Oleh: ekoyw | November 24, 2014

Kereta Api (Lagi)…

Sejak kepindahan ke Jakarta, kereta api memang jadi pilihan utama jika mudik. Meski kalo ditanya, aku lebih senang naik bis karena pemandangan lebih beragam dan bisa semi berpetualang tetapi jadwal bis sering tidak bersahabat dengan jam pulang kantor. Naik bis jadi pilihan saat libur agak panjang. Tetapi saat mudik dengan waktu terbatas, kereta api pilihannya. Pesawat? Kalo dihitung sejak berangkat sampai ke bandara, check in, waktu tunggu sampai dari Surabaya ke rumah rasanya tidak terlalu jauh beda dengan naik kereta api.

Kereta api kini, harus diakui banyak kemajuan di sana – sini. Toilet lebih bersih dan gratis, stasiun juga lebih bersih, tidak ada pedagang kaki lima meski banyak juga yang kehilangan. Misalnya, sekarang tidak bisa lagi aku mencicipi nasi pecel pincuk di stasiun Madiun dan makanan khas setiap stasiun yang dilewati karena tiadanya pedagang kaki lima sementara masakan dari restoran kereta api terasa standar, pilihan tidak beragam dan tidak ada unsur ‘ngangeni’.

Tiket kereta api pun beranjak naik. Sekarang, tiket Jakarta – Surabaya untuk kelas eksekutif berkisar Rp 400 – 500 rban. Sekitar 5 tahun lalu, masih berkisar Rp 300 rban. Kenaikan harga tiket ini memang diikuti peningkatan fasilitas terutama di stasiun. Tetapi sayangnya, masih jarang menyentuh sisi kereta api yang PALING bersentuhan dengan penumpang kereta api, yakni gerbong penumpang.

Entah kebetulan atau aku yang apes, sejak kenaikan tiket aku belum pernah naik kereta api yg menyediakan leg rest seperti dulu lazim ditemui di kereta Argo Anggrek. Kebanyakan adalah foot rest. Foot rest ini sangat tidak sepadan dan masih menimbulkan letih di betis terutama bagi penumpang kereta api jarak jauh. Padahal leg rest ini sudah menjadi standar di bis eksekutif antar kota. Dengan kenaikan tarif dan apalagi sekarang kereta Argo Anggrek kelasnya sama dengan kelas kereta eksekutif lainnya jika dilihat dari harga tarif maka seharusnya layanan ini juga ada di kereta yg lain.

Lainnya, lagi – lagi entah kebetulan atau lagi apes, seringnya juga mendapatkan gerbong yg tidak layak disebut kelas eksekutif. Misalnya : Tidak adanya meja lipat yang biasa disimpan di sandaran tangan di kursi (Ini pengalaman naik Bima 18 Nov 2014 kemarin), sandaran tangan sisi tengah yang anjlok, kursi dan interior yang kusam, ada coretan atau bekas baret di sana – sini, dan lain – lain. Atau bisa jadi kita tertipu, seperti saat aku naik Bima minggu kemarin. Aku kira mendapatkan gerbong baru setelah melihat gerbong yang bersih, gordyn kaca yg tidak terbuat dari kain dll. Tetapi sepertinya gerbong rekondisi yang aku dapatkan. Kesimpulan itu aku dapat saat melihat kayu di dinding kereta yang melintang di tempat colokan kabel yang dulu lazim ditemui saat awal – awal fasilitas charger dikenalkan di kereta api. Kemudian pintu ke kabin penumpang yang biasanya tinggal tekan tombol tetapi harus digeser manual dengan tangan. Dan juga toilet jongkok yang tersedia.

Kereta api masih terbantu dengan harga tiket pesawat yang melambung tinggi. Tetapi jika tidak berbenah dan harga tiket pesawat tidak jauh berbeda dengan kereta api seperti 10 tahun lalu maka bisa jadi kondisi kereta api kembali seperti 10 tahun lalu.

Perbaikan stasiun dan fasilitasnya perlu. Tetapi perbaikan di gerbong dan kabin penumpang jauh lebih perlu karena penumpang menghabiskan waktunya lebih lama di sini daripada di stasiun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: