Oleh: ekoyw | September 17, 2015

Pertimbangan Bisnis Usulan Tower BTS Baru

Dari tulisan sebelumnya tentang lokasi tower BTS https://ekoyw.wordpress.com/2011/05/02/mencari-kandidat-lokasi-bts/ sebetulnya membahas tentang hal teknis dan sederhana bagaimana mencari lokasi teknis tower BTS. Tetapi entah kenapa, banyak yang memberi komentar menawarkan tanah atau mengusulkan lokasi tower BTS . Padahal ane bukan bagian pembangunan tower ataupun kerja di perusahaan Tower Leasing Provider (TLP) seperti Mitratel, Tower Bersama, dll. Entahlah…. semoga ada yang membaca tulisan para pemberi komentar tersebut dan memberi tanggapan.

Baik… di tulisan ini akan sedikit menceritakan tentang aspek bisnis ketika ada usulan tower baru. Jadi…. bukan hanya masalah teknis lokasi yang pas, belum ada kompetitor saja yang jadi pertimbangan pembangunan tower. Hitungan bisnisnya harus masuk. Maklum bro… bagaimana pun juga operator seluler itu juga entitas bisnis yang tetap menghitung rugi laba dalam setiap operasinya. Apalagi saat ini kompetisi antar operator sangat ketat, margin kecil dan penetrasi pasar yang mulai jenuh. Belum lagi ditambah kondisi ekonomi yang sedang melemah. Memang sih, bisa jadi hitungan bisnis ini dikesampingkan misalnya dalam kasus saat operator ‘menerima perintah’ dari pemerintah untuk  menjalankan Public Service Obligation (PSO) misalnya pembangunan tower di daerah perbatasan dengan negara lain, permintaan kepala daerah dan lain – lain. Tapi untuk tulisan kali ini, kita kesampingkan hal tersebut. Kita asumsikan pembangunan tower ini tanpa campur tangan pemerintah.

Oke… kita mulai saja.

Seperti investasi lainnya, hal pertama yang dihitung adalah biaya atau cost. Pertama adalah cost dari Capital Expenditure (CAPEX). Cost ini adalah biaya awal saat pembangunan tower. Hanya yang masuk komponen ini seperti misalnya :

  • Civil Mechanical Electrical : Tower, shelter, power (genset, PLN, solar cell, dll), semua aksesoris (alarm, AC, dll), biaya instalasi.
  • Perangkat BTS : Antenna BTS, module – module BTS, biaya instalasi, commissioning, integrasi dengan BSC, jaminan spare part.
  • Perangkat transmisi : Antenna Microwave, IDU, ODU, biaya instalasi.
  • Site Acquisition (SITAC) : Sewa lahan dan berbagai perizinan.

Kita buat saja perkiraan total Capex sekitar Rp 2 – 3 Miliar.

Selain CAPEX, ada juga Operational Expenditure (OPEX) yakni biaya operasional yang diperkirakan dikeluarkan selama beroperasinya BTS tersebut dalam jangka waktu tertentu sesuai masa depresiasi perangkat, misalnya dibuat selama 8 tahun. Biaya OPEX ini yang paling sering berasal dari :

  • Network cost : Biaya Izin Siaran Radio (ISR) yang seperti kita ketahui setiap perangkat, baik BTS maupun transmisi, yang memancarkan frekuensi maka perlu memiliki izin tersendiri.
  • Biaya power : Estimasi biaya langganan PLN, biaya pembelian solar BBM, maintenance genset, dll. Sebagai gambaran, jika BTS tersebut memakai PLN multiguna yakni tanpa kWh meter maka PLN akan memberi tagihan sekitar 6 jtan per bulan. Jika bukan multiguna maka sekitar 3 – 4 jt per bulan. Biaya power akan lebih besar jika site tersebut menggunakan genset. Operator ‘diharuskan’ membeli solar dengan harga solar industri. Jika dalam setahun dibutuhkan BBM sekitar 15.000 liter dengan harga per liter solar industri sekitar Rp. 13.000 maka untuk BBM saja butuh sekitar Rp. 195 jtan. Belum biaya operasional genset seperti penggantian filter solar dan olie, penggantian spare part yang rusak dll.
  • Biaya transmisi : misalnya karena lokasi terpencil maka BTS tersebut perlu menggunakan transmisi VSAT (Very Small Aperture Terminal) melalui satelit dan timbul biaya sewa VSAT jika operator tersebut tidak memiliki kapasitas satelit yang cukup. Sebagai gambaran, biaya sewa link sebesar 2 E1 sekitar 900 jtan per tahun. Dan link sebesar itu hanya sesuai untuk layanan 2G meski bisa dipaksa 2G + 3G dengan 3G sangat minimalis.
  • Biaya sales : sebagus apapun lokasi tower jika tanpa aktifitas penjualan di sana maka yaa tetap tidak bisa memaksimalkan pendapatan. Biaya sales bisa diambil dalam prosentase terhadap revenue, misalnya sebesar 30 % dari total revenue per tahun.

Nah…. setelah komponen – komponen biaya CAPEX dan OPEX diketahui maka yang tak kalah penting yang perlu diketahui adalah berapa estimasi revenue yang akan didapatkan dari investasi tersebut? Acuan paling mudah adalah Average Revenue Per User (ARPU). ARPU ini biasanya akan selalu muncul dalam setiap laporan keuangan triwulan dan tahunan setiap operator seluler. Beberapa tahun terakhir, nilai ARPU beberapa operator hanya berkisar Rp 25 – 30 an ribu per pelanggan per bulan. Artinya rata – rata pelanggan mengeluarkan biaya membeli pulsa sekitar Rp. 30an ribu.

Oke… setelah kita miliki CAPEX yang misalnya kita asumsikan Rp. 3 M dan OPEX misalnya Rp 250 jt untuk power, Rp 900 jt untuk transmisi VSAT, dengan asumsi tower dibangun di daerah terpencil yang jauh dari lokasi tower terdekat, dan Rp 50 jt untuk sales dan total Rp 1,2 M per tahun maka kita tinggal hitung berapa revenue sebagai targetnya.

Langkah selanjutnya adalah penghitungan Business Case. Output dari Business case ini adalah diketahui berapa IRR (Investment Rate of Return) dan NPV (Net Present Value). IRR dalam persen dan NPV dalam rupiah. Hal yang ingin diraih adalah jika IRR mencapai nilai minimal 20 %. Jika terlalu tinggi misalnya sampai 100 % maka malah tidak masuk akal.

Contoh Output Business Case

Contoh Output Business Case

Gambar di atas adalah contoh tampilan output business case untuk kasus CAPEX sekitar Rp. 3 M dan OPEX sebesar Rp 1,2 M selama 8 tahun. Nilai IRR 21 % didapat dengan asumsi revenue per tahun sebesar Rp 2,2 M selama 5 tahun dan kemudian menurun 20 % pada tahun ke 6 sampai 8. Revenue Rp 2,2 M selama setahun ini setara dengan Rp 191 jt per bulan. Atau…. jika ARPU adalah Rp 30 rb maka nilai Rp 191 jt per bulan ini akan diraih oleh sekitar 6400 pelanggan.

Jika asumsi kita tidak memakai VSAT maka OPEX menjadi Rp 300 jt dan IRR 20% akan dicapai saat revenue per tahun sebesar Rp 1,4 M yang akan diperoleh dari 3900 pelanggan dengan ARPU Rp. 30 rb per bulan.

Nah.. kira – kira nih, mungkin nggak jumlah 6400 atau 3900 pelanggan tersebut tercapai dalam radius layanan tower BTS yang kita ambil rata – rata 5 – 8 km dari tower?? Asumsi paling kasar dengan menghitung jumlah kepala keluarga dalam radius tersebut.

Bisakah IRR dengan nilai sebesar itu diperoleh dengan cara lain?

Jawaban bisa… !!!

Pertama, meminimalkan cost. Misalnya jika ada perusahaan di lokasi tersebut maka bekerjasama dengan perusahaan untuk menggunakan lokasinya dan jika bisa perusahaan tersebut memberikan juga supply power ke tower.

Kedua, meningkatkan ARPU saat jumlah total pelanggan tidak mungkin tercapai. Di sini bisa berupa tawaran berlangganan pasca bayar dari operator, misalnya kepada perusahaan tambang untuk mendaftarkan semua karyawannya berlangganan pasca bayar.

Ketiga, menambahkan pelanggan corporate. Sehingga tower tersebut tidak hanya memberi layanan seluler buat masyarakat umum tetapi juga memberi layanan akses data ke perusahaan yang berlangganan corporate dengan operator.

Meski tidak selamanya akurat, operator biasanya juga akan melihat profile tower – tower di sekitar tower BTS yang diusulkan tersebut. Apakah high traffic? Berapa cost rata – ratanya? Berapa availability-nya? Berapa rata – rata pelanggannya? dll. Hal ini juga akan menjadi pertimbangan bagi operator.

Nah… kurang lebih begitulah pertimbangan bisnis singkat pembangunan tower BTS. Semoga bisa memberi pencerahan kepada yang memberi komentar di tulisan – tulisan sebelumnya.


Responses

  1. Saya kadang resah dengan sinyal xl yg sering lemot, sementara paket yg di sedoakan semakin melunjak mahal, beda dengan telkomsel, simpati yg lebih mutah meriah.
    Saya tinggal di kab.sumenep saya ingin menyewakan tanah ponggir jalan raya, luadnya sangat mencukupi untuk menggarap tower, mingkin afa yg berminat silahkan untuk munghubungi 087702111583 atau emial eilwinalerpok@gmail.com

  2. Di kampungku belum ada tower sama sekali, banya para pelanggan yg mengeluh sinyalnya prepet2 apa lagi jaringan internetnya tidak jos…
    Saya tinggal di dsn.dampit ds.asmoro bangun kec.puncu kab.kediri
    Sebelah rumah saya ada lahan kosong saya rasa cocok bila di bangun tower tempatnya di tengah-tengah pemukiman.
    Bila minat mau sewa silahkan surve telp.085856464759

  3. di kampungku belum ada signal, saya sudah berulang kali mengirimkan email ke operator untuk memberikan solusi, namun tidak ada jawaban yang memuaskan, saya tinggal di Dsn Tlogo, Desa Tlogoharjo, Kec. Giritontro. Kab. Wonogiri. Jawa Tengah
    saya punya tanah yang cocok untuk BTS, saya berharap bisa bekerja sama agar di desa saya segera ada signal
    Bila berminat hubungi hp no 08179129180,

  4. Thanks atas sharingnya. Dikampung saya ada orang yg mengaku dari esia mau bikin BTS Esia. Apakah memang esia tetap masih bikin BTS. Dan apakah memang lokasi tanah ngga perlu ada survey? Mohon pencerahannya.

    • Wah.. saya bukan orang ESIA pak. Setau saya untuk tower saat ini lebih banyak tower provider seperti TBG, yang membangun.

  5. Mas Ekoyw..! mohon dibantu mereferensikan Rooftop Ruko saya kepada Team Sitac semua provider, siapa tahu ada yg menjadikan tempat saya sebagai kandidat penempatan BTSnya. Untuk lebih jleas iklannya sudah saya pasang di OLX.
    Linknya:
    http://olx.co.id/iklan/disewakan-rooftop-ruko-untuk-penempatan-bts-IDg3wqk.html

    Terimakasih
    Bpk Made Yudiana
    081338620031

  6. Dikampung saya telkomsel jaringannya hilang hilang dan kalau nelpon suaranya putus putus kadang sampai gak ada suaranya. Saya dimadura sumenep rubaru matanair. Dan saya punya tanah dipinggir jalan mas ekoyw.
    Kalau minat hub 082336161217

  7. Di belakang rumah saya ada sebidang tanah kosong dgn luas 14m×20m akses jln kendara roda empat, alamat kp.kademangan Ds.parigi kec.cikande kbupaten.serang-banten lebih detailnya hub.081281009093 bpk.agun gunawan atau email agungunaone@gmail
    .com

  8. saya juga ada lahan untuk BTS di daerah Rajeg Kabupaten Tangerang, 10 m x 20 m, blm ada BTS disekitar, penduduk padat dan prospektif akan berkembang terus pemukimannya, kiri kanan lahan masih kosong, minat hub 081234885611 atau 085710345444 agus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: