ujung maka harganya paling murah. Maklum bro, biasanya di posisi ini goyangan kereta paling yahud hehehe. Dan semakin ke tengah, harganya semakin mahal. Dahiku sedikit mengkerut saat melihat hasil googling harga tiket di aplikasi Android (Once again… thanks to Android), kok Harga tiket Sembrani sama dengan tiket Argo Bromo Anggrek yaa? Malah di hari yang sama lebih mahal Bima daripada Anggrek, meski jalurnya berbeda karena lewat Jogja. Bukannya dulu Anggrek selalu lebih mahal dibanding dua KA Eksekutif itu? Maklum bro, terakhir naik Anggrek sekitar tahun 2008๐Ÿ˜€. Setelah itu beberapa kali naik Sembrani, Bima atau malah Gajayana.

Akhirnya uang Rp. 1,35 juta pun bertukar 3 tiket KA Argo Bromo Anggrek Pagi dari Stasiun Pasar Turi ke Gambir.

Dan perjalanan pun di mulai….

Kami sampai Stasiun Pasar Turi sekitar pukul 07.15 WIB, masih ada waktu 1 jam sebelum keberangkatan. Tidak ada yang berubah dari stasiun ini. Kesannya masih kumuh dibanding Stasiun Gubeng. Ruang tunggu eksekutif benar – benar tidak nyaman. Tidak mampu menampung penumpang yang akan berangkat pagi itu. Banyak penumpang yang harus berdiri dan barang – barang bawaan berserakan dimana – mana bercampur petugas KA, portir, dll. Kalau untuk tempat tunggu eksekutif, kayanya lebih nyaman menunggu di stasiun – stasiun yang di lewati. Stasiun Jombang misalnya, meski kecil tapi nyaman, meskipun kayanya ga bakalan cukup juga kalo saat kereta Bangunkarta akan berangkat.

Sekitar jam 07:30, KA Argo Anggrek Malam dari Jakarta tiba. Tampak stiker Go Green di gerbongnya. Dalam hati, masak naik KA ini? Masak KA ini langsung puter kepala? Lha kalo suatu saat ada masalah, bagaimana nasib kami? Ternyata kami ga perlu khawatir, dari arah utara masuk KA di jalur 2. Dan pengumuman pun berbunyi meminta calon penumpang untuk naik.

Di sinilah keraguanku pun muncul. Tampilan eksterior kereta ini tidak mirip dengan Go Green. Juga tidak mirip dengan KA Argo Anggrek sebelumnya yang bermotif warna merah – keunguan. Dengan warna putih dan satu kaca jendela penumpang tiap deret kursi, rasanya KA ini harusnya untuk Sembrani atau KA – KA Eksekutif yang lain. Oke lha… Don’t judge the train by it’s cover…๐Ÿ˜€

Kaki pun melangkah masuk. Dengan bantuan portir, barang – barang kami pun bisa masuk bagasi di atas tempat duduk. Di sini keraguanku tadi menemui kenyataan pertama. Tidak ada leg rest di kursi penumpang yang dulu bisa menyangga betis agar tidak kaku dan bisa selonjor. Hanya ada foot rest di ujung belakang kursi di depan, sama dengan di Bima, Sembrani ataupun Gajayana. Kursi penumpang pun terlihat kusam, beberapa bekas baret ataupun noda – noda debu terlihat menurunkan aura eksekutif kereta ini. Yup… show must go on…

Sempat terjadi insiden kecil sebelum kereta berangkat. Seorang makhlus halus berdekat kecil dengan penumpang lain karena tiket mereka ternyata sama – sama kursi 8A di gerbong yang sama. Singkat cerita mereka turun, dan naik kereta lagi. Melihat kursi sebelahku kosong, sang makhluk halus pun permisi duduk di situ. Ternyata, dari cerita dia, dari data KAI penumpang lain tersebut telah membatalkan tiketnya. Selesaikah? Ternyata tidak. Penumpang tersebut pun turun dan mengurus ke KAI. Saat kembali, sambil tersenyum penumpang itu cerita dan bilang akan me-somasi KAI 100 kali harga tiket jika dia tidak bisa berangkat pagi itu karena dia tidak merasa membatalkan tiketnya. Dengan berbekal selembar kertas yang entah berisi apa, penumpang tadi kembali ke tempat duduknya dan si makhluk halus itu pun tetap duduk di sampingku๐Ÿ˜€

Dan perjalanan pun dimulai tepat pukul 08:15 sesuai jadwal. Meski sudah di gerbong tengah, di bangku tengah, dengan harga sub kelas paling mahal goyangan yahud kereta api ini masih sangat terasa. Rasa – rasanya tidak terlalu berbeda kenyamanan antara yang di dekat sambungan gerbong dengan yang duduk di tengah. Ketiadaan leg rest juga mengurangi kenyamanan naik kereta pagi itu.

Selesaikah? Tidak. Sesi buang air pun dimulai. Jika biasanya kita temui tombol untuk membuka pintu kaca antara ruang penumpang dan ujung gerbong maka untuk saat ini tidak ada. Butuh tenaga lumayan kuat untuk menggeser pintu itu jika ingin keluar masuk gerbong. Huuffhhh. Dan ternyata belum selesai. Di toilet, yang aku temui adalah toilet jongkok padahal saat naik Gajayana tahun sebelumnya, toilet duduk yang bersih dan wangi yang aku temui. Lewat tengah hari pun diberi tahu petugas kalau air toilet habis dan diminta ke gerbong sebelah…. wadeeewwww…

Lewat Cirebon, perutku pun memanggil minta diisi. Nasi Krawu pun jadi pilihan. Pertama, Nasgor ataupun steak di KA yaaa begitulah rasanya. Nasi rames??? kan kepanjangannya Nasi Ra Mesti lawuh e hehehehe. Untuk Krawu pun sebetulnya hanya berisi serundeng, suwiran daging, sambal dan telor asin. Ini Krawu mana yaa? Hanya camuran serundeng dengan nasi yang cukup bisa membangkitkan semangat 45 untuk menghabiskan menu ini. Tapi tunggu dulu, mana nih meja lipat yang biasanya disembunyikan di pegangan kursi penumpang? Seolah hilang tidak berbekas. Pegangan kursi itu terasa solid, tidak ada tanda – tanda bahwa ada yang disembunyikan di sana. Yaa…. what ever lah…. panggilan perut telah lama menjerit.

KA ini akhirnya landing di Gambir sekitar pukul 18:20 WIB atau terlambat 30 menit dari jadwal.

Jadi Kesimpulannya adalah :

  • Ketepatan Waktu : Masih bagus, terlambat 30 menit masih bisa ditolerir… Iki kebiasaane wong Indonesia hehehe.
  • Makanan : Masih mengikuti harga properti, Lhoo???? Maksudnya minimalis dan harga tinggi๐Ÿ˜€
  • Toilet : Buruk. Ini KA Eksekutif bro! Toilet jongkok, air menggenang, air sempat habis dan kalah kelas dengan KA di bawahnya.
  • Kursi : Buruk. Leg Rest adalah pembeda dengan KA yang lain yang mengandalkan foot rest. Tidak ada meja lipat untuk makan malah semakin menurunkan nilai KA ini. Sekali lagi KA ini kalah telak dengan KA kelas di bawahnya.
  • AC : Buruk. Entah karena siang jadi tidak dingin, tapi lontaran AC tidak dingin ini sempat terucap oleh penumpang.
  • Gerbong : Pintu penumpang yang harus di buka manual, gerbong yang kusam, berderit dan berdecit seharusnya tidak dipakai untuk KA ini.

Kesimpulan terakhir. Terjawab sudah kenapa harga tiket KA Argo Anggrek sekarang sama dengan Sembrani dan malah lebih murah dibanding Bima. Jadi, ga usah takut – takut lagi naik Argo Anggrek meski bersiaplah kecewa karena bukan Argo Anggrek yang dulu. Ini lah sebabnya aku lebih suka menyebut sebagai KA Sembrani Pagi, minus tidak berhenti di Lamongan – Bojonegoro dan Cepu. Miris kalo menyebut KA Argo Anggrek Pagi๐Ÿ˜€

Terakhir, masih mending naik pesawat yang harganya beda – beda tipis dengan KA Eksekutif. Sampai tulisan ini dibuat, rasa pegal – pegal naik kereta masih terasa.

Semoga dibaca direksi KAI…. lho…???!!???๐Ÿ˜€

Update :

Menurut info kakak sepupu yang kebetulan tahu seluk beluk kereta, katanya gerbong merah – keunguan Argo Bromo Anggrek sedang diistirahatkan karena sering anjlok. Benarkah ?


Responses

  1. pengalamannya mirip dengan pengalaman saya naik argo anggrek 3 desember 2013 dari gambir ke turi dan dari turi ke gambir tanggal 6 desember 2013 dan tambahannya bocor – netes airnya – dari ac… ampun.. saya naik kereta api ini.. kecepatan kereta dihitung hanya 60 km/jam .. ga sepadan dengan tiket 450 ribu.. namun saya masih berharap KAI dapat membenahi kekurangan yang ada.. kan katanya ‘sekarang lebih enak naik kerata api’… ayo buktikan…

  2. wow

    (ilmanmuttaqin.student.ipb.ac.id)

  3. terakhir naik kereta api pertengahan juli 2010, Argo Anggrek eksekutif lumayan nyaman dan lengkap plus harum. recomend lah waktu itu.

  4. jadi sekarang apa yang recomend gan ?

    • Sekarang paling sering Jkt – Surabaya naik Bima gan. Kayanya lebih recommended dibanding Argo Anggrek kemarin. Kemarin sempat juga naik Argo Sindoro, tapi kesan interior-nya sudah kusam.
      Tapi yang paling siipp… pas naik Gajayana Jakarta – Malang turun Kertosono pas Lebaran 2012 lalu, toilet duduk, bersih, harum.

  5. Mending 33 atau 34(Bima) kalo beruntung dapat yang kursi dan nuansa biru. bogie alias pera gkat roda memakai bogie k8. GUncangan makin rendah. Kan sekarang semua KA (kecuali Anggrek alias KA no. 1,2,3,4) udah peningkatan pelayanan dan kecepatan( jangan naik Anggrek. Dulu 9 jam sekarang 10 jam).

  6. Benar itu. K1 Anggrek diistirahatkan yang Merah keunguan dan memakai bogie k9 itu diistirahatkan di MRI(manggarai) kalau nggak salah.

    tambahan:(ternyata kakak sepupu anda juga Railfans toh)

    • Kakak sepupu ane bukan Railfans Om. Lha wong dia orang KAI, kerja di Balai Yasa๐Ÿ˜€

  7. ooohhh, walah, Balai yasa mana? Pengok apa Manggarai? Kan saya kira Kakak sepupu mas itu orang luar.

  8. oooo….kmrn temen aku ada yg mengalami kekecewaan naik sembrani, katanya gerbong sembrani yg dinaikinya sekelas kelas ekonomi, dg jendela spt gerbong kereta ekonomi yg dikasih fasilitas AC aja…walaaah..piye to KAI ini??? makin mahal makin elek servicenya???

    • Banyak juga, mbak yang nulis keluhan KA Sembrani dan Gumarang. Kalau boleh pendapat, seperti mas adminnya sendiri, untuk jurusan JAK-SB, saya rekomendasikan 33 & 34 Bima. Penjelasan kenapa saya merekomendasikannya saya sudah tulis diatas

    • Atau jangan2, teman mbak naik K2 yang dimodifikasi jadi K1 itu? Kalau KA 45 46 Sembrani memang sering membawa kereta itu. Tapi, harganya yang paling murah. Tap, memang ada masalah dengan bentuk jendelanya?

  9. Saya juga mau ngelamar PT KAI soalnya, hehe, tapi itu ntar aja, masih sekitar 8 tahun lagi buat cukup usia, jadi mas nggak usah manggil om, jadi nggak enak

  10. Harga tiket kereta api sekarang naik terus mas bro, kalau aku biasa naik gumarang.

    • mending naik KA 157-158 Kertajaya, sih. KA 71-72 Gumarang masih rada deket harganya ama 45-46 Sembrani. Kertajaya kan cuma 50.000. Toh GAPEKA-nya lebih cepet 157-158 5 menit

  11. saya belum menemukan kenyamanan naik kereta argo anggrek, baik pagi maupun yang malam.. tidak sesuai dengan kata “eksekutif” nya…

    kalau saya saja tidak merasa nyaman, apalagi Anda…๐Ÿ˜€

  12. kalo yg dimaksud kereta livery pink milik Argo Bromo Anggrek dan Argo Sindoro, mereka sudah di konversi menjadi kereta Argo Go green yg sampeyan lihat setelah dipermak oleh INKA. sisanya memang masih di INKA, sehingga satu set argo anggrek memang memakai kereta eksekutif standar, dua set lagi memakai kereta argo go green. Argo Sindoro yg memakai rangkaian anggrek pun diganti sementara dengan rangkaian eksekutif standar argo milik dipo semarang.

    • Kalo info dari kakak sepupu ane yg kerja di Balai Yasa, katanya ada masalah di sistem Suspensi KA Argo dgn livery pink sehingga beberapa kali anjlok. Masalah ini yg harus dibenahi dulu sehingga livery pink ini menghilang.

  13. kalo gerbong yang pink-ungu emang lagi nggak dipake karna sering anjlok gara2 air suspension nya itu lho, dan gerbongnya lagi diperbaiki dan berubah menjadi ‘go green’. Kalo nggak salah Argo bromo anggrek ini baru punya 2 rangkaian asli (go green), sedangkan rangkaian minimalnya adalah 3, jadi 1 rangkaiannya lagi minjem dari kereta lain, dan yang mas admin dapet kebetulan dapet rangkaian pinjaman yang memang terkesan “acak adul”๐Ÿ˜€

    • Sepertinya se seperti itu…. hehehehe

  14. kalo menurut saya untuk argo anggrek yang go green dengan yang retrofit kaca pesawat .. lebih nyaman yang retrofit kaca pesawat untuk skarang ini ,, secara guncangan di retrofit pesawat jauh lebih halus daripada di rangkaian Go Green yang cuma menang di tampilan luar + toilet

  15. Kalau saya belum pernah naik kereta argo bromo anggrek, tapi kalau ke surabaya milih naik kereta gumarang.
    Kalau ke solo saya lebih memilih naik kereta argo dwi pangga.
    Tapi yang aneh yaitu kenapa kereta kelas argo seperti argo dwi pangga malah dalamnya kurang nyaman yah di bandingkan dengan kelas bisnis seperti gumarang atau senja utama solo.
    Terus kalau untuk kebersihan toiletnya malah lebih bersih kereta kelas bisnis yah?
    Masa kereta kelas argo toiletnya kurang bersih yah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: