Oleh: ekoyw | Agustus 14, 2015

3000 km Tour de Java Madura – Mudik 2015

Mudik Lebaran, siapa yang tidak menantikan momen satu ini? Entah siapa yang memulai, tapi Lebaran tanpa ritual ini seolah kurang lengkap bahkan di jaman yang modern saat ini pun. Di saat komunikasi begitu mudahnya tanpa perlu menunggu Pak Pos berbulan – bulan untuk menerima kabar dari keluarga dan juga di saat sarana transportasi sudah semakin maju dengan fasilitas yang bertambah tanpa perlu kepanasan dan hanya ada satu kipas angin di bagian depan dekat sopir bis… (Ini sih pengalaman era tahun 80-an hehehehe).

Tulisan ini bercerita tentang Mudik Lebaran 2015.

Persiapan mudik sudah aku lakukan jauh hari sebelum lebaran. Mulai service lengkap mobil tidak sekedar tune up dan ganti olie, tetapi juga cek rem, kaki – kaki dll. Roofrack yang tahun lalu dibeli dan sempat dicopot pun dipasang kembali. Sampai ban yang sudah udzur pun diganti malah beberapa bulan sebelum berangkat. Bensin 200 rb sekitar 27 literan pun sudah diisikan sehari sebelumnya.

Hari H tanggal 11 Juli 2015 pun tiba. Rencana kami berangkat pukul 03.00 dan sholat Shubuh di rest area antara Cikarang – Cikampek. Sore sebelumnya, semua bawaan sudah masuk ke mobil kecuali beberapa tas kecil yang akan sering keluar masuk untuk beberapa keperluan di jalan. Dan inilah penampakan saat packing :

Isi Mobil Saat Packing

Isi Mobil Saat Packing

Dan… jam 02.00 11 Juli 2015 pun tiba. Sang istri sudah sibuk di dapur untuk sekedar menyiapkan sarapan dan bekal yang rencana akan dimakan di rest area saja. Sang putri pun sudah bangun dan dengan semangat untuk mandi karena tahu hari ini sudah ditunggu – tunggu lama untuk ketemu dengan eyang – eyangnya.

Pukul 03.00 pun kami bertiga, yang terdiri dari satu sopir, satu kenek dan juragan tuan putri di belakang, berangkat setelah terlebih dulu aku reset Odometer untuk ukur berapa sih total nanti sampai kembali pulang. Jalanan dari Citra Indah – Cikarang yang biasanya saat siang juga macet di sekitar Pasar Serang masih lengang dan sepi. Alhasil, kami tempuh jarak sekitar 25 km itu sekitar 40 – 45 menitan. Untuk kemudian masuk gerbang tol. Perkiraan awalku, jam 04.15 masuk tol Cikarang, kemudian jam 04.45 an sudah sampai rest area sebelum Cikampek. Tapi perkiraan itu pun meleset. Kami masuk tol lebih cepat dan ternyata di tol arah Cikampek tidak terjadi kemacetan sama sekali seperti tahun sebelumnya saat butuh waktu 3 jam lebih untuk tembus ke Cikampek. Sehingga… rencana sholat Shubuh di rest area Karawang pun batal karena belum Shubuh.

Dan…. Cipali… Here we come !!!! Tol terpanjang ini memang heboh, heboh segalanya. Semula aku kira akan ada kemacetan saat akan masuk gardu Cikopo, alhamdulillah masih kosong meski di sini tanda – tanda penyebab macet sudah terlihat. Petugas tol masih berbaju putih yang sepertinya masih magang dan ada seorang disana yang mendampingi. Meski hanya beberapa detik, pelayananan sang petugas masih terlihat lambat dan sepertinya belum siap menghadapi serbuan mobil saat mudik ini.

Dan di Cipali pula, waktu shubuh tiba. Aku putuskan untuk berhenti di rest area pertama yang aku temui, yakni di KM 86. Parkir mobil masih banyak yang kosong, tapi kesan banyak bangunan yang masih darurat dan belum siap tampak jelas terlihat. Tapiii….. ternyata air habis di toilet. Beberapa pemudik nampak membawa botol minuman karena sudah tidak tahan. Akhirnyaa… yaaa Sholat Shubuh saja, ga jadi ke toilet. Ntar aja di rest area selanjutnya.

Rest Area KM 86 yang masih darurat

Rest Area KM 86 yang masih darurat

Perjalanan pun dilanjutkan. Di sini baru terasa kebenaran berita tentang Cipali. Tanpa harus menekan pedal gas pun, kecepatan mobil bertambah dengan sendirinya. Sebetulnya bisa dijelaskan dengan sederhana. Saat mobil kita bergerak konstan dengan kecepatan tinggi dengan hambatan yang kecil maka perubahan kecil pada kecepatan, seperti hanya menginjak pedal gas beberapa milimeter yang mungkin tidak terlalu dirasakan, sudah cukup untuk menambah kecepatan mobil. Di Cipali ini memang tidak bisa meleng. Mataku pun awas sesekali melihat speedometer. Saat kecepatan sudah menyentuh 100 km/jam, aku angkat sedikit kaki dari pedal gas. Aku pun terus mengambil lajur kiri dan hanya mengambil lajur kanan saat ingin mendahului.

Setia Meluncur di Lajur Kiri Cipali

Setia Meluncur di Lajur Kiri Cipali

Hari beranjak terang, fajar pun mulai menyingsing saat kami lintasi Cipali. Benar – benar segar nyetir mobil pada jam – jam sepagi ini jika mata tidak ngantuk. Mendekati pukul 05.30 kami putuskan untuk mencari rest area untuk ke toilet setelah tadi batal karena air habis. Kami sepakat cari rest area yang besar dengan harapan tersedia air. Rest area KM 164 – 166 pun menjadi tujuan kami. Kondisinya lebih ramai daripada di KM 86 tapi entah kenapa kebanyakan pemudik memilih parkir di sisi belakang, sehingga aku teruskan mobil parkir di sisi depan yang masih sangat lengang dan berbatasan dengan jalan tol. Kami berhenti sekitar 1 jam untuk sekalian sarapan bekal yang dibawa dan aku tidur sebentar yang sebetulnya hanya memejamkan mata saja.

Rest Area KM 164 - 166 yang sepi

Rest Area KM 164 – 166 yang sepi

Setelah dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan sekitar pukul 06.30…. Dan, setelah sekian ratus kilometer tanpa macet, kemacetan pun mulai menghadang kami sekitar 10 km setelah rest area. Kemacetan yang menjadi lumayan riuh di medsos. Kemacetan ini adalah antrian keluar Cipali di gardu Palimanan. Entahlah, apakah kembali petugas yang belum siap atau memang hal yang lain, tetapi sekitar 1,5 jam kami habiskan untuk jarak sekitar 10 km sampai GT Palimanan.

Parkir Gratis Jelang GT Palimanan

Parkir Gratis Jelang GT Palimanan

Dampak macet ini, panggilan ke toilet pun datang lagi. Seingatku, setelah Palimanan hanya tertinggal rest area Cirebon yang layak dan tersisa dengan menghapus rest area tol Kanci – Pejagan yang layak disebut gubuk. Ada yang sedikit janggal di rest area Cirebon. Semula tertulis Rest Area KM 226 tetapi ternyata menjadi KM 206. Dugaanku, awal desain jalan tol sebelum tersambung dulu, Rest Area tersebut dihitung on map memang di KM 226. Tetapi setelah Cipali jadi dan mungkin dihitung ulang ternyata menjadi 206 alias maju 20 km. Tapi… ternyata banyak yang memiliki pikiran sama untuk berhenti di rest area ini. Akhirnya aku putuskan hanya lewat dan keluar lagi dan sepakat nanti saja kalo keluar Pejagan, toh ga terlalu lama. Entahlah, rest area di Cirebon ini menurutku paling tidak nyaman. Mulai tanah lapang yang sudah dikapling tikar – tikar yang disewakan, kapling parkir sampai anak – anak kecil yang menjadi peminta – minta. Bahkan saat balik, sandal di Musholla pun tiba – tiba diambil dan dijagain padahal kita ga minta dititipkan.

Oke… perjalanan berlanjut. Jam sekitar pukul 09.00 saat kami melintas di tol Cirebon dan lanjut ke tol Kanci – Pejagan. Dan setiap lewat tol ini hanya gerutuan yang keluar dari mulut apalagi setelah dimanjakan mulusnya tol Cipali. Entahlah beberapa tahun lewat tol ini, gak ada mulus – mulusnya. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di ujung tol Pejagan. Beberapa polisi dari Polres Brebes nampak di sana dan mengarahkan bagi yang terus ke arah Semarang untuk masuk tol Pejagan – Brebes yang masih dalam konstruksi. Info dibukanya tol belum siap ini memang sudah aku dengar jauh hari sebelumnya. Dan sepertinya hari itu, pertama kali dibuka. Dan… inilah balapan Rally Paris – Dakar ala Pejagan – Brebes.

Paris - Dakar ala Pejagan - Brebes

Paris – Dakar ala Pejagan – Brebes

Ternyata lumayan jauh juga untuk sampai keluar di Brebes Timur. Waktu pun beranjak siang. Akhirnya kami putuskan cari rumah makan sekalian ke toilet, sholat dan istirahat sebentar. RM Pringsewu di Tegal yang kami tuju. Selama perjalanan ke RM, setiap menemui mobil yang berselimut debu kami tertawa…. pasti ini yang nasibnya sama ikut rally Paris – Dakar tadi hehehe. Kami berhenti lumayan lama di sini. Sekitar 1,5 – 2 jam kami istirahat termasuk berbaring sejenak memejamkan mata. Maklum… sopir engkel, ga ada penggantinya… hehehehe.

Sekitar pukul 13.30 kami lanjutkan perjalanan. Perjalanan mulai tersendat memasuki Pekalongan dan semakin antri saat akan masuk Batang bersaing dengan truk – truk besar khas Pantura yang menurut aturan hari itu adalah hari terakhir boleh beroperasi. Dan… yang aku heran, kenapa kota – kota besar di Jateng Barat setelah Semarang hampir tidak ada yang memiliki ring road atau bypass, kecuali Pemalang, seperti yang dimiliki kota – kota sisi timurnya seperti Pati, Demak dan Kudus ???

Perjalanan yang merambat ini membuat kami baru mencapai Batang saat ashar sekitar pukul 15.30 an. Sebelum masuk alas roban, aku isi kembali BBM 200 rb. Memasuki alas roban, kami lalui alas roban ini sambil ngobrol banyak. Mulai jati – jatinya yang sudah besar – besar tapi belum ditebang, keangkerannya saman dulu dan sisi – sisi mistisnya. Jelang Gringsing, atas permintaan istri aku lewatkan mobil ke jalur lama alas roban sambil merasakan sempitnya jalur dan jalan yang berkelok – kelok meski tidak panjang.

Rencana awal, kami rencana akan menginap di Demak atau Kudus. Kenapa bukan Semarang? Jawabannya simple karena Semarang kota besar yang kami belum hafal jalanannya hehehehehe. Sedang kalo kota kecil, biasanya jalanannya lebih simple dipahami. Tetapi sampai jelang jam 16.30 kami masih berkutat di daerah Kendal. Padahal perkiraan awalku akan masuk Semarang sekitar pukul 2-3 siang. Tapi kemacetan antrian di GT Palimanan dan antara Pekalongan – Batang membuyarkan segalanya. Kudus pun aku coret. Dan Demak yang realistis terkejar. Mataku pun mulai berat. Perasaan jalan mobil udah cepat tapi kenapa kok disalip terus? Kulirik speedometer, alamak cuma jalan 40 km/jam? Wajar saja jika banyak yang salip. Ini berarti alarm harus berhenti dan istirahat lagi.

Setelah berhenti sebentar disebuah pom bensin di Kendal untuk sekedar ke toilet dan cuci muka serta berbaring sebentar, kami lanjutkan perjalanan. Jelang maghrib kami mulai masuk pinggiran Semarang sekitar terminal Mangkang sambil bergulat dengan jalanan yang kembali macet. Aku putuskan untuk lewat pelabuhan yang jaraknya relatif lebih pendek dibanding jika harus melingkar ke selatan lewat tol. Sebetulnya, ini pertama kali aku nyetir sendiri lewat pelabuhan ini. Jalur ini pun aku ketahui karena biasa naik bis Jakarta – Surabaya.

Jalanan mulai gelap, sementara putriku mulai rewel ngajak nginap di hotel. Sebelumnya saat berhenti di Kendal aku sempat browsing lokasi hotel di Demak. Dan Hotel di pinggiran by pass Demak yang kami tuju. Kenapa Demak yang kami tuju? Harapanku bisa sholat lebih lama di Masjid Demak sambil menikmati kuliner di sana.

Akhirnya pukul 19.00 kami sampai dan check in. Setelah mandi dan tanya arah jalan, kami ke Masjid Agung Demak. Masjid yang sudah tersohor sejarah dan keagungannya. Sedikit kecewa saat ke masjid ini. Mungkin karena tepat malam minggu. Alun – alun nampak meriah dan ramai seolah bersaing dengan jamaah yang sedang sholat Tarawih di sini. Kekecewaanku belum berhenti. Setelah sholat, sambil menunggu istri dan putriku, aku melihat sepasang muda – mudi duduk dengan mesranya di emperan masjid. Tidak jauh dari jamaah (sepertinya jamaah ziarah) yang sedang sholat tarawih. Bukan itu yang membuat kecewa. Tapi sang cewek memakai jaket forum mahasiswa Islam dari sebuah perguruan tinggi negeri di Solo. Sepertinya berkurang sudah keagungan Masjid Agung ini.

Selesai sholat, gule sekitar parkiran masjid yang kami tuju untuk mengisi perut karena bingung makanan khas apa yang tersedia di Demak semalam itu. Yo wis lah… apa yang ada. Sambil balik ke hotel, kami beli dua bungkus Nasi Goreng karena porsi nasi di gule tadi kurang nendang hehehehe.

Ada yang menarik di Demak ini. Hampir semua warung pecel Lele, Bebek dan sejenisnya hanya diberi tulisan Warung Lamongan. Sebagai warga Lamongan, tentu bangga hehehe. Sampai – sampai, saat pagi kami check out, kami dikira resepsionis sebagai bos warung Lamongan juga hahahahaha….. Alhamdulillah sudah ada yang menganggap sebagai bos bukan karyawan😀

12 Juli 2015, pukul 07.30 perjalanan kami lanjutkan. Udara masih segar, jalan mulus, lebar dan lebih sepi dibandingkan arah Semarang – Jakarta. Rencana awal pengin sarapan Soto Kudus atau Garang Asem khas Kudus. Entah karena terlalu pagi sampai Kudus sehingga warung soto yang katanya terkenal itu belum buka. Kami lanjutkan ke Pati dan berhenti sarapan di Waroeng Pati milik Kacang Dua Kelinci. Kesan pertama….. harganya mahal dan rasanya juga nggak terlalu otentik. Hanya pengemasan tata ruangnya yang bagus. Aku pesen Nasi Gandul dan anakku pesen Soto yang akhirnya tidak termakan. Anakku memang hanya bisa masuk Soto Lamongan atau Madura saja. Selain itu, pasti dibilang sotonya nggak enak hehehehe.

Nasi Gandul Pati

Nasi Gandul Pati

Setelah kenyang, perjalanan dilanjutkan dan mampir dulu ke rumah seorang teman kuliah yang telah menjadi juragan besi tua di Juwana. Lumayan, beberapa kotak Bandeng Juwana menambah oleh – oleh kami hehehehe.

Hari semakin siang, sekitar jam 12.30 kami lanjutkan perjalanan. Jalanan Pantura Semarang – Tuban sangat – sangat mulus, lebar dan relatif lebih sepi dibanding ke arah Pantura. Ini berbeda dengan sekitar 10 tahun yang lalu yang rusak dan sempit. Kami lewati Rembang, kemudian Lasem yang  kaya bangunan – bangunan kuno khas Thionghoa. Dan akhirnya bertemu pantai yang setia mendampingi kami sampai Tuban.

Pinggir Laut Jawa

Pinggir Laut Jawa

Rembang – Tuban ternyata 100 km atau sama dengan jarak Tuban – Surabaya. Rasanya jauh sekali untuk sampai Tuban. Begitu sampai Tuban, rumah serasa sudah dekat. Deretan penjual Legen dan Siwalan menghiasi jalanan ke arah Babat. Dan… akhirnya masuk ke Kab Lamongan. Selepas Babat, sekitar jam 14.45 kami beristirahat sebentar di sebuah masjid untuk Sholat dan berbaring sejenak. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan. Ternyata kami berhenti lagi karena tergoda dengan bakso khas Jawa Timuran di sebuah rest area.

Dan sekitar pukul 16.30 dan setelah sekitar 785 km dari Citra Indah, kami pun sampai di rumah.

Parkir sampai rumah

Parkir sampai rumah

Pegel juga karena nyetir sendirian selama dua hari, apalagi ini pengalaman pertama. Tapi Puasss dan bersyukur sampai dengan selamat di kampung halaman.

Semoga tulisannya bersambung… lho…???😀


Responses

  1. Terima kasih sudah berbagi informasi mas Eko.
    Semoga Bukit Lavendernya lekas ditempati = )

    Setiap Sabtu malam kita ngumpul sambil ngupi2 di pos jaga.

    • Wah… ente dari Lavender juga yaa bro? Seneng kalo warganya bisa kompakan. Dan harusnya itu lebih mudah di Lavender karena penduduknya tidak sebanyak cluster lain😀

  2. Di kampung kami pengen di pasangin tower BTS,soalx jaringan disini gk ada.
    Gmna carax….??? Mohon infonya/hub: kami di 085259100970


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: