Oleh: ekoyw | Agustus 14, 2015

3000 km Tour de Java Madura – Mudik 2015

Mudik Lebaran, siapa yang tidak menantikan momen satu ini? Entah siapa yang memulai, tapi Lebaran tanpa ritual ini seolah kurang lengkap bahkan di jaman yang modern saat ini pun. Di saat komunikasi begitu mudahnya tanpa perlu menunggu Pak Pos berbulan – bulan untuk menerima kabar dari keluarga dan juga di saat sarana transportasi sudah semakin maju dengan fasilitas yang bertambah tanpa perlu kepanasan dan hanya ada satu kipas angin di bagian depan dekat sopir bis… (Ini sih pengalaman era tahun 80-an hehehehe).

Tulisan ini bercerita tentang Mudik Lebaran 2015.

Persiapan mudik sudah aku lakukan jauh hari sebelum lebaran. Mulai service lengkap mobil tidak sekedar tune up dan ganti olie, tetapi juga cek rem, kaki – kaki dll. Roofrack yang tahun lalu dibeli dan sempat dicopot pun dipasang kembali. Sampai ban yang sudah udzur pun diganti malah beberapa bulan sebelum berangkat. Bensin 200 rb sekitar 27 literan pun sudah diisikan sehari sebelumnya.

Hari H tanggal 11 Juli 2015 pun tiba. Rencana kami berangkat pukul 03.00 dan sholat Shubuh di rest area antara Cikarang – Cikampek. Sore sebelumnya, semua bawaan sudah masuk ke mobil kecuali beberapa tas kecil yang akan sering keluar masuk untuk beberapa keperluan di jalan. Dan inilah penampakan saat packing :

Isi Mobil Saat Packing

Isi Mobil Saat Packing

Dan… jam 02.00 11 Juli 2015 pun tiba. Sang istri sudah sibuk di dapur untuk sekedar menyiapkan sarapan dan bekal yang rencana akan dimakan di rest area saja. Sang putri pun sudah bangun dan dengan semangat untuk mandi karena tahu hari ini sudah ditunggu – tunggu lama untuk ketemu dengan eyang – eyangnya.

Pukul 03.00 pun kami bertiga, yang terdiri dari satu sopir, satu kenek dan juragan tuan putri di belakang, berangkat setelah terlebih dulu aku reset Odometer untuk ukur berapa sih total nanti sampai kembali pulang. Jalanan dari Citra Indah – Cikarang yang biasanya saat siang juga macet di sekitar Pasar Serang masih lengang dan sepi. Alhasil, kami tempuh jarak sekitar 25 km itu sekitar 40 – 45 menitan. Untuk kemudian masuk gerbang tol. Perkiraan awalku, jam 04.15 masuk tol Cikarang, kemudian jam 04.45 an sudah sampai rest area sebelum Cikampek. Tapi perkiraan itu pun meleset. Kami masuk tol lebih cepat dan ternyata di tol arah Cikampek tidak terjadi kemacetan sama sekali seperti tahun sebelumnya saat butuh waktu 3 jam lebih untuk tembus ke Cikampek. Sehingga… rencana sholat Shubuh di rest area Karawang pun batal karena belum Shubuh.

Dan…. Cipali… Here we come !!!! Tol terpanjang ini memang heboh, heboh segalanya. Semula aku kira akan ada kemacetan saat akan masuk gardu Cikopo, alhamdulillah masih kosong meski di sini tanda – tanda penyebab macet sudah terlihat. Petugas tol masih berbaju putih yang sepertinya masih magang dan ada seorang disana yang mendampingi. Meski hanya beberapa detik, pelayananan sang petugas masih terlihat lambat dan sepertinya belum siap menghadapi serbuan mobil saat mudik ini.

Dan di Cipali pula, waktu shubuh tiba. Aku putuskan untuk berhenti di rest area pertama yang aku temui, yakni di KM 86. Parkir mobil masih banyak yang kosong, tapi kesan banyak bangunan yang masih darurat dan belum siap tampak jelas terlihat. Tapiii….. ternyata air habis di toilet. Beberapa pemudik nampak membawa botol minuman karena sudah tidak tahan. Akhirnyaa… yaaa Sholat Shubuh saja, ga jadi ke toilet. Ntar aja di rest area selanjutnya.

Rest Area KM 86 yang masih darurat

Rest Area KM 86 yang masih darurat

Perjalanan pun dilanjutkan. Di sini baru terasa kebenaran berita tentang Cipali. Tanpa harus menekan pedal gas pun, kecepatan mobil bertambah dengan sendirinya. Sebetulnya bisa dijelaskan dengan sederhana. Saat mobil kita bergerak konstan dengan kecepatan tinggi dengan hambatan yang kecil maka perubahan kecil pada kecepatan, seperti hanya menginjak pedal gas beberapa milimeter yang mungkin tidak terlalu dirasakan, sudah cukup untuk menambah kecepatan mobil. Di Cipali ini memang tidak bisa meleng. Mataku pun awas sesekali melihat speedometer. Saat kecepatan sudah menyentuh 100 km/jam, aku angkat sedikit kaki dari pedal gas. Aku pun terus mengambil lajur kiri dan hanya mengambil lajur kanan saat ingin mendahului.

Setia Meluncur di Lajur Kiri Cipali

Setia Meluncur di Lajur Kiri Cipali

Hari beranjak terang, fajar pun mulai menyingsing saat kami lintasi Cipali. Benar – benar segar nyetir mobil pada jam – jam sepagi ini jika mata tidak ngantuk. Mendekati pukul 05.30 kami putuskan untuk mencari rest area untuk ke toilet setelah tadi batal karena air habis. Kami sepakat cari rest area yang besar dengan harapan tersedia air. Rest area KM 164 – 166 pun menjadi tujuan kami. Kondisinya lebih ramai daripada di KM 86 tapi entah kenapa kebanyakan pemudik memilih parkir di sisi belakang, sehingga aku teruskan mobil parkir di sisi depan yang masih sangat lengang dan berbatasan dengan jalan tol. Kami berhenti sekitar 1 jam untuk sekalian sarapan bekal yang dibawa dan aku tidur sebentar yang sebetulnya hanya memejamkan mata saja.

Rest Area KM 164 - 166 yang sepi

Rest Area KM 164 – 166 yang sepi

Setelah dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan sekitar pukul 06.30…. Dan, setelah sekian ratus kilometer tanpa macet, kemacetan pun mulai menghadang kami sekitar 10 km setelah rest area. Kemacetan yang menjadi lumayan riuh di medsos. Kemacetan ini adalah antrian keluar Cipali di gardu Palimanan. Entahlah, apakah kembali petugas yang belum siap atau memang hal yang lain, tetapi sekitar 1,5 jam kami habiskan untuk jarak sekitar 10 km sampai GT Palimanan.

Parkir Gratis Jelang GT Palimanan

Parkir Gratis Jelang GT Palimanan

Dampak macet ini, panggilan ke toilet pun datang lagi. Seingatku, setelah Palimanan hanya tertinggal rest area Cirebon yang layak dan tersisa dengan menghapus rest area tol Kanci – Pejagan yang layak disebut gubuk. Ada yang sedikit janggal di rest area Cirebon. Semula tertulis Rest Area KM 226 tetapi ternyata menjadi KM 206. Dugaanku, awal desain jalan tol sebelum tersambung dulu, Rest Area tersebut dihitung on map memang di KM 226. Tetapi setelah Cipali jadi dan mungkin dihitung ulang ternyata menjadi 206 alias maju 20 km. Tapi… ternyata banyak yang memiliki pikiran sama untuk berhenti di rest area ini. Akhirnya aku putuskan hanya lewat dan keluar lagi dan sepakat nanti saja kalo keluar Pejagan, toh ga terlalu lama. Entahlah, rest area di Cirebon ini menurutku paling tidak nyaman. Mulai tanah lapang yang sudah dikapling tikar – tikar yang disewakan, kapling parkir sampai anak – anak kecil yang menjadi peminta – minta. Bahkan saat balik, sandal di Musholla pun tiba – tiba diambil dan dijagain padahal kita ga minta dititipkan.

Oke… perjalanan berlanjut. Jam sekitar pukul 09.00 saat kami melintas di tol Cirebon dan lanjut ke tol Kanci – Pejagan. Dan setiap lewat tol ini hanya gerutuan yang keluar dari mulut apalagi setelah dimanjakan mulusnya tol Cipali. Entahlah beberapa tahun lewat tol ini, gak ada mulus – mulusnya. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di ujung tol Pejagan. Beberapa polisi dari Polres Brebes nampak di sana dan mengarahkan bagi yang terus ke arah Semarang untuk masuk tol Pejagan – Brebes yang masih dalam konstruksi. Info dibukanya tol belum siap ini memang sudah aku dengar jauh hari sebelumnya. Dan sepertinya hari itu, pertama kali dibuka. Dan… inilah balapan Rally Paris – Dakar ala Pejagan – Brebes.

Paris - Dakar ala Pejagan - Brebes

Paris – Dakar ala Pejagan – Brebes

Ternyata lumayan jauh juga untuk sampai keluar di Brebes Timur. Waktu pun beranjak siang. Akhirnya kami putuskan cari rumah makan sekalian ke toilet, sholat dan istirahat sebentar. RM Pringsewu di Tegal yang kami tuju. Selama perjalanan ke RM, setiap menemui mobil yang berselimut debu kami tertawa…. pasti ini yang nasibnya sama ikut rally Paris – Dakar tadi hehehe. Kami berhenti lumayan lama di sini. Sekitar 1,5 – 2 jam kami istirahat termasuk berbaring sejenak memejamkan mata. Maklum… sopir engkel, ga ada penggantinya… hehehehe.

Sekitar pukul 13.30 kami lanjutkan perjalanan. Perjalanan mulai tersendat memasuki Pekalongan dan semakin antri saat akan masuk Batang bersaing dengan truk – truk besar khas Pantura yang menurut aturan hari itu adalah hari terakhir boleh beroperasi. Dan… yang aku heran, kenapa kota – kota besar di Jateng Barat setelah Semarang hampir tidak ada yang memiliki ring road atau bypass, kecuali Pemalang, seperti yang dimiliki kota – kota sisi timurnya seperti Pati, Demak dan Kudus ???

Perjalanan yang merambat ini membuat kami baru mencapai Batang saat ashar sekitar pukul 15.30 an. Sebelum masuk alas roban, aku isi kembali BBM 200 rb. Memasuki alas roban, kami lalui alas roban ini sambil ngobrol banyak. Mulai jati – jatinya yang sudah besar – besar tapi belum ditebang, keangkerannya saman dulu dan sisi – sisi mistisnya. Jelang Gringsing, atas permintaan istri aku lewatkan mobil ke jalur lama alas roban sambil merasakan sempitnya jalur dan jalan yang berkelok – kelok meski tidak panjang.

Rencana awal, kami rencana akan menginap di Demak atau Kudus. Kenapa bukan Semarang? Jawabannya simple karena Semarang kota besar yang kami belum hafal jalanannya hehehehehe. Sedang kalo kota kecil, biasanya jalanannya lebih simple dipahami. Tetapi sampai jelang jam 16.30 kami masih berkutat di daerah Kendal. Padahal perkiraan awalku akan masuk Semarang sekitar pukul 2-3 siang. Tapi kemacetan antrian di GT Palimanan dan antara Pekalongan – Batang membuyarkan segalanya. Kudus pun aku coret. Dan Demak yang realistis terkejar. Mataku pun mulai berat. Perasaan jalan mobil udah cepat tapi kenapa kok disalip terus? Kulirik speedometer, alamak cuma jalan 40 km/jam? Wajar saja jika banyak yang salip. Ini berarti alarm harus berhenti dan istirahat lagi.

Setelah berhenti sebentar disebuah pom bensin di Kendal untuk sekedar ke toilet dan cuci muka serta berbaring sebentar, kami lanjutkan perjalanan. Jelang maghrib kami mulai masuk pinggiran Semarang sekitar terminal Mangkang sambil bergulat dengan jalanan yang kembali macet. Aku putuskan untuk lewat pelabuhan yang jaraknya relatif lebih pendek dibanding jika harus melingkar ke selatan lewat tol. Sebetulnya, ini pertama kali aku nyetir sendiri lewat pelabuhan ini. Jalur ini pun aku ketahui karena biasa naik bis Jakarta – Surabaya.

Jalanan mulai gelap, sementara putriku mulai rewel ngajak nginap di hotel. Sebelumnya saat berhenti di Kendal aku sempat browsing lokasi hotel di Demak. Dan Hotel di pinggiran by pass Demak yang kami tuju. Kenapa Demak yang kami tuju? Harapanku bisa sholat lebih lama di Masjid Demak sambil menikmati kuliner di sana.

Akhirnya pukul 19.00 kami sampai dan check in. Setelah mandi dan tanya arah jalan, kami ke Masjid Agung Demak. Masjid yang sudah tersohor sejarah dan keagungannya. Sedikit kecewa saat ke masjid ini. Mungkin karena tepat malam minggu. Alun – alun nampak meriah dan ramai seolah bersaing dengan jamaah yang sedang sholat Tarawih di sini. Kekecewaanku belum berhenti. Setelah sholat, sambil menunggu istri dan putriku, aku melihat sepasang muda – mudi duduk dengan mesranya di emperan masjid. Tidak jauh dari jamaah (sepertinya jamaah ziarah) yang sedang sholat tarawih. Bukan itu yang membuat kecewa. Tapi sang cewek memakai jaket forum mahasiswa Islam dari sebuah perguruan tinggi negeri di Solo. Sepertinya berkurang sudah keagungan Masjid Agung ini.

Selesai sholat, gule sekitar parkiran masjid yang kami tuju untuk mengisi perut karena bingung makanan khas apa yang tersedia di Demak semalam itu. Yo wis lah… apa yang ada. Sambil balik ke hotel, kami beli dua bungkus Nasi Goreng karena porsi nasi di gule tadi kurang nendang hehehehe.

Ada yang menarik di Demak ini. Hampir semua warung pecel Lele, Bebek dan sejenisnya hanya diberi tulisan Warung Lamongan. Sebagai warga Lamongan, tentu bangga hehehe. Sampai – sampai, saat pagi kami check out, kami dikira resepsionis sebagai bos warung Lamongan juga hahahahaha….. Alhamdulillah sudah ada yang menganggap sebagai bos bukan karyawan :D

12 Juli 2015, pukul 07.30 perjalanan kami lanjutkan. Udara masih segar, jalan mulus, lebar dan lebih sepi dibandingkan arah Semarang – Jakarta. Rencana awal pengin sarapan Soto Kudus atau Garang Asem khas Kudus. Entah karena terlalu pagi sampai Kudus sehingga warung soto yang katanya terkenal itu belum buka. Kami lanjutkan ke Pati dan berhenti sarapan di Waroeng Pati milik Kacang Dua Kelinci. Kesan pertama….. harganya mahal dan rasanya juga nggak terlalu otentik. Hanya pengemasan tata ruangnya yang bagus. Aku pesen Nasi Gandul dan anakku pesen Soto yang akhirnya tidak termakan. Anakku memang hanya bisa masuk Soto Lamongan atau Madura saja. Selain itu, pasti dibilang sotonya nggak enak hehehehe.

Nasi Gandul Pati

Nasi Gandul Pati

Setelah kenyang, perjalanan dilanjutkan dan mampir dulu ke rumah seorang teman kuliah yang telah menjadi juragan besi tua di Juwana. Lumayan, beberapa kotak Bandeng Juwana menambah oleh – oleh kami hehehehe.

Hari semakin siang, sekitar jam 12.30 kami lanjutkan perjalanan. Jalanan Pantura Semarang – Tuban sangat – sangat mulus, lebar dan relatif lebih sepi dibanding ke arah Pantura. Ini berbeda dengan sekitar 10 tahun yang lalu yang rusak dan sempit. Kami lewati Rembang, kemudian Lasem yang  kaya bangunan – bangunan kuno khas Thionghoa. Dan akhirnya bertemu pantai yang setia mendampingi kami sampai Tuban.

Pinggir Laut Jawa

Pinggir Laut Jawa

Rembang – Tuban ternyata 100 km atau sama dengan jarak Tuban – Surabaya. Rasanya jauh sekali untuk sampai Tuban. Begitu sampai Tuban, rumah serasa sudah dekat. Deretan penjual Legen dan Siwalan menghiasi jalanan ke arah Babat. Dan… akhirnya masuk ke Kab Lamongan. Selepas Babat, sekitar jam 14.45 kami beristirahat sebentar di sebuah masjid untuk Sholat dan berbaring sejenak. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan. Ternyata kami berhenti lagi karena tergoda dengan bakso khas Jawa Timuran di sebuah rest area.

Dan sekitar pukul 16.30 dan setelah sekitar 785 km dari Citra Indah, kami pun sampai di rumah.

Parkir sampai rumah

Parkir sampai rumah

Pegel juga karena nyetir sendirian selama dua hari, apalagi ini pengalaman pertama. Tapi Puasss dan bersyukur sampai dengan selamat di kampung halaman.

Semoga tulisannya bersambung… lho…??? :D

Yesss…. akhirnya awal April ini, Commuter Line atau yang dulu disebut sebagai KRL, kembali aktif berangkat dari Stasiun Nambo. Sebuah stasiun yang awalnya diperuntukkan untuk angkutan semen dari Nambo ke Semarang – Surabaya. Sebetulnya jalur yang aneh, mengingat sepanjang pantura Semarang – Surabaya telah ‘dikuasai’ oleh Semen Gresik.

Rasa penasaranku pun tumbuh dengan pertanyaan besar seperti dimana sih letak Stasiun Nambo? Representatif nggak? Jauh nggak dari Citra Indah? Macet nggak? Dan sederet pertanyaan lainnya.

Pertanyaan ini berawal dari kegagalan ngantor pake CL dari Bekasi gara – gara parkir stasiun sudah penuh. Alhasil, seharian kaki kiri harus pegal nginjak kopling menembus belantara macet Jakarta. Berangkat ngantor pake CL ini bisa dijadikan alternatif misalnya saat tahu akan ada jadwal meeting yang lumayan malam yang nanggung. Nanggung karena selesai pas puncak macet sementara nunggu bis feeder Citra Indah atau bis umum lainnya juga nggak jelas berapa lama datangnya.  Pake CL juga bisa jadi alternatif saat misalnya kerja di hari puasa dimana saat pulang kerja kemacetan menumpuk terutama di hari – hari awal puasa saat orang – orang masih giat berpuasa.

Dari segi waktu, naik CL meski harus ke Bekasi juga lebih bisa diprediksi berapa jam sampainya. Perhitunganku, Bekasi – Gondangdia sekitar 30 menit (menurut jadwal CL lho yaa… hehehe) dan Bekasi – Citra Indah berkisar 1,5 jam tergantung kemacetan di Narogong, yang kalo lihat di Google Maps yaa 11 – 12 sama Trans Yogie Cibubur macetnya. Cuma kalo diamati, sepertinya lebih sering macet di Trans Yogie daripada Narogong.

Dari segi biaya, perbedaannya pun tidak jauh. Lebih mahal sedikit memakai CL karena harus ngeluarin biaya bensin, tapi ga terlalu beda jauh dengan jalur tradisional lewat Trans Yogie. Apalagi kalo di jalur tradisional ini pake cara putus nyambung demi mengejar cepat. Misalnya, dari Monas asal naik angkutan yang keluar tol Cibubur dan di Jambore ganti angkot ke Cileungsi kemudian ganti angkot lagi ke Citra Indah. Maka biaya pun nggak beda jauh.

Tapi apa daya, rencana nyoba CL dari Bekasi pun Gatot… hehehehe. Meski akhirnya tahu, kalo mau naik CL harus sepagi mungkin sampai Bekasi agar dapat parkiran mobil utamanya.

Makanya, beroperasinya KRL Nambo pun sempat menjanjikan karena kalo dihitung jaraknya dari perempatan Cileungsi hanya sekitar 10 – 12 km. Atau kalo dari Citra Indah, yaaaa ga beda jauh laaah sama menempuh perjalanan sampai mau masuk Gerbang Tol Cibubur.

Dan, 4 April 2015 kemarin pun perjalanan dimulai dari Giant Metland…lhoo??? Maklum, nganter belanja dulu bro…

Sebelumnya, googling dulu dan ketemu lokasi Stasiun Nambo di sini :

Lokasi Sta Nambo

Lokasi Sta Nambo

Kecil amat bro…??? Hehehe… Ini rutenya dari Cileungsi :

Cileungsi - Stasiun Nambo

Rute Cileungsi – Stasiun Nambo

Menggoda kan bro? Hanya 12 km dari Cileungsi. Meski kita kemudian harus berdesakan naik kereta sekitar 1 jam untuk sampai Manggarai. Ini rute lokasinya jika dari Citra Indah.

Jalur Citra Indah - Nambo

Jalur Citra Indah – Nambo

Terus terang aku belum pernah ikuti kedua jalur itu. Tapi info yang aku dapat, kedua jalur itu kondisi rusak dan banyak yang menyarankan tetap lewat perempatan Cileungsi.

Tetapi… kemacetan telah menghadang begitu keluar dari Giant dan masuk Trans Yogie sampai Cileungsi. Bahkan saat mobil akan belok kiri ke arah Citeureup dari Cileungsi pun kemacetan masih menghadang. Mungkin salah waktu kali yaa.. keluar ke sana saat siang hari saat truk – truk tronton dan bis – bis besar bersiap keluar dari sarangnya.

Keluar Cileungsi, perjalanan lancar… selanjutnya tinggal pasrah diarahkan kemanapun sama GPS Lady yang menyuruh belok kanan – kiri tanpa peduli itu jalanan kampung atau jalan raya hehehe…

Hingga akhirnya sampai di kompleks Semen Holcim plant Narogong. Kalo ngeliat di GPS, harus sudah tidak jauh, tapi kayanya harus masuk jalan desa alias keluar dari Raya Narogong, oke… kita ikuti :

Semen Holcim - Stasiun Nambo

Semen Holcim – Stasiun Nambo

Ternyataa…. masuknya benar – benar ke jalanan sempit khas jalan kampung dan benar – benar keluar masuk kampung melintasi kebun dan sawah – sawah penduduk. Waduuhhh kok terpencil gini nih.

Dari samping kiri nampak deretan tiang elektrifikasi CL, wah dekat stasiun nih. Aku pikir, stasiun akan berada di seberang rel sana yang dekat dengan kawasan Industri. Tetapi ternyata ada di sisi perumahan penduduk ini. Itupun sang mantan pacar yang teriak,”lha.. itu kan stasiunnya…!” Sambil nunjuk pintu stasiun sementara aku tak awas karena konsentrasi nyetir di jalanan yang sempit itu.

Huuiihhsfff… kuputuskan menyeberang rel dan masuk kawasan industri dan kembali ke arah stasiun sambil berharap di sisi inilah stasiun ini berada. Memang sih… ada parkiran truk luas di pinggir rel, tapi sepertinya digunakan untuk bongkar muat semen yang akan diangkut kereta.

Akhirnya aku putuskan untuk kembali pulang dengan melewati jalanan kawasan Industri yang kemudian aku tau mengarah ke Gerbang Tol Gunung Putri. Aku segera keluar, mengarah ke Narogong dan kembali ke arah Cileungsi.

Kesimpulanku sih…..:

– Sebenarnya potensial nih stasiun, tapi letaknya…. terpencil.

– Ga ada angkutan umum, ada sih beberapa angkot lewat depan stasiun. Tapi sepertinya yang akan/dari rumah sopirnya. Ada sih angkot 64 Citeureup – Cileungsi. Tetapi hanya melewati Raya Narogong.

– Buat yang naik motor, bisa jadi alternatif nih… cuma hati – hati saat menuju kesana karena melewati sawah-kebun yang lumayan sepi dan jalan berkelok naik turun.

– Buat yang bawa mobil, kalo ada alternatif masuk dari pintu masuk kawasan Industri, harusnya lebih enak. Jalanan luas dan lebar dan bisa manfaatkan parkir truk – truk Semen dengan konsekuensi kena debu – debu batu kapur.. hehehe..

Stasiun ini potensial sebetulnya untuk menarik minat warga Cileungsi, Cikeas, Gunung Putri pindah ke CL dan mengurangi kemacetan Trans Yogie. Tapi masih banyak sarana penunjang yang mesti diperbaiki.

Untuk sementara, kesimpulan akhirku, jika mau naik KRL masih lebih mending dari Bekasi.

Depok? Jaraknya tidak terlalu beda jauh, belum lagi macetnya Depok + Trans Yogie… :D

Well… semua berawal dari obrolan grup telegram teman – teman kuliah nan seru tur saru dari teman – teman kuliah yang tiga tahun lagi merayakan 20 tahun kebersamaan… tuwek e rek… hehehehe. Grup chatting yang satu ini memang patut diacungi jempol. Banyak diskusi positif meski masih lebih banyak lagi diskusi gak mutu sehingga salah satu member harus angkat kaki dari grup karena menganggap grup ini bener – bener ga mutu…. hehehe. Meski aku sendiri juga tetap bersyukur, karena ternyata teman – teman kuliahku masih wajar….masih wajar gendengnya wkwkwkwk…

Hingga suatu saat kami diskusi belanja online ke situs – situs luar negeri, dan salah satunya ke aliexpress.com yang berasal dari negeri China. Diskusi pun merambah ke betapa murahnya barang – barang di China bisa dibeli di situs ini. Dan melayani pembelian lewat rekening bank Indonesia pula. Ga perlu repot – repot pakai kartu kredit atau repot – repot bikin account paypal. Salah satu yang paling heboh kami bicarakan adalah kapasitas USB Flash Drive yang dijual yang bisa 1 TB dengan harga murah. Bayangin bro… cukup bawa 1 flash drive, dan semua file kita akan kita bawa kemana – mana.

Dan akhirnya, akupun searching ke aliexpress dan tertarik dengan sebuah flash drive OTG dengan kapasitas 64 GB dengan harga US$ 7.4 atau sekitar Rp 90 rban. Jadi bentuknya, seperti USB biasa tetapi punya dua port koneksi. Yakni port koneksi USB 2.0 untuk koneksi misalnya ke PC dan port koneksi mini USB untuk koneksi langsung misalnya ke HP tanpa perlu membawa kabel OTG lagi.

Oke, sebagai percobaan, boleh dicoba untuk dibeli. Kalo barang jelek atau ga sampai, itung – itung cuma rugi 90 rban jika barang ga sampai. Murah siih… tapi luaamaaaaaa nyampenya. Terhitung awal Januari 2015 barang tersebut dikirim dan butuh waktu 5 minggu untuk sampai rumah. Hampir tiap minggu cek posisi pengiriman sampai mana. Tetapi yang termonitor hanya pergerakan barang ketika masih di China, ketika barang dikirim ke Indonesia benar – benar tidak bisa dimonitor meski menggunakan webnya Pos Indonesia.

Akhirnya sekitar minggu kedua Februari, barang tersebut datang. Seneng dong, bisa bawa file – file kesayangan kemana – mana dalam jumlah banyak hehehe. Oke, pertama langsung colok ke PC, dan terconfirm kapasitas adalah 64 GB dengan system terformat exFAT. Sempat mengeryitkan dahi juga, exFAT itu apa? Extended FAT? dan akhirnya mulai browsing tentang exFAT.

OK, langsung test buat copy file. Beberapa file ukurang besar aku copykan, misalnya file – file film. Semua masih happy – happy saja. Hingga suatu saat aku eject flash disk tersebut dan colokan lagi. Dan.. eng.. ing eng… tiba – tiba salah satu folder yang berisi file film terlihat kosong padahal jelas – jelas aku copykan file kesana. Coba ulangi lagi, dan kosong lagi.

Pikiranku awal tidak mengarah ke Flash Disk Palsu, awalnya aku kira paling masalah bad sector atau sejenisnya yang bisa beres dengan format ulang. Oke, akhirnya aku format ulang dengan ganti file system menjadi NTFS dan percobaan write/read file pun diulang. Dan masih terulang… semua file di folder – folder tertentu hilang.

Percobaan selanjutnya, calon tersangka segera ditetapkan sebelum dia sempat mengajukan pra peradilan hehehe… kayanya butuh Low Level Format.  Aplikasi HDD Low Level Format Tool versi 4.40 pun dijadikan alat bukti buat menguji tersangka. Dan… karena tertulis 64 GB, butuh waktu berjam – jam untuk melakukan format ini. Selesai… tetapi tidak pesan error sama sekali yang menunjukkan error sector atau sejenisnya. System file pun aku coba berubah – ubah dari exFAT, NTFS dan ke FAT32. Percobaan write/read pun dilakukan. Saat copy file, semua berjalan lancar… saat flash disk dikeluarkan dan dimasukkan lagi, file – file pun masih nongol di dalamnya. Sedikit senyum kecil… hehehehe… Tetapi ternyata, saat file dibuka, misalnya nyetel film sama sekali tidak bisa diputar. Senyum kecil pun berubah menjadi senyum kecut hiks…

Googling lagi.. dan ketemu kata – kata fake flash drive dan rata – rata didapat dari flash drive yang dijual online di China…. gleggg. Ide flash drive palsu ini adalah dengan merubah settingan controller (mungkin semacam IC) sehingga seolah – olah dia adalah controller untuk flash drive kapasitas besar, padahal kenyataannya kapasitas fisiknya standar – standar saja seperti kebanyakan di pasar. Bener ga nih pengertianku? Pokoknya begitulah… hehehehe. Dan parahnya, PC kita membaca controller itu sebagai flash drive kapasitas besar juga.

Googling lagi… dan ketemu tiga poin utama di flash drive, yakni VID, PID dan controller. Binatang apa tuh ketiganya? Baca saja di sini yaa.. Kalo bisa terjemahin sekalian terus di-share ilmunya :D

Aku pun penasaran, berapa sih kapasitas sesungguhnya dari flash driveku yg tertulis 64 GB ini??? Pertama aku download usbflashinfo. Dimana? Yaa googling dunk :D. Dan dapat data seperti berikut:

Data Flashdrive sebelumnya

Terlihat VID 0011 dan PID 7788 juga controller merk Alcor dan kapasitas sebesar 67 GB. Selanjutnya adalah mencari software untuk mem-flash ulang flash drive ini yang sesuai dengan VID dan PID serta controller tersebut.

Berbagai pencarian mengarah ke situs berbahasa Rusia http://www.usbdev.ru dan flashboot.ru. Domain ‘ru’ ini sudah menunjukkan berasal dari Rusia dan tentu harus siap dengan huruf acryllic-nya. Masalahnya, google translate butuh waktu lumayan lama untuk menerjemahkan bahasa Rusia itu ke tulisan yang lebih manusiawi :D.

Pertama aku cari berdasar VID, PID-nya dan controller Alcor AU6989SN-GT/AU6998SN software yang kucari adalah Alcor seperti ALCOR MP_v14.01.24.00 dan ALCOR_MP_v14.09.12.00. Hasilnya…flash driveku sama sekali tidak dikenali oleh kedua aplikasi tersebut.

Kedua, aku coba cari berdasarkan memory chip-nya yakni Hynix H27UCG8T2ETR dan tetap mencari sesuai controller Alcor AU6989SN-GT/AU6998SN yg akhirnya mengarahkan ke software AlcorMP(140912.MD) yang katanya lebih mudah digunakan untuk orang umum.

Oke… langsung dijalankan dan flashdriveku bisa dikenali. Tanpa basa – basi, karena sudah males baca – baca lagi hehehehe, langsung klik Start (S) mulai lagi low level format dst….. dan eng ing eng, berhasil.

Dan hasilnya seperti berikut setelah dicek sama usbflashinfo :

Data Flashdrive Setelah

Controller dan chip memory tidak berubah.. ya iya lah… kan itu hardware. Tetapi VID dan PID berubah. Dan….. kapasitas flashdrive pun berubah menjadi hanya 8 GB alias 1/8 dari kapasitas awal yang dipromosikan. Hiksss….

Test lagi write and read data. Dan semuanya lancar jaya….

Jadi intinya, tertipu…. hikssssss

Pesan moralnya, jangan mudah terpukau sama barang – barang yang dijual murah apalagi yang dibeli online dari China. Susah untuk ceknya bro !!!

Semoga berguna bagi semua…

Oleh: ekoyw | Desember 23, 2014

Suka Duka Tinggal di Citra Indah (Ini Sukanya…)

Nah.. di bagian ini aku ceritain pendapat pribadiku tentang sukanya tinggal di Citra Indah. Nggak adil dunk kalo cuma dukanya doank… entar bisa disomasi lagi hehehe..

1. Suasana Alam

Suasana alam… yup, untuk yang satu ini Citra Indah tidak berbohong. Bagi anak desa seperti aku yang gagap dan nggak krasan di kota, suasana Citra Indah ini seperti memutar waktu kembali ke masa kecil di desa. Meski tentu lebih modern di Citra Indah. Sabtu dan Minggu serta hari libur lainnya adalah hari yang menyenangkan di Citra Indah. Sekedar jalan – jalan, lari pagi atau bersepeda pagi keliling perumahan atau sekedar foto – foto sambil menghirup udara pagi yang sangat – sangat segar. Sangat beda jauh dengan udara sesak di Jakarta.

Minggu Pagi di Citra IndahNaungan Gunung Gede – Pangrango seperti terlihat pada foto di atas juga ikut menyejukkan mata saat liburan tiba. Tidak heran, area Citra Indah juga sering menjadi tempat piknik dadakan baik dari warga Citra Indah maupun warga dari desa – desa di sekitarnya. Baik sekedar bawa motor maupun berombongannaik pick up. Baik tidak modal makanan dan hanya menyegat pedagang tahu gejrot yang lewat maupun yang sudah membawa bekal dari rumah. Meski kondisi tempat piknik dadakan tersebut juga seadanya.

2. Kuliner

Mau makanan apa di Citra Indah? Gudeg Jogja, Pempek, Sate Madura, Tongseng, Model, Rujak Cingur, Tahu Tek, Pecel, Dawet Ireng, Gado – Gado, dll? Hampir semuanya ada di sini. Dengan warga yang berdatangan dari berbagai daerah membawa kekhasan makanannya masing – masing. Jika malam, cukup berjalan di sekitar sekolah Cikal Harapan maka akan banyak lapak jajanan kaki lima yang tersedia. Belum lagi yang berjajar di depan cluster atau di depan kompleks ruko yang lain.

Rasanya? Ada yang Maknyusss…. meskipun tidak jarang juga terasa hambar. Misalnya pernah tergoda dengan tulisan Soto Ayam Lamongan, tapi setelah dicoba ternyata sangat – sangat jauh dari rasa Soto Ayam Lamongan.

Soal harga pun masih sangat ramah di kantong, apalagi jika dibandingkan dengan jajanan serupa di Jakarta. Meski juga tidak semurah di tempat asalnya hehehehe…

3. Tempat Ibadah

Hampir semua cluster di Citra Indah dilengkapi dengan masjid atau musholla yang rata – rata hasil swadaya warga cluster sendiri. Bagi muslim, tentu hal ini sangat memudahkan dalam beribadah. Sebuah masjid besar juga sedang dibangun dan dimiliki oleh Sekolah Cikal Harapan. Tentu ini akan menjadi kebanggaan baru bagi warga muslim Citra Indah.

Kegiatan bersama muslim se Citra Indah juga terwadahi dengan adanya forum Masjid – Musholla Citra Indah. Beberapa kali ada acara yang melibatkan banyak warga, mulai sekedar sholat Ied sampai sekedar jalan sehat.

Di Citra Indah, juga terdapat beberapa gereja. Yang aku tahu, yang kelihatan besar adalah Gereja di dekat Gedung Futsal.

4. Warganya

Kalo kata istri sih, minimal jika meninggal di Citra Indah kita tidak bakalan pergi sendiri ke kuburan seperti di perumahan – perumahan mewah lainnya. Citra Indah, memang bisa dikatakan sebagai perumahan menengah ke bawah. Meski demikian, hubungan warga bisa dibilang akrab. Meski kita tidak kenal, dengan bekal senyum dan sapa ramah maka juga akan dibalas serupa oleh warga yang lain. Ini contoh kecil yang mungkin akan sulit kita jumpai terutama di perumahan – perumahan mewah. Beberapa kali aku menerima undangan menghadiri hajatan warga lain, yang meski kita tidak kenal baik tetapi setidaknya undangan itu cukup membuat kita senang karena diperhatikan oleh warga lain.

Ok… hampir 11 bulan tinggal di Citra Indah. Banyak hal suka dukanya tinggal di sini. Rasanya udah gatel untuk bisa berbagi tentang hal ini. Syukur – syukur bisa dibaca oleh Ciputra grup untuk dijadikan perbaikan hehehehehe…

Kita mulai dulu nih. Dari dukanya dulu yaa… :D

1. Transportasi

Rasanya untuk yang ini, sangat – sangat layak menduduki peringkat pertama peringkat duka paling tinggi di Citra Indah. Lokasi yang jauh dari ibukota, memaksa transportasi menjadi problem pertama. Memang sih, ada feeder busway ke ibukota dengan rute ke Grogol, Blok M, Mall Artha Gading dan terakhir kelas Elf ke Kuningan. Tetapi sering banyak keluhan terhadap layanan feeder ini. Mulai rute yg terbatas, bis yang juga terbatas, jadwal keberangkatan dan kepulangan yang tidak bersahabat, terlalu permisif dengan penumpang di luar Citra Indah, masih menggunakan bis – bis tua dengan kursi sempit sehingga memaksa beberapa kali dalam beberapa bulan ini harus menggunakan bis pariwisata karena bis reguler harus masuk bengkel. Belum lagi ditambah masalah di luar tanggung jawab pengembang seperti kemacetan sepanjang Trans Yogi, jalan provinsi Cileungsi – Citra Indah yang bergelombang dan bersaing dengan truk – truk besar pengangkut material tanah, dll. Kombinasi di atas, sudah cukup membuat seseorang yang tidak kuat untuk menghadap kamera, mengangkat dan melambaikan tangan tanda tidak sanggup mengikuti uji nyali… lho..?? :D

Apa sih harapan penghuni? Sebetulnya simple, hanya ingin pergi – pulang kerja dengan waktu sesingkat mungkin (karena lokasi rumah sudah jauh) dan senyaman mungkin dengan biaya yang rasional. Tapi yoo.. opo mungkin? :D

Dengan kondisi sekarang, yaa wajar jika fasilitas feeder bukan pilihan utama penghuni. Penghuni bisa memilih naik omprengan atau bersedia ganti angkot dengan bis umum, yang mesti harus mengorbankan kenyaman dan keamanan tetapi memiliki pilihan waktu yang sesuai kebutuhan penghuni.

2. Jalan

Ini yang sampai sekarang aku heran saat melihat jeleknya perbaikan jalan antara kantor pemasaran ke halte feeder busway, yang melewati rimbunnya pepohonan yang sering menjadi tempat bersantai saat hari libur dan pacaran muda – mudi saat malam minggu. Perbaikan ruas jalan ini seolah – olah kontras dengan nama besar Ciputra Grup. Tambalan tidak merata, tinggi dan bergelombang. Saat malam, harus ekstra waspada terutama bagi yang naik sepeda motor pulang kerja saat melewati ruas jalanan ini. Badan yang capek setelah kerja dan keinginan segera sampai rumah untuk beristirahat membuat orang sering memacu motor dengan kecepatan tinggi melewati jalanan bergelombang ini. Ditambah lampu jalan yang tidak cukup menerangi semua sisi jalan karena rimbunnya pepohonan menjadikan kombinasi ruas jalan yang harus dilewati dengan hati – hati saat malam hari.

Tambalan Jalan

Tambalan Jalan

Tidak perlu dibandingkan dengan kondisi jalan utama di perumahan Legenda Wisata atau Kota Wisata atau Lippo Cikarang yang memang wah… mulussss dengan pulau jalan yang lebar dan trotoar yang juga lebar. Sekedar dibandingkan mutu tambalan jalan Citra Indah dengan Harvest City dan Metland Cileungsi saja menurutku masih kalah. Beberapa kali keliling di dua perumahan tetangga Citra Indah ini, memang ada tambalan jalan tetapi mulus, rata dan tidak ragu untuk menginjak gas.

Aku sendiri kurang tahu, padahal ruas jalan ini adalah ‘halaman depan’ Citra Indah yang akan dilihat pertama kali oleh para calon – calon pembeli dan penghuninya tetapi perbaikannya terlihat ala kadarnya. Apakah karena Citra Indah memang untuk kelas menengah ke bawah? Rasanya tidak. Bertahun – tahun tinggal di Surabaya dan melewati Bukit Palma di Surabaya Barat, yang merupakan perumahan menengah ke bawah Ciputra sebagai satelit Citraland Surabaya, tetapi kualitas jalannya juga jempolan. Tidak kalah dengan Citraland sendiri.

3. Trotoar

Masih terkait dengan jalan dan transportasi. Ada yang aneh kalo aku lihat saat menyusuri jalan di dalam Citra Indah, yakni ketiadaan trotoar atau pedestrian buat pejalan kaki. Trotoar hanya tersedia di sisi jalan dari kantor pemasaran sampai halte bis dan berlanjut sampai ke perempatan Bukit Menteng, Bukit Cempaka, Bukit Bunga dan pool bis feeder. Sedangkan ke jalanan utama arah Cluster Alamanda dan seterusnya sampai ujung cluster – cluster baru yang sedang dibangun, sama sekali tidak ditemui trotoar.

Sehingga sekilas jalanan Citra Indah tidak ramah buat pejalan kaki. Mungkin jika di dalam cluster, ketiadaan trotoar masih bisa dimaklumi karena arus kendaraan yang tidak banyak sehingga pejalan kaki relatif aman dari kecelakaan.

Tetapi lain halnya jika trotoar tidak ditemui di jalanan di luar cluster. Pejalan kaki harus berjalan di jalan,  berebut dengan kendaraan dan sepeda yang semakin ramai dengan bertambahnya penghuni Citra Indah. Hal ini juga kontras jika dibandingkan dengan tagline Citra Indah sebagai Kota Nuansa Alam yang semestinya fasilitas trotoar ini menjadi suatu hal yang wajar ada sehingga warganya bisa benar – benar menikmati nuansa alam Citra Indah.

4. Sarana Pendidikan

Oke… ada puluhan PAUD, ada SD dan SMP baik negeri maupun swasta, baik umum maupun yang berbasis agama. Tetapi aku belum ketemu sekolah yang benar – benar berkualitas, dengan mengesampingkan sekolah berbasis agama non Islam. Untuk SD, ada SD Cikal Harapan tetapi terkenal mahal dengan mutu yang aku sendiri kurang tahu meski yakin fasilitasnya mencukupi. Meski fasilitas mendukung kualitas tetapi untuk pendidikan banyak hal yg perlu diperhatikan seperti kualitas guru, cara ajar guru, keterlibatan orang tua dll. Juga ada SDN Citra Indah yang berlokasi di dalam perumahan tetapi baru beberapa tahun buka sehingga belum tahu bagaimana kualitas lulusannya.

SMP? Setali tiga uang dengan SD. Ada beberapa pilihan sekolah di luar perumahan. Tetapi orang tua, terutama orang tua siswa SD, harus berpikir ulang karena lokasinya yang jauh dari rumah meski berada di dekat Citra Indah seperti SDN Cipeucang 2, SD Fatahillah, dll. Yaa harap maklum karena luas Citra Indah yang kalo nggak salah 1000 hektar lebih sehingga lumayan juga kalo naik motor dari ujung keluar kompleks. Meski ada juga sih pilihan untuk naik antar jemput anak.

SMU? Dengar – dengar Sekolah Citra Berkat (yang mengklaim sekolah umum dengan manajemen Kristiani) dan Cikal Harapan akan membuka SMU mulai tahun ajaran 2015 – 2016. Sehingga juga belum diketahui mutu pendidikannya.

Meski aku tidak yakin, sebagian besar penghuni Citra Indah adalah kaum urban perantau dari berbagai daerah yang mengadu nasib di Jabodetabek. Rata – rata tentu mereka pernah mengenyam pendidikan di daerah asalnya, dan bisa jadi banyak yang bersekolah di sekolah – sekolah favorit di daerah. Sehingga tentu wajar jika mereka berharap anak – anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik dari pada orang tuanya. Hal ini yang sering jadi pikiranku apakah entar saat si kecil SMP – SMU, pindah rumah saja misalnya ke daerah yang memiliki sekolah dengan kualitas baik dan biaya pendidikan yang masuk akal.

5. Hiburan dan Belanja

Yup.. ada Waterpark yang menurutku sudah cukup sebagai wisata air. Juga lingkungan yang luas dan sejuk, juga cukup bagi yang ingin refreshing di alam bebas. Juga ada pasar basah yang meski kecil tetapi sudah mencukupi kebutuhan dapur warga Citra Indah.

Tetapi bagi sebagian warga, yang mungkin butuh sesuatu yang lebih, seperti mall atau hypermarket untuk belanja atau sekadar jalan – jalan cuci mata yaa… bersiaplah untuk minimal jalan ke perumahan tetangga di Metland Cileungsi yang menyediakan Giant dan sedang membangun mall. Atau kalo lebih jauh sedikit bisa ke perumahan saudara tua di Citra Gran Cibubur yang menyediakan mall dengan resiko jalanan yang sering macet sehingga harus pintar – pintar memilih waktu berangkat. Atau agak jauhan dikit ke Mall Lippo Cikarang yang meski lebih jauh tetapi relatif lebih cepat daripada ke Cibubur.

Oleh: ekoyw | November 24, 2014

Kereta Api (Lagi)…

Sejak kepindahan ke Jakarta, kereta api memang jadi pilihan utama jika mudik. Meski kalo ditanya, aku lebih senang naik bis karena pemandangan lebih beragam dan bisa semi berpetualang tetapi jadwal bis sering tidak bersahabat dengan jam pulang kantor. Naik bis jadi pilihan saat libur agak panjang. Tetapi saat mudik dengan waktu terbatas, kereta api pilihannya. Pesawat? Kalo dihitung sejak berangkat sampai ke bandara, check in, waktu tunggu sampai dari Surabaya ke rumah rasanya tidak terlalu jauh beda dengan naik kereta api.

Kereta api kini, harus diakui banyak kemajuan di sana – sini. Toilet lebih bersih dan gratis, stasiun juga lebih bersih, tidak ada pedagang kaki lima meski banyak juga yang kehilangan. Misalnya, sekarang tidak bisa lagi aku mencicipi nasi pecel pincuk di stasiun Madiun dan makanan khas setiap stasiun yang dilewati karena tiadanya pedagang kaki lima sementara masakan dari restoran kereta api terasa standar, pilihan tidak beragam dan tidak ada unsur ‘ngangeni’.

Tiket kereta api pun beranjak naik. Sekarang, tiket Jakarta – Surabaya untuk kelas eksekutif berkisar Rp 400 – 500 rban. Sekitar 5 tahun lalu, masih berkisar Rp 300 rban. Kenaikan harga tiket ini memang diikuti peningkatan fasilitas terutama di stasiun. Tetapi sayangnya, masih jarang menyentuh sisi kereta api yang PALING bersentuhan dengan penumpang kereta api, yakni gerbong penumpang.

Entah kebetulan atau aku yang apes, sejak kenaikan tiket aku belum pernah naik kereta api yg menyediakan leg rest seperti dulu lazim ditemui di kereta Argo Anggrek. Kebanyakan adalah foot rest. Foot rest ini sangat tidak sepadan dan masih menimbulkan letih di betis terutama bagi penumpang kereta api jarak jauh. Padahal leg rest ini sudah menjadi standar di bis eksekutif antar kota. Dengan kenaikan tarif dan apalagi sekarang kereta Argo Anggrek kelasnya sama dengan kelas kereta eksekutif lainnya jika dilihat dari harga tarif maka seharusnya layanan ini juga ada di kereta yg lain.

Lainnya, lagi – lagi entah kebetulan atau lagi apes, seringnya juga mendapatkan gerbong yg tidak layak disebut kelas eksekutif. Misalnya : Tidak adanya meja lipat yang biasa disimpan di sandaran tangan di kursi (Ini pengalaman naik Bima 18 Nov 2014 kemarin), sandaran tangan sisi tengah yang anjlok, kursi dan interior yang kusam, ada coretan atau bekas baret di sana – sini, dan lain – lain. Atau bisa jadi kita tertipu, seperti saat aku naik Bima minggu kemarin. Aku kira mendapatkan gerbong baru setelah melihat gerbong yang bersih, gordyn kaca yg tidak terbuat dari kain dll. Tetapi sepertinya gerbong rekondisi yang aku dapatkan. Kesimpulan itu aku dapat saat melihat kayu di dinding kereta yang melintang di tempat colokan kabel yang dulu lazim ditemui saat awal – awal fasilitas charger dikenalkan di kereta api. Kemudian pintu ke kabin penumpang yang biasanya tinggal tekan tombol tetapi harus digeser manual dengan tangan. Dan juga toilet jongkok yang tersedia.

Kereta api masih terbantu dengan harga tiket pesawat yang melambung tinggi. Tetapi jika tidak berbenah dan harga tiket pesawat tidak jauh berbeda dengan kereta api seperti 10 tahun lalu maka bisa jadi kondisi kereta api kembali seperti 10 tahun lalu.

Perbaikan stasiun dan fasilitasnya perlu. Tetapi perbaikan di gerbong dan kabin penumpang jauh lebih perlu karena penumpang menghabiskan waktunya lebih lama di sini daripada di stasiun.

Oleh: ekoyw | November 20, 2014

Cara Pendaftaran Haji

Alhamdulillah…. Labbaik Allahumma Labbaik…

Akhirnya selesai sudah prosedur pendaftaran haji ane. Meski baru daftar, meski harus menunggu 18 tahun (dan di sinilah seninya), meski setelah mendaftar bareng istri uang di tabungan hanya tersisa ratusan ribu rupiah, meski harus pulang kampung tetapi terasa sebagian perjalanan haji ini telah terlaksana. Minimal, pendaftaran ini sebagai langkah kecil nyata untuk menuju langkah – langkah selanjutnya.

Sebelum pendaftaran, ane sempat googling tentang tata cara pendaftaran haji. Dan… rata – rata nyasar ke berbagai situs KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) dan hanya sedikit sekali dari instansi resmi kementerian agama. Info yang didapat pun simpang siur, mulai harus pakai surat pengantar desa, surat keterangan sehat, foto sendiri atau di kantor Depag, dll. Akhirnya… karena bingung, bismillah…. coba urus sendiri saja :D

Perjalanan dimulai Jumat sore ba’da pulang kerja dan segera pergi ke stasiun KA yang terletak di pusat ibukota pulang kampung ke Lamongan, Jatim. Di-skip aja yaaa bro… tidak berhubungan :D. Kapan – kapan aku tulis tentang pengalaman naik kereta api kali ini.

Perjalanan dimulai Senin pagi, jam 07.00 WIB berboncengan mesra dengan istri sementara anak meraung – raung menangis didiemin neneknya :D

Sebelum berangkat, beberapa dokumen aku siapkan, seperti : KTP, surat nikah, KK dan buku tabungan haji. Ini juga hasil googling yg menyarankan dokumen apa saja yang mesti dibawa. Sempat ragu juga apakah perlu mampir puskesmas untuk bawa surat keterangan sehat atau tidak, juga mampir kelurahan atau tidak. Tiga dokumen pertama sudah aku fotocopy 10 kali dan ternyata…. tidak semua dokumen tersebut dibutuhkan.

First destination jam 08.30, kantor bank. Ane pakai Bank Syariah Mandiri Capem Lamongan yang pas di tepi Jl Nasional No. 1 alias Pantura… hehehe . Kirain ane berurusan dengan CS, nggak tahunya diarahin ke Teller. Di Teller, buku tabungan ane di-print. Kemudian diberi tahu untuk mencari surat keterangan sehat yg ada pernyataan golongan darah. Kata Mbak Tellernya, bisa ke puskesmas atau klinik mana saja. Berhubung ada keperluan sebentar ke daerah sekitar alun – alun, jadi ane ngincer ke (bekas) RS Muhammadiyah Lamongan dengan harapan bisa sekalian sarapan Nasi Boranan Lamongan yang maknyusss… hehehe.

Tetapi ternyata disana tidak melayani surat keterangan sehat. Akhirnya, daripada capek – capek aku arahkan motor ke kantor PMI Lamongan yang bersebelahan dengan RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Sangat hafal dengan RS ini, sebab pernah menjadi ‘penghuni’ nya pada awal tahun 1990-an… tentu dengan kondisi bangunan yang jauh berbeda dengan saat ini.

Di PMI, tidak butuh antri lama sebab hanya kami berdua yang ada. Tinggal ambil darah, ukur tinggi dan timbang berat badan. Sebetulnya kami punya kartu donor tetapi tidak kami bawa karena tidak termasuk daftar dokumen yang kira – kira bakal digunakan. Sempat guyonan sedikit tentang hasil ukur tinggi badan. Untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya di RS Cibubur saat MCU, tinggi badanku turun dibanding biasanya… hehehe…. wis mbuh lah. Ongkosnya cukup Rp. 30 rb untuk masing – masing kartu ‘merah’ yang kami dapatkan. Kartu merah ini berisi data nama, golongan darah, tinggi dan berat badan yang diketik dengan satu jari. Yup…. satu jari, bukan sebelas jari, oleh mbak perawat yang sepertinya lebih familiar dengan komputer daripada mesin tik jadoel itu :D

Tujuan selanjutnya, kantor Depag yang terletak di Jl Veteran, Depan SMU Negeri 2 Lamongan. Sempat celingak – celinguk sebentar di parkir motor. Untung ada tulisan pendaftaran haji. Dan akhirnya, dengan salam kami masuki ruangan yang menurutku cukup tidak sehat karena minimnya sinar matahari yang masuk. Seorang bapak PNS berbaju Korpri, kemudian mengambil secarik kertas yang berisi formulir. Di sini ditanyakan nama dan nama ayah. Untuk ketepatan penulisan nama, sang bapak meminta KTP, kartu merah dari PMI yang kemudian dikembalikan dan KK asli yang kebetulan terlihat di map yang kami bawa. Sempat terjadi masalah pada nama almarhum ayahku karena di KK hanya tertulis nama tua, nama kecilnya tidak ada. Sang bapak kemudian minta dokumen surat nikah asli dan menuliskan sesuai dokumen surat nikah sambil mengatakan kalo di KK nama seseorang bisa jadi berubah atau ganti tetapi di surat nikah tidak mungkin berubah atau ganti.

Setelah menulis di dua lembar kertas tentang data diri, kami diberi dua kertas kecil berisi nama dan no urut, yang anehnya untuk kertasku, nama pertamaku diganti dengan nama kecil ayah. Sedangkan istri, yang hanya berisi 2 nama tetap memakai nama pribadi. Dua kertas itu disuruh diserahkan untuk pengambilan foto yang terletak di gedung bagian belakang. Di sini, telah menunggu dua orang bapak – ibu yang sepertinya juga habis mendaftar. Tanpa menunggu lama, kami dipersilahkan untuk mengambil foto. Berlatar belakang putih, sehingga bagi perempuan disarankan tidak memakai hijab warna putih meski di tempat tersebut juga disediakan hijab beragam warna, peci, dan kaca untuk berias. Dua petugas, bapak dan ibu, berada di ruangan ini. Sang bapak mengoperasikan software yang sudah terhubung ke kamera DSLR Nikon (waadduuhh… jadi ingat masa – masa programming kuliah yang tidak terlalu susah meng-interface kan kamera dengan software di windows). Dan sang Ibu bertugas memotong hasil foto. Tidak menunggu lama, foto kami tercetak yang entah berapa jumlah total dan ukurannya. Biayanya cukup Rp. 80 rb per orang. Setelah penjepretan alias pengambilan foto, kami diminta untuk scan sidik jari ibu jari kiri. Alat scan terletak di meja sang bapak yang mengoperasikan komputer.

Kami kemudian kembali ke depan, ke bapak yang pertama menerima pendaftaran. Sampai di ruangan tersebut ternyata sudah ada beberapa warga lain yang juga mendaftar. Dan ternyata, form pendaftaran haji (Surat Pendaftaran Pergi Haji alias SPPH) kami telah tercetak dengan rapi lengkap dengan foto kami yang merupakan hasil print juga. setelah kami tandatangani, dari sana, sang bapak meminta kami kembali ke bank, menyerahkan formulir tersebut sebagai bukti kami telah mendaftar haji dan untuk memasukkan setoran haji dari rekening kami ke rekening haji depag serta mendapatkan porsi haji.

Alhamdulillah, jarak dari Depag ke BSM tidak jauh. Sampai BSM, form kami diterima oleh security yang kemudian langsung diteruskan ke teller. Setelah menunggu sebentar, kami dipanggil CS. Di sana, beberapa lembar foto kami diambil dan ditempelkan di formulir tersebut. Sebuah formulir baru di BSM juga telah di print yakni Form Setoran Awal BPIH yang berisi info setoran haji dan nomor porsi haji kami. Satu formulir setoran haji juga kami tandatangani. Dari sini, pihak BSM meminta kami kembali ke Depag untuk menyerahkan formulir porsi haji tersebut setelah beberapa salinannya diambil oleh BSM. Tapi tunggu sebentar…. di sini kami baru sadar kalo formulir haji yang dicetak Depag tertulis pekerjaan kami berdua adalah PNS? Entah, bagaimana ceritanya kok bisa tertulis PNS. Akhirnya… tercapai juga menjadi PNS…. hehehehe

Di Depag, beberapa salinannya juga diambil petugas dan kami diminta menyerahkan fotokopi KTP sebanyak 5 lembar. Sehingga yang tersisa hanya dua lembar, yakni satu lembar pendaftaran dari Depag dan satu lembar lagi form setoran haji dan no porsi dari BSM. Di sini, bapak Depag mewanti – wanti untuk tidak mempercayai siapapun yang memberikan janji bisa mempercepat keberangkatan haji juga untuk menyimpan rapi baik formulir SPPH maupun Setoran Awal BPIH. Dan semoga kami tidak tergoda karena hal tersebut sama saja dengan men-dzalimi calon jamaah haji yang lain yang telah antri lebih dulu.

Kemudian kami bertanya, antriannya berapa lama pak? Untuk Jawa Timur, 18 tahun mas. Aku sampaikan info kalo di Bogor antrian berkisar 13 – 14 tahun. Kata bapak tadi, untuk Jawa Barat porsi haji memang dibagi per kabupaten atau kota. Sedangkan untuk Jawa Timur tidak, sehingga porsi haji di-pool di provinsi dan diperebutkan seluruh 38 Kota/Kabupaten yang ada.

Namun setelah kami cek porsi ke website Kementerian Agama, ternyata perkiraan keberangkatan kami selama 17 tahun.

Kami tersenyum… wah ini berarti pas anak kami yang sekarang masih balita dan saat berangkat tadi menangis meraung – raung nanti akan wisuda saat kami berangkat :D. Bismillah…. semoga diberi kesehatan dan umur panjang.

Pukul 10.30 WIB, kami melangkah keluar….

Kesimpulanku, proses pendaftarannya cepat juga. Hanya sekitar 2 jam sejak kedatangan pertama di bank sampai sekarang selesai di Depag. Tidak terlalu ribet di semua tempat. Selain itu, sekitar 20 tahun lalu tinggal di Lamongan kota membuatku hafal jalan – jalan tikus yang tidak banyak berubah sampai saat ini. Sehingga mempercepat proses dari satu tempat ke tempat yang lain.

Semoga diberi kesehatan dan umur panjang…

Aaamiiinnn….

Oleh: ekoyw | April 22, 2014

Citra Indah dan Transportasinya

Well…. setelah hampir tiga bulan menghuni Citra Indah, secara umum belum ada keluhan… kecuali satu, transportasi dan akses ke lokasi. Dari tol Jagorawi, Citra Indah dikenalkan sebagai Kota Nuansa Alam di Timur Cibubur. Tapi kalo kita keluar tol Cikarang ke arah Jonggol, disebut Kota Nuansa Alam di Selatan Cikarang. Nah lhooo…. hehehe. Memang sih, dua – duanya benar. Kalo lihat di peta dan digambar sebuah persegi panjang dengan sisi Jl Tol Jagorawi – Cibubur di barat, Jl Tol Cikampek – Cikarang di utara, Jl Trans Yogie Cibubur – Jonggol di Selatan dan Jl Cikarang – Jonggol di Timur maka posisi Citra Indah persis di pojok tenggara persegi panjang tersebut, pertemuan antara Cikarang – Jonggol dan Cibubur – Jonggol.

Daripada bingung, coba lihat lokasi Citra Indah di – screen shot Google Maps berikut :

Citra Indah ke Semanggi

Citra Indah ke Semanggi

Waktu tempuh peta di atas adalah dari perkiraan Google pada saat ambil data rutenya siang hari ini lho ya. Jadi bener, di timur Cibubur dan selatan Cikarang :D

Dari lokasinya yg nun jauh tersebut sudah terbayang problem utama adalah transportasi. Memang benar ada angkot 24 jam di depan kompleks tetapi pertanyaannya adalah butuh berapa jam kita ke lokasi tujuan, misalnya ke Semanggi. Ada juga Feeder busway dari Citra Indah ke Blok M/Grogol yang beroperasi mulai sebelum shubuh sampai selepas Isya’ tetapi juga masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu antara lain adalah :

  • Jadwal. Jika kita searching ke berbagai site/blog yang merujuk ke Citra Indah. Jadwal feeder pertama duuuulluuuuu jam 05.30 WIB. Tetapi kemudian mundur teratur tiap 15 menit dan sekarang bis pertama berangkat jam 04.30. Daaannnn pada hari Senin keberangkatan pun maju 15 menit, alias pukul 04.15. Bisa kebayangkan kalo warga Citra Indah itu pada rajin bangun pagi hehehehe. Dengan jadwal bis pertama, biasanya akan sampai Semanggi sekitar pukul 05.30 pagi. Aku biasa sampai kantor pukul 06.00 malah seringnya kurang dari pukul 06.00, saat security masih berpakaian PDL dinas malam dan OB pun masih 1 – 2 yang datang. Alhasil, Masjid kantor yang dituju untuk membayar kurang tidur hehehe. Tapi, bagiku pribadi, bangun pagi dan rutinitas pagi seperti ini tidak masalah kecuali saat hujan atau macet hikss. Bagaimana jika naik bis kedua jam 04.45 dst ??? Yaa siap – siap sampai Semanggi jam 07.00 pagi atau bahkan bisa lebih. Yang jadi masalah itu saat jam pulang kantor. Jadwal bis feeder Citra Indah tidak bersahabat bagi yang pulang kantor jam 15.00 – 16.00 yang biasanya sudah nongkrong di Semanggi sejak jam 16.30. Pada jam segitu, Semanggi dan tol dalam kota sebetulnya masih lancar jaya. Harapan bisa segera sampai rumah pun tidak tercapai. Bis Feeder baru berangkat pukul 16.30 dari Blok M dan 16.45 dari Citraland dan rata – rata sampai di Semanggi jam 17.00 saat kondisi jalan mulai merambat bahkan di tol dalam kota. Alhasil, rencana sampai rumah jam 18.00 – 18.30 bahkan sebelum Maghrib pun tinggal impian. Dengan bis pertama baru datang jam 17.00 bahkan lebih maka sampai rumah rata – rata jam 19.15 – 19.45 atau bahkan bisa sampai lebih dari jam 20.00 malam. Tinggal dihitung berapa waktu tersisa buat keluarga dan istirahat. Sering membayangkan bagaimana jika kelak tambah tahun bis feeder berangkat semakin pagi (baca : malam)? Soal jadwal ini, muter – muter ke beberapa situs marketing Citra Indah, kok banyak yang belum update yaaa? Apa karena jadwalnya semakin pagi (baca: malam) sehingga tidak menarik dari sisi marketing? Tapi ketemu juga yang update dan bisa dilihat di bawah :
Jadwal Bus Citra Indah - Grogol

Jadwal Bus Citra Indah – Grogol

Jadwal Bus Citra Indah - Blok M

Jadwal Bus Citra Indah – Blok M

  • Penumpang. Salah satu keluhan warga Citra Indah adalah banyaknya warga non Citra Indah yang naik bis terutama saat pulang kerja. Sehingga saat pulang kerja, jika tempat duduk penuh, minimal anda harus berdiri dulu sampai keluar tol Cibubur dan baru setelah itu satu persatu penghuni tempat duduk turun. Memang susah sih untuk mendefinisikan penumpang ini benar ke Citra atau tidak. Tetapi mungkin bisa dibuat aturan misalnya saat kembali ke Citra Indah maka penumpang terdekat adalah yang turun di Cileungsi. Memang sih, kalau kita pandang dari sisi operator bis, maka akan memandangnya dari sisi bisnis. Baik itu masalah jadwal maupun penumpang, tentu masalah okupansi penumpang bis jadi pertimbangan utama. Meski sisi kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan warga kompleks Citra Indah juga harus diperhatikan.
  • Jurusan. Hanya ada dua, Blok M dan Citraland. Dari FB Citra Indah, sudah banyak usulan untuk menambah jurusan misalnya ke Tanjung Priok. Tapi entah lah…
  • Jumlah Armada. Resminya ada 5 bis yang masuk jadwal dalam sehari. Dan tentu masih kurang karena jarak keberangkatan relatif tidak sama antara bis pertama dan selanjutnya dalam satu hari. Demikian pula saat kembali dari Jakarta. Anda harus ingat betul kira – kira jam berapa bis akan lewat.  Misalnya jika anda menunggu jam 15.00 di Semanggi maka siap – siaplah menunggu selama sekitar 2 jam hehehe.
  • Rute. Bis menempuh rute dari Citra Indah – Cibubur – Tol Jagorawi – Tol Dalam Kota. Daerah Cibubur – Cileungsi merupakan daerah macet. Satu titik dibenahi, muncul titik lain. Titik macet di Jembatan Cileungsi dibenahi dan relatif lancar, muncul lagi macet selepas Fly over Cileungi – Metland – Harvest City. Bagaimana jika feeder busway di re-route lewat Tol Cikarang ??? Menarik juga kayanya.. Sing penting cepet sampai :D

Bagaimana jika berganti – ganti transportasi. Masalahnya hanya pada sifat ngetem angkot / bis kota yang ada. Juga jika berganti – ganti maka jatuhnya bisa lebih mahal. Di sini feeder busway punya kelebihan.

Bagaimana tentang rencana akses ke Citra Indah? Ada beberapa rencana pembangunan tol, jalan, KRL yang sempat sliweran di internet. Oke, coba kita bahas.

  • Tol JORR2 Cimanggis – Cileungsi – Cibitung. Katanya sih nanti memotong di sekitar Harvest kemudian ke arah Cibitung. Tetapi sampai sekarang boleh dibilang tidak ada perkembangan berarti dari rencana tol ini. Akses tol Nagrak – Cimanggis yang ada progres pembangunan dan bisa diharapkan sedikit mengurai kemacetan di Cibubur. Tetapi meski ruas tol ini jadi, yang jadi pertanyaan adalah mampukah ruas tol Jagorawi Cimanggis sampai dalam kota dan Cibitung sampai dalam kota menampung tambahan kendaraan yang melintas? Karena muara ruas tol Cimanggis – Cibitung ini tetap kedua ruas jalan tol utama tersebut yang pada saat jam sibuk sekarang ini saja sudah macet luar biasa. Tol hanya menambah nafsu orang memakai mobil pribadi.
  • Jalan Poros Tengah Timur. Ini rencana menghubungkan Bogor – Puncak – Cianjur – dan Deltamas di Cikarang. Konon untuk mengatasi kemacetan di Puncak. Dan konon melewati Jonggol. Tetapi beberapa situs, misal di Sentul Nirwana, jalan ini akan memotong kecamatan Tanjung Sari, satu kecamatan arah Cianjur dari Jonggol. Progressnya? Minimal saat pernah jalan – jalan ke Kec Sukamakmur dan mencoba jalur Puncak 2, belum ada perkembangan atau kegiatan pembangunan yang bisa di lihat.  Jalur Poros Tengah Timur bisa ditemukan  di sini atau bisa dilihat gambar di bawah. No 1 adalah tol Cimanggis – Cibitung. No 12 adalah jalur Rel Nambo – Cikarang. No 9 dan 10 adalah Jalur Poros Tengah Timur.
Jalur Poros Tengah Timur

Jalur Poros Tengah Timur

  • KRL Cibinong – Cileungsi – Cikarang. Benar Cikarang akan ada KRL proyek double – double track. Cibinong ada dari stasiun Nambo. Tapi ke Cileungsi apalagi Citra Indah?? Sebetulnya KRL ini paling relevan mengatasi kemacetan. Juga punya keunggulan dari sisi biaya dan waktu pembangunan dibanding tol. Toh di negara – negara maju lebih mengedepankan KRL daripada kendaraan bermotor. Progressnya? Cikarang ada progress. Nambo – Cibinong? KRL-nya aja belum berfungsi meski infrastrukturnya siap. Ke Cileungsi? Sama kaya nasib tol.. :D
  • Ada lagi berita info jalan tol lintas tengah/selatan dari Jakarta – Jonggol – Cianjur  terus sampai ke Tasik. Tapi sepertinya rencana ini juga menguap entah kemana.

Saat browsing, ketemu Peta Struktur dan Pola Ruang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur yang dibuat oleh Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional. Untuk daerah Cileungsi dan Jonggol, jika di-capture maka akan seperti berikut :

Rencana Jabotabekpunjur

Rencana Jabotabekpunjur

Terlihat ada rencana tol Cimanggis – Cileungsi – Setu – Cibitung yang ditunjukkan dengan garis coklat tebal putus – putus. Sementara di sekitar daerah Jonggol, terdapat garis putus – putus warna hitam yang merupakan rencana rel kereta api. Rencana rel kereta api ini dari Jonggol lurus ke utara ke Cikarang. Kemudian ke barat, melewati belakang Taman Buah Mekarsari, sampai Cileungsi. Di Cileungsi sendiri, menjadi ‘pertigaan’ rel kereta api. Ke Barat Daya menuju Cibinong dan ke Utara menuju Bekasi. Kalo melihat peta ini, sangat – sangat menarik. Tapi kembali ke pertanyaan, kapan ????

Rencana – rencana di atas, sebagian besar sudah dipublikasikan secara umum dan dengan mudah bisa kita cari peta rencananya di internet. Tapi tentang implementasinya… mungkin nunggu mau pensiun kali yaaa hehehehe.

Segala kekurangan transportasi ke Citra Indah di atas mau tidak mau memaksa penghuninya untuk kreatif. Untuk pulang kerja misalnya, penghuni Citra Indah bisa memanfaatkan beberapa bus instansi seperti Kementrian Perhubungan, Kementrian Luar Negeri, Kementrian Pertahanan atau bahkan bis – bis TNI/Polri yang lewat atau bahkan tujuan akhir ke Citra Indah. Bis – bis ini, rata – rata bisa mengantar sampai rumah lebih cepat dibandingkan jika kita menunggu bis Citra Indah.

Atau bisa juga numpang bis milik perumahan Grand Nusa Indah, yang baru ada beberapa minggu terakhir, yang juga rata – rata datang lebih cepat 15 menit daripada bis Citra Indah di Semanggi saat jam pulang kantor dengan resiko nyambung angkot dari Grand Nusa Indah ke Citra Indah yang tinggal 4 – 5 km. Selisih 15 menit saat keberangkatan di Semanggi, bisa berarti selisih 1 jam kedatangan atau malah lebih saat tiba di Citra Indah.

Usulan buat Citra Indah. Konsep feeder busway bagus meski perlu perbaikan mulai jadwal, jumlah armada, rute, tujuan dll. Tetapi, jika suatu saat Jakarta benar – benar sudah macet total dan harus berangkat lebih pagi lagi maka mengirimkan bis – bis ke Jakarta juga kurang membantu. Mungkin bisa dipikirkan membuat shuttle terjadwal ke stasiun – stasiun KRL terdekat, misalnya ke Depok atau Cikarang juga sudah aktif.

Penutup :

Sore itu di halte Semanggi, dibawah jembatan penyeberangan. Dua warga Citra Indah sedang duduk berbincang sambil nunggu bis Citra yang sampai jam 17.00 itu belum juga datang. Membicarakan berbagai kabar angin surga tentang jalan akses di belakang Citra Indah, tol, kereta, dll.

A : “Nasib e wong ga nduwe duit yo Mas. Duwe omah adoh tenan. Untung ga dewean, minimal sing senasib wong sak bis.”

A & B : Hahahahaha….. tertawa ngakak bersamaan dan segera loncat bareng mengejar bis Citra Indah yang datang.

Updated :

Sejak hari ini, tanggal 22 November 2014, Citra Indah sudah membuka trayek baru feeder busway ke Mal Artha Gading. Trayek ini dilayani oleh 2 bis ukuran 3/4. Bisa jadi pilihan nih buat yang bekerja di daerah Kelapa Gading atau Tanjung Priok. Tentang Jadwal… silahkan googling sendiri yaa. Kalo nggak salah, masing – masing bis dua kali pulang pergi Citra Indah – Mal Artha Gading setiap hari.

Peremajaan bis arah Grogol dan Blok M pun sudah mulai dilakukan meski tampaknya baru 1 bus baru yang tersedia.

Juga sudah ada layanan shuttle dengan kendaraan sejenis Elf ke Citraland Kuningan. Kalo kata orang Citra Indah sih untuk mengurangi warga Citra Indah yang bekerja di Kuningan pada ke Semanggi nyegat bis Citra Indah dari Grogol atau Blok M tapi ujung – ujungnya ga dapat tempat duduk.

Bagi yang ingin tahu sukanya tinggal di Citra Indah, bisa klik di sini. Dan untuk dukanya (hikkss..) di sini

Update lagi (7 Mei 2015)

Berbicara tentang angin surga KRL ke Citra Indah, seperti tidak ada habisnya. Apalagi sejak Stasiun Nambo diaktifkan untuk KRL sejak 1 April 2015. Mungkin karena sudah capek lewat jalur tradisional Trans Yogie dan Tol Jagorawi karena macetnya. Serta juga trauma saat kenaikan BBM kemarin, berimbas demo Angkot di Cileungsi yang berimbas juga ke bis Feeder Citra Indah yang sempat jadi korban penyanderaan sekelompok pengemudi angkutan umum di sekitar Terminal Cileungsi dan aku jadi saksi sejarahnya hehehehe… Memang, kenaikan BBM ini mengakibatkan kenaikan ongkos transportasi. Kalo dulu sekitar 30 rb sudah bisa untuk pp, maka sekarang berkisar antara 35 – 40 rb yang harus dikeluarkan sehari. Ini juga pertimbangan untuk melirik ke KRL.

Kembali ke KRL, aku coba browsing dan ketemu situs ini :

https://railwaysindonesia.files.wordpress.com/2011/12/pm-_no-_43_tahun_2011.pdf

Link di atas adalah Rencana Induk Perkeretaapian Nasional. Dan jelas tercantum rencana pembangunan KRL di sekitar Nambo – Cileungsi – Jonggol – dan Cikarang.

Kapan ?? Di halaman 48 peraturan menteri tersebut, ditemukan seperti berikut :

Timeline Jalur Kereta Nambo - Cikarang

Timeline Jalur Kereta Nambo – Cikarang

Pembangunan direncanakan 2016… Dan…. sekarang sudah 2015. Adakah progress infonya? Sampai sekarang nyaris tidak terdengar. Ruas Parungpanjang – Citayam yang rencana dibangun 2011 pun sampai sekarang belum terdengar kabarnya. Dan susahnya, biasanya berganti pemerintahan akan berganti kebijakan. Sama seperti jaman sekolah, ganti menteri ganti kurikulum… hehehehe. Contoh kecil, rencana monorail Cibubur – Cawang di jaman SBY berganti menjadi LRT Cibubur – Cawang – Dukuh Atas di jaman Jokowi yang kabarnya akan groundbreaking 17 Agustus 2015 nanti.

Jika dibangun, Sekali lagi jika lho yaa… hehehe, akan lewat mana yaa? Dari link ini http://www.dllajkabupatenbogor.com/2014/10/rencana-pengembangan-kereta-api.html

Didapatkan gambar peta seperti berikut :

Rencana Pengembangan Kereta Api Bogor

Rencana Pengembangan Kereta Api Bogor

Terlihat dari Nambo akan dibangun ke utara, menyusuri raya Narogong sampai Cileungsi, untuk kemudian terpecah menjadi dua, ke arah Bekasi dan Jonggol. Sehingga warga CI tinggal pilih, naik kereta lewat rute Cileungsi – Nambo – Citayam – Depok atau Cileungsi – Bekasi – Jakarta.

Tapi yaa itu tadi…Jika dibangun lho yaa…dan tepat waktu…. hiksss.

Oleh: ekoyw | Desember 24, 2013

Berburu Rumah….

Akhirnya…. setelah lebih dari 20 tahun menyandang predikat anak kost, bulan ini aku resmi punya hutang 15 tahun demi sebuah rumah yang baru bisa ditempati setahun lagi hehehehe…

Cerita bermula awal September 2013. Saat datangnya kesempatan untuk kembali bermukim ke tanah Jawa. Meski tidak di kampung halaman tetapi malah ikut menyesaki belantara hutan beton ibukota, akhirnya.. Bismillah… aku ambil kesempatan untuk kembali dan lebih dekat dengan orang tua. Meski sampai Oktober belum ada kepastian apakah mutasiku berhasil atau tidak tetapi persiapan pun dilakukan, setidaknya untuk mencari sebuah rumah tinggal nan nyaman buat sekeluarga.

Mbah Google pun dihubungi dengan segala jampi – jampi dan uba rampe-nya. Dengan rumus matematika f(x) = dx dengan d = duit hehehe… googling pun dilakukan. Browsing pun dilakukan. Kesimpulannya adalah :

  • Serpong : Wow….sama sekali gak berminat. Mahalnya minta ampuuuuuunnn. Rumah 1 M di sana kayanya bukan rumah mewah lagi. Juga terbius hipotesa harga perumahan di sini sudah overprice atau overvalue. Nggak tahu lah apa istilahnya :D
  • Tangerang : Bersama Serpong masuk target sebetulnya, karena banyak keluarga besar bermukim di sini. Tetapi harganya juga sudah mirip – mirip Serpong. Harga Rp 700 – 800 jt dapat tipe 42 – 45 an. Kalo bener punya uang segitu, 250 jt buat rumah dan 500 jt buat beli kebun sawit di Sumatera… halaaah…:D
  • Depok : Terus terang masih buta daerah ini, yang kutahu hanya mulai macet dan harganya ga jauh beda dengan Tangerang. Juga jalan – jalannya yang sempit.
  • Bogor : Harga lebih turun dari Tangerang/Depok. Tapi ga turun – turun amat.
  • Bekasi : Entahlah, tidak seberapa nyari daerah sini. Kesanku Bekasi itu panas dan beberapa daerah rawan banjir. Hampir 10 tahun lalu pernah tinggal di Cikarang jadi lumayan tahu suasananya.
  • Cibubur : Ini kayanya bakal jadi “the next” Serpong dengan harga juga mendekati Serpong hehehe….
  • Cileungsi : Akhirnya pilih yang disini. Jauh sini, di pojok dunia hehehe. Sekitar 50 km dari Jakarta Pusat atau setara jarak Lamongan – Surabaya. Padahal Lamongan – Surabaya terasa ga jauh – jauh amat hehehe. Tetapi, Bismillah… dengan f(x) = dx pilihan pun jatuh ke sini. Tepatnya di Citra Indah, meski di ujung dunia dan kayanya harus berangkat jam 05.00 tetapi dijalani aja, toh ada bis perumahannya juga.

Oke… pilihan pun telah dijatuhkan. Bertepatan dengan Hari Pahlawan yang juga bertepatan dengan Dies Natalis kampus tercinta yang ke-53 booking fee sebesar 1 jt pun dibayarkan dengan syarat 2 minggu setelahnya berkas KPR diserahkan. Dan DP dilunasi maksimal 1 bulan sejak booking fee. Meski sampai saat itu, belum pernah ke perumahannya. Nah lho… hihihihi. Sebagian berkas – berkas KPR dikirim ke email untuk diprint dan tinggal diisi. Utamanya adalah form permohonan KPR dari 3 bank : BCA, BRI, BNI dan BTN.  Berkas lain yang perlu disiapkan adalah kurang lebih : Copy KTP Suami/Istri, KK, Surat Nikah, Keterangan kerja, Slip gaji 3 bulan terakhir, rekening koran

Tips : Mintalah berkas yang lengkap jika dikirim via email. Ternyata ke depan hampir semua bank di atas minta berkas ini – itu untuk kelengkapannya.

Dua minggu kemudian, 23 November 2013, berkas pun diserahkan ke developer dan sekaligus baru pertama kalinya kesana. Terasa jauh juga. Sekitar 1 jam dari Lanud Halim tempat sementara aku nebeng sama kakak sepupu yang juga seorang arsitek di Dephan dan ikut antar aku ke sana. Semua berkas sudah aku copy jadi 5 berkas. Tetapi disana hanya ketemu dengan pihak dari BCA saja. Setelah periksa berkasku sebentar, Mas dari BCA tersebut kasih surat pernyataan yang isinya adalah aku tidak punya tanggungan hutang dan KPR/KPA di mana pun. Sementara berkas – berkas yang lain disimpan oleh admin developer.

Setelah itu, gantian HP yang sibuk dihubungi bank ini dan bank itu. Berikut resume-nya :

BCA, bank ini bekerjasama dengan developer dengan paket menarik 9 % fixed selama 5 tahun karena aku tidak punya rekening BCA, tepatnya rekening BCA ku sudah mati :D. Juga bebas biaya admin dan KPR. Sang Marketing, bukan mas yang di Citra Indah kemarin, menghubungi pertama tanggal 2 Desember 2013. Pertama bilang pengin konfirmasi ke HRD karena susah dihubungi. Di sini tantangan pertama mulai. Surat keterangan kerjaku aku buat di Sumatera sementara aku sudah dipindah ke Jakarta. Tapi… yaa insyaAllah teman – teman di Sumatera masih ingat aku lah :) Akhirnya dengan pede aku kasih nomor HP bapak manager HRD yang tanda tangan di surat keterangan kerja. Selesaikah, ternyata tidak. BCA ternyata meragukan tabunganku di Bank Syariah Mandiri (BSM). Pihak BCA tanya apa ada kenalan orang BSM yang bisa di-cross check soal tabunganku. Di Sumatera kebetulan tetanggaku adalah orang BSM yang punya posisi lumayan di BSM Cabang. Tapi jelas, bapak ini tidak bisa memberi konfirmasi apa – apa selain membenarkan kalo memang aku punya rekening di BSM.  Alasannya jelas, data – data nasabah adalah rahasia bank dan tentu pihak bank tidak bisa memberikan ke pihak lain apalagi hanya lewat telepon. Aku sempat tawarkan apa perlu screenshot tampilan di internet banking BSM dan copy buku tabungan BSM, tetapi dijawab tidak bisa. Akhirnya, solusinya adalah pihak marketing bank memintaku untuk bersama – sama dengan dia nge-print rekening koran di BSM. Saat ketemu dan ngobrol, alasan BCA ternyata akhir – akhir ini banyak rekening bank fiktif saat ajukan KPR. Nilai transaksi dan saldonya ternyata fiktif. Alhamdulillah selesai.

BNI, selain BCA, developer juga kerja sama dengan BNI. BNI relatif lancar. Satu form persyaratan yang perlu diserahkan adalah surat tanda tidak punya hutang KPR/KPA di tempat lain yang dikirim via email. Di sini masalah mulai muncul karena harus tanda tangan suami istri. Sementara mantan pacarku itu sedang di Jawa Timur. Tetapi Alhamdulillah, sama BNI diberi jalan untuk ditandatangai saja dua – duanya oleh suami dan nanti jika KPR di-setujui tinggal tanda tangan lagi berdua dengan istri. Syarat yang lain, BNI minta foto buku tabungan BSM dan halaman terakhir saldonya. Mungkin bagian ini yang sedikit membedakan dengan BCA. Bank ini menghubungi pertama kali tanggal 29 November 2013 atau 6 hari sejak penyerahan berkas KPR.

Mandiri, pertama menghubungi tanggal 28 November 2013. Dari bank ini, tempat domisili sempat jadi masalah. Pertama dia minta alamat keluarga di Jakarta. Oke… selesai. Kedua alamat di Sumatera, dan ini masalah berlanjut karena analisnya bilang butuh surat keterangan domisili RT/RW di Sumatera. Setelah diterangkan kalo sudah tinggal di Jakarta, bank ganti minta surat domisili di Jakarta. Dan yang ini tidak bisa (baca : malas) untuk aku penuhi hehehe. Dari bank ini aku juga baru nyadar ternyata tidak ada nama perusahaan atau pun kata – kata keterangan asli di slip gaji kantor yang bersistem paperless dari intranet kantor. Untungnya bank cukup minta screenshot saja dari tampilan intranet payroll kantor.

BRI, syarat yang diminta juga tidak banyak. Mereka hanya minta dikirimkan surat keterangan kerja kembali dan SK pengangkatan sebagai karyawan. Saat – saat terakhir, BRI mengirimkan form pernyataan tidak punya pinjaman KPR/KPA di tempat lain.

Dan hasilnya adalah….. BCA menghubungi tanggal 4 Desember atau hanya 2 hari setelah print bareng rekening koran di BSM dan memberitahukan KPR disetujui sesuai plafon, bebas KPR, bebas biaya administrasi, bebas biaya notaris, bebas asuransi kebakaran dan hanya membayar asuransi jiwa 4,5 jt. BNI menghubungi sekitar 2 hari kemudian juga memberitahukan KPR disetujui sesuai plafon, bunga 0,5 % lebih rendah dari BCA dan hanya berlaku 1 tahun. Sementara BRI dan Mandiri masih sibuk dengan syarat – syarat form KPR yang menurutku terlalu ribet.

Akhirnya BCA yang aku pilih. Dan tanggal 17 Desember 2013 kemarin resmi punya hutang selama 15 tahun hiks… Atau resmi berinvestasi 15 tahun untuk rumah :D. Tanggal 17 Desember itu juga pertama kali naik bis Citra Indah. Berangkat jam 08:30 dari Ratu Plaza hanya butuh sekitar 1 jam untuk sampai Citra Indah. Dan pulang jam 11:30 sampai Semanggi sekitar jam 12:50. Sepertinya waktu sekitar 1,5 jam ini waktu rata – rata perjalanannya. Waktu sebagai ukuran jauh? Mungkin ya, tapi juga tidak selamanya tepat  untuk ukuran Jakarta. Aku pernah dari Halim pukul 17:30 ke kost Adik di Cipulir butuh waktu 2 Jam lebih padahal saat itu hari Sabtu dan sore hari. Itulah Jakarta…

Ke depan… pengin alihkan KPR ini ke KPR syariah. Mungkin jika sudah selesai 5 tahun atau saat suku bunga tidak gila – gilaan seperti saat ini.

Amiiiinnnnnn

Semua berawal tanggal 14 Agustus 2013 saat kami ke Stasiun Lamongan dan si kecil pun rewel minta saat balik nanti pilih naik Kereta Api daripada Pesawat. Padahal beberapa hari terakhir sebelumnya aku sudah browsing tiket – tiket pesawat Surabaya – Jakarta. Akhirnya aku ganti browsing tiket kereta. Pilihan pun jatuh pada Argo Anggrek Pagi dengan pertimbangan sampai Jakarta masih bisa istirahat bermalam sebelum lanjut perjalanan keesokan harinya.

Saat itu pun aku baru tahu kalo sekarang tiket KA ada sub kelas – kelasnya, meski sama – sama kelas eksekutif. Browsing pun berlanjut. Ada empat kelas yang berbeda sekitar Rp. 25 rb antara sub kelas terendah sampai yang paling mahal. Argo Anggrek misalnya, harganya terpaut antara Rp. 375 rb, Rp. 400 rb, Rp. 425 rb dan Rp. 450 rb. Sebenarnya mirip – mirip tipis dengan harga tiket pesawat. Sub kelas ini, sekali lagi dari hasil googling, ternyata berbeda tempat duduk. Untuk kursi yang dekat sambungan gerbong atau gerbong paling ujung maka harganya paling murah. Maklum bro, biasanya di posisi ini goyangan kereta paling yahud hehehe. Dan semakin ke tengah, harganya semakin mahal. Dahiku sedikit mengkerut saat melihat hasil googling harga tiket di aplikasi Android (Once again… thanks to Android), kok Harga tiket Sembrani sama dengan tiket Argo Bromo Anggrek yaa? Malah di hari yang sama lebih mahal Bima daripada Anggrek, meski jalurnya berbeda karena lewat Jogja. Bukannya dulu Anggrek selalu lebih mahal dibanding dua KA Eksekutif itu? Maklum bro, terakhir naik Anggrek sekitar tahun 2008 :D. Setelah itu beberapa kali naik Sembrani, Bima atau malah Gajayana.

Akhirnya uang Rp. 1,35 juta pun bertukar 3 tiket KA Argo Bromo Anggrek Pagi dari Stasiun Pasar Turi ke Gambir.

Dan perjalanan pun di mulai….

Kami sampai Stasiun Pasar Turi sekitar pukul 07.15 WIB, masih ada waktu 1 jam sebelum keberangkatan. Tidak ada yang berubah dari stasiun ini. Kesannya masih kumuh dibanding Stasiun Gubeng. Ruang tunggu eksekutif benar – benar tidak nyaman. Tidak mampu menampung penumpang yang akan berangkat pagi itu. Banyak penumpang yang harus berdiri dan barang – barang bawaan berserakan dimana – mana bercampur petugas KA, portir, dll. Kalau untuk tempat tunggu eksekutif, kayanya lebih nyaman menunggu di stasiun – stasiun yang di lewati. Stasiun Jombang misalnya, meski kecil tapi nyaman, meskipun kayanya ga bakalan cukup juga kalo saat kereta Bangunkarta akan berangkat.

Sekitar jam 07:30, KA Argo Anggrek Malam dari Jakarta tiba. Tampak stiker Go Green di gerbongnya. Dalam hati, masak naik KA ini? Masak KA ini langsung puter kepala? Lha kalo suatu saat ada masalah, bagaimana nasib kami? Ternyata kami ga perlu khawatir, dari arah utara masuk KA di jalur 2. Dan pengumuman pun berbunyi meminta calon penumpang untuk naik.

Di sinilah keraguanku pun muncul. Tampilan eksterior kereta ini tidak mirip dengan Go Green. Juga tidak mirip dengan KA Argo Anggrek sebelumnya yang bermotif warna merah – keunguan. Dengan warna putih dan satu kaca jendela penumpang tiap deret kursi, rasanya KA ini harusnya untuk Sembrani atau KA – KA Eksekutif yang lain. Oke lha… Don’t judge the train by it’s cover… :D

Kaki pun melangkah masuk. Dengan bantuan portir, barang – barang kami pun bisa masuk bagasi di atas tempat duduk. Di sini keraguanku tadi menemui kenyataan pertama. Tidak ada leg rest di kursi penumpang yang dulu bisa menyangga betis agar tidak kaku dan bisa selonjor. Hanya ada foot rest di ujung belakang kursi di depan, sama dengan di Bima, Sembrani ataupun Gajayana. Kursi penumpang pun terlihat kusam, beberapa bekas baret ataupun noda – noda debu terlihat menurunkan aura eksekutif kereta ini. Yup… show must go on…

Sempat terjadi insiden kecil sebelum kereta berangkat. Seorang makhlus halus berdekat kecil dengan penumpang lain karena tiket mereka ternyata sama – sama kursi 8A di gerbong yang sama. Singkat cerita mereka turun, dan naik kereta lagi. Melihat kursi sebelahku kosong, sang makhluk halus pun permisi duduk di situ. Ternyata, dari cerita dia, dari data KAI penumpang lain tersebut telah membatalkan tiketnya. Selesaikah? Ternyata tidak. Penumpang tersebut pun turun dan mengurus ke KAI. Saat kembali, sambil tersenyum penumpang itu cerita dan bilang akan me-somasi KAI 100 kali harga tiket jika dia tidak bisa berangkat pagi itu karena dia tidak merasa membatalkan tiketnya. Dengan berbekal selembar kertas yang entah berisi apa, penumpang tadi kembali ke tempat duduknya dan si makhluk halus itu pun tetap duduk di sampingku :D

Dan perjalanan pun dimulai tepat pukul 08:15 sesuai jadwal. Meski sudah di gerbong tengah, di bangku tengah, dengan harga sub kelas paling mahal goyangan yahud kereta api ini masih sangat terasa. Rasa – rasanya tidak terlalu berbeda kenyamanan antara yang di dekat sambungan gerbong dengan yang duduk di tengah. Ketiadaan leg rest juga mengurangi kenyamanan naik kereta pagi itu.

Selesaikah? Tidak. Sesi buang air pun dimulai. Jika biasanya kita temui tombol untuk membuka pintu kaca antara ruang penumpang dan ujung gerbong maka untuk saat ini tidak ada. Butuh tenaga lumayan kuat untuk menggeser pintu itu jika ingin keluar masuk gerbong. Huuffhhh. Dan ternyata belum selesai. Di toilet, yang aku temui adalah toilet jongkok padahal saat naik Gajayana tahun sebelumnya, toilet duduk yang bersih dan wangi yang aku temui. Lewat tengah hari pun diberi tahu petugas kalau air toilet habis dan diminta ke gerbong sebelah…. wadeeewwww…

Lewat Cirebon, perutku pun memanggil minta diisi. Nasi Krawu pun jadi pilihan. Pertama, Nasgor ataupun steak di KA yaaa begitulah rasanya. Nasi rames??? kan kepanjangannya Nasi Ra Mesti lawuh e hehehehe. Untuk Krawu pun sebetulnya hanya berisi serundeng, suwiran daging, sambal dan telor asin. Ini Krawu mana yaa? Hanya camuran serundeng dengan nasi yang cukup bisa membangkitkan semangat 45 untuk menghabiskan menu ini. Tapi tunggu dulu, mana nih meja lipat yang biasanya disembunyikan di pegangan kursi penumpang? Seolah hilang tidak berbekas. Pegangan kursi itu terasa solid, tidak ada tanda – tanda bahwa ada yang disembunyikan di sana. Yaa…. what ever lah…. panggilan perut telah lama menjerit.

KA ini akhirnya landing di Gambir sekitar pukul 18:20 WIB atau terlambat 30 menit dari jadwal.

Jadi Kesimpulannya adalah :

  • Ketepatan Waktu : Masih bagus, terlambat 30 menit masih bisa ditolerir… Iki kebiasaane wong Indonesia hehehe.
  • Makanan : Masih mengikuti harga properti, Lhoo???? Maksudnya minimalis dan harga tinggi :D
  • Toilet : Buruk. Ini KA Eksekutif bro! Toilet jongkok, air menggenang, air sempat habis dan kalah kelas dengan KA di bawahnya.
  • Kursi : Buruk. Leg Rest adalah pembeda dengan KA yang lain yang mengandalkan foot rest. Tidak ada meja lipat untuk makan malah semakin menurunkan nilai KA ini. Sekali lagi KA ini kalah telak dengan KA kelas di bawahnya.
  • AC : Buruk. Entah karena siang jadi tidak dingin, tapi lontaran AC tidak dingin ini sempat terucap oleh penumpang.
  • Gerbong : Pintu penumpang yang harus di buka manual, gerbong yang kusam, berderit dan berdecit seharusnya tidak dipakai untuk KA ini.

Kesimpulan terakhir. Terjawab sudah kenapa harga tiket KA Argo Anggrek sekarang sama dengan Sembrani dan malah lebih murah dibanding Bima. Jadi, ga usah takut – takut lagi naik Argo Anggrek meski bersiaplah kecewa karena bukan Argo Anggrek yang dulu. Ini lah sebabnya aku lebih suka menyebut sebagai KA Sembrani Pagi, minus tidak berhenti di Lamongan – Bojonegoro dan Cepu. Miris kalo menyebut KA Argo Anggrek Pagi :D

Terakhir, masih mending naik pesawat yang harganya beda – beda tipis dengan KA Eksekutif. Sampai tulisan ini dibuat, rasa pegal – pegal naik kereta masih terasa.

Semoga dibaca direksi KAI…. lho…???!!??? :D

Update :

Menurut info kakak sepupu yang kebetulan tahu seluk beluk kereta, katanya gerbong merah – keunguan Argo Bromo Anggrek sedang diistirahatkan karena sering anjlok. Benarkah ?

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 717 pengikut lainnya.