Oleh: ekoyw | November 20, 2014

Cara Pendaftaran Haji

Alhamdulillah…. Labbaik Allahumma Labbaik…

Akhirnya selesai sudah prosedur pendaftaran haji ane. Meski baru daftar, meski harus menunggu 18 tahun (dan di sinilah seninya), meski setelah mendaftar bareng istri uang di tabungan hanya tersisa ratusan ribu rupiah, meski harus pulang kampung tetapi terasa sebagian perjalanan haji ini telah terlaksana. Minimal, pendaftaran ini sebagai langkah kecil nyata untuk menuju langkah – langkah selanjutnya.

Sebelum pendaftaran, ane sempat googling tentang tata cara pendaftaran haji. Dan… rata – rata nyasar ke berbagai situs KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) dan hanya sedikit sekali dari instansi resmi kementerian agama. Info yang didapat pun simpang siur, mulai harus pakai surat pengantar desa, surat keterangan sehat, foto sendiri atau di kantor Depag, dll. Akhirnya… karena bingung, bismillah…. coba urus sendiri saja😀

Perjalanan dimulai Jumat sore ba’da pulang kerja dan segera pergi ke stasiun KA yang terletak di pusat ibukota pulang kampung ke Lamongan, Jatim. Di-skip aja yaaa bro… tidak berhubungan😀. Kapan – kapan aku tulis tentang pengalaman naik kereta api kali ini.

Perjalanan dimulai Senin pagi, jam 07.00 WIB berboncengan mesra dengan istri sementara anak meraung – raung menangis didiemin neneknya😀

Sebelum berangkat, beberapa dokumen aku siapkan, seperti : KTP, surat nikah, KK dan buku tabungan haji. Ini juga hasil googling yg menyarankan dokumen apa saja yang mesti dibawa. Sempat ragu juga apakah perlu mampir puskesmas untuk bawa surat keterangan sehat atau tidak, juga mampir kelurahan atau tidak. Tiga dokumen pertama sudah aku fotocopy 10 kali dan ternyata…. tidak semua dokumen tersebut dibutuhkan.

First destination jam 08.30, kantor bank. Ane pakai Bank Syariah Mandiri Capem Lamongan yang pas di tepi Jl Nasional No. 1 alias Pantura… hehehe . Kirain ane berurusan dengan CS, nggak tahunya diarahin ke Teller. Di Teller, buku tabungan ane di-print. Kemudian diberi tahu untuk mencari surat keterangan sehat yg ada pernyataan golongan darah. Kata Mbak Tellernya, bisa ke puskesmas atau klinik mana saja. Berhubung ada keperluan sebentar ke daerah sekitar alun – alun, jadi ane ngincer ke (bekas) RS Muhammadiyah Lamongan dengan harapan bisa sekalian sarapan Nasi Boranan Lamongan yang maknyusss… hehehe.

Tetapi ternyata disana tidak melayani surat keterangan sehat. Akhirnya, daripada capek – capek aku arahkan motor ke kantor PMI Lamongan yang bersebelahan dengan RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Sangat hafal dengan RS ini, sebab pernah menjadi ‘penghuni’ nya pada awal tahun 1990-an… tentu dengan kondisi bangunan yang jauh berbeda dengan saat ini.

Di PMI, tidak butuh antri lama sebab hanya kami berdua yang ada. Tinggal ambil darah, ukur tinggi dan timbang berat badan. Sebetulnya kami punya kartu donor tetapi tidak kami bawa karena tidak termasuk daftar dokumen yang kira – kira bakal digunakan. Sempat guyonan sedikit tentang hasil ukur tinggi badan. Untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya di RS Cibubur saat MCU, tinggi badanku turun dibanding biasanya… hehehe…. wis mbuh lah. Ongkosnya cukup Rp. 30 rb untuk masing – masing kartu ‘merah’ yang kami dapatkan. Kartu merah ini berisi data nama, golongan darah, tinggi dan berat badan yang diketik dengan satu jari. Yup…. satu jari, bukan sebelas jari, oleh mbak perawat yang sepertinya lebih familiar dengan komputer daripada mesin tik jadoel itu😀

Tujuan selanjutnya, kantor Depag yang terletak di Jl Veteran, Depan SMU Negeri 2 Lamongan. Sempat celingak – celinguk sebentar di parkir motor. Untung ada tulisan pendaftaran haji. Dan akhirnya, dengan salam kami masuki ruangan yang menurutku cukup tidak sehat karena minimnya sinar matahari yang masuk. Seorang bapak PNS berbaju Korpri, kemudian mengambil secarik kertas yang berisi formulir. Di sini ditanyakan nama dan nama ayah. Untuk ketepatan penulisan nama, sang bapak meminta KTP, kartu merah dari PMI yang kemudian dikembalikan dan KK asli yang kebetulan terlihat di map yang kami bawa. Sempat terjadi masalah pada nama almarhum ayahku karena di KK hanya tertulis nama tua, nama kecilnya tidak ada. Sang bapak kemudian minta dokumen surat nikah asli dan menuliskan sesuai dokumen surat nikah sambil mengatakan kalo di KK nama seseorang bisa jadi berubah atau ganti tetapi di surat nikah tidak mungkin berubah atau ganti.

Setelah menulis di dua lembar kertas tentang data diri, kami diberi dua kertas kecil berisi nama dan no urut, yang anehnya untuk kertasku, nama pertamaku diganti dengan nama kecil ayah. Sedangkan istri, yang hanya berisi 2 nama tetap memakai nama pribadi. Dua kertas itu disuruh diserahkan untuk pengambilan foto yang terletak di gedung bagian belakang. Di sini, telah menunggu dua orang bapak – ibu yang sepertinya juga habis mendaftar. Tanpa menunggu lama, kami dipersilahkan untuk mengambil foto. Berlatar belakang putih, sehingga bagi perempuan disarankan tidak memakai hijab warna putih meski di tempat tersebut juga disediakan hijab beragam warna, peci, dan kaca untuk berias. Dua petugas, bapak dan ibu, berada di ruangan ini. Sang bapak mengoperasikan software yang sudah terhubung ke kamera DSLR Nikon (waadduuhh… jadi ingat masa – masa programming kuliah yang tidak terlalu susah meng-interface kan kamera dengan software di windows). Dan sang Ibu bertugas memotong hasil foto. Tidak menunggu lama, foto kami tercetak yang entah berapa jumlah total dan ukurannya. Biayanya cukup Rp. 80 rb per orang. Setelah penjepretan alias pengambilan foto, kami diminta untuk scan sidik jari ibu jari kiri. Alat scan terletak di meja sang bapak yang mengoperasikan komputer.

Kami kemudian kembali ke depan, ke bapak yang pertama menerima pendaftaran. Sampai di ruangan tersebut ternyata sudah ada beberapa warga lain yang juga mendaftar. Dan ternyata, form pendaftaran haji (Surat Pendaftaran Pergi Haji alias SPPH) kami telah tercetak dengan rapi lengkap dengan foto kami yang merupakan hasil print juga. setelah kami tandatangani, dari sana, sang bapak meminta kami kembali ke bank, menyerahkan formulir tersebut sebagai bukti kami telah mendaftar haji dan untuk memasukkan setoran haji dari rekening kami ke rekening haji depag serta mendapatkan porsi haji.

Alhamdulillah, jarak dari Depag ke BSM tidak jauh. Sampai BSM, form kami diterima oleh security yang kemudian langsung diteruskan ke teller. Setelah menunggu sebentar, kami dipanggil CS. Di sana, beberapa lembar foto kami diambil dan ditempelkan di formulir tersebut. Sebuah formulir baru di BSM juga telah di print yakni Form Setoran Awal BPIH yang berisi info setoran haji dan nomor porsi haji kami. Satu formulir setoran haji juga kami tandatangani. Dari sini, pihak BSM meminta kami kembali ke Depag untuk menyerahkan formulir porsi haji tersebut setelah beberapa salinannya diambil oleh BSM. Tapi tunggu sebentar…. di sini kami baru sadar kalo formulir haji yang dicetak Depag tertulis pekerjaan kami berdua adalah PNS? Entah, bagaimana ceritanya kok bisa tertulis PNS. Akhirnya… tercapai juga menjadi PNS…. hehehehe

Di Depag, beberapa salinannya juga diambil petugas dan kami diminta menyerahkan fotokopi KTP sebanyak 5 lembar. Sehingga yang tersisa hanya dua lembar, yakni satu lembar pendaftaran dari Depag dan satu lembar lagi form setoran haji dan no porsi dari BSM. Di sini, bapak Depag mewanti – wanti untuk tidak mempercayai siapapun yang memberikan janji bisa mempercepat keberangkatan haji juga untuk menyimpan rapi baik formulir SPPH maupun Setoran Awal BPIH. Dan semoga kami tidak tergoda karena hal tersebut sama saja dengan men-dzalimi calon jamaah haji yang lain yang telah antri lebih dulu.

Kemudian kami bertanya, antriannya berapa lama pak? Untuk Jawa Timur, 18 tahun mas. Aku sampaikan info kalo di Bogor antrian berkisar 13 – 14 tahun. Kata bapak tadi, untuk Jawa Barat porsi haji memang dibagi per kabupaten atau kota. Sedangkan untuk Jawa Timur tidak, sehingga porsi haji di-pool di provinsi dan diperebutkan seluruh 38 Kota/Kabupaten yang ada.

Namun setelah kami cek porsi ke website Kementerian Agama, ternyata perkiraan keberangkatan kami selama 17 tahun.

Kami tersenyum… wah ini berarti pas anak kami yang sekarang masih balita dan saat berangkat tadi menangis meraung – raung nanti akan wisuda saat kami berangkat😀. Bismillah…. semoga diberi kesehatan dan umur panjang.

Pukul 10.30 WIB, kami melangkah keluar….

Kesimpulanku, proses pendaftarannya cepat juga. Hanya sekitar 2 jam sejak kedatangan pertama di bank sampai sekarang selesai di Depag. Tidak terlalu ribet di semua tempat. Selain itu, sekitar 20 tahun lalu tinggal di Lamongan kota membuatku hafal jalan – jalan tikus yang tidak banyak berubah sampai saat ini. Sehingga mempercepat proses dari satu tempat ke tempat yang lain.

Semoga diberi kesehatan dan umur panjang…

Aaamiiinnn….


Responses

  1. trims atas infonya gan n slamat mendaftar hehe..

    tak kira sudah pindah domisili (ktp) bogor sampeyan.

    salam dari sesama mantan arek its yg tinggal “dekat” citra indah..
    (insyaallah nanti pindah plat motor W ke plat F thn depan..)

    • Suwun Cak… wis arep daftar ta?
      Iyo, aku isih KTP LA… masiyo wis hampir 8 tahun muter – muter metu teko Lamongan.
      Iki nyang Citra isih nggawe plat S😀

  2. Salam sesama plat “S” penghuni Citra Indah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: