Oleh: ekoyw | September 17, 2015

Pertimbangan Bisnis Usulan Tower BTS Baru

Dari tulisan sebelumnya tentang lokasi tower BTS https://ekoyw.wordpress.com/2011/05/02/mencari-kandidat-lokasi-bts/ sebetulnya membahas tentang hal teknis dan sederhana bagaimana mencari lokasi teknis tower BTS. Tetapi entah kenapa, banyak yang memberi komentar menawarkan tanah atau mengusulkan lokasi tower BTS . Padahal ane bukan bagian pembangunan tower ataupun kerja di perusahaan Tower Leasing Provider (TLP) seperti Mitratel, Tower Bersama, dll. Entahlah…. semoga ada yang membaca tulisan para pemberi komentar tersebut dan memberi tanggapan.

Baik… di tulisan ini akan sedikit menceritakan tentang aspek bisnis ketika ada usulan tower baru. Jadi…. bukan hanya masalah teknis lokasi yang pas, belum ada kompetitor saja yang jadi pertimbangan pembangunan tower. Hitungan bisnisnya harus masuk. Maklum bro… bagaimana pun juga operator seluler itu juga entitas bisnis yang tetap menghitung rugi laba dalam setiap operasinya. Apalagi saat ini kompetisi antar operator sangat ketat, margin kecil dan penetrasi pasar yang mulai jenuh. Belum lagi ditambah kondisi ekonomi yang sedang melemah. Memang sih, bisa jadi hitungan bisnis ini dikesampingkan misalnya dalam kasus saat operator ‘menerima perintah’ dari pemerintah untuk  menjalankan Public Service Obligation (PSO) misalnya pembangunan tower di daerah perbatasan dengan negara lain, permintaan kepala daerah dan lain – lain. Tapi untuk tulisan kali ini, kita kesampingkan hal tersebut. Kita asumsikan pembangunan tower ini tanpa campur tangan pemerintah.

Oke… kita mulai saja.

Seperti investasi lainnya, hal pertama yang dihitung adalah biaya atau cost. Pertama adalah cost dari Capital Expenditure (CAPEX). Cost ini adalah biaya awal saat pembangunan tower. Hanya yang masuk komponen ini seperti misalnya :

  • Civil Mechanical Electrical : Tower, shelter, power (genset, PLN, solar cell, dll), semua aksesoris (alarm, AC, dll), biaya instalasi.
  • Perangkat BTS : Antenna BTS, module – module BTS, biaya instalasi, commissioning, integrasi dengan BSC, jaminan spare part.
  • Perangkat transmisi : Antenna Microwave, IDU, ODU, biaya instalasi.
  • Site Acquisition (SITAC) : Sewa lahan dan berbagai perizinan.

Kita buat saja perkiraan total Capex sekitar Rp 2 – 3 Miliar.

Selain CAPEX, ada juga Operational Expenditure (OPEX) yakni biaya operasional yang diperkirakan dikeluarkan selama beroperasinya BTS tersebut dalam jangka waktu tertentu sesuai masa depresiasi perangkat, misalnya dibuat selama 8 tahun. Biaya OPEX ini yang paling sering berasal dari :

  • Network cost : Biaya Izin Siaran Radio (ISR) yang seperti kita ketahui setiap perangkat, baik BTS maupun transmisi, yang memancarkan frekuensi maka perlu memiliki izin tersendiri.
  • Biaya power : Estimasi biaya langganan PLN, biaya pembelian solar BBM, maintenance genset, dll. Sebagai gambaran, jika BTS tersebut memakai PLN multiguna yakni tanpa kWh meter maka PLN akan memberi tagihan sekitar 6 jtan per bulan. Jika bukan multiguna maka sekitar 3 – 4 jt per bulan. Biaya power akan lebih besar jika site tersebut menggunakan genset. Operator ‘diharuskan’ membeli solar dengan harga solar industri. Jika dalam setahun dibutuhkan BBM sekitar 15.000 liter dengan harga per liter solar industri sekitar Rp. 13.000 maka untuk BBM saja butuh sekitar Rp. 195 jtan. Belum biaya operasional genset seperti penggantian filter solar dan olie, penggantian spare part yang rusak dll.
  • Biaya transmisi : misalnya karena lokasi terpencil maka BTS tersebut perlu menggunakan transmisi VSAT (Very Small Aperture Terminal) melalui satelit dan timbul biaya sewa VSAT jika operator tersebut tidak memiliki kapasitas satelit yang cukup. Sebagai gambaran, biaya sewa link sebesar 2 E1 sekitar 900 jtan per tahun. Dan link sebesar itu hanya sesuai untuk layanan 2G meski bisa dipaksa 2G + 3G dengan 3G sangat minimalis.
  • Biaya sales : sebagus apapun lokasi tower jika tanpa aktifitas penjualan di sana maka yaa tetap tidak bisa memaksimalkan pendapatan. Biaya sales bisa diambil dalam prosentase terhadap revenue, misalnya sebesar 30 % dari total revenue per tahun.

Nah…. setelah komponen – komponen biaya CAPEX dan OPEX diketahui maka yang tak kalah penting yang perlu diketahui adalah berapa estimasi revenue yang akan didapatkan dari investasi tersebut? Acuan paling mudah adalah Average Revenue Per User (ARPU). ARPU ini biasanya akan selalu muncul dalam setiap laporan keuangan triwulan dan tahunan setiap operator seluler. Beberapa tahun terakhir, nilai ARPU beberapa operator hanya berkisar Rp 25 – 30 an ribu per pelanggan per bulan. Artinya rata – rata pelanggan mengeluarkan biaya membeli pulsa sekitar Rp. 30an ribu.

Oke… setelah kita miliki CAPEX yang misalnya kita asumsikan Rp. 3 M dan OPEX misalnya Rp 250 jt untuk power, Rp 900 jt untuk transmisi VSAT, dengan asumsi tower dibangun di daerah terpencil yang jauh dari lokasi tower terdekat, dan Rp 50 jt untuk sales dan total Rp 1,2 M per tahun maka kita tinggal hitung berapa revenue sebagai targetnya.

Langkah selanjutnya adalah penghitungan Business Case. Output dari Business case ini adalah diketahui berapa IRR (Investment Rate of Return) dan NPV (Net Present Value). IRR dalam persen dan NPV dalam rupiah. Hal yang ingin diraih adalah jika IRR mencapai nilai minimal 20 %. Jika terlalu tinggi misalnya sampai 100 % maka malah tidak masuk akal.

Contoh Output Business Case

Contoh Output Business Case

Gambar di atas adalah contoh tampilan output business case untuk kasus CAPEX sekitar Rp. 3 M dan OPEX sebesar Rp 1,2 M selama 8 tahun. Nilai IRR 21 % didapat dengan asumsi revenue per tahun sebesar Rp 2,2 M selama 5 tahun dan kemudian menurun 20 % pada tahun ke 6 sampai 8. Revenue Rp 2,2 M selama setahun ini setara dengan Rp 191 jt per bulan. Atau…. jika ARPU adalah Rp 30 rb maka nilai Rp 191 jt per bulan ini akan diraih oleh sekitar 6400 pelanggan.

Jika asumsi kita tidak memakai VSAT maka OPEX menjadi Rp 300 jt dan IRR 20% akan dicapai saat revenue per tahun sebesar Rp 1,4 M yang akan diperoleh dari 3900 pelanggan dengan ARPU Rp. 30 rb per bulan.

Nah.. kira – kira nih, mungkin nggak jumlah 6400 atau 3900 pelanggan tersebut tercapai dalam radius layanan tower BTS yang kita ambil rata – rata 5 – 8 km dari tower?? Asumsi paling kasar dengan menghitung jumlah kepala keluarga dalam radius tersebut.

Bisakah IRR dengan nilai sebesar itu diperoleh dengan cara lain?

Jawaban bisa… !!!

Pertama, meminimalkan cost. Misalnya jika ada perusahaan di lokasi tersebut maka bekerjasama dengan perusahaan untuk menggunakan lokasinya dan jika bisa perusahaan tersebut memberikan juga supply power ke tower.

Kedua, meningkatkan ARPU saat jumlah total pelanggan tidak mungkin tercapai. Di sini bisa berupa tawaran berlangganan pasca bayar dari operator, misalnya kepada perusahaan tambang untuk mendaftarkan semua karyawannya berlangganan pasca bayar.

Ketiga, menambahkan pelanggan corporate. Sehingga tower tersebut tidak hanya memberi layanan seluler buat masyarakat umum tetapi juga memberi layanan akses data ke perusahaan yang berlangganan corporate dengan operator.

Meski tidak selamanya akurat, operator biasanya juga akan melihat profile tower – tower di sekitar tower BTS yang diusulkan tersebut. Apakah high traffic? Berapa cost rata – ratanya? Berapa availability-nya? Berapa rata – rata pelanggannya? dll. Hal ini juga akan menjadi pertimbangan bagi operator.

Nah… kurang lebih begitulah pertimbangan bisnis singkat pembangunan tower BTS. Semoga bisa memberi pencerahan kepada yang memberi komentar di tulisan – tulisan sebelumnya.

Oleh: ekoyw | September 9, 2015

Citra Indah – LRT dan Tol JORR E2

Pendahuluan..

Sekitar 3 minggu yang lalu, saat main ke kantor marketing Citra Indah, terlihat maket yang benar – benar aduhai membentang di tengah ruangan lantai bawah. Terlihat maket keseluruhan dari Citra Indah. Sambil membayangkan, Citra Indah akan benar – benar menjadi kota jika semua yang ada di maket tersebut telah terealisir.

Saat asyik foto sana – sini maket itu sambil ga lupa tunjuk sana – sini, aku ngobrol dengan mas – mas  yang sepertinya calon penghuni baru Citra Indah. Pertanyaan lokasi tol pun keluar dari mas tersebut. Yaa ane jawab spontan kalo dari hasil browsing selama ini, aku belum ketemu peta tol yang benar – benar melintas persis di samping Citra Indah. Maksudku peta yang bersumber pada peta resmi pemerintah lho yaa… Bukan peta abal – abal misalnya dari banyak pengembang yang dengan sesukanya menarik lokasi peta kesana kemari agar dekat dengan lokasi yang mereka bangun.

Soal isu tol di belakang Citra Indah sih setahuku itu adalah rencana Jalan Poros Tengah Timur yang entah bagaimana progressnya sekarang karena sang bupati sebelumnya sudah ‘diangkut’ KPK. Daaannn… sepertinya juga tidak disamping Citra Indah. Tapi jauuuhhhh ke belakang dan memotong jalan Jonggol – Cianjur di antara Cariu – Tanjungsari.

Minggu ini….

Minggu ini setidaknya ada 2 berita bahagia terkait transportasi bagi warga di sekitaran Trans Yogie Cibubur yang otomatis berdampak juga pada warga Citra Indah yang sering komuter ke Jakarta.

Berita pertama adalah :

Groundbreaking LRT Cibubur – Cawang – Dukuh Atas yang beritanya ada di sini

Dan yang kedua adalah :

Groundbreaking Tol Cimanggis – Cileungsi – Cibitung yang beritanya ada di sini

Sepertinya angka 9 dipilih buat kedua groundbreaking ini hehehee…

Groundbreaking?? Yuuupp… baru mecahin tanah alias groundbreaking hehehe…tapi setidaknya sudah ada harapan dan kejelasan proyek ini akan berjalan. Nah apa hubungannya dengan Citra Indah?

Kita bahas dulu yang pertama tentang LRT atau Light Rapid Transport.

Pertanyaan pertama yang terlintas adalah lewat manakah LRT ini? Nah… untuk LRT ini sumbernya tidak main – main. Ane dapatkan sumbernya dari sini http://sipuu.setkab.go.id/index.php setelah sebelumnya ane filter berdasarkan peraturan presiden. Scroll terus kebawah dan ketemu Perpres No 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan (light Rail Transit) Terintegrasi Di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok Dan Bekasi. Silahkan baca Perpres-nya (kalo sempat dan minat). Kalo ane lebih tertarik pada file lampirannya  di http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/174605/Perpres0982015%20Lamp.pdf yang terdapat peta LRT dan ada nama Pak Presiden kita. Berikut hasil capture peta tersebut.

Peta Rute Light Rapid Transport

Peta Rute Light Rapit Transport

Nampak jelas LRT akan membentang dari Bogor dan menyusuri Tol Jagorawi. Terlihat juga Stasiun Cibubur yang kalo melihat lokasinya sepertinya terletak di sekitar Jambore alias Buperta Cibubur yang kemudian menuju stasiun Ciracas, Kampung Rambutan dan Cawang sebelum berbelok ke arah Pancoran – Kuningan dan Dukuh Atas.

Jika benar LRT ini akan bertarif Rp. 10.000 dan selesai sebelum Asian Games 2018 maka bayanganku jalan Trans Yogie antara Cibubur – Cileungsi bisa jadi sedikit longgar karena banyak yang pakai mobil pribadi pindah ke LRT atau bisa jadi juga semakin parah macetnya karena orang yang tadinya malas naik angkutan umum sekarang ‘cukup’ bawa kendaraan pribadi dan parkir di sekitar Buperta Cibubur untuk kemudian pindah ke LRT.

Bagi warga Citra Indah, hal ini menjadi berita baik… minimal sekarang tinggal mikirin macetnya Trans Yogie saja dan melupakan macet di sisi Jakarta hehehe. Bisa jadi semakin bertambah warga yang akan naik motor ke Buperta Cibubur yang hanya berjarak sekitar 23 – 25 km dari Citra Indah untuk kemudian ganti naik LRT. Jaraknya cukup dekat… dalam kondisi normal, tidak ngebut, jarak tersebut bisa ditempuh kurang dari 1 jam. Hanya tetap perlu hati – hati ruas Cileungsi – Citra Indah yang sempit, bergelombang dan bersaing dengan truk – truk besar. Tapi setidaknya, dengan LRT waktu tempuh Citra Indah – Jakarta bisa lebih mudah ditentukan. Perkiraanku yaaa butuh sekitar 2 jam lah dari Citra Indah sampai kantor di Jakarta Pusat.

Dari sisi tarif, jika benar Rp. 10.000 dan sudah terintegrasi MRT di sepanjang Sudirman – Thamrin dan jalur Busway maka berarti pp cukup Rp. 20.000. Tapi diluar parkir motor, bensin, ongkos nongkrong, rokok dll yaa… hehehehe.

Yang kedua adalah Tol JORR E2 Cimanggis – Cileungsi – Cibitung.

Sepertinya ruas tol ini yang sering ditarik kesana kemari diberbagai situs sehingga ‘seolah – olah’ dekat dengan Citra Indah. Sebetulnya dimana sih lokasi dan rute yang dilewatinya??? Awalnya aku kira tol ini akan membentang di belakang Raffless Hills, terus di belakang Citra Gran, menyeberang Sungai Cikeas dan lewat di belakang rumah SBY di Cikeas terus ke timur ke arah Cileungsi untuk kemudian berbelok dan memotong Trans Yogie di sekitar Metland – Harvest dan Taman Buah Mekarsari. Benarkah ???

Oke… sumbernya dari sini http://bpjt.pu.go.id/gis/. Gak main – main kan sumbernya??? Berasal dari Badan Pengelola Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum selaku regulator jalan tol di negeri ini. Silahkan diklik icon layer di pojok kanan atas peta yang tampil, dan pilih peta Google Maps yang lebih familiar dengan kita.

Nah kalo dijadiin file gambar, menjadi seperti berikut :

Citra IndahTol JORR E2 Cimanggis – Cileungsi – Cibitung

Terlihat di peta tersebut tol itu memotong Trans Yogie bahkan sebelum Cileungsi untuk kemudian memotong Jalan Raya Narogong. Citra Indah pun terlihat agak di pojok kanan bawah peta. Nah… silahkan diperkirakan jaraknya dari Citra Indah. Oke… kita zoom lagi gambarnya.

JORR2Crossing Tol Cimanggis – Cibitung dengan Trans Yogie dan Narogong

Dari peta di atas, tol benar akan lewat di belakang Raffless Hills kemudian bergerak ke Timur Laut setelah melintasi Jl Leuwinanggung ke arah Citra Gran. Dan…. sepertinya akan memotong Jl Raya Trans Yogie di sekitar depan Citra Gran, antara Mall Ciputra dan Mitra 10 untuk kemudian menyeberang Sungai Cikeas lokasinya sudah berada di utara Trans Yogie. Tol kemudian terus ke arah Kota Wisata menyusuri pipa gas di belakang kompleks Bukaka untuk kemudian berlanjut memotong Jl Raya Narogong dan lanjut ke arah Setu dan Cibitung.

Sempat terpikir juga rute itu karena melewati beberapa perumahan elit. Dan biasanya nih… penyakit perumahan elit dan mall –  mall yang bersebelahan dengan tol maka perumahan atau mall tersebut akan membuat jalan akses tol tersendiri. Menguntungkan? Tidak selalu. Jika gerbang tol menjadi terlalu banyak dan berdekatan maka yaaa tol tetap akan penuh.

Sepertinya, kemacetan di sekitar Cileungsi akan semakin ruwet karena dekat dengan tol maka truk – truk besar dan container akan lebih mudah keluar masuk Cileungsi menghubungkan pabrik – pabrik di sekitar Cileungsi – Kelapa Nunggal – Citeureup dengan kawasan industri lain di Cibitung, Cikarang bahkan dari Tanjung Priok.

Imbas ke Citra Indah? Jadiiii…. yaaa lebih dekatlah Citra Indah ke tol meski tidak persis di sampingnya. Minimal jarak ke akses tol terdekat menjadi sekitar 12 km jika di sekitar Narogong atau 18 km jika ke Citra Gran. Mungkin secara jarak akan terpotong. Tetapi untuk waktu tempuh, sebaiknya tidak terlalu banyak berharap sebelum jalanan di sekitar Cileungsi ditata ulang kembali.

Penutup…

Dampaknya ke warga Citra Indah? Positive thinking saja. Adanya LRT minimal bisa mempersingkat waktu tempuh ke Jakarta. Yaaa minimal bisa Sholat Shubuh berjamaah dulu lah di rumah sebelum berangkat . Tinggal kita siasati jalur Citra Indah – Buperta Cibubur. Usulan pengadaan angkutan shuttle mungkin perlu tetapi kayanya bakal diprotes oleh angkutan umum yang sudah ada. Naik kendaraan pribadi? motor? Keep riding safely broo…

Dan meski tidak terlalu dekat dengan Citra Indah, di ambil manfaatnya saja bahwa Citra Indah tidak akan terlalu terkena imbas semrawutnya lalu lintas yang biasanya mudah ditemui di lokasi dekat pintu tol yang terletak di pinggiran kota. Secara pribadi ane tidak terlalu berharap ke tol untuk sehari – hari karena lebih memilih angkutan umum. Karena tol biasanya hanya merangsang pertumbuhan jumlah mobil yang ujung – ujungnya tetap macet juga…

Oleh: ekoyw | Agustus 14, 2015

3000 km Tour de Java Madura – Mudik 2015

Mudik Lebaran, siapa yang tidak menantikan momen satu ini? Entah siapa yang memulai, tapi Lebaran tanpa ritual ini seolah kurang lengkap bahkan di jaman yang modern saat ini pun. Di saat komunikasi begitu mudahnya tanpa perlu menunggu Pak Pos berbulan – bulan untuk menerima kabar dari keluarga dan juga di saat sarana transportasi sudah semakin maju dengan fasilitas yang bertambah tanpa perlu kepanasan dan hanya ada satu kipas angin di bagian depan dekat sopir bis… (Ini sih pengalaman era tahun 80-an hehehehe).

Tulisan ini bercerita tentang Mudik Lebaran 2015.

Persiapan mudik sudah aku lakukan jauh hari sebelum lebaran. Mulai service lengkap mobil tidak sekedar tune up dan ganti olie, tetapi juga cek rem, kaki – kaki dll. Roofrack yang tahun lalu dibeli dan sempat dicopot pun dipasang kembali. Sampai ban yang sudah udzur pun diganti malah beberapa bulan sebelum berangkat. Bensin 200 rb sekitar 27 literan pun sudah diisikan sehari sebelumnya.

Hari H tanggal 11 Juli 2015 pun tiba. Rencana kami berangkat pukul 03.00 dan sholat Shubuh di rest area antara Cikarang – Cikampek. Sore sebelumnya, semua bawaan sudah masuk ke mobil kecuali beberapa tas kecil yang akan sering keluar masuk untuk beberapa keperluan di jalan. Dan inilah penampakan saat packing :

Isi Mobil Saat Packing

Isi Mobil Saat Packing

Dan… jam 02.00 11 Juli 2015 pun tiba. Sang istri sudah sibuk di dapur untuk sekedar menyiapkan sarapan dan bekal yang rencana akan dimakan di rest area saja. Sang putri pun sudah bangun dan dengan semangat untuk mandi karena tahu hari ini sudah ditunggu – tunggu lama untuk ketemu dengan eyang – eyangnya.

Pukul 03.00 pun kami bertiga, yang terdiri dari satu sopir, satu kenek dan juragan tuan putri di belakang, berangkat setelah terlebih dulu aku reset Odometer untuk ukur berapa sih total nanti sampai kembali pulang. Jalanan dari Citra Indah – Cikarang yang biasanya saat siang juga macet di sekitar Pasar Serang masih lengang dan sepi. Alhasil, kami tempuh jarak sekitar 25 km itu sekitar 40 – 45 menitan. Untuk kemudian masuk gerbang tol. Perkiraan awalku, jam 04.15 masuk tol Cikarang, kemudian jam 04.45 an sudah sampai rest area sebelum Cikampek. Tapi perkiraan itu pun meleset. Kami masuk tol lebih cepat dan ternyata di tol arah Cikampek tidak terjadi kemacetan sama sekali seperti tahun sebelumnya saat butuh waktu 3 jam lebih untuk tembus ke Cikampek. Sehingga… rencana sholat Shubuh di rest area Karawang pun batal karena belum Shubuh.

Dan…. Cipali… Here we come !!!! Tol terpanjang ini memang heboh, heboh segalanya. Semula aku kira akan ada kemacetan saat akan masuk gardu Cikopo, alhamdulillah masih kosong meski di sini tanda – tanda penyebab macet sudah terlihat. Petugas tol masih berbaju putih yang sepertinya masih magang dan ada seorang disana yang mendampingi. Meski hanya beberapa detik, pelayananan sang petugas masih terlihat lambat dan sepertinya belum siap menghadapi serbuan mobil saat mudik ini.

Dan di Cipali pula, waktu shubuh tiba. Aku putuskan untuk berhenti di rest area pertama yang aku temui, yakni di KM 86. Parkir mobil masih banyak yang kosong, tapi kesan banyak bangunan yang masih darurat dan belum siap tampak jelas terlihat. Tapiii….. ternyata air habis di toilet. Beberapa pemudik nampak membawa botol minuman karena sudah tidak tahan. Akhirnyaa… yaaa Sholat Shubuh saja, ga jadi ke toilet. Ntar aja di rest area selanjutnya.

Rest Area KM 86 yang masih darurat

Rest Area KM 86 yang masih darurat

Perjalanan pun dilanjutkan. Di sini baru terasa kebenaran berita tentang Cipali. Tanpa harus menekan pedal gas pun, kecepatan mobil bertambah dengan sendirinya. Sebetulnya bisa dijelaskan dengan sederhana. Saat mobil kita bergerak konstan dengan kecepatan tinggi dengan hambatan yang kecil maka perubahan kecil pada kecepatan, seperti hanya menginjak pedal gas beberapa milimeter yang mungkin tidak terlalu dirasakan, sudah cukup untuk menambah kecepatan mobil. Di Cipali ini memang tidak bisa meleng. Mataku pun awas sesekali melihat speedometer. Saat kecepatan sudah menyentuh 100 km/jam, aku angkat sedikit kaki dari pedal gas. Aku pun terus mengambil lajur kiri dan hanya mengambil lajur kanan saat ingin mendahului.

Setia Meluncur di Lajur Kiri Cipali

Setia Meluncur di Lajur Kiri Cipali

Hari beranjak terang, fajar pun mulai menyingsing saat kami lintasi Cipali. Benar – benar segar nyetir mobil pada jam – jam sepagi ini jika mata tidak ngantuk. Mendekati pukul 05.30 kami putuskan untuk mencari rest area untuk ke toilet setelah tadi batal karena air habis. Kami sepakat cari rest area yang besar dengan harapan tersedia air. Rest area KM 164 – 166 pun menjadi tujuan kami. Kondisinya lebih ramai daripada di KM 86 tapi entah kenapa kebanyakan pemudik memilih parkir di sisi belakang, sehingga aku teruskan mobil parkir di sisi depan yang masih sangat lengang dan berbatasan dengan jalan tol. Kami berhenti sekitar 1 jam untuk sekalian sarapan bekal yang dibawa dan aku tidur sebentar yang sebetulnya hanya memejamkan mata saja.

Rest Area KM 164 - 166 yang sepi

Rest Area KM 164 – 166 yang sepi

Setelah dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan sekitar pukul 06.30…. Dan, setelah sekian ratus kilometer tanpa macet, kemacetan pun mulai menghadang kami sekitar 10 km setelah rest area. Kemacetan yang menjadi lumayan riuh di medsos. Kemacetan ini adalah antrian keluar Cipali di gardu Palimanan. Entahlah, apakah kembali petugas yang belum siap atau memang hal yang lain, tetapi sekitar 1,5 jam kami habiskan untuk jarak sekitar 10 km sampai GT Palimanan.

Parkir Gratis Jelang GT Palimanan

Parkir Gratis Jelang GT Palimanan

Dampak macet ini, panggilan ke toilet pun datang lagi. Seingatku, setelah Palimanan hanya tertinggal rest area Cirebon yang layak dan tersisa dengan menghapus rest area tol Kanci – Pejagan yang layak disebut gubuk. Ada yang sedikit janggal di rest area Cirebon. Semula tertulis Rest Area KM 226 tetapi ternyata menjadi KM 206. Dugaanku, awal desain jalan tol sebelum tersambung dulu, Rest Area tersebut dihitung on map memang di KM 226. Tetapi setelah Cipali jadi dan mungkin dihitung ulang ternyata menjadi 206 alias maju 20 km. Tapi… ternyata banyak yang memiliki pikiran sama untuk berhenti di rest area ini. Akhirnya aku putuskan hanya lewat dan keluar lagi dan sepakat nanti saja kalo keluar Pejagan, toh ga terlalu lama. Entahlah, rest area di Cirebon ini menurutku paling tidak nyaman. Mulai tanah lapang yang sudah dikapling tikar – tikar yang disewakan, kapling parkir sampai anak – anak kecil yang menjadi peminta – minta. Bahkan saat balik, sandal di Musholla pun tiba – tiba diambil dan dijagain padahal kita ga minta dititipkan.

Oke… perjalanan berlanjut. Jam sekitar pukul 09.00 saat kami melintas di tol Cirebon dan lanjut ke tol Kanci – Pejagan. Dan setiap lewat tol ini hanya gerutuan yang keluar dari mulut apalagi setelah dimanjakan mulusnya tol Cipali. Entahlah beberapa tahun lewat tol ini, gak ada mulus – mulusnya. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di ujung tol Pejagan. Beberapa polisi dari Polres Brebes nampak di sana dan mengarahkan bagi yang terus ke arah Semarang untuk masuk tol Pejagan – Brebes yang masih dalam konstruksi. Info dibukanya tol belum siap ini memang sudah aku dengar jauh hari sebelumnya. Dan sepertinya hari itu, pertama kali dibuka. Dan… inilah balapan Rally Paris – Dakar ala Pejagan – Brebes.

Paris - Dakar ala Pejagan - Brebes

Paris – Dakar ala Pejagan – Brebes

Ternyata lumayan jauh juga untuk sampai keluar di Brebes Timur. Waktu pun beranjak siang. Akhirnya kami putuskan cari rumah makan sekalian ke toilet, sholat dan istirahat sebentar. RM Pringsewu di Tegal yang kami tuju. Selama perjalanan ke RM, setiap menemui mobil yang berselimut debu kami tertawa…. pasti ini yang nasibnya sama ikut rally Paris – Dakar tadi hehehe. Kami berhenti lumayan lama di sini. Sekitar 1,5 – 2 jam kami istirahat termasuk berbaring sejenak memejamkan mata. Maklum… sopir engkel, ga ada penggantinya… hehehehe.

Sekitar pukul 13.30 kami lanjutkan perjalanan. Perjalanan mulai tersendat memasuki Pekalongan dan semakin antri saat akan masuk Batang bersaing dengan truk – truk besar khas Pantura yang menurut aturan hari itu adalah hari terakhir boleh beroperasi. Dan… yang aku heran, kenapa kota – kota besar di Jateng Barat setelah Semarang hampir tidak ada yang memiliki ring road atau bypass, kecuali Pemalang, seperti yang dimiliki kota – kota sisi timurnya seperti Pati, Demak dan Kudus ???

Perjalanan yang merambat ini membuat kami baru mencapai Batang saat ashar sekitar pukul 15.30 an. Sebelum masuk alas roban, aku isi kembali BBM 200 rb. Memasuki alas roban, kami lalui alas roban ini sambil ngobrol banyak. Mulai jati – jatinya yang sudah besar – besar tapi belum ditebang, keangkerannya saman dulu dan sisi – sisi mistisnya. Jelang Gringsing, atas permintaan istri aku lewatkan mobil ke jalur lama alas roban sambil merasakan sempitnya jalur dan jalan yang berkelok – kelok meski tidak panjang.

Rencana awal, kami rencana akan menginap di Demak atau Kudus. Kenapa bukan Semarang? Jawabannya simple karena Semarang kota besar yang kami belum hafal jalanannya hehehehehe. Sedang kalo kota kecil, biasanya jalanannya lebih simple dipahami. Tetapi sampai jelang jam 16.30 kami masih berkutat di daerah Kendal. Padahal perkiraan awalku akan masuk Semarang sekitar pukul 2-3 siang. Tapi kemacetan antrian di GT Palimanan dan antara Pekalongan – Batang membuyarkan segalanya. Kudus pun aku coret. Dan Demak yang realistis terkejar. Mataku pun mulai berat. Perasaan jalan mobil udah cepat tapi kenapa kok disalip terus? Kulirik speedometer, alamak cuma jalan 40 km/jam? Wajar saja jika banyak yang salip. Ini berarti alarm harus berhenti dan istirahat lagi.

Setelah berhenti sebentar disebuah pom bensin di Kendal untuk sekedar ke toilet dan cuci muka serta berbaring sebentar, kami lanjutkan perjalanan. Jelang maghrib kami mulai masuk pinggiran Semarang sekitar terminal Mangkang sambil bergulat dengan jalanan yang kembali macet. Aku putuskan untuk lewat pelabuhan yang jaraknya relatif lebih pendek dibanding jika harus melingkar ke selatan lewat tol. Sebetulnya, ini pertama kali aku nyetir sendiri lewat pelabuhan ini. Jalur ini pun aku ketahui karena biasa naik bis Jakarta – Surabaya.

Jalanan mulai gelap, sementara putriku mulai rewel ngajak nginap di hotel. Sebelumnya saat berhenti di Kendal aku sempat browsing lokasi hotel di Demak. Dan Hotel di pinggiran by pass Demak yang kami tuju. Kenapa Demak yang kami tuju? Harapanku bisa sholat lebih lama di Masjid Demak sambil menikmati kuliner di sana.

Akhirnya pukul 19.00 kami sampai dan check in. Setelah mandi dan tanya arah jalan, kami ke Masjid Agung Demak. Masjid yang sudah tersohor sejarah dan keagungannya. Sedikit kecewa saat ke masjid ini. Mungkin karena tepat malam minggu. Alun – alun nampak meriah dan ramai seolah bersaing dengan jamaah yang sedang sholat Tarawih di sini. Kekecewaanku belum berhenti. Setelah sholat, sambil menunggu istri dan putriku, aku melihat sepasang muda – mudi duduk dengan mesranya di emperan masjid. Tidak jauh dari jamaah (sepertinya jamaah ziarah) yang sedang sholat tarawih. Bukan itu yang membuat kecewa. Tapi sang cewek memakai jaket forum mahasiswa Islam dari sebuah perguruan tinggi negeri di Solo. Sepertinya berkurang sudah keagungan Masjid Agung ini.

Selesai sholat, gule sekitar parkiran masjid yang kami tuju untuk mengisi perut karena bingung makanan khas apa yang tersedia di Demak semalam itu. Yo wis lah… apa yang ada. Sambil balik ke hotel, kami beli dua bungkus Nasi Goreng karena porsi nasi di gule tadi kurang nendang hehehehe.

Ada yang menarik di Demak ini. Hampir semua warung pecel Lele, Bebek dan sejenisnya hanya diberi tulisan Warung Lamongan. Sebagai warga Lamongan, tentu bangga hehehe. Sampai – sampai, saat pagi kami check out, kami dikira resepsionis sebagai bos warung Lamongan juga hahahahaha….. Alhamdulillah sudah ada yang menganggap sebagai bos bukan karyawan :D

12 Juli 2015, pukul 07.30 perjalanan kami lanjutkan. Udara masih segar, jalan mulus, lebar dan lebih sepi dibandingkan arah Semarang – Jakarta. Rencana awal pengin sarapan Soto Kudus atau Garang Asem khas Kudus. Entah karena terlalu pagi sampai Kudus sehingga warung soto yang katanya terkenal itu belum buka. Kami lanjutkan ke Pati dan berhenti sarapan di Waroeng Pati milik Kacang Dua Kelinci. Kesan pertama….. harganya mahal dan rasanya juga nggak terlalu otentik. Hanya pengemasan tata ruangnya yang bagus. Aku pesen Nasi Gandul dan anakku pesen Soto yang akhirnya tidak termakan. Anakku memang hanya bisa masuk Soto Lamongan atau Madura saja. Selain itu, pasti dibilang sotonya nggak enak hehehehe.

Nasi Gandul Pati

Nasi Gandul Pati

Setelah kenyang, perjalanan dilanjutkan dan mampir dulu ke rumah seorang teman kuliah yang telah menjadi juragan besi tua di Juwana. Lumayan, beberapa kotak Bandeng Juwana menambah oleh – oleh kami hehehehe.

Hari semakin siang, sekitar jam 12.30 kami lanjutkan perjalanan. Jalanan Pantura Semarang – Tuban sangat – sangat mulus, lebar dan relatif lebih sepi dibanding ke arah Pantura. Ini berbeda dengan sekitar 10 tahun yang lalu yang rusak dan sempit. Kami lewati Rembang, kemudian Lasem yang  kaya bangunan – bangunan kuno khas Thionghoa. Dan akhirnya bertemu pantai yang setia mendampingi kami sampai Tuban.

Pinggir Laut Jawa

Pinggir Laut Jawa

Rembang – Tuban ternyata 100 km atau sama dengan jarak Tuban – Surabaya. Rasanya jauh sekali untuk sampai Tuban. Begitu sampai Tuban, rumah serasa sudah dekat. Deretan penjual Legen dan Siwalan menghiasi jalanan ke arah Babat. Dan… akhirnya masuk ke Kab Lamongan. Selepas Babat, sekitar jam 14.45 kami beristirahat sebentar di sebuah masjid untuk Sholat dan berbaring sejenak. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan. Ternyata kami berhenti lagi karena tergoda dengan bakso khas Jawa Timuran di sebuah rest area.

Dan sekitar pukul 16.30 dan setelah sekitar 785 km dari Citra Indah, kami pun sampai di rumah.

Parkir sampai rumah

Parkir sampai rumah

Pegel juga karena nyetir sendirian selama dua hari, apalagi ini pengalaman pertama. Tapi Puasss dan bersyukur sampai dengan selamat di kampung halaman.

Semoga tulisannya bersambung… lho…??? :D

Yesss…. akhirnya awal April ini, Commuter Line atau yang dulu disebut sebagai KRL, kembali aktif berangkat dari Stasiun Nambo. Sebuah stasiun yang awalnya diperuntukkan untuk angkutan semen dari Nambo ke Semarang – Surabaya. Sebetulnya jalur yang aneh, mengingat sepanjang pantura Semarang – Surabaya telah ‘dikuasai’ oleh Semen Gresik.

Rasa penasaranku pun tumbuh dengan pertanyaan besar seperti dimana sih letak Stasiun Nambo? Representatif nggak? Jauh nggak dari Citra Indah? Macet nggak? Dan sederet pertanyaan lainnya.

Pertanyaan ini berawal dari kegagalan ngantor pake CL dari Bekasi gara – gara parkir stasiun sudah penuh. Alhasil, seharian kaki kiri harus pegal nginjak kopling menembus belantara macet Jakarta. Berangkat ngantor pake CL ini bisa dijadikan alternatif misalnya saat tahu akan ada jadwal meeting yang lumayan malam yang nanggung. Nanggung karena selesai pas puncak macet sementara nunggu bis feeder Citra Indah atau bis umum lainnya juga nggak jelas berapa lama datangnya.  Pake CL juga bisa jadi alternatif saat misalnya kerja di hari puasa dimana saat pulang kerja kemacetan menumpuk terutama di hari – hari awal puasa saat orang – orang masih giat berpuasa.

Dari segi waktu, naik CL meski harus ke Bekasi juga lebih bisa diprediksi berapa jam sampainya. Perhitunganku, Bekasi – Gondangdia sekitar 30 menit (menurut jadwal CL lho yaa… hehehe) dan Bekasi – Citra Indah berkisar 1,5 jam tergantung kemacetan di Narogong, yang kalo lihat di Google Maps yaa 11 – 12 sama Trans Yogie Cibubur macetnya. Cuma kalo diamati, sepertinya lebih sering macet di Trans Yogie daripada Narogong.

Dari segi biaya, perbedaannya pun tidak jauh. Lebih mahal sedikit memakai CL karena harus ngeluarin biaya bensin, tapi ga terlalu beda jauh dengan jalur tradisional lewat Trans Yogie. Apalagi kalo di jalur tradisional ini pake cara putus nyambung demi mengejar cepat. Misalnya, dari Monas asal naik angkutan yang keluar tol Cibubur dan di Jambore ganti angkot ke Cileungsi kemudian ganti angkot lagi ke Citra Indah. Maka biaya pun nggak beda jauh.

Tapi apa daya, rencana nyoba CL dari Bekasi pun Gatot… hehehehe. Meski akhirnya tahu, kalo mau naik CL harus sepagi mungkin sampai Bekasi agar dapat parkiran mobil utamanya.

Makanya, beroperasinya KRL Nambo pun sempat menjanjikan karena kalo dihitung jaraknya dari perempatan Cileungsi hanya sekitar 10 – 12 km. Atau kalo dari Citra Indah, yaaaa ga beda jauh laaah sama menempuh perjalanan sampai mau masuk Gerbang Tol Cibubur.

Dan, 4 April 2015 kemarin pun perjalanan dimulai dari Giant Metland…lhoo??? Maklum, nganter belanja dulu bro…

Sebelumnya, googling dulu dan ketemu lokasi Stasiun Nambo di sini :

Lokasi Sta Nambo

Lokasi Sta Nambo

Kecil amat bro…??? Hehehe… Ini rutenya dari Cileungsi :

Cileungsi - Stasiun Nambo

Rute Cileungsi – Stasiun Nambo

Menggoda kan bro? Hanya 12 km dari Cileungsi. Meski kita kemudian harus berdesakan naik kereta sekitar 1 jam untuk sampai Manggarai. Ini rute lokasinya jika dari Citra Indah.

Jalur Citra Indah - Nambo

Jalur Citra Indah – Nambo

Terus terang aku belum pernah ikuti kedua jalur itu. Tapi info yang aku dapat, kedua jalur itu kondisi rusak dan banyak yang menyarankan tetap lewat perempatan Cileungsi.

Tetapi… kemacetan telah menghadang begitu keluar dari Giant dan masuk Trans Yogie sampai Cileungsi. Bahkan saat mobil akan belok kiri ke arah Citeureup dari Cileungsi pun kemacetan masih menghadang. Mungkin salah waktu kali yaa.. keluar ke sana saat siang hari saat truk – truk tronton dan bis – bis besar bersiap keluar dari sarangnya.

Keluar Cileungsi, perjalanan lancar… selanjutnya tinggal pasrah diarahkan kemanapun sama GPS Lady yang menyuruh belok kanan – kiri tanpa peduli itu jalanan kampung atau jalan raya hehehe…

Hingga akhirnya sampai di kompleks Semen Holcim plant Narogong. Kalo ngeliat di GPS, harus sudah tidak jauh, tapi kayanya harus masuk jalan desa alias keluar dari Raya Narogong, oke… kita ikuti :

Semen Holcim - Stasiun Nambo

Semen Holcim – Stasiun Nambo

Ternyataa…. masuknya benar – benar ke jalanan sempit khas jalan kampung dan benar – benar keluar masuk kampung melintasi kebun dan sawah – sawah penduduk. Waduuhhh kok terpencil gini nih.

Dari samping kiri nampak deretan tiang elektrifikasi CL, wah dekat stasiun nih. Aku pikir, stasiun akan berada di seberang rel sana yang dekat dengan kawasan Industri. Tetapi ternyata ada di sisi perumahan penduduk ini. Itupun sang mantan pacar yang teriak,”lha.. itu kan stasiunnya…!” Sambil nunjuk pintu stasiun sementara aku tak awas karena konsentrasi nyetir di jalanan yang sempit itu.

Huuiihhsfff… kuputuskan menyeberang rel dan masuk kawasan industri dan kembali ke arah stasiun sambil berharap di sisi inilah stasiun ini berada. Memang sih… ada parkiran truk luas di pinggir rel, tapi sepertinya digunakan untuk bongkar muat semen yang akan diangkut kereta.

Akhirnya aku putuskan untuk kembali pulang dengan melewati jalanan kawasan Industri yang kemudian aku tau mengarah ke Gerbang Tol Gunung Putri. Aku segera keluar, mengarah ke Narogong dan kembali ke arah Cileungsi.

Kesimpulanku sih…..:

– Sebenarnya potensial nih stasiun, tapi letaknya…. terpencil.

– Ga ada angkutan umum, ada sih beberapa angkot lewat depan stasiun. Tapi sepertinya yang akan/dari rumah sopirnya. Ada sih angkot 64 Citeureup – Cileungsi. Tetapi hanya melewati Raya Narogong.

– Buat yang naik motor, bisa jadi alternatif nih… cuma hati – hati saat menuju kesana karena melewati sawah-kebun yang lumayan sepi dan jalan berkelok naik turun.

– Buat yang bawa mobil, kalo ada alternatif masuk dari pintu masuk kawasan Industri, harusnya lebih enak. Jalanan luas dan lebar dan bisa manfaatkan parkir truk – truk Semen dengan konsekuensi kena debu – debu batu kapur.. hehehe..

Stasiun ini potensial sebetulnya untuk menarik minat warga Cileungsi, Cikeas, Gunung Putri pindah ke CL dan mengurangi kemacetan Trans Yogie. Tapi masih banyak sarana penunjang yang mesti diperbaiki.

Untuk sementara, kesimpulan akhirku, jika mau naik KRL masih lebih mending dari Bekasi.

Depok? Jaraknya tidak terlalu beda jauh, belum lagi macetnya Depok + Trans Yogie… :D

Well… semua berawal dari obrolan grup telegram teman – teman kuliah nan seru tur saru dari teman – teman kuliah yang tiga tahun lagi merayakan 20 tahun kebersamaan… tuwek e rek… hehehehe. Grup chatting yang satu ini memang patut diacungi jempol. Banyak diskusi positif meski masih lebih banyak lagi diskusi gak mutu sehingga salah satu member harus angkat kaki dari grup karena menganggap grup ini bener – bener ga mutu…. hehehe. Meski aku sendiri juga tetap bersyukur, karena ternyata teman – teman kuliahku masih wajar….masih wajar gendengnya wkwkwkwk…

Hingga suatu saat kami diskusi belanja online ke situs – situs luar negeri, dan salah satunya ke aliexpress.com yang berasal dari negeri China. Diskusi pun merambah ke betapa murahnya barang – barang di China bisa dibeli di situs ini. Dan melayani pembelian lewat rekening bank Indonesia pula. Ga perlu repot – repot pakai kartu kredit atau repot – repot bikin account paypal. Salah satu yang paling heboh kami bicarakan adalah kapasitas USB Flash Drive yang dijual yang bisa 1 TB dengan harga murah. Bayangin bro… cukup bawa 1 flash drive, dan semua file kita akan kita bawa kemana – mana.

Dan akhirnya, akupun searching ke aliexpress dan tertarik dengan sebuah flash drive OTG dengan kapasitas 64 GB dengan harga US$ 7.4 atau sekitar Rp 90 rban. Jadi bentuknya, seperti USB biasa tetapi punya dua port koneksi. Yakni port koneksi USB 2.0 untuk koneksi misalnya ke PC dan port koneksi mini USB untuk koneksi langsung misalnya ke HP tanpa perlu membawa kabel OTG lagi.

Oke, sebagai percobaan, boleh dicoba untuk dibeli. Kalo barang jelek atau ga sampai, itung – itung cuma rugi 90 rban jika barang ga sampai. Murah siih… tapi luaamaaaaaa nyampenya. Terhitung awal Januari 2015 barang tersebut dikirim dan butuh waktu 5 minggu untuk sampai rumah. Hampir tiap minggu cek posisi pengiriman sampai mana. Tetapi yang termonitor hanya pergerakan barang ketika masih di China, ketika barang dikirim ke Indonesia benar – benar tidak bisa dimonitor meski menggunakan webnya Pos Indonesia.

Akhirnya sekitar minggu kedua Februari, barang tersebut datang. Seneng dong, bisa bawa file – file kesayangan kemana – mana dalam jumlah banyak hehehe. Oke, pertama langsung colok ke PC, dan terconfirm kapasitas adalah 64 GB dengan system terformat exFAT. Sempat mengeryitkan dahi juga, exFAT itu apa? Extended FAT? dan akhirnya mulai browsing tentang exFAT.

OK, langsung test buat copy file. Beberapa file ukurang besar aku copykan, misalnya file – file film. Semua masih happy – happy saja. Hingga suatu saat aku eject flash disk tersebut dan colokan lagi. Dan.. eng.. ing eng… tiba – tiba salah satu folder yang berisi file film terlihat kosong padahal jelas – jelas aku copykan file kesana. Coba ulangi lagi, dan kosong lagi.

Pikiranku awal tidak mengarah ke Flash Disk Palsu, awalnya aku kira paling masalah bad sector atau sejenisnya yang bisa beres dengan format ulang. Oke, akhirnya aku format ulang dengan ganti file system menjadi NTFS dan percobaan write/read file pun diulang. Dan masih terulang… semua file di folder – folder tertentu hilang.

Percobaan selanjutnya, calon tersangka segera ditetapkan sebelum dia sempat mengajukan pra peradilan hehehe… kayanya butuh Low Level Format.  Aplikasi HDD Low Level Format Tool versi 4.40 pun dijadikan alat bukti buat menguji tersangka. Dan… karena tertulis 64 GB, butuh waktu berjam – jam untuk melakukan format ini. Selesai… tetapi tidak pesan error sama sekali yang menunjukkan error sector atau sejenisnya. System file pun aku coba berubah – ubah dari exFAT, NTFS dan ke FAT32. Percobaan write/read pun dilakukan. Saat copy file, semua berjalan lancar… saat flash disk dikeluarkan dan dimasukkan lagi, file – file pun masih nongol di dalamnya. Sedikit senyum kecil… hehehehe… Tetapi ternyata, saat file dibuka, misalnya nyetel film sama sekali tidak bisa diputar. Senyum kecil pun berubah menjadi senyum kecut hiks…

Googling lagi.. dan ketemu kata – kata fake flash drive dan rata – rata didapat dari flash drive yang dijual online di China…. gleggg. Ide flash drive palsu ini adalah dengan merubah settingan controller (mungkin semacam IC) sehingga seolah – olah dia adalah controller untuk flash drive kapasitas besar, padahal kenyataannya kapasitas fisiknya standar – standar saja seperti kebanyakan di pasar. Bener ga nih pengertianku? Pokoknya begitulah… hehehehe. Dan parahnya, PC kita membaca controller itu sebagai flash drive kapasitas besar juga.

Googling lagi… dan ketemu tiga poin utama di flash drive, yakni VID, PID dan controller. Binatang apa tuh ketiganya? Baca saja di sini yaa.. Kalo bisa terjemahin sekalian terus di-share ilmunya :D

Aku pun penasaran, berapa sih kapasitas sesungguhnya dari flash driveku yg tertulis 64 GB ini??? Pertama aku download usbflashinfo. Dimana? Yaa googling dunk :D. Dan dapat data seperti berikut:

Data Flashdrive sebelumnya

Terlihat VID 0011 dan PID 7788 juga controller merk Alcor dan kapasitas sebesar 67 GB. Selanjutnya adalah mencari software untuk mem-flash ulang flash drive ini yang sesuai dengan VID dan PID serta controller tersebut.

Berbagai pencarian mengarah ke situs berbahasa Rusia http://www.usbdev.ru dan flashboot.ru. Domain ‘ru’ ini sudah menunjukkan berasal dari Rusia dan tentu harus siap dengan huruf acryllic-nya. Masalahnya, google translate butuh waktu lumayan lama untuk menerjemahkan bahasa Rusia itu ke tulisan yang lebih manusiawi :D.

Pertama aku cari berdasar VID, PID-nya dan controller Alcor AU6989SN-GT/AU6998SN software yang kucari adalah Alcor seperti ALCOR MP_v14.01.24.00 dan ALCOR_MP_v14.09.12.00. Hasilnya…flash driveku sama sekali tidak dikenali oleh kedua aplikasi tersebut.

Kedua, aku coba cari berdasarkan memory chip-nya yakni Hynix H27UCG8T2ETR dan tetap mencari sesuai controller Alcor AU6989SN-GT/AU6998SN yg akhirnya mengarahkan ke software AlcorMP(140912.MD) yang katanya lebih mudah digunakan untuk orang umum.

Oke… langsung dijalankan dan flashdriveku bisa dikenali. Tanpa basa – basi, karena sudah males baca – baca lagi hehehehe, langsung klik Start (S) mulai lagi low level format dst….. dan eng ing eng, berhasil.

Dan hasilnya seperti berikut setelah dicek sama usbflashinfo :

Data Flashdrive Setelah

Controller dan chip memory tidak berubah.. ya iya lah… kan itu hardware. Tetapi VID dan PID berubah. Dan….. kapasitas flashdrive pun berubah menjadi hanya 8 GB alias 1/8 dari kapasitas awal yang dipromosikan. Hiksss….

Test lagi write and read data. Dan semuanya lancar jaya….

Jadi intinya, tertipu…. hikssssss

Pesan moralnya, jangan mudah terpukau sama barang – barang yang dijual murah apalagi yang dibeli online dari China. Susah untuk ceknya bro !!!

Semoga berguna bagi semua…

Oleh: ekoyw | Desember 23, 2014

Suka Duka Tinggal di Citra Indah (Ini Sukanya…)

Nah.. di bagian ini aku ceritain pendapat pribadiku tentang sukanya tinggal di Citra Indah. Nggak adil dunk kalo cuma dukanya doank… entar bisa disomasi lagi hehehe..

1. Suasana Alam

Suasana alam… yup, untuk yang satu ini Citra Indah tidak berbohong. Bagi anak desa seperti aku yang gagap dan nggak krasan di kota, suasana Citra Indah ini seperti memutar waktu kembali ke masa kecil di desa. Meski tentu lebih modern di Citra Indah. Sabtu dan Minggu serta hari libur lainnya adalah hari yang menyenangkan di Citra Indah. Sekedar jalan – jalan, lari pagi atau bersepeda pagi keliling perumahan atau sekedar foto – foto sambil menghirup udara pagi yang sangat – sangat segar. Sangat beda jauh dengan udara sesak di Jakarta.

Minggu Pagi di Citra IndahNaungan Gunung Gede – Pangrango seperti terlihat pada foto di atas juga ikut menyejukkan mata saat liburan tiba. Tidak heran, area Citra Indah juga sering menjadi tempat piknik dadakan baik dari warga Citra Indah maupun warga dari desa – desa di sekitarnya. Baik sekedar bawa motor maupun berombongannaik pick up. Baik tidak modal makanan dan hanya menyegat pedagang tahu gejrot yang lewat maupun yang sudah membawa bekal dari rumah. Meski kondisi tempat piknik dadakan tersebut juga seadanya.

2. Kuliner

Mau makanan apa di Citra Indah? Gudeg Jogja, Pempek, Sate Madura, Tongseng, Model, Rujak Cingur, Tahu Tek, Pecel, Dawet Ireng, Gado – Gado, dll? Hampir semuanya ada di sini. Dengan warga yang berdatangan dari berbagai daerah membawa kekhasan makanannya masing – masing. Jika malam, cukup berjalan di sekitar sekolah Cikal Harapan maka akan banyak lapak jajanan kaki lima yang tersedia. Belum lagi yang berjajar di depan cluster atau di depan kompleks ruko yang lain.

Rasanya? Ada yang Maknyusss…. meskipun tidak jarang juga terasa hambar. Misalnya pernah tergoda dengan tulisan Soto Ayam Lamongan, tapi setelah dicoba ternyata sangat – sangat jauh dari rasa Soto Ayam Lamongan.

Soal harga pun masih sangat ramah di kantong, apalagi jika dibandingkan dengan jajanan serupa di Jakarta. Meski juga tidak semurah di tempat asalnya hehehehe…

3. Tempat Ibadah

Hampir semua cluster di Citra Indah dilengkapi dengan masjid atau musholla yang rata – rata hasil swadaya warga cluster sendiri. Bagi muslim, tentu hal ini sangat memudahkan dalam beribadah. Sebuah masjid besar juga sedang dibangun dan dimiliki oleh Sekolah Cikal Harapan. Tentu ini akan menjadi kebanggaan baru bagi warga muslim Citra Indah.

Kegiatan bersama muslim se Citra Indah juga terwadahi dengan adanya forum Masjid – Musholla Citra Indah. Beberapa kali ada acara yang melibatkan banyak warga, mulai sekedar sholat Ied sampai sekedar jalan sehat.

Di Citra Indah, juga terdapat beberapa gereja. Yang aku tahu, yang kelihatan besar adalah Gereja di dekat Gedung Futsal.

4. Warganya

Kalo kata istri sih, minimal jika meninggal di Citra Indah kita tidak bakalan pergi sendiri ke kuburan seperti di perumahan – perumahan mewah lainnya. Citra Indah, memang bisa dikatakan sebagai perumahan menengah ke bawah. Meski demikian, hubungan warga bisa dibilang akrab. Meski kita tidak kenal, dengan bekal senyum dan sapa ramah maka juga akan dibalas serupa oleh warga yang lain. Ini contoh kecil yang mungkin akan sulit kita jumpai terutama di perumahan – perumahan mewah. Beberapa kali aku menerima undangan menghadiri hajatan warga lain, yang meski kita tidak kenal baik tetapi setidaknya undangan itu cukup membuat kita senang karena diperhatikan oleh warga lain.

Ok… hampir 11 bulan tinggal di Citra Indah. Banyak hal suka dukanya tinggal di sini. Rasanya udah gatel untuk bisa berbagi tentang hal ini. Syukur – syukur bisa dibaca oleh Ciputra grup untuk dijadikan perbaikan hehehehehe…

Kita mulai dulu nih. Dari dukanya dulu yaa… :D

1. Transportasi

Rasanya untuk yang ini, sangat – sangat layak menduduki peringkat pertama peringkat duka paling tinggi di Citra Indah. Lokasi yang jauh dari ibukota, memaksa transportasi menjadi problem pertama. Memang sih, ada feeder busway ke ibukota dengan rute ke Grogol, Blok M, Mall Artha Gading dan terakhir kelas Elf ke Kuningan. Tetapi sering banyak keluhan terhadap layanan feeder ini. Mulai rute yg terbatas, bis yang juga terbatas, jadwal keberangkatan dan kepulangan yang tidak bersahabat, terlalu permisif dengan penumpang di luar Citra Indah, masih menggunakan bis – bis tua dengan kursi sempit sehingga memaksa beberapa kali dalam beberapa bulan ini harus menggunakan bis pariwisata karena bis reguler harus masuk bengkel. Belum lagi ditambah masalah di luar tanggung jawab pengembang seperti kemacetan sepanjang Trans Yogi, jalan provinsi Cileungsi – Citra Indah yang bergelombang dan bersaing dengan truk – truk besar pengangkut material tanah, dll. Kombinasi di atas, sudah cukup membuat seseorang yang tidak kuat untuk menghadap kamera, mengangkat dan melambaikan tangan tanda tidak sanggup mengikuti uji nyali… lho..?? :D

Apa sih harapan penghuni? Sebetulnya simple, hanya ingin pergi – pulang kerja dengan waktu sesingkat mungkin (karena lokasi rumah sudah jauh) dan senyaman mungkin dengan biaya yang rasional. Tapi yoo.. opo mungkin? :D

Dengan kondisi sekarang, yaa wajar jika fasilitas feeder bukan pilihan utama penghuni. Penghuni bisa memilih naik omprengan atau bersedia ganti angkot dengan bis umum, yang mesti harus mengorbankan kenyaman dan keamanan tetapi memiliki pilihan waktu yang sesuai kebutuhan penghuni.

Update :

Citra Indah sudah memperbaharui bis – bisnya lho. Jika tidak salah hitung sudah ada 5 bis besar bermesin Hino dan Mercy dan 2 bis 3/4 bermesin Mitsubishi. Bis lama??? Sepertinya jadi back up jika ada gangguan.

2. Jalan

Ini yang sampai sekarang aku heran saat melihat jeleknya perbaikan jalan antara kantor pemasaran ke halte feeder busway, yang melewati rimbunnya pepohonan yang sering menjadi tempat bersantai saat hari libur dan pacaran muda – mudi saat malam minggu. Perbaikan ruas jalan ini seolah – olah kontras dengan nama besar Ciputra Grup. Tambalan tidak merata, tinggi dan bergelombang. Saat malam, harus ekstra waspada terutama bagi yang naik sepeda motor pulang kerja saat melewati ruas jalanan ini. Badan yang capek setelah kerja dan keinginan segera sampai rumah untuk beristirahat membuat orang sering memacu motor dengan kecepatan tinggi melewati jalanan bergelombang ini. Ditambah lampu jalan yang tidak cukup menerangi semua sisi jalan karena rimbunnya pepohonan menjadikan kombinasi ruas jalan yang harus dilewati dengan hati – hati saat malam hari.

Tambalan Jalan

Tambalan Jalan

Tidak perlu dibandingkan dengan kondisi jalan utama di perumahan Legenda Wisata atau Kota Wisata atau Lippo Cikarang yang memang wah… mulussss dengan pulau jalan yang lebar dan trotoar yang juga lebar. Sekedar dibandingkan mutu tambalan jalan Citra Indah dengan Harvest City dan Metland Cileungsi saja menurutku masih kalah. Beberapa kali keliling di dua perumahan tetangga Citra Indah ini, memang ada tambalan jalan tetapi mulus, rata dan tidak ragu untuk menginjak gas.

Aku sendiri kurang tahu, padahal ruas jalan ini adalah ‘halaman depan’ Citra Indah yang akan dilihat pertama kali oleh para calon – calon pembeli dan penghuninya tetapi perbaikannya terlihat ala kadarnya. Apakah karena Citra Indah memang untuk kelas menengah ke bawah? Rasanya tidak. Bertahun – tahun tinggal di Surabaya dan melewati Bukit Palma di Surabaya Barat, yang merupakan perumahan menengah ke bawah Ciputra sebagai satelit Citraland Surabaya, tetapi kualitas jalannya juga jempolan. Tidak kalah dengan Citraland sendiri.

Update :

Jalanan ‘seribu’ pohon antara Kantor Marketing dan pom bensin sudah diaspal halus sebelum Lebaran kemarin. Lampu di sepanjang jalan ini juga diganti lampu jalanan yang layak. Hanya sepertinya, kalo dari pengamatan orang awam, aspalnya masih sedikit bergelombang dan sepertinya tidak bertahan lama. Maklum, truk – truk konstruksi bisa dibilang lewat sini juga karena Citra hanya punya satu pintu ‘resmi’ untuk keluar masuk. Yaa… tinggal tunggu tahun – tahun selanjutnya.

3. Trotoar

Masih terkait dengan jalan dan transportasi. Ada yang aneh kalo aku lihat saat menyusuri jalan di dalam Citra Indah, yakni ketiadaan trotoar atau pedestrian buat pejalan kaki. Trotoar hanya tersedia di sisi jalan dari kantor pemasaran sampai halte bis dan berlanjut sampai ke perempatan Bukit Menteng, Bukit Cempaka, Bukit Bunga dan pool bis feeder. Sedangkan ke jalanan utama arah Cluster Alamanda dan seterusnya sampai ujung cluster – cluster baru yang sedang dibangun, sama sekali tidak ditemui trotoar.

Sehingga sekilas jalanan Citra Indah tidak ramah buat pejalan kaki. Mungkin jika di dalam cluster, ketiadaan trotoar masih bisa dimaklumi karena arus kendaraan yang tidak banyak sehingga pejalan kaki relatif aman dari kecelakaan.

Tetapi lain halnya jika trotoar tidak ditemui di jalanan di luar cluster. Pejalan kaki harus berjalan di jalan,  berebut dengan kendaraan dan sepeda yang semakin ramai dengan bertambahnya penghuni Citra Indah. Hal ini juga kontras jika dibandingkan dengan tagline Citra Indah sebagai Kota Nuansa Alam yang semestinya fasilitas trotoar ini menjadi suatu hal yang wajar ada sehingga warganya bisa benar – benar menikmati nuansa alam Citra Indah.

4. Sarana Pendidikan

Oke… ada puluhan PAUD, ada SD dan SMP baik negeri maupun swasta, baik umum maupun yang berbasis agama. Tetapi aku belum ketemu sekolah yang benar – benar berkualitas, dengan mengesampingkan sekolah berbasis agama non Islam. Untuk SD, ada SD Cikal Harapan tetapi terkenal mahal dengan mutu yang aku sendiri kurang tahu meski yakin fasilitasnya mencukupi. Meski fasilitas mendukung kualitas tetapi untuk pendidikan banyak hal yg perlu diperhatikan seperti kualitas guru, cara ajar guru, keterlibatan orang tua dll. Juga ada SDN Citra Indah yang berlokasi di dalam perumahan tetapi baru beberapa tahun buka sehingga belum tahu bagaimana kualitas lulusannya.

SMP? Setali tiga uang dengan SD. Ada beberapa pilihan sekolah di luar perumahan. Tetapi orang tua, terutama orang tua siswa SD, harus berpikir ulang karena lokasinya yang jauh dari rumah meski berada di dekat Citra Indah seperti SDN Cipeucang 2, SD Fatahillah, dll. Yaa harap maklum karena luas Citra Indah yang kalo nggak salah 1000 hektar lebih sehingga lumayan juga kalo naik motor dari ujung keluar kompleks. Meski ada juga sih pilihan untuk naik antar jemput anak.

SMU? Dengar – dengar Sekolah Citra Berkat (yang mengklaim sekolah umum dengan manajemen Kristiani) dan Cikal Harapan akan membuka SMU mulai tahun ajaran 2015 – 2016. Sehingga juga belum diketahui mutu pendidikannya.

Meski aku tidak yakin, sebagian besar penghuni Citra Indah adalah kaum urban perantau dari berbagai daerah yang mengadu nasib di Jabodetabek. Rata – rata tentu mereka pernah mengenyam pendidikan di daerah asalnya, dan bisa jadi banyak yang bersekolah di sekolah – sekolah favorit di daerah. Sehingga tentu wajar jika mereka berharap anak – anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik dari pada orang tuanya. Hal ini yang sering jadi pikiranku apakah entar saat si kecil SMP – SMU, pindah rumah saja misalnya ke daerah yang memiliki sekolah dengan kualitas baik dan biaya pendidikan yang masuk akal.

5. Hiburan dan Belanja

Yup.. ada Waterpark yang menurutku sudah cukup sebagai wisata air. Juga lingkungan yang luas dan sejuk, juga cukup bagi yang ingin refreshing di alam bebas. Juga ada pasar basah yang meski kecil tetapi sudah mencukupi kebutuhan dapur warga Citra Indah.

Tetapi bagi sebagian warga, yang mungkin butuh sesuatu yang lebih, seperti mall atau hypermarket untuk belanja atau sekadar jalan – jalan cuci mata yaa… bersiaplah untuk minimal jalan ke perumahan tetangga di Metland Cileungsi yang menyediakan Giant dan sedang membangun mall. Atau kalo lebih jauh sedikit bisa ke perumahan saudara tua di Citra Gran Cibubur yang menyediakan mall dengan resiko jalanan yang sering macet sehingga harus pintar – pintar memilih waktu berangkat. Atau agak jauhan dikit ke Mall Lippo Cikarang yang meski lebih jauh tetapi relatif lebih cepat daripada ke Cibubur.

Update :

6. Air

Sepertinya ini ironi bagi perumahan yang bertempat di Bogor yang terkenal dengan kota hujannya tapi perlu diperhatikan. Air PDAM menjadi keluhan sendiri terutama bagi cluster – cluster yang terletak di belakang. Aliran air yang kecil dan sering mati  menjadi kendala tersendiri dan mengharuskan penghuni untuk menyiapkan tandon air buat persiapan saat air PDAM mati atau pun listrik mati. Hal ini sangat berbeda dengan cluster di depan seperti Alamanda yang tanpa perlu pompa air pun air PDAM akan mengucur deraasssss. Sebenarnya sudah ada perbaikan PDAM yang terlihat di jalanan tetapi sepertinya belum menyelesaikan masalah. Kadang sama istri sering membayangkan bagaimana nanti para penghuni cluster yang lebih di belakang yang posisinya lebih tinggi seperti Cluster Cattleya dan Rosella ke belakang? Tanpa tambahan (rumah) pompa sepertinya akan sulit bagi cluster – cluster di belakang menikmati air PDAM…. ini pendapat orang awam lho yaa…. :D

Satu lagi, ternyata tidak semua lokasi di Citra Indah ramah dengan air tanah. Setidaknya mulai cluster Ravenia, Gardenia, Lavender, Anyelir dan ke belakang berdasar info beberapa tukang adalah daerah – daerah yang susah untuk mendapatkan air tanah. Kata para tukang, hal ini disebabkan tanah yang bersifat lempung sehingga susah untuk menyimpan air tanah. Akhirnya, usaha ngebor tanah untuk mendapatkan air pun menjadi seperti perjudian. Jika beruntung yaaaa dapat…jika tidak yaaa bisa jadi tidak dapat apapun meski sudah ngebor puluhan meter. Serba susah jadinya. Air PDAM alirannya tidak selalu lancar sementara air tanah juga susah didapatkan.

Oleh: ekoyw | November 24, 2014

Kereta Api (Lagi)…

Sejak kepindahan ke Jakarta, kereta api memang jadi pilihan utama jika mudik. Meski kalo ditanya, aku lebih senang naik bis karena pemandangan lebih beragam dan bisa semi berpetualang tetapi jadwal bis sering tidak bersahabat dengan jam pulang kantor. Naik bis jadi pilihan saat libur agak panjang. Tetapi saat mudik dengan waktu terbatas, kereta api pilihannya. Pesawat? Kalo dihitung sejak berangkat sampai ke bandara, check in, waktu tunggu sampai dari Surabaya ke rumah rasanya tidak terlalu jauh beda dengan naik kereta api.

Kereta api kini, harus diakui banyak kemajuan di sana – sini. Toilet lebih bersih dan gratis, stasiun juga lebih bersih, tidak ada pedagang kaki lima meski banyak juga yang kehilangan. Misalnya, sekarang tidak bisa lagi aku mencicipi nasi pecel pincuk di stasiun Madiun dan makanan khas setiap stasiun yang dilewati karena tiadanya pedagang kaki lima sementara masakan dari restoran kereta api terasa standar, pilihan tidak beragam dan tidak ada unsur ‘ngangeni’.

Tiket kereta api pun beranjak naik. Sekarang, tiket Jakarta – Surabaya untuk kelas eksekutif berkisar Rp 400 – 500 rban. Sekitar 5 tahun lalu, masih berkisar Rp 300 rban. Kenaikan harga tiket ini memang diikuti peningkatan fasilitas terutama di stasiun. Tetapi sayangnya, masih jarang menyentuh sisi kereta api yang PALING bersentuhan dengan penumpang kereta api, yakni gerbong penumpang.

Entah kebetulan atau aku yang apes, sejak kenaikan tiket aku belum pernah naik kereta api yg menyediakan leg rest seperti dulu lazim ditemui di kereta Argo Anggrek. Kebanyakan adalah foot rest. Foot rest ini sangat tidak sepadan dan masih menimbulkan letih di betis terutama bagi penumpang kereta api jarak jauh. Padahal leg rest ini sudah menjadi standar di bis eksekutif antar kota. Dengan kenaikan tarif dan apalagi sekarang kereta Argo Anggrek kelasnya sama dengan kelas kereta eksekutif lainnya jika dilihat dari harga tarif maka seharusnya layanan ini juga ada di kereta yg lain.

Lainnya, lagi – lagi entah kebetulan atau lagi apes, seringnya juga mendapatkan gerbong yg tidak layak disebut kelas eksekutif. Misalnya : Tidak adanya meja lipat yang biasa disimpan di sandaran tangan di kursi (Ini pengalaman naik Bima 18 Nov 2014 kemarin), sandaran tangan sisi tengah yang anjlok, kursi dan interior yang kusam, ada coretan atau bekas baret di sana – sini, dan lain – lain. Atau bisa jadi kita tertipu, seperti saat aku naik Bima minggu kemarin. Aku kira mendapatkan gerbong baru setelah melihat gerbong yang bersih, gordyn kaca yg tidak terbuat dari kain dll. Tetapi sepertinya gerbong rekondisi yang aku dapatkan. Kesimpulan itu aku dapat saat melihat kayu di dinding kereta yang melintang di tempat colokan kabel yang dulu lazim ditemui saat awal – awal fasilitas charger dikenalkan di kereta api. Kemudian pintu ke kabin penumpang yang biasanya tinggal tekan tombol tetapi harus digeser manual dengan tangan. Dan juga toilet jongkok yang tersedia.

Kereta api masih terbantu dengan harga tiket pesawat yang melambung tinggi. Tetapi jika tidak berbenah dan harga tiket pesawat tidak jauh berbeda dengan kereta api seperti 10 tahun lalu maka bisa jadi kondisi kereta api kembali seperti 10 tahun lalu.

Perbaikan stasiun dan fasilitasnya perlu. Tetapi perbaikan di gerbong dan kabin penumpang jauh lebih perlu karena penumpang menghabiskan waktunya lebih lama di sini daripada di stasiun.

Oleh: ekoyw | November 20, 2014

Cara Pendaftaran Haji

Alhamdulillah…. Labbaik Allahumma Labbaik…

Akhirnya selesai sudah prosedur pendaftaran haji ane. Meski baru daftar, meski harus menunggu 18 tahun (dan di sinilah seninya), meski setelah mendaftar bareng istri uang di tabungan hanya tersisa ratusan ribu rupiah, meski harus pulang kampung tetapi terasa sebagian perjalanan haji ini telah terlaksana. Minimal, pendaftaran ini sebagai langkah kecil nyata untuk menuju langkah – langkah selanjutnya.

Sebelum pendaftaran, ane sempat googling tentang tata cara pendaftaran haji. Dan… rata – rata nyasar ke berbagai situs KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) dan hanya sedikit sekali dari instansi resmi kementerian agama. Info yang didapat pun simpang siur, mulai harus pakai surat pengantar desa, surat keterangan sehat, foto sendiri atau di kantor Depag, dll. Akhirnya… karena bingung, bismillah…. coba urus sendiri saja :D

Perjalanan dimulai Jumat sore ba’da pulang kerja dan segera pergi ke stasiun KA yang terletak di pusat ibukota pulang kampung ke Lamongan, Jatim. Di-skip aja yaaa bro… tidak berhubungan :D. Kapan – kapan aku tulis tentang pengalaman naik kereta api kali ini.

Perjalanan dimulai Senin pagi, jam 07.00 WIB berboncengan mesra dengan istri sementara anak meraung – raung menangis didiemin neneknya :D

Sebelum berangkat, beberapa dokumen aku siapkan, seperti : KTP, surat nikah, KK dan buku tabungan haji. Ini juga hasil googling yg menyarankan dokumen apa saja yang mesti dibawa. Sempat ragu juga apakah perlu mampir puskesmas untuk bawa surat keterangan sehat atau tidak, juga mampir kelurahan atau tidak. Tiga dokumen pertama sudah aku fotocopy 10 kali dan ternyata…. tidak semua dokumen tersebut dibutuhkan.

First destination jam 08.30, kantor bank. Ane pakai Bank Syariah Mandiri Capem Lamongan yang pas di tepi Jl Nasional No. 1 alias Pantura… hehehe . Kirain ane berurusan dengan CS, nggak tahunya diarahin ke Teller. Di Teller, buku tabungan ane di-print. Kemudian diberi tahu untuk mencari surat keterangan sehat yg ada pernyataan golongan darah. Kata Mbak Tellernya, bisa ke puskesmas atau klinik mana saja. Berhubung ada keperluan sebentar ke daerah sekitar alun – alun, jadi ane ngincer ke (bekas) RS Muhammadiyah Lamongan dengan harapan bisa sekalian sarapan Nasi Boranan Lamongan yang maknyusss… hehehe.

Tetapi ternyata disana tidak melayani surat keterangan sehat. Akhirnya, daripada capek – capek aku arahkan motor ke kantor PMI Lamongan yang bersebelahan dengan RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Sangat hafal dengan RS ini, sebab pernah menjadi ‘penghuni’ nya pada awal tahun 1990-an… tentu dengan kondisi bangunan yang jauh berbeda dengan saat ini.

Di PMI, tidak butuh antri lama sebab hanya kami berdua yang ada. Tinggal ambil darah, ukur tinggi dan timbang berat badan. Sebetulnya kami punya kartu donor tetapi tidak kami bawa karena tidak termasuk daftar dokumen yang kira – kira bakal digunakan. Sempat guyonan sedikit tentang hasil ukur tinggi badan. Untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya di RS Cibubur saat MCU, tinggi badanku turun dibanding biasanya… hehehe…. wis mbuh lah. Ongkosnya cukup Rp. 30 rb untuk masing – masing kartu ‘merah’ yang kami dapatkan. Kartu merah ini berisi data nama, golongan darah, tinggi dan berat badan yang diketik dengan satu jari. Yup…. satu jari, bukan sebelas jari, oleh mbak perawat yang sepertinya lebih familiar dengan komputer daripada mesin tik jadoel itu :D

Tujuan selanjutnya, kantor Depag yang terletak di Jl Veteran, Depan SMU Negeri 2 Lamongan. Sempat celingak – celinguk sebentar di parkir motor. Untung ada tulisan pendaftaran haji. Dan akhirnya, dengan salam kami masuki ruangan yang menurutku cukup tidak sehat karena minimnya sinar matahari yang masuk. Seorang bapak PNS berbaju Korpri, kemudian mengambil secarik kertas yang berisi formulir. Di sini ditanyakan nama dan nama ayah. Untuk ketepatan penulisan nama, sang bapak meminta KTP, kartu merah dari PMI yang kemudian dikembalikan dan KK asli yang kebetulan terlihat di map yang kami bawa. Sempat terjadi masalah pada nama almarhum ayahku karena di KK hanya tertulis nama tua, nama kecilnya tidak ada. Sang bapak kemudian minta dokumen surat nikah asli dan menuliskan sesuai dokumen surat nikah sambil mengatakan kalo di KK nama seseorang bisa jadi berubah atau ganti tetapi di surat nikah tidak mungkin berubah atau ganti.

Setelah menulis di dua lembar kertas tentang data diri, kami diberi dua kertas kecil berisi nama dan no urut, yang anehnya untuk kertasku, nama pertamaku diganti dengan nama kecil ayah. Sedangkan istri, yang hanya berisi 2 nama tetap memakai nama pribadi. Dua kertas itu disuruh diserahkan untuk pengambilan foto yang terletak di gedung bagian belakang. Di sini, telah menunggu dua orang bapak – ibu yang sepertinya juga habis mendaftar. Tanpa menunggu lama, kami dipersilahkan untuk mengambil foto. Berlatar belakang putih, sehingga bagi perempuan disarankan tidak memakai hijab warna putih meski di tempat tersebut juga disediakan hijab beragam warna, peci, dan kaca untuk berias. Dua petugas, bapak dan ibu, berada di ruangan ini. Sang bapak mengoperasikan software yang sudah terhubung ke kamera DSLR Nikon (waadduuhh… jadi ingat masa – masa programming kuliah yang tidak terlalu susah meng-interface kan kamera dengan software di windows). Dan sang Ibu bertugas memotong hasil foto. Tidak menunggu lama, foto kami tercetak yang entah berapa jumlah total dan ukurannya. Biayanya cukup Rp. 80 rb per orang. Setelah penjepretan alias pengambilan foto, kami diminta untuk scan sidik jari ibu jari kiri. Alat scan terletak di meja sang bapak yang mengoperasikan komputer.

Kami kemudian kembali ke depan, ke bapak yang pertama menerima pendaftaran. Sampai di ruangan tersebut ternyata sudah ada beberapa warga lain yang juga mendaftar. Dan ternyata, form pendaftaran haji (Surat Pendaftaran Pergi Haji alias SPPH) kami telah tercetak dengan rapi lengkap dengan foto kami yang merupakan hasil print juga. setelah kami tandatangani, dari sana, sang bapak meminta kami kembali ke bank, menyerahkan formulir tersebut sebagai bukti kami telah mendaftar haji dan untuk memasukkan setoran haji dari rekening kami ke rekening haji depag serta mendapatkan porsi haji.

Alhamdulillah, jarak dari Depag ke BSM tidak jauh. Sampai BSM, form kami diterima oleh security yang kemudian langsung diteruskan ke teller. Setelah menunggu sebentar, kami dipanggil CS. Di sana, beberapa lembar foto kami diambil dan ditempelkan di formulir tersebut. Sebuah formulir baru di BSM juga telah di print yakni Form Setoran Awal BPIH yang berisi info setoran haji dan nomor porsi haji kami. Satu formulir setoran haji juga kami tandatangani. Dari sini, pihak BSM meminta kami kembali ke Depag untuk menyerahkan formulir porsi haji tersebut setelah beberapa salinannya diambil oleh BSM. Tapi tunggu sebentar…. di sini kami baru sadar kalo formulir haji yang dicetak Depag tertulis pekerjaan kami berdua adalah PNS? Entah, bagaimana ceritanya kok bisa tertulis PNS. Akhirnya… tercapai juga menjadi PNS…. hehehehe

Di Depag, beberapa salinannya juga diambil petugas dan kami diminta menyerahkan fotokopi KTP sebanyak 5 lembar. Sehingga yang tersisa hanya dua lembar, yakni satu lembar pendaftaran dari Depag dan satu lembar lagi form setoran haji dan no porsi dari BSM. Di sini, bapak Depag mewanti – wanti untuk tidak mempercayai siapapun yang memberikan janji bisa mempercepat keberangkatan haji juga untuk menyimpan rapi baik formulir SPPH maupun Setoran Awal BPIH. Dan semoga kami tidak tergoda karena hal tersebut sama saja dengan men-dzalimi calon jamaah haji yang lain yang telah antri lebih dulu.

Kemudian kami bertanya, antriannya berapa lama pak? Untuk Jawa Timur, 18 tahun mas. Aku sampaikan info kalo di Bogor antrian berkisar 13 – 14 tahun. Kata bapak tadi, untuk Jawa Barat porsi haji memang dibagi per kabupaten atau kota. Sedangkan untuk Jawa Timur tidak, sehingga porsi haji di-pool di provinsi dan diperebutkan seluruh 38 Kota/Kabupaten yang ada.

Namun setelah kami cek porsi ke website Kementerian Agama, ternyata perkiraan keberangkatan kami selama 17 tahun.

Kami tersenyum… wah ini berarti pas anak kami yang sekarang masih balita dan saat berangkat tadi menangis meraung – raung nanti akan wisuda saat kami berangkat :D. Bismillah…. semoga diberi kesehatan dan umur panjang.

Pukul 10.30 WIB, kami melangkah keluar….

Kesimpulanku, proses pendaftarannya cepat juga. Hanya sekitar 2 jam sejak kedatangan pertama di bank sampai sekarang selesai di Depag. Tidak terlalu ribet di semua tempat. Selain itu, sekitar 20 tahun lalu tinggal di Lamongan kota membuatku hafal jalan – jalan tikus yang tidak banyak berubah sampai saat ini. Sehingga mempercepat proses dari satu tempat ke tempat yang lain.

Semoga diberi kesehatan dan umur panjang…

Aaamiiinnn….

Oleh: ekoyw | April 22, 2014

Citra Indah dan Transportasinya

Well…. setelah hampir tiga bulan menghuni Citra Indah, secara umum belum ada keluhan… kecuali satu, transportasi dan akses ke lokasi. Dari tol Jagorawi, Citra Indah dikenalkan sebagai Kota Nuansa Alam di Timur Cibubur. Tapi kalo kita keluar tol Cikarang ke arah Jonggol, disebut Kota Nuansa Alam di Selatan Cikarang. Nah lhooo…. hehehe. Memang sih, dua – duanya benar. Kalo lihat di peta dan digambar sebuah persegi panjang dengan sisi Jl Tol Jagorawi – Cibubur di barat, Jl Tol Cikampek – Cikarang di utara, Jl Trans Yogie Cibubur – Jonggol di Selatan dan Jl Cikarang – Jonggol di Timur maka posisi Citra Indah persis di pojok tenggara persegi panjang tersebut, pertemuan antara Cikarang – Jonggol dan Cibubur – Jonggol.

Daripada bingung, coba lihat lokasi Citra Indah di – screen shot Google Maps berikut :

Citra Indah ke Semanggi

Citra Indah ke Semanggi

Waktu tempuh peta di atas adalah dari perkiraan Google pada saat ambil data rutenya siang hari ini lho ya. Jadi bener, di timur Cibubur dan selatan Cikarang :D

Dari lokasinya yg nun jauh tersebut sudah terbayang problem utama adalah transportasi. Memang benar ada angkot 24 jam di depan kompleks tetapi pertanyaannya adalah butuh berapa jam kita ke lokasi tujuan, misalnya ke Semanggi. Ada juga Feeder busway dari Citra Indah ke Blok M/Grogol yang beroperasi mulai sebelum shubuh sampai selepas Isya’ tetapi juga masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu antara lain adalah :

  • Jadwal. Jika kita searching ke berbagai site/blog yang merujuk ke Citra Indah. Jadwal feeder pertama duuuulluuuuu jam 05.30 WIB. Tetapi kemudian mundur teratur tiap 15 menit dan sekarang bis pertama berangkat jam 04.30. Daaannnn pada hari Senin keberangkatan pun maju 15 menit, alias pukul 04.15. Bisa kebayangkan kalo warga Citra Indah itu pada rajin bangun pagi hehehehe. Dengan jadwal bis pertama, biasanya akan sampai Semanggi sekitar pukul 05.30 pagi. Aku biasa sampai kantor pukul 06.00 malah seringnya kurang dari pukul 06.00, saat security masih berpakaian PDL dinas malam dan OB pun masih 1 – 2 yang datang. Alhasil, Masjid kantor yang dituju untuk membayar kurang tidur hehehe. Tapi, bagiku pribadi, bangun pagi dan rutinitas pagi seperti ini tidak masalah kecuali saat hujan atau macet hikss. Bagaimana jika naik bis kedua jam 04.45 dst ??? Yaa siap – siap sampai Semanggi jam 07.00 pagi atau bahkan bisa lebih. Yang jadi masalah itu saat jam pulang kantor. Jadwal bis feeder Citra Indah tidak bersahabat bagi yang pulang kantor jam 15.00 – 16.00 yang biasanya sudah nongkrong di Semanggi sejak jam 16.30. Pada jam segitu, Semanggi dan tol dalam kota sebetulnya masih lancar jaya. Harapan bisa segera sampai rumah pun tidak tercapai. Bis Feeder baru berangkat pukul 16.30 dari Blok M dan 16.45 dari Citraland dan rata – rata sampai di Semanggi jam 17.00 saat kondisi jalan mulai merambat bahkan di tol dalam kota. Alhasil, rencana sampai rumah jam 18.00 – 18.30 bahkan sebelum Maghrib pun tinggal impian. Dengan bis pertama baru datang jam 17.00 bahkan lebih maka sampai rumah rata – rata jam 19.15 – 19.45 atau bahkan bisa sampai lebih dari jam 20.00 malam. Tinggal dihitung berapa waktu tersisa buat keluarga dan istirahat. Sering membayangkan bagaimana jika kelak tambah tahun bis feeder berangkat semakin pagi (baca : malam)? Soal jadwal ini, muter – muter ke beberapa situs marketing Citra Indah, kok banyak yang belum update yaaa? Apa karena jadwalnya semakin pagi (baca: malam) sehingga tidak menarik dari sisi marketing? Tapi ketemu juga yang update dan bisa dilihat di bawah :
Jadwal Bus Citra Indah - Grogol

Jadwal Bus Citra Indah – Grogol

Jadwal Bus Citra Indah - Blok M

Jadwal Bus Citra Indah – Blok M

  • Penumpang. Salah satu keluhan warga Citra Indah adalah banyaknya warga non Citra Indah yang naik bis terutama saat pulang kerja. Sehingga saat pulang kerja, jika tempat duduk penuh, minimal anda harus berdiri dulu sampai keluar tol Cibubur dan baru setelah itu satu persatu penghuni tempat duduk turun. Memang susah sih untuk mendefinisikan penumpang ini benar ke Citra atau tidak. Tetapi mungkin bisa dibuat aturan misalnya saat kembali ke Citra Indah maka penumpang terdekat adalah yang turun di Cileungsi. Memang sih, kalau kita pandang dari sisi operator bis, maka akan memandangnya dari sisi bisnis. Baik itu masalah jadwal maupun penumpang, tentu masalah okupansi penumpang bis jadi pertimbangan utama. Meski sisi kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan warga kompleks Citra Indah juga harus diperhatikan.
  • Jurusan. Hanya ada dua, Blok M dan Citraland. Dari FB Citra Indah, sudah banyak usulan untuk menambah jurusan misalnya ke Tanjung Priok. Tapi entah lah…
  • Jumlah Armada. Resminya ada 5 bis yang masuk jadwal dalam sehari. Dan tentu masih kurang karena jarak keberangkatan relatif tidak sama antara bis pertama dan selanjutnya dalam satu hari. Demikian pula saat kembali dari Jakarta. Anda harus ingat betul kira – kira jam berapa bis akan lewat.  Misalnya jika anda menunggu jam 15.00 di Semanggi maka siap – siaplah menunggu selama sekitar 2 jam hehehe.
  • Rute. Bis menempuh rute dari Citra Indah – Cibubur – Tol Jagorawi – Tol Dalam Kota. Daerah Cibubur – Cileungsi merupakan daerah macet. Satu titik dibenahi, muncul titik lain. Titik macet di Jembatan Cileungsi dibenahi dan relatif lancar, muncul lagi macet selepas Fly over Cileungi – Metland – Harvest City. Bagaimana jika feeder busway di re-route lewat Tol Cikarang ??? Menarik juga kayanya.. Sing penting cepet sampai :D

Bagaimana jika berganti – ganti transportasi. Masalahnya hanya pada sifat ngetem angkot / bis kota yang ada. Juga jika berganti – ganti maka jatuhnya bisa lebih mahal. Di sini feeder busway punya kelebihan.

Bagaimana tentang rencana akses ke Citra Indah? Ada beberapa rencana pembangunan tol, jalan, KRL yang sempat sliweran di internet. Oke, coba kita bahas.

  • Tol JORR2 Cimanggis – Cileungsi – Cibitung. Katanya sih nanti memotong di sekitar Harvest kemudian ke arah Cibitung. Tetapi sampai sekarang boleh dibilang tidak ada perkembangan berarti dari rencana tol ini. Akses tol Nagrak – Cimanggis yang ada progres pembangunan dan bisa diharapkan sedikit mengurai kemacetan di Cibubur. Tetapi meski ruas tol ini jadi, yang jadi pertanyaan adalah mampukah ruas tol Jagorawi Cimanggis sampai dalam kota dan Cibitung sampai dalam kota menampung tambahan kendaraan yang melintas? Karena muara ruas tol Cimanggis – Cibitung ini tetap kedua ruas jalan tol utama tersebut yang pada saat jam sibuk sekarang ini saja sudah macet luar biasa. Tol hanya menambah nafsu orang memakai mobil pribadi.
  • Jalan Poros Tengah Timur. Ini rencana menghubungkan Bogor – Puncak – Cianjur – dan Deltamas di Cikarang. Konon untuk mengatasi kemacetan di Puncak. Dan konon melewati Jonggol. Tetapi beberapa situs, misal di Sentul Nirwana, jalan ini akan memotong kecamatan Tanjung Sari, satu kecamatan arah Cianjur dari Jonggol. Progressnya? Minimal saat pernah jalan – jalan ke Kec Sukamakmur dan mencoba jalur Puncak 2, belum ada perkembangan atau kegiatan pembangunan yang bisa di lihat.  Jalur Poros Tengah Timur bisa ditemukan  di sini atau bisa dilihat gambar di bawah. No 1 adalah tol Cimanggis – Cibitung. No 12 adalah jalur Rel Nambo – Cikarang. No 9 dan 10 adalah Jalur Poros Tengah Timur.
Jalur Poros Tengah Timur

Jalur Poros Tengah Timur

  • KRL Cibinong – Cileungsi – Cikarang. Benar Cikarang akan ada KRL proyek double – double track. Cibinong ada dari stasiun Nambo. Tapi ke Cileungsi apalagi Citra Indah?? Sebetulnya KRL ini paling relevan mengatasi kemacetan. Juga punya keunggulan dari sisi biaya dan waktu pembangunan dibanding tol. Toh di negara – negara maju lebih mengedepankan KRL daripada kendaraan bermotor. Progressnya? Cikarang ada progress. Nambo – Cibinong? KRL-nya aja belum berfungsi meski infrastrukturnya siap. Ke Cileungsi? Sama kaya nasib tol.. :D
  • Ada lagi berita info jalan tol lintas tengah/selatan dari Jakarta – Jonggol – Cianjur  terus sampai ke Tasik. Tapi sepertinya rencana ini juga menguap entah kemana.

Saat browsing, ketemu Peta Struktur dan Pola Ruang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur yang dibuat oleh Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional. Untuk daerah Cileungsi dan Jonggol, jika di-capture maka akan seperti berikut :

Rencana Jabotabekpunjur

Rencana Jabotabekpunjur

Terlihat ada rencana tol Cimanggis – Cileungsi – Setu – Cibitung yang ditunjukkan dengan garis coklat tebal putus – putus. Sementara di sekitar daerah Jonggol, terdapat garis putus – putus warna hitam yang merupakan rencana rel kereta api. Rencana rel kereta api ini dari Jonggol lurus ke utara ke Cikarang. Kemudian ke barat, melewati belakang Taman Buah Mekarsari, sampai Cileungsi. Di Cileungsi sendiri, menjadi ‘pertigaan’ rel kereta api. Ke Barat Daya menuju Cibinong dan ke Utara menuju Bekasi. Kalo melihat peta ini, sangat – sangat menarik. Tapi kembali ke pertanyaan, kapan ????

Rencana – rencana di atas, sebagian besar sudah dipublikasikan secara umum dan dengan mudah bisa kita cari peta rencananya di internet. Tapi tentang implementasinya… mungkin nunggu mau pensiun kali yaaa hehehehe.

Segala kekurangan transportasi ke Citra Indah di atas mau tidak mau memaksa penghuninya untuk kreatif. Untuk pulang kerja misalnya, penghuni Citra Indah bisa memanfaatkan beberapa bus instansi seperti Kementrian Perhubungan, Kementrian Luar Negeri, Kementrian Pertahanan atau bahkan bis – bis TNI/Polri yang lewat atau bahkan tujuan akhir ke Citra Indah. Bis – bis ini, rata – rata bisa mengantar sampai rumah lebih cepat dibandingkan jika kita menunggu bis Citra Indah.

Atau bisa juga numpang bis milik perumahan Grand Nusa Indah, yang baru ada beberapa minggu terakhir, yang juga rata – rata datang lebih cepat 15 menit daripada bis Citra Indah di Semanggi saat jam pulang kantor dengan resiko nyambung angkot dari Grand Nusa Indah ke Citra Indah yang tinggal 4 – 5 km. Selisih 15 menit saat keberangkatan di Semanggi, bisa berarti selisih 1 jam kedatangan atau malah lebih saat tiba di Citra Indah.

Usulan buat Citra Indah. Konsep feeder busway bagus meski perlu perbaikan mulai jadwal, jumlah armada, rute, tujuan dll. Tetapi, jika suatu saat Jakarta benar – benar sudah macet total dan harus berangkat lebih pagi lagi maka mengirimkan bis – bis ke Jakarta juga kurang membantu. Mungkin bisa dipikirkan membuat shuttle terjadwal ke stasiun – stasiun KRL terdekat, misalnya ke Depok atau Cikarang juga sudah aktif.

Penutup :

Sore itu di halte Semanggi, dibawah jembatan penyeberangan. Dua warga Citra Indah sedang duduk berbincang sambil nunggu bis Citra yang sampai jam 17.00 itu belum juga datang. Membicarakan berbagai kabar angin surga tentang jalan akses di belakang Citra Indah, tol, kereta, dll.

A : “Nasib e wong ga nduwe duit yo Mas. Duwe omah adoh tenan. Untung ga dewean, minimal sing senasib wong sak bis.”

A & B : Hahahahaha….. tertawa ngakak bersamaan dan segera loncat bareng mengejar bis Citra Indah yang datang.

Updated :

Sejak hari ini, tanggal 22 November 2014, Citra Indah sudah membuka trayek baru feeder busway ke Mal Artha Gading. Trayek ini dilayani oleh 2 bis ukuran 3/4. Bisa jadi pilihan nih buat yang bekerja di daerah Kelapa Gading atau Tanjung Priok. Tentang Jadwal… silahkan googling sendiri yaa. Kalo nggak salah, masing – masing bis dua kali pulang pergi Citra Indah – Mal Artha Gading setiap hari.

Peremajaan bis arah Grogol dan Blok M pun sudah mulai dilakukan meski tampaknya baru 1 bus baru yang tersedia.

Juga sudah ada layanan shuttle dengan kendaraan sejenis Elf ke Citraland Kuningan. Kalo kata orang Citra Indah sih untuk mengurangi warga Citra Indah yang bekerja di Kuningan pada ke Semanggi nyegat bis Citra Indah dari Grogol atau Blok M tapi ujung – ujungnya ga dapat tempat duduk.

Bagi yang ingin tahu sukanya tinggal di Citra Indah, bisa klik di sini. Dan untuk dukanya (hikkss..) di sini

Update lagi (7 Mei 2015)

Berbicara tentang angin surga KRL ke Citra Indah, seperti tidak ada habisnya. Apalagi sejak Stasiun Nambo diaktifkan untuk KRL sejak 1 April 2015. Mungkin karena sudah capek lewat jalur tradisional Trans Yogie dan Tol Jagorawi karena macetnya. Serta juga trauma saat kenaikan BBM kemarin, berimbas demo Angkot di Cileungsi yang berimbas juga ke bis Feeder Citra Indah yang sempat jadi korban penyanderaan sekelompok pengemudi angkutan umum di sekitar Terminal Cileungsi dan aku jadi saksi sejarahnya hehehehe… Memang, kenaikan BBM ini mengakibatkan kenaikan ongkos transportasi. Kalo dulu sekitar 30 rb sudah bisa untuk pp, maka sekarang berkisar antara 35 – 40 rb yang harus dikeluarkan sehari. Ini juga pertimbangan untuk melirik ke KRL.

Kembali ke KRL, aku coba browsing dan ketemu situs ini :

https://railwaysindonesia.files.wordpress.com/2011/12/pm-_no-_43_tahun_2011.pdf

Link di atas adalah Rencana Induk Perkeretaapian Nasional. Dan jelas tercantum rencana pembangunan KRL di sekitar Nambo – Cileungsi – Jonggol – dan Cikarang.

Kapan ?? Di halaman 48 peraturan menteri tersebut, ditemukan seperti berikut :

Timeline Jalur Kereta Nambo - Cikarang

Timeline Jalur Kereta Nambo – Cikarang

Pembangunan direncanakan 2016… Dan…. sekarang sudah 2015. Adakah progress infonya? Sampai sekarang nyaris tidak terdengar. Ruas Parungpanjang – Citayam yang rencana dibangun 2011 pun sampai sekarang belum terdengar kabarnya. Dan susahnya, biasanya berganti pemerintahan akan berganti kebijakan. Sama seperti jaman sekolah, ganti menteri ganti kurikulum… hehehehe. Contoh kecil, rencana monorail Cibubur – Cawang di jaman SBY berganti menjadi LRT Cibubur – Cawang – Dukuh Atas di jaman Jokowi yang kabarnya akan groundbreaking 17 Agustus 2015 nanti.

Jika dibangun, Sekali lagi jika lho yaa… hehehe, akan lewat mana yaa? Dari link ini http://www.dllajkabupatenbogor.com/2014/10/rencana-pengembangan-kereta-api.html

Didapatkan gambar peta seperti berikut :

Rencana Pengembangan Kereta Api Bogor

Rencana Pengembangan Kereta Api Bogor

Terlihat dari Nambo akan dibangun ke utara, menyusuri raya Narogong sampai Cileungsi, untuk kemudian terpecah menjadi dua, ke arah Bekasi dan Jonggol. Sehingga warga CI tinggal pilih, naik kereta lewat rute Cileungsi – Nambo – Citayam – Depok atau Cileungsi – Bekasi – Jakarta.

Tapi yaa itu tadi…Jika dibangun lho yaa…dan tepat waktu…. hiksss.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 717 pengikut lainnya